Cinta Pertama

1379 Words
Berdiri di depan pintu utama perusahaan majalah ternama, Nadira sedang menunggu sebuah taksi online yang sudah ia pesan. Tiba-tiba saja sebuah mobil berwarna hitam mengkilat, berhenti tepat di hadapannya. Nadira segera menjauh dari mobil itu, khawatir ia tak dapat melihat taksi yang akan datang untuk menjemput. Namun, seorang pria turun dari mobil tersebut lalu menghampiri Nadira. “Ra?” panggil Aditya seraya meraih tangan Nadira. Tentu, Nadira langsung menoleh ke arahnya. “ikut aku sebentar.” Aditya menarik tangan Nadira tanpa menunggu jawaban. “Gak! Aku mau pulang!” Nadira mencoba melepaskan genggaman Aditya. Aditya berhenti, berbalik ke arah Nadira lalu berkata, “Urusan kita belum selesai, Ra. Aku mau—” “Kita gak punya urusan lagi!” potong Nadira dengan tegas. Namun, Aditya tetap menyeretnya untuk masuk ke dalam mobil seakan-akan ia tak ingin mendengar bantahan apapun. Aditya lalu memutari mobilnya, duduk di kursi pengemudi. Kemudian, ia mengendarai mobilnya keluar dari area perkantoran itu. “Turunkan aku!” pinta Nadira seraya menahan segala rasa yang berkecamuk di dalam hatinya. “Cukup Dira! Kita harus selesaikan urusan kita!” bentak Aditya dengan tatapan yang tak dapat diartikan, akan tetapi Nadira tetap tak ingin membicarakan apapun lagi dengan pria itu. “Aku udah bilang, kita gak punya lagi urusan.” Nadira menegaskan setiap katanya. “Ra—” Aditya ingin membicarakan sesuatu yang menjadi beban di hidupnya selama ini, tetapi lagi-lagi Nadira tak memberinya waktu untuk bicara. “Udah cukup, Kak! Udah cukup .... ” Dan kali ini, Nadira tak dapat menahan dirinya lagi. Ia menundukkan wajahnya, menyembunyikan air yang menetes dari kelopak matanya secara tiba-tiba. Aditya terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa mengatakan apapun. Dirinya seolah bingung, kata-kata apa yang cocok untuk ia serukan saat ini kepada Nadira. 20 menit mengendarai mobil tanpa tujuan, Aditya memutuskan untuk menepikan mobilnya di pinggir jalan, lalu menatap Nadira yang saat itu masih menangis. “Aku mencarimu, Ra. Aku mau kamu tau yang sebenarnya,” ucap Aditya pelan, terdengar seperti memohon. “Apalagi? Aku udah maafin Kak Adit tanpa Kakak minta. Sebagai balasannya, Dira mau Kak Adit jangan ganggu kehidupan Dira lagi.” Nadira menatapnya dengan penuh harap dan wajah sendu. Berharap pria itu akan mengerti dengan keinginannya untuk melupakan masa lalu. Tapi tidak! Aditya tetap ingin menyelesaikan permasalahannya. “Ra, tolong dengarkan dulu. Kamu gak tau apa yang sebenarnya terjadi saat itu—” “Dira gak perlu tau. Satu hal yang harus Kak Adit ingat sebagai pesan, kalau Kak Adit mulai bosan dengan hubungan Kakak sama cewek manapun, baiknya Kakak jujur daripada main di belakang,” nasehat Nadira tulus, tetapi jelas terdengar sangat menyakitkan baik bagi dirinya ataupun Aditya. Aditya mengalihkan pandangannya ke arah lain, lalu menundukkan kepalanya, kemudian menatap Nadira kembali. Berkata, “Justru itu, Ra! Aku gak—” “Sudah Kak, Dira mau pulang,” lirih Nadira tak ingin melanjutkan percakapan apapun lagi. “Aku mencintaimu Ra. Masih ... aku masih mencintaimu. Perasaan ini gak berubah sejak kamu meninggalkanku,” ungkap Aditya sambil menatap lekat netra Nadira. “Aku bukan Dira yang dulu. Maaf, sekarang aku tak sebodoh dan selugu dulu. Dan aku pastikan, aku gak akan jatuh ke dalam lubang yang sama.” Nadira mengartikan bahwa dirinya sangat amat tersakiti oleh masa lalunya bersama Aditya. “Aku sungguh-sungguh, Ra. Selama ini aku mencarimu, selama ini aku gila karnamu. Bahkan aku jadi orang lain saat kamu pergi, Ra. Percaya sama aku,” ungkap Aditya lagi dengan nada permohonan. Kali ini, Aditya memohon agar Nadira mau mempercayainya dan memaafkannya. Namun, Nadira menggelengkan kepalanya, tetap tak percaya dengan apa yang diucapkan pria di sampingnya. “Tolong, jangan pernah temui Dira lagi. Jangan pernah ganggu Dira, lupakan Dira, lupakan semuanya. Dira mohon, Kak,” pinta Nadira sungguh-sungguh, diiringi isak tangis yang menyayat hati. Mata Aditya terlihat memerah, menahan tangis yang ingin sekali ia curahkan saat itu juga. Merasa percuma memaksa Nadira agar mendengarkannya, akhirnya Aditya menyerah. Tangannya yang bergetar, perlahan menyentuh tombol power windows agar akses pintu dan jendela berfungsi. Segera, Nadira keluar dari mobil pria itu. Tak banyak berpikir, Nadira menghentikan sebuah mobil angkutan umum yang akan melewatinya dan langsung masuk ke dalamnya. Saat angkutan umum bergerak, Nadira sempat menoleh ke arah mobil Aditya yang masih diam di tempatnya. Beberapa saat yang lalu Saat melihat Nadira bersama Evano di kantor Abizard, seketika hatinya merasa tak tenang, ia tak tahu mengapa Nadira bersama Evano di kantor Abizard Group. Sempat tak ingin pusing akan hal itu, Aditya memasuki ruangannya dan memulai pekerjaannya di sana. Namun, hatinya tak dapat berbohong bahwa ia ingin sekali bertemu Nadira bagaimanapun caranya. Hanya mengandalkan sebuah firasat, Aditya keluar dari kantor tesebut dan mengendarai mobilnya menuju kantor Evano. Entahlah, sebenarnya ia sendiri tak yakin jika Nadira ada di sana. Tetapi hatinya mengatakan, bahwa dirinya harus ke kantor Evano dan benar saja, Aditya melihat Nadira sedang berdiri di depan kantor Evano yang tidak diketahui Aditya sedang apa Nadira berdiri di sana. Aditya tak peduli dengan hubungan Nadira dan Evano yang ia duga mereka memiliki hubungan khusus sehingga mereka pergi bersama saat di kantor Abizard tadi. Aditya hanya ingin berbicara dengan Nadira, berharap ia dapat menyelesaikan masalah di masa lalunya. Namun, sepertinya tidak ada jalan untuk mengungkapkan permasalahan di masa lalunya. Nadira, wanita yang sempat menjadi seseorang yang sangat dicintai Aditya, kini ia tak ingin mendengar penjelasan apapun lagi. Artinya, kesalahpahaman Nadira tak akan ada ujungnya. Beberapa tahun yang lalu Tok... Tok... Tok... “Assalamu'alaikum .... ” Suara seorang wanita yang sangat Nadira kenali. Nadira yang saat itu sedang membaca buku, segera menutup bukunya. Kedua kakinya yang terlipat di atas sofa, menyentuh lantai saat ia berdiri, berjalan ke arah pintu dan membukanya. “Ra, ikut gue bentar, yuk?” ajak teman Nadira, Sarah. Ia begitu semangatnya sampai terlihat tak sabaran. “Udah malem gini, mau ke mana?” Nadira mengernyitkan keningnya, merasa bingung sekaligus ketakutan karena ia tak pernah keluar malam. “Kita ke taman kota, liat kembang api. Yuk? Ayolah bentar aja,” rengek Sarah memohon, menarik-narik tangan Nadira seperti anak kecil. “Pergi sama siapa?” tanya ibu Nadira yang mendengar percakapan anak dan temannya. “Eh, Umi. Pergi sama Kak Febri, Mi. Kak Febri mau ke taman kota sama pacarnya, trus aku mau ikut ajak Dira.” Sarah langsung masuk ke dalam rumah begitu saja, mendekati ibu Wati, melewati Nadira yang masih di ambang pintu. “Lama tidak?” tanya Wati ingin tahu. “Nggak tau Mi,” jawab Sarah tak jelas. Ia pun tak tahu akan lama atau tidak. “Kamu mau ikut?” tanya Wati kepada Nadira, merasa prihatin karena putrinya itu terlihat sungkan untuk meminta izin. Nadira menatap Sarah dan temannya itu mengangguk kecil, meyakinkan Nadira untuk ikut dengannya. Pada akhirnya, Nadira menatap sang ibu dan menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. “Ya sudah, kamu ikut saja. Tapi ingat, jangan jauh-jauh dari Febri, ya?” Wati memberi pesan dalam makna khawatir jika berjauhan dengan Febri, pria dewasa yang Wati percayai. “Beneran, Mi?” Nadira tak percaya ibunya akan mengizinkannya untuk pergi. Pasalnya, hari sudah gelap, ibu ataupun ayah Nadira tak pernah mengizinkannya keluar rumah di malam hari. “Iya. Pakai jaket, di luar dingin.” Wati mengangguk sambil tersenyum, menegaskan bahwa dirinya benar-benar memberi izin. Nadira segera memasuki kamarnya dengan antusias, ia berganti pakaian yang cukup tebal khawatir akan turun hujan karena langit sudah mendung sejak Sore hari. Saat itu, jam menunjukkan pukul 8 malam. Setelah selesai dengan persiapannya, Nadira mencium pipi kiri sang ibu sebelum pergi. Sarah segera melangkahkan kakinya menuju rumahnya yang hanya terhalang 3 rumah dari rumah Nadira. Kakak Sarah, Febri, langsung masuk ke dalam mobil saat Sarah dan Nadira sudah sampai di garasi rumah itu. Tentu, Sarah dan Nadira ikut masuk ke dalam mobil di kursi belakang. Sementara di kursi depan, ada kekasih Febri yang juga ikut ke taman kota untuk melihat acara kembang api. Untuk yang pertama kalinya, Nadira keluar rumah pada malam hari. Ia begitu semangat karena ia akan melihat secara langsung acara kembang api yang diadakan di pusat taman Kota, menyambut pergantian tahun. Ayah Nadira dan kakaknya yang bernama Farel sedang di luar kota, sehingga Wati dapat mengizinkan Nadira untuk ikut Sarah. Wati tak merasa khawatir jika Nadira bersama Sarah, mengingat Sarah adalah teman baiknya di sekolah juga temannya bermain. Kebetulan, mereka bertetangga dan Wati percaya kepada Febri yang membawa Nadira ke taman kota.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD