Rencana Dadakan

1851 Words
Melihat kedatangan Nadira, Tasya langsung mencecari pertanyaan, “Dek? Gimana? Udah ketemu Bang Dafa sama temennya?” “Udah,” jawab Nadira malas seraya duduk di samping Tasya, menyenderkan tubuhnya ke punggung sofa. Sekarang, Tasya melihat wajah Nadira dengan jelas, matanya terlihat sembab menandakan wanita itu habis menangis. Ia bertanya merasa aneh, “Dek? Ngapa lo?” Nadira menggelengkan kepalanya, malas bicara apapun sehingga bibirnya ia tutup rapat-rapat. “Dih, serius gue tanya,” desak Tasya penasaran. “Gak apa-apa,” jawab Nadira terdengar lesu. Tasya membuang napas sembarangan. Ia tak ingin mempertanyakan perihal Nadira yang menangis lagi, tetapi ia penasaran dengan pekerjaan adik iparnya itu. Tasya bertanya, “Terus? Gimana kerjaan lo?” “Diterima kok.” Nadira masih dengan wajah malasnya. Mulut Tasya melengkung membentuk senyuman mengetahui adik iparnya akan mendapatkan pekerjaan. Jadi, ia tak khawatir Nadira akan pergi lagi ke Australia. “Masalahnya, malah gue-nya yang males kerja di sana, Kak,” lanjut Nadira dengan entengnya. Senyum Tasya kian menghilang hingga tak berbekas. “Kenapa?” Tasya mengerutkan keningnya tak mengerti. “Gak apa-apa. Gue mau cari kerja di tempat lain aja. Kayaknya gak susah nyari agensi lain,” kilah Nadira tak ingin memberitahu tentang ucapan Evano yang membuatnya tersinggung. “Ya udah, terserah lo aja, Dek. Lagian 'kan bukan Gara yang minta lo kerja. Lo sendiri yang ngotot mau balik ke Australia, makanya Gara nyari cara biar lo tetep di sini. “Dek, Kakak lo itu cuma gak mau berjauhan lagi. Di saat orangtua kalian meninggal, lo 'kan baru sampe sana dan Gara nahan diri buat gak minta lo pulang, 'kan? Gara udah seneng banget waktu lo lulus kuliah. “Dia pikir, lo mau langsung pulang. Nyatanya lo malah nyari kerja di sana dan Gara harus nunggu lo lagi.” Tasya menasehati juga menceritakan keinginan Farel panjang lebar. “Kita udah gak punya apa-apa, Kak. Gue gak mau nyusahin kalian kalo gue gak kerja sendiri,” ungkap Nadira tak enak. Memang itu juga alasan Nadira ingin bekerja di Australia. Selain menghindari masa lalunya, ia juga tak ingin menjadi beban sang kakak. “Lo udah dewasa, Dek. Udah cukup lo buat nikah,” celetuk Tasya tetapi Nadira tak ingin menjawabnya, bahkan tak berniat untuk sekadar menatap kakak iparnya itu. “trus ... pacar lo gimana? Kapan mau ngapel ke sini?” lanjutnya bertanya. “Gak punya pacar!” jawab Nadira tak santai. Akhirnya, ia mendengar pertanyaan yang tak ingin ia dengar. “Mana ada.” Tasya mendelik kesal, tak percaya sama sekali. “Ada lah.” Nadira berdecih, mencoba meyakinkan kakak iparnya meskipun ia sendiri tak yakin Tasya akan mempercayainya. “Gak percaya gue.” Tasya menggeleng pelan, lalu mengerutkan bibirnya, mengejek. Nadira yang melihatnya, tiba-tiba saja muak. Ia berkata dengan pasrah, “Terserah.” Tasya ingin mengalihkan pembicaraan. Ia menggeser duduknya, mendekati Nadira lalu berseru, “Ehem ... gimana Bang Dafa menurut lo?” Tasya menatap Nadira dalam-dalam, penasaran dengan responnya. “Kenapa emang? Ngapain nanya gitu?” Bukannya menjawab, Nadira malah balik bertanya. Ia sebenarnya sudah tahu, kemana arah pembicaraan kakak iparnya jika ia menjawab. “Ya gue mau tau pendapat lo soal Bang Dafa gimana,” desak Tasya tak sabaran. “Mana gue tempe! Ngobrol aja kagak!” sewot Nadira sambil mengangkat bahunya sekilas. “Tapi ganteng, 'kan?” Tasya ingin mendengar pengakuan dari sang adik ipar tapi Nadira malah melotot tak tenang ke arahnya. Nadira langsung mengomeli, “Lo tertarik sama bos Kakak gue? Demi apa lo—” “Berisik lo! Ampun deh,” potong Tasya dengan cepat sambil menutup telinganya, tak terima mendengar suara melengking milik Nadira. “Maksud gue, lo tertarik gak sama Bang Dafa?” Tasya menekankan kata-katanya dengan nada rendah. “Hah? Emang kenapa? Emangnya belom kawin? Kayaknya udah tua dah,” cecar Nadira yang berakhir mencibir bos kakaknya itu. Namun, memang itulah pendapat Nadira. Dafa sudah cukup umur untuk menikah, bahkan pria lain mungkin sudah memiliki dua anak. Farel menikah saat usianya 26 tahun. Ia memiliki seorang anak laki-laki, tetapi anaknya meninggal saat usianya 2 tahun karena sakit. Sejak saat itu, Tasya sulit untuk hamil kembali. Sekarang, Tasya mengandung untuk yang kedua kalinya. “Seumur sama Gara, tapi dia belom kawin-kawin,” jawab Tasya merasa prihatin. Ia sendiri tahu, mengapa Dafa belum menikah hingga saat ini. Tentu suaminya, Farel, yang memberitahunya. Nadira tak merespon apapun, tampak tak peduli tapi Tasya terus berceloteh, “Tapi ganteng, 'kan?” Lagi-lagi Tasya ingin mendengar pengakuan Nadira tentang first impressions-nya bertemu dengan seorang Dafa Pratama. “Yang kayak gitu mah, di Australia juga banyak,” celetuk Nadira sekenanya. Tak ingin mendengar kakak iparnya mengoceh lagi, Nadira segera beranjak dari sofa, berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Tasya yang berdecih kesal. Nadira menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi telangkup. Tak butuh waktu lama, wanita itu tertidur dalam posisi seperti itu, yang bahkan masih memakai celana jeans-nya. Namun, ia sudah melepaskan blazer sehingga kini ia hanya memakai tanktop berwarna putih. Cukup lama Nadira tertidur, tiba-tiba sesuatu mengganggu ketentraman tidurnya. Beberapa kali Nadira mengedipkan matanya guna menghilangkan rasa perih, lalu terperanjat dan sedikit berlari ketika mendengar suara jeritan Tasya dari ruang TV. “Kak Sya .... ” Nadira tersentak ketika melihat Tasya merintih di atas lantai sambil memegangi perutnya. Ia segera mendekatinya guna mengetahui apa yang terjadi. “Telepon Gara, Dek. Aw...,” rintih Tasya yang terlihat jelas dari wajahnya bahwa dirinya sedang menahan sakit. “Udah kerasa?” tanya Nadira panik. “Banget ... cepetan, Dek!” pinta Tasya tak sabar lagi. “Bentar, bentar.” Nadira segera berlari ke kamarnya, menyambar ponselnya di atas nakas dan langsung menghubungi Farel, meminta kakaknya itu untuk cepat pulang. Tanpa berpikir lagi, Farel bergegas pulang sedangkan Nadira kembali ke ruang TV untuk menenangkan kakak iparnya. Satu jam berlalu, Farel sampai di apartemen dan pria itu segera membawa Tasya menuju rumah sakit, sementara Nadira yang mengemudikan mobilnya. Saat sampai di rumah sakit, Farel segera menggendong Tasya dan meminta pertolongan seorang dokter. Beberapa perawat segera menangani Tasya dan membawanya ke ruangan lain. Farel tak henti mondar-mandir di depan ruangan tersebut hingga Nadira bosan menenangkannya. Tak lama dari itu, keluarga Tasya datang dan ikut menemani Nadira juga Farel. Merasa gerah juga jenuh, Nadira pamit untuk keluar dari rumah sakit tersebut untuk mencari minuman dingin dan Farel mengizinkannya. Nadira berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan berhasil keluar dari gedung rumah sakit itu. Ia segera berjalan mencari-cari sebuah kios yang tak jauh dari sana, wanita itu membeli beberapa minuman dingin untuk yang lainnya juga. Setelah itu, Nadira kembali ke dalam rumah sakit dan ia melihat Farel menatapnya dengan tatapan aneh. Nadira mengangkat kedua alisnya seolah bertanya 'ada apa?'. Farel cukup peka dengan isyarat adiknya, ia hanya menggeleng pelan. Nadira melanjutkan langkahnya mendekati keluarga Tasya, kemudian menaruh botol plastik berisi minuman yang sudah ia beli tadi. Selanjutnya, Nadira membawa satu botol minuman untuk Farel yang sedang berdiri tak jauh dari sana. Segera, ia sodorkan minuman tersebut ketika sudah dekat dengan sang kakak. Tidak ada kursi di dekat mereka. Ah sudahlah. Nadira ikut berdiri seperti akan menyambut siapapun yang akan melewati mereka berdua. “Muka lo kenapa? Jangan bilang gak ada biaya buat tebus bayi lo!” sungut Nadira dengan wajah ketusnya dan toyoran di kepalanya sebagai jawaban. “Sembarangan!” Farel mendelik kesal, lalu melanjutkan ucapannya, “gue lupa sesuatu. Lo gantiin gue di pesta ulang tahunnya Bu Mega, ya? Gak enak gue udah janji buat datang,” ucapnya memelas. Nadira mengembungkan pipinya, lalu mengembuskan napas dengan kasar. “Cuma pesta ulang tahun, bisa bikin muka lo kayak dikejar debt collector? Lo tinggal telepon orangnya, trus bilang lo gak bisa datang karna Kak Tasya lahiran. Dia pasti ngerti kok.” Nadira tak habis pikir. Kakaknya itu terlihat kacau, hanya karena pesta ulang tahun seseorang yang tak Nadira kenali dan sejujurnya Nadira tak peduli sama sekali. “Gak bisa, Dek. Yang janji bukan cuma gue doang, tapi Tasya juga dan gak baik kalo dua-duanya gak datang. Gak enak sama Bu Mega, dia yang selama ini bantu gue selain Dafa. Please, Dek .... ” Farel benar-benar memohon kepada Nadira. Melihat raut wajah sang kakak membuat Nadira tak tega. Ditambah Farel mengatakan, bahwa Bu Mega yang selama ini membantunya selain teman sekaligus bosnya itu. “Kapan?” tanyanya, lalu meneguk minumannya dengan santai. “Malam ini,” jawab Farel pelan. “What?!” pekik Nadira dengan cepat, hingga wajah sang kakak terciprat minumannya yang belum sempurna Nadira habiskan di mulutnya. “Gak usah nyembur gue juga!” bentak Farel sambil mengusap wajahnya yang terkena semburan. “lo datang, ya? Pake mobil gue,” ulang Farel memelas. “Tapi, 'kan gue gak kenal sama Bu ... siapa tadi?” Nadira ingin menolak dan mengingat nama yang tadi disebut sang kakak. “Bu Mega. Lo tinggal datang ke rumahnya, trus bilang lo adek gue.” Farel menjelaskan dengan geram. Seperti seorang ibu kepada anaknya yang memerintah untuk membeli deterjen ke warung. “Alamatnya aja kagak tau!” ketus Nadira memutar bola matanya dengan malas. “Gue kirim alamatnya.” Farel memaksa sambil cengar-cengir. Dalam kata lain, tidak ada lagi alasan bagi Nadira untuk menolak. “Gue lupa jalanan Jakarta. Lo mau gue nyasar ke London?” Nadira terus membuat alasan agar Farel tidak memaksanya. Namun, Farel sudah tahu itu hanya alasan Nadira saja. Farel malah berkacak pinggang, menatap adiknya dengan kesal. “Orang pinter ngapain susah-susah bikin maps dodol! Gak usah banyak alasan! Ya? Please, Dek .... ” Lagi-lagi Farel membentak kesal tapi tetap memelas diakhir ucapannya. “Oke.” Nadira mengangguk pasrah. Ia ingat yang tadi diucapkan Farel, bahwa orang yang sedang berulang tahun hari ini adalah orang yang sering membantu Farel selain Dafa Pratama selama ini. Setidaknya, Nadira harus ikut menghormati orang tersebut, sebagai bentuk terima kasihnya karena sudah membantu Farel dan Tasya. “Tapi lo jangan sexy-sexy banget, Dek,” pesan Farel kembali mengingatkan membuat Nadira jengah dengan nasehatnya. “Cerewet lo! Dari tadi Siang, gitu mulu ngomongnya.” Nadira kesal, memonyongkan bibirnya. “Ya jangan disamain di sini sama kayak di Australia maksud gue, Dek.” Farel menekankan kata-katanya untuk mengingatkan, ia tahu pakaian sang adik seperti apa di Negara sebrang sana. “Iya, iya.” Nadira sedang malas berdebat dan ia hanya bisa menuruti keinginan kakaknya itu. “Ya udah, lo pulang sekarang, siap-siap. Bawa juga kado buat Bu Mega, ada di kamar gue. Lo cari aja,” ujar Farel memberitahu. “Gue gak bisa liat bayi lo langsung, Kak,” rengek Nadira yang sebenarnya tak ingin ke mana-mana. Nadira ingin tetap di sana, menemani Tasya. Belum lagi ia ingin melihat bayi kecilnya karena sepertinya sebentar lagi proses persalinan akan selesai, mengingat ia sudah menunggu 1 jam lamanya. “'Kan ntar juga lo ke sini lagi bego!” Farel menjitak kepala Nadira hingga adiknya itu mengaduh. “Gue udah bego, gak usah lo gituin lah anjir!” Tak ingin kalah, Nadira menyikut perut Farel keras-keras dan pria itu juga meringis sakit. “Ya udah sana,” usir Farel dengan nada tinggi sambil menyentuh perutnya yang terasa perih. Nadira berjalan ke arah keluarga Tasya, berpamit untuk pulang kepada mereka. Setelah itu, ia segera meninggalkan rumah sakit tersebut dengan mengendarai mobil Farel menuju apartemen.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD