Di suatu hari
Setelah Nadira menghias diri ala kadarnya, ia segera menaiki sebuah motor matic dan menyalakan mesinnya, lalu mengendarai motornya menuju rumah nenek Aditya tanpa memberi tahu sang kekasih terlebih dahulu.
Sampainya di tempat yang dituju, Nadira melihat mobil Aditya ada di pekarangan rumah tersebut. Segera, ia memarkirkan motornya di samping mobil Aditya. Setelah itu, ia berjalan menuju pintu dan mengetuknya beberapa kali hingga seseorang membukakan pintu tersebut.
“Bi? Kak Adit ada?” tanya Nadira kepada seorang wanita yang sudah cukup tua, asisten rumah nenek Aditya.
Wanita itu terlihat gugup melihat Nadira, wajahnya tak ingin diam melihat ke sana ke mari seolah takut terjadi sesuatu.
“Bi?” panggil Nadira ikut bingung melihat gelagat asisten itu.
“Den Adit ti—tidak ada, Mbak,” jawab asisten rumah itu gugup membuat Nadira semakin bingung. Jelas sekali mobil Aditya ada. Bagaimana wanita itu bilang tidak ada?
“Tapi ... mobilnya ada?” Nadira menunjuk dengan jarinya ke arah mobil Aditya yang terparkir di depan rumah tanpa melirik ke arah mobil tersebut.
“I—iya ... kemarin, Den Adit ke sini. Mobilnya gak dibawa lagi,” kilah asisten itu masih terlihat gugup untuk menjawab.
“Oh.” Nadira manggut-manggut tanda percaya. Lalu berkata, “kalau gitu, aku permisi, Bi.” Nadira pamit tanpa merasa curiga atau hal yang lainnya sedikitpun.
Nadira sangat percaya kepada Aditya, pria yang sangat ia cintai. Namun baru tiga langkah Nadira berjalan, seseorang memanggil asisten rumah itu dari dalam rumah. Bukan suara seseorang yang Nadira kenali sebagai pemilik rumah, tetapi suara wanita lain yang entah siapa.
Nadira penasaran, ia berjalan mundur dan menoleh ke arah dalam rumah yang pintunya tidak tertutup. Ia melihat seorang wanita yang sedang berdiri, tangannya menggenggam ponsel yang sedang wanita itu otak-atik. Ternyata bukan hanya ada wanita itu saja di dalam rumah, tetapi ia juga melihat Aditya ada di sana.
Seketika Nadira mengingat ucapan teman-teman sekolahnya yang mengatakan bahwa Aditya memiliki kekasih baru. Mungkinkah wanita itu adalah kekasihnya?
Tanpa berpikir lagi, Nadira masuk tanpa permisi dengan napas menggebu-gebu. Namun ternyata, Nadira tak kuasa melihat kekasihnya dan seorang wanita dalam keadaan keduanya yang memakai pakaian terbuka di ruang TV.
Setelah tepat di dekat Aditya ia malah kehilangan tenaganya. Tangannya gemetar, langkahnya pun kian menjadi pelan. Ia berkata dengan lirih, “Kak Adit?”
Aditya, wanita itu dan asisten rumah menoleh ke arah Nadira secara bersamaan. Saat Nadira berbalik untuk pergi, Aditya segera bangkit dan mengejarnya. “Ra?” panggil Aditya, berlari kecil di belakang Nadira. Namun, Nadira terus berjalan keluar rumah.
“Ra, kamu dengerin dulu.” Aditya mencekal tangan Nadira saat tepat di halaman rumah itu.
Di sisi lain, wanita yang bersamanya ikut menyusul, berdiri di gawang pintu sambil melipat kedua tangan di dadanya dengan tatapan sinis ke arah Nadira. Sudut bibirnya sedikit terangkat, jelas sedang mengejek. Wanita itu terlihat cantik, berkulit putih. Pakaiannya yang sedikit terbuka, memperlihatkan lengannya yang bersih juga ramping.
“Ternyata bener 'kan yang dibilang temen-temen itu? Kak Adit ... harusnya jujur kalo Kakak bosan sama aku!” Dengan susah payah Nadira menahan tangis yang ingin sekali ia ledakkan saat itu juga.
“Bukan gitu, Ra,” kilah Aditya tetap mencekal tangan Nadira, berharap gadis itu mau mendengarkan ucapannya. Namun, Nadira bersikeras melepaskan tangannya.
“Udah, Kak. Terima kasih untuk 3 tahunnya. Tolong, jangan hubungi Dira apalagi temui Dira lagi.” Nadira segera menyambar helm, lalu memakainya setelah menaiki motornya. Ia segera pergi dari pekarangan rumah tersebut dengan hati kecewa, amat kecewa.
Sudah berbulan-bulan Aditya jarang menemui Nadira, menghubuginya saja hanya sesekali. Nadira tak pernah menaruh rasa curiga sedikitpun. Yang ia tahu, kekasihnya itu sedang sibuk dengan ujiannya sehingga Nadira mengerti alasannya.
Namun, gosip-gosip mengenai Aditya yang memiliki hubungan dengan teman kuliahnya sampai di telinga Nadira, akan tetapi gadis itu tak pernah ingin mendengarnya. Ia sangat mencintai Aditya, sangat mencintainya dan mempercayainya hingga gosip apapun terhadapnya tak pernah ia anggap benar. Nadira selalu bicara dalam hatinya, ia akan percaya jika ia melihatnya sendiri.
Hari ini, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri dan bukan sekadar omongan teman-teman sekolahnya yang bergosip ria. Meskipun Aditya tak bermesraan dengan teman kuliahnya, tetap saja kebohongan asisten rumah menjadi alasan tersembunyi.
Saat pulang ke rumah, Nadira memohon kepada ayahnya untuk mengizinkannya mengambil kuliah modeling. Tentu saja, ayahnya tak mengizinkan itu. Keluarga Nadira adalah keluarga yang kurang mampu. Bagaimana Nadira ingin kuliah di luar Negeri?
Sejujurnya, Nadira juga tak tahu pasti, mengapa ia ingin mengambil studi itu. Namun yang jelas, ada alasan yang tersembunyi di dalam hatinya. Seorang teman ayahnya yang dermawan, mau menyanggupi biaya kuliah Nadira.
Tak lama putusnya hubungan Nadira dan Aditya, Nadira segera terbang ke Australia untuk melanjutkan ilmunya ke bangku kuliah setelah lulus SMA. Namun naas, saat Nadira sampai di sana, ia mendapatkan kabar bahwa kedua orangtuanya meninggal saat kecelakaan.
Farel memintanya untuk tidak perlu pulang karena Nadira baru saja sampai, juga kedua orangtuanya akan segera dikebumikan sehingga tetap saja, Nadira tak dapat melihat wajah kedua orangtuanya untuk yang terakhir kalinya.
Hal itu membuat Nadira semakin tak ingin tinggal di Indonesia. Hatinya masih sangat terluka oleh Aditya, disusul kabar kematian kedua orangtuanya. Tak ada yang tahu jika gadis itu hampir saja menjadi gila di Australia, akan tetapi ia selalu menyemangati dirinya sendiri bahwa ia harus bisa melupakan Aditya.
Sejak saat itu, Nadira mengubah pola pikir dan penampilannya. Ia bahkan bertekad ingin menjadi seorang model yang terkenal, dikarenakan sakit hati. Sakit hati karena pada akhirnya, Aditya memilih wanita yang sangat cantik dibanding dirinya yang sangat buruk.
Seiring berjalannya waktu, ia dapat melupakan pria itu. Namun, trauma itu masih setia menemaninya hingga saat ini, ia tak percaya lagi dengan kata 'CINTA'.
Segala cara yang Nadira lakukan untuk melupakan masa lalu dan membuka hatinya kembali, hanyalah sia-sia. Beberapa kali Nadira memiliki hubungan dengan seorang pria sebagai kekasih, tetapi Nadira tak pernah mencintai mereka dengan sungguh-sungguh.
Terlebih saat ia berada di Australia, banyak laki-laki yang mendekatinya hanya untuk tidur bersama dan Nadira sudah kebal akan rayuan laki-laki manapun. Dirinya akan menilai buruk kepada laki-laki yang memujinya, mendekatinya, atau apapun itu. Lebih tepatnya, Nadira tak pernah mempercayai kata cinta hingga detik ini.