Pria Angkuh

1463 Words
“Pak, perkenalkan ... adik saya, Nadira.” Farel mengangguk sopan, memperkenalkan wanita yang dibawanya. “Nadira.” Nadira ikut mengangguk hormat ke arah Dafa dan temannya tanpa berniat mengulurkan tangannya untuk berjabatan. Selain dikarenakan posisinya yang cukup jauh, Farel juga tidak memintanya untuk terus melangkah mendekati kedua pria itu untuk berjabatan tangan. Dafa membalas dengan sebuah anggukkan tanpa mengatakan apa pun. Sementara temannya, sibuk menelisik Nadira dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sebaliknya dari sikap Dafa, temannya itu menatap Nadira dengan seringai aneh. “Hm ... good. Setelah ini, ikutlah denganku ke kantorku. Kita bicarakan tentang pekerjaanmu,” ucap teman Dafa yang diketahui bernama Evano Bramantyo. Pria berusia 30 tahun itu tampak tak tenang, matanya masih sibuk memperhatikan Nadira sehingga Farel tak suka dengan tatapannya kepada sang adik. Farel sendiri tahu Evano pria seperti apa, dan saat ini pria itu tak malu untuk memperlihatkan pandangan tak sopannya ke arah Nadira. “Terima kasih, Pak. Kami permisi,” pamit Farel dan Dafa mengangguk sebagai jawaban, memberinya izin untuk pergi. Saat Farel dan Nadira hendak pergi, Evano berseru, “Hey? Biarkan adikmu tetap di sini. Banyak yang ingin saya tanyakan. Hitung-hitung interview di sini?” Ucapannya menghentikan langkah Farel dan Nadira. Mereka berbalik, menoleh ke arah Evano. Sebenarnya Farel enggan meninggalkan Nadira untuk berhadapan dengan Evano. Namun karena Dafa juga ada di sana, akhirnya ia menyetujuinya. “Tentu.” Farel menganggukkan kepalanya, lalu menatap Nadira, memintanya untuk tetap tinggal. Dafa sudah tahu apa yang diinginkan temannya itu sehingga ia ikut bicara. “Tidak, sebaiknya bicara di kantormu saja, Van,” ujarnya kepada Evano dengan tatapan dinginnya. “Dafa, ayolah.” Evano mendesah kesal atas cegatan Dafa. Tak ingin menanggapi keluhan Evano, Dafa menatap Farel. “Kamu bisa tunggu di ruang tunggu.” Dafa segera mengisyaratkan temannya itu untuk membawa Nadira pergi. “Kami permisi.” Untuk yang kedua kalinya Farel berpamit, dan kali ini Evano tak dapat mencegah lagi. Selanjutnya, Farel membawa Nadira ke ruangan tunggu yang bertempat di samping ruangan Dafa. Setelah itu, ia keluar dari ruangan tersebut, berjalan ke arah pantry dan membuat segelas kopi untuk sang adik. Sedangkan di dalam ruangan tunggu, Nadira melihat-lihat ruangan itu. Ruangan yang sangat nyaman. Satu dinding yang hampir sepenuhnya kaca, membuat siapa pun dapat melihat jalanan Kota Jakarta dari ketinggian. Tak lama dari itu, Farel segera kembali, membawa dua gelas kopi untuknya juga Nadira. Sambil menikmati kopi, mereka banyak berbincang. Terutama Farel yang antusias menceritakan pertemanannya dengan Dafa. Tak dapat dipungkiri, bahkan tak malu mengakui, Farel sangat bangga memiliki teman seperti Dafa. Dafa yang merupakan pria berstatus tinggi, terpandang juga banyak disegani orang, tak malu berdampingan dengan Farel sebagai temannya yang merupakan anak dari keluarga kurang mampu. Ya, Nadira memang tak tahu pertemanan Farel dan Dafa karena usia Farel dan Nadira saja selisih 8 tahun. Artinya, Nadira masih sangat kecil ketika Farel sekolah SMA bersama Dafa. Sewaktu SMA, Farel dan Dafa tidak terlalu dekat, atau hanya sebatas teman kelas saja. Siapa sangka, pria yang kini memiliki jabatan sebagai direktur utama di perusahaan besar sangat bermurah hati, tak malu mengakui bahwa Farel adalah temannya sewaktu sekolah. Sejak Farel bekerja dengan Dafa, hubungan mereka menjadi sangat dekat. Bahkan, tak ada rahasia apa pun di antara mereka. Saat Dafa lulus SMA, ia kembali ke rumah orangtuanya di Jakarta. Namun, tak lama dari kelulusannya ia pergi ke luar Negeri untuk melanjutkan ilmunya ke jenjang kuliah. Yang membiayai kuliahnya adalah Mehmed Abizard, ayah William yang saat ini menjadi pemimpin perusahaan Abizard Group menggantikan ayahnya. Saat sedang asik berbincang, pintu di ruangan itu tiba-tiba terbuka. Farel dan Nadira jelas langsung menoleh ke arah pintu dan melihat Evano yang mengisyaratkan Nadira untuk ikut. Nadira segera berdiri dan merapikan pakaiannya. “Dek, kalo ada apa-apa, langsung hubungi gue.” Entah mengapa, Farel merasa khawatir terhadap Nadira, akan tetapi adiknya itu terlihat santai-santai saja saat Evano memintanya untuk ikut. “Gue udah dewasa gini, masih aja dianggap anak SD,” cibir Nadira kesal. Segera, Nadira melangkah keluar dari ruangan tersebut dan mengikuti langkah kaki Evano. Baru melewati beberapa ruangan, seorang pria yang sangat Nadira kenali berdiri tak jauh dari hadapannya. Sontak, Nadira menghentikan langkahnya, menatap pria itu dengan perasaan bingung tak percaya, begitupun dengan pria itu yang berdiri menatap Nadira. Evano yang berjalan di depan Nadira, ikut menghentikan langkahnya. Ia mengikuti arah pandang pria itu yang mengarah kepada Nadira. Evano berbalik menatap pria itu lalu berseru, “Ditya?” Ucapan Evano membuat pria itu kembali ke alam sadarnya. Ia mengangguk hormat, lalu membalas, “Pak Evan.” Evano kembali menatap Nadira, tetapi Nadira langsung menundukkan kepalanya. Tak ingin pusing bertanya kepada Nadira dan pria itu perihal keanehan mereka berdua, Evano segera mengajak Nadira untuk pergi. Tentu, Nadira segera mengiyakan karena dirinya pun ingin meninggalkan tempat itu secepatnya. Sementara pria itu, terus menatap Nadira hingga tubuh wanita itu pergi dari pandangannya. Pria itu, pria yang selama ini Nadira hindari, Aditya Pratama. Pria yang dulunya pernah Nadira cintai dengan sangat, pria yang menjadikannya seperti orang lain saat ini. Pria itu yang telah menorehkan luka yang sangat dalam yang menganga di hatinya. Berjalan keluar dari gedung perkantoran Abizard Group, seorang sopir pribadi Evano membukakan pintu mobil untuk sang majikan, juga Nadira yang ikut duduk di kursi belakang bersama Evano. Suara mesin mobil menyala dan mobil tersebut keluar dari area perkantoran. Cuaca saat itu sangat panas mengingat jam yang menunjukkan pukul satu Siang. Namun entah mengapa, suhu di dalam mobil begitu dingin. Nadira baru mengetahui bahwa pria yang bernama Evano itu adalah pemilik perusahaan majalah. Tentu, ia merasa sangat canggung berada di samping orang berstatus tinggi itu. “Jadi, kamu seorang model di Australia?” Evano memecah keheningan, tatapannya tetap ke depan seolah tidak sedang bicara pada Nadira. “Iya, Pak. Hm ... kenapa saya ikut sama Pak Evan? Maksudnya, Pak Evan bisa minta saya datang langsung ke kantor Pak Evan tanpa harus ke kantor Pak Dafa dulu.” Nadira bingung sendiri, tetapi Evano malah memperlihatkan senyum yang tersungging di ujung bibirnya. “Dafa adalah teman baik saya. Dia minta bantuan sama saya untuk menjadikan seorang wanita model di majalah saya. Tentu, saya tidak keberatan untuk membantu. Tapi sejujurnya, saya terkejut ketika mengetahui bahwa kamu adalah ... adik dari sopir Dafa. Saya pikir, kamu adalah teman atau saudara Dafa.” Evano sempat menahan ucapannya, tapi pada akhirnya terucap semua. Jelas, Evano mengejek Nadira dan Farel secara terang-terangan. Nadanya mungkin rendah, tetapi siapa pun yang mendengarnya, sudah dapat menebak bahwa kalimatnya sangat dalam untuk menyakiti. “Apa Anda keberatan akan hal itu, Pak?” tanya Nadira tak enak didengar oleh telinga Evano. Nadira tentu kesal atas apa yang dilontarkan Evano, terlebih yang menjadi bahan pembicaraan adalah kakaknya sendiri. Dari caranya bergaya dan bersikap, harusnya Nadira sudah dapat menebak seperti apa pria yang sedang bersamanya kini. Namun, Nadira tak mengira bahwa Evano akan secara terang-terangan menghina profesi seseorang. “Tidak, apa kamu tersinggung?” sanggah Evano tapi lagi-lagi nada bicaranya seolah merendahkan Nadira dan Farel. Nadira mengoceh tetapi dengan nada rendah juga, “Tentu, Anda mengatakannya tanpa sungkan. Secara terang-terangan, Anda menghina profesi seseorang. Terlebih—” “Cukup! Saya minta maaf,” potong Evano dengan cepat, mimik wajahnya terlihat jengah karena Nadira begitu berani menjawab dan memperdebatkan ucapannya. “Untuk apa? Sepertinya Anda tidak menyesal,” sindir Nadira tetap dengan nada tak tenangnya. Nadira menatap kesal ke arah Evano yang berada di sampingnya, tak peduli jika pada akhirnya ia akan diturunkan dari mobil pria itu atau bahkan jika pria itu tidak jadi membantunya untuk menjadi seorang model di Jakarta. “Saya suka wanita yang banyak bicara sepertimu,” ungkap Evano tanpa menatap Nadira, malah menatap orang-orang yang sedang menyebrang di lampu merah, di depan mobilnya. Nadira tak ingin membicarakan apa pun lagi. Namun, dari pertemuan pertama ini ia sudah menilai banyak tentang pria yang berada di sampingnya. Pria itu arogan, sombong, tak menghargai orang lain, baik itu pekerjaannya ataupun hatinya yang merasa tersinggung seperti Nadira saat ini. Sampainya di kantor milik Evano, pria itu berjalan lebih dulu memasuki gedung tersebut dan Nadira mengikutinya dari belakang. Tampak banyak orang yang menyapanya dan Evano hanya mengangguk kecil sebagai balasan. Pria itu lalu membawa Nadira ke sebuah ruangan yang sudah diisi oleh seorang agensi di kantor tersebut. Nadira segera duduk berhadapan dengan seorang agensi itu, sedangkan Evano memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Nadira bersama agensinya. Hanya dalam waktu dua jam Nadira berada di ruangan tersebut, ia keluar dari ruangan itu dan mendapatkan jawaban di hari itu juga. Nadira diterima untuk menjadi modeling busana. Namun, entah mengapa hatinya merasa tak yakin. Entah apa alasannya, tapi mood-nya sudah hancur saat di perjalanan tadi, saat berbicara dengan Evano. Tak ingin pusing di tempat itu, Nadira memutuskan untuk pulang ke apartemen sang kakak. Tak henti ia merasa kesal jika mengingat ucapan Evano yang menghina Farel hanya karena kakaknya itu seorang sopir pribadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD