Ungkapan Cinta

1334 Words
Tibanya di taman kota Taman tersebut sudah dipenuhi orang-orang berbagai usia, dari anak kecil hingga dewasa ada di sana. Sebagian ada yang datang dengan banyak temannya, tetapi ada juga yang berduaan saja sebagai pasangan kekasih. Sarah mengajak Nadira untuk berjalan-jalan di taman kota itu, sementara Febri dan kekasihnya memilih untuk duduk di tepian yang cukup jauh dari keramaian orang-orang. Setelah cukup lama mereka berjalan, Sarah menghentikan langkahnya dan meminta Nadira untuk menunggunya. Sarah bilang ingin menyapa temannya yang entah di mana, Nadira tidak mengetahui itu. Nadira berdiri di tengah-tengah kerumunan orang. Tak henti ia mengedarkan pandangannya mencari Sarah. Hatinya merasa cemas dan rasa takut menghantuinya secara tiba-tiba. Ia tak pernah keluar malam, dan sungguh, tak ada satupun orang yang Nadira kenali membuatnya khawatir. Takut jika Sarah meninggalkannya, takut Febri juga tak peduli dan pulang lebih dulu. Di tengah kecemasannya, sebuah tangan menggenggam tangan Nadira membuat Nadira spontan menoleh ke arah orang yang menyentuh tangannya itu. “Ka—kak Adit?” panggilnya ingin memastikan. Takut-takut pria itu hanya mirip Aditya, kakak kelas Nadira. Pria itu tersenyum manis sambil mengangguk kecil. “Nadira ... akhirnya, kita bisa bertemu di acara ini.” Tatapannya teralih ke arah lain dan berseru, “terima kasih semuanya. Terutama Sarah, makasih udah bawa Dira ke sini.” Aditya berbicara kepada teman-temannya. Ternyata, mereka juga ada di sana dan mereka segera keluar dari tempat persembunyiannya, lalu membentuk lingkaran yang hanya ada Nadira dan Aditya di tengah-tengahnya. Demi apapun, jantung Nadira bertalu-talu tak beraturan. Wajahnya mendadak pucat pias, pikirannya melayang, membayangkan apa yang akan terjadi pada saat itu. Aditya menggenggam kedua tangan Nadira dengan kedua tangannya dan menatap wanita itu lekat. Ia berkata, “Malam ini ... biarkan semua orang yang ada di sini menjadi saksinya. Bukan hanya teman-teman sekolah, tetapi orang-orang yang datang ke tempat ini juga.” Seketika, teman-teman sekolah Aditya diam, menyaksikan apa yang Aditya lakukan. Begitupun dengan orang-orang yang juga ada di area itu, mereka tak berbicara apapun selain menatap Aditya dan Nadira yang berada di dalam lingkaran yang dibuat oleh teman-temannya. Aditya melanjutkan ucapannya, “Aku ingin menyampaikan perasaanku untuk yang kedua kalinya padamu, Nadira. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Jika saat itu kamu tidak mempercayai perasaanku, ragu atau apapun itu sehingga kamu menolakku, kali ini aku mengungkapkan perasaanku di hadapan banyak orang dan aku mohon, jangan ragukan hatiku,” ungkap Aditya panjang lebar menyampaikan perasaannya. “Nadira ... maukah kamu menjadi kekasihku?” Aditya menatap lekat, tak sudi untuk melepaskan pandangannya dari manik Nadira. “Terima!” “Terima!” “Terima!” Sorak dari teman-teman Aditya dan pengunjung lainnya ikut menimpali lontaran yang sama. Nadira melihat ke sekelilingnya, begitu banyak orang yang sedang memperhatikannya bersama Aditya. Begitupun Aditya yang terus menatap Nadira, ia melihat kegugupan wanita itu yang terpancar dari gerak-geriknya. “Nadira?” panggil Aditya membuat yang dipanggil menatapnya. “beri aku jawaban,” sambungnya memohon. Suasana semakin ricuh meneriaki Nadira untuk menerima perasaan Aditya. Namun, Nadira merasa semakin tertekan. “Kasih Dira waktu, Kak,” jawab Nadira pelan, menundukkan kepalanya, merasakan keraguan juga ketidakberdayaan untuk menjawab. Aditya menggelengkan kepalanya, merasa tak puas dengan jawaban Nadira. “Aku mau sekarang, Ra. Terserah kamu terima atau tolak. Yang jelas, aku mau mendengar jawabannya sekarang juga. Tapi jika kamu tolak, aku akan berhenti. Aku gak akan menggangumu lagi. Atau bahkan, aku akan menghilang dari kehidupanmu, Ra.” Aditya berucap sungguh-sungguh seolah sedang bersumpah. Rasanya Aditya sudah lelah menunggu, lelah memperjuangkan, lelah mengungkapkan dan yang lainnya. Nadira tersentak mendengar ucapan Aditya yang terdengar seperti ancaman di telinganya. Menghilang dari kehidupannya? Tidak! Nadira tak akan sanggup. Batin Nadira tak ingin itu terjadi. “Maukah kamu menjadi kekasihku? Aku mohon, Ra. Aku tidak main-main, aku sangat mencintaimu.” Aditya mengulangi ungkapannya dan kali ini Nadira mengangguk pelan, sementara bibirnya ia tutup rapat-rapat. “Serius?” tanya Aditya sambil tersenyum puas, akan tetapi ia ingin memastikan bahwa jawaban Nadira tak asal. “kamu terima?” ulang Aditya. Nadira mengangguk lagi, membuat Aditya melebarkan senyumnya, lalu memeluk Nadira saat itu juga. “terima kasih, Dira.” Terdengar suara gemuruh tepuk tangan serta siulan keras dari orang-orang yang melihat kejadian itu. Tentu, teman-teman Aditya lebih mendramatisir, berteriak dan menggoda Aditya juga Nadira yang baru saja menjadi pasangan kekasih. Aditya melepaskan pelukannya saat ia mendengar suara kembang api yang dinyalakan oleh teman-temannya dan pengunjung lain ikut menyalakan kembang api, meski belum waktunya pergantian tahun baru. Senyum mengembang dari bibir Aditya dan Nadira saat melihat ke atas langit yang memperlihatkan letusan kembang api yang indah. Aditya adalah pria yang tampan, pintar, sopan, ramah dan tidak sombong. Membuatnya menjadi idola para siswi lainnya, baik itu di sekolahnya ataupun sekolah lainnya. Namun, Aditya tak pernah dikabarkan sebagai pria playboy. Jangankan senang berganti-ganti pasangan, pria itu bahkan tak pernah berpacaran, sama halnya dengan Nadira yang tak pernah memiliki kekasih hati. Sementara Nadira, dikenal sebagai siswi yang lugu, cupu, penyendiri dan sering menjadi bahan bully oleh teman-temannya karena tubuhnya yang hitam dan gemuk. Namun, justru itu yang membuat Aditya tertarik. Wanita itu tak pernah menarik perhatian para pria di sekolahnya, tidak seperti siswi lainnya. Saat itu, Nadira baru memasuki sekolah SMP sedangkan Aditya baru memasuki SMA. Namun, mereka sekolah di sekolah yang sama sehingga mereka sering bertemu secara tidak sengaja. Seiring berjalannya waktu, Aditya sering memberi perhatian lebih kepada Nadira. Pria itu selalu datang saat Nadira sedang di bully teman-temannya dan Aditya selalu membela Nadira, tak peduli pandangan orang termasuk teman-temannya sendiri berkata apa. Baginya, Nadira memiliki kepribadian sendiri dan wanita itu jelas berbeda dari siswi yang lainnya. Di suatu hari, Aditya pernah menyatakan cintanya kepada Nadira. Wanita itu jelas tak percaya dengan ungkapan Aditya. Bagaimana bisa seorang Aditya yang dipuja-puji siswi cantik malah menginginkan dirinya yang menjadi hinaan bagi semua orang? Nadira tak percaya, ia menolak Aditya saat itu. Ia berpikir Aditya hanya sedang mempermainkan perasaannya. Jika ia terima, Aditya pasti akan mentertawakannya dan mengejeknya seperti siswa-siswi yang lainnya. Lebih tepatnya, Nadira takut Aditya menjebaknya. Meskipun tak dapat dipungkiri, ia juga menyukai Aditya sejak dulu. Namun, Aditya tak menyerah, ia terus mendekati Nadira dengan berbagai macam cara walau Nadira sering mengelak. Hari ini, berkat ide teman-temannya dan melibatkan teman Nadira yaitu Sarah, Aditya kembali menyatakan cintanya untuk yang kedua kalinya. Kali ini Nadira menerimanya, walaupun hatinya tetap merasa ragu jika Aditya mencintainya. Setelah Nadira menerima cintanya, sejak saat itu Aditya tak sungkan untuk memperingati siapapun yang mengganggu kekasihnya itu di sekolah. Dan sejak itu pula, kehidupan Nadira sangat berubah, ia merasa memiliki seseorang yang melindungi dirinya dari siapapun. Beberapa bulan memadu kasih, hubungan mereka sering dalam masalah. Masalah yang sering muncul adalah, Nadira yang masih saja tak percaya diri dan malah menganggap siswi lain yang lebih pantas untuk Aditya jika ada seorang siswi yang mendekati kekasihnya itu. Aditya tak menyukai ketidak percayaan diri Nadira dan mereka sering bertengkar hanya karena masalah sepele seperti itu. Berulang kali Aditya meyakinkan Nadira bahwa ia sangat cantik di matanya, berulang kali pula ia meminta Nadira untuk tidak mendengarkan hinaan dari teman-temannya yang sering mengatakan bahwa Aditya dan Nadira adalah pasangan yang sangat tidak cocok. Pangeran Tampan dan si Buruk Rupa. Ya, begitulah orang-orang menghinanya. Itu sebabnya, Nadira selalu merasa kecil dan rendah dibandingkan dengan siswi lain yang jauh lebih dari segalanya dari dirinya. Kurang lebih tiga tahun bersama, hubungan mereka baik-baik saja meski Aditya yang saat itu sudah lulus SMA, melanjutkan sekolahnya ke bangku kuliah. Mereka hanya tak pernah mengenali keluarga satu sama lain karena di usia itu, mereka masih sangatlah labil. Sehingga baik Aditya ataupun Nadira, sama-sama tak pernah bertatap muka dengan keluarga besar. Kecuali Nadira, ia mengenal kakek dan nenek Aditya tetapi tak mengenali orangtua kekasihnya itu. Selama sekolah SMA, Aditya tinggal bersama nenek dari ayahnya, di Bandung. Orangtua Aditya memang menyekolahkan anak-anaknya di Bandung, bersama kakek dan neneknya. Aditya hanya diharuskan pulang ke rumah orangtuanya saat libur sekolah. Setelah memasuki bangku kuliah, Aditya tinggal di sebuah apartemen yang dibelikan orangtuanya. Jaraknya cukup jauh dari rumah neneknya yang diketahui oleh Nadira, tapi Aditya selalu berkunjung ke rumah neneknya jika ia sempat. Tentu untuk menemui Nadira juga, karena jaraknya cukup dekat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD