Hal Tak Terduga

2127 Words
Nadira segera membasahi tubuhnya dibawah guyuran shower. Setelah rutinitas memakai deretan produk untuk mandinya selesai, ia segera mengeringkan rambut panjangnya menggunakan hairdryer dan merias rambut berwarna coklatnya itu seorang diri dengan meng-culry setengah rambutnya seperti kebiasaannya. Sebagai seorang model, Nadira sudah lihai memakai berbagai make up. Namun, ia sendiri tak suka make up tebal kecuali jika seorang make up artist profesional yang meriasnya untuk pemotretan. Tentu, ia tak dapat menolak walau ia tak suka make up berlebihan. Ia lalu memakai dress berwarna biru navy yang mencetak jelas tubuh idealnya. Tas clutch dan heels berwarna senada sudah selesai ia pakai. Setelah semprot parfum sana sini, wanita itupun keluar dari kamarnya dan memasuki kamar Farel untuk mengambil kado yang akan ia bawa. Kemudian, berjalan keluar dari apartemen menuju parkiran untuk membawa mobilnya dan mengendarai mobil tersebut menuju alamat yang tertera di maps yang sudah dikirim Farel ke ponselnya. Jaraknya ternyata cukup dekat, hanya memakan waktu satu jam ia sudah sampai di tempat yang ditunjukkan maps. Nadira berhenti di depan gerbang rumah yang terbuka lebar-lebar. Tampak banyak mobil yang memasuki rumah tersebut, akan tetapi Nadira ingin memastikan bahwa dirinya tidak salah alamat. Ia bertanya kepada security rumah tersebut dan security itu mempersilakan Nadira untuk masuk. Segera, Nadira memasuki rumah berlantai 2 dengan langkah anggun. Mendadak dirinya menjadi pusat perhatian karena memang wajahnya yang asing, tak pernah memasuki rumah tersebut. Nadira memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri, merasa gugup sendiri dengan tatapan para tamu yang datang. Seorang wanita yang melihat Nadira seperti kebingungan, segera melangkah mendekatinya. Wanita itu cukup tua, tetapi tampak sangat cantik dan bersemangat. Ia berkata, “Anda mencari seseorang?” Nadira tersenyum sambil mengangguk kecil. “Saya ingin memberikan ini untuk Ibu Mega. Di mana saya bisa menemuinya?” jawabnya lemah lembut, menunjukkan pandangannya ke arah kado yang akan ia berikan. Wanita itu mengerti, membalas senyum Nadira lalu membawanya ke ruangan lain yang juga diisi banyak tamu. Langkah Nadira terhenti saat wanita yang membawanya menghampiri beberapa wanita yang sedang duduk di sebuah sofa di dalam ruangan tersebut. Wanita itu terlihat berbisik kepada wanita yang sedang duduk dan wanita yang sedang duduk itu segera berdiri dan mendekati Nadira. “Kamu?” Wanita itu terlihat bingung menatap Nadira seolah bertanya 'siapa kamu?'. “Ibu Mega?” Nadira ingin memastikan wanita yang ada di hadapannya kini bukan wanita lain sehingga ia dapat mengatakan bahwa ia hadir mewakili Farel dan Tasya, juga akan memberikan kado untuknya. “Ya,” jawab wanita itu singkat seraya menunggu ucapan Nadira selanjutnya. Nadira lega, ia tak ingin berlama-lama di sana. Jadi, ia ingin segera menyerahkan kado itu atas nama Farel dan Tasya, kemudian pulang. Nadira ingin memperkenalkan diri. “Saya—” “Nadira, Sayang? Akhirnya kamu hadir juga. Kenapa tidak memberitahu?” Suara seorang pria dari kejauhan, menghentikan ucapan Nadira. Suaranya yang berat dan menggema, mampu membuat semua orang yang berada di sana berhenti berbincang dan malah menatap ke arah Nadira dan pria itu. Begitupun Nadira yang segera memutar tubuhnya untuk menoleh ke asal suara. Ia bingung sendiri saat mengetahui yang menyebutkan namanya itu adalah Dafa Pratama, bos sekaligus teman kakaknya, Farel. Dafa mendekati seraya tersenyum tanpa ragu sedikitpun. Sementara Nadira, sibuk celingak celinguk mencari seorang wanita yang namanya sama dengannya. Ya, siapa tahu saja Dafa memanggil orang lain sehingga ia tak ingin percaya diri terlebih dahulu. Belum lagi Dafa mengucapkan kata 'sayang', membuat Nadira tak merasa bahwa dirinya yang dituju Dafa. “Sayang? Ikut denganku sebentar,” ajak Dafa kepada Nadira, tepat saat di hadapannya. Jelas, Nadira bagai seperti mimpi saat Dafa tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan 'sayang'. Apa-apaan orang ini? Nadira pikir, orang setampan dan berwibawa seperti Dafa adalah pria waras, tetapi sepertinya penilaiannya itu salah. Nadira diam, tak tahu apa yang harus ia lakukan. Namun, Mega berseru, “Dafa?” Mega seolah tak percaya dengan apa yang diucapkan Dafa Pratama, putra sulungnya. Setahunya, putranya itu tak memiliki seorang kekasih. Lalu, apa ini? Dafa memanggil seorang wanita yang baru saja datang dengan sebutan 'Sayang?'. “Ya, Bun. Bunda gak salah dengar,” jawab Dafa yang berhasil membuat Nadira semakin terheran-heran. Bu Mega adalah ibunya Dafa? Batin Nadira tercengang. Dafa meraih tangan Nadira dan menyeretnya ke ruangan lain tanpa menunggu persetujuan. Anehnya, seperti sedang terhipnotis, Nadira tampak pasrah Dafa membawanya. Tepat saat keluar dari ruangan yang dihuni para tamu, Nadira ingin memperingati Dafa. Siapa tahu pria itu salah membawa orang, bukan? Nadira berkata, “Pak?” “Ikuti perintahku!” Dafa terus membawa Nadira menaiki anak tangga, menyusuri lorong lantai 2 rumah itu. Setelah memasuki sebuah ruangan, Dafa segera menutup ruangan tersebut dan menatap Nadira yang sedang melangkah mundur dengan wajah tak tenang. “Pak Dafa?” Nadira gugup, ia terus melangkah mundur, tak mengerti apa yang diinginkan bos kakaknya itu. “Tenang ... maaf, saya tidak bermaksud merendahkanmu.” Dafa menghela napas panjang dan menghembuskan perlahan. Pria yang berpakaian sangat rapi itu terlihat sedang tertekan. “Lalu, apa yang Anda lakukan? Apa ini?” tanya Nadira dengan notasi tinggi, masih tak mengerti apa maunya pria itu. “Di ruangan tadi, ada seseorang yang harus saya beri pelajaran. Orang itu tak henti merayu ibu saya dan saya sendiri. Maaf Nadira,” ungkap Dafa merasa bersalah. Namun, dirinya tak mempunyai cara lain agar wanita yang selalu merayunya berhenti mendekati keluarga Pratama. Wanita yang dihindari Dafa, berada di ruangan tadi bersama ibunya, Gina dan ibunya sendiri, Mega. Nadira mencoba mencerna ucapan Dafa. Seperdetik kemudian, ia kesal dan berseru, “Maksudnya, Pak Dafa mau manfaatin saya?” Nadira tak sungkan menatap tak suka dengan apa yang dilakukan Dafa. Dafa berkilah, “Bukan sepe—” “Saya memang orang yang tak punya, hanya adik dari seorang sopir. Tapi, bukan berarti Anda bisa seenaknya seperti ini, Pak,” potong Nadira dengan cepat. Nadira mengingat kejadian tadi Siang, lebih tepatnya saat ia bertemu dengan teman Dafa yang merendahkan pekerjaan Farel. Nadira ikut tak menyukai Dafa entah apa alasannya. Menurutnya, jika Evano tak bisa menghargai pekerjaan seseorang, maka Dafa pun akan seperti itu. Mereka berteman, bukan? Pastinya Dafa akan sependapat dengan Evano. Pikir Nadira. “Saya sudah katakan, saya tidak bermaksud untuk merendahkanmu, Nadira. Saya terpaksa, saya minta maaf atas kelancangan saya.” Dafa jelas membantah, tapi ia juga tak sungkan untuk meminta maaf. Dirinya memang mengakui kesalahannya dan ia tak akan ragu untuk meminta maaf jika itu diperlukan. “Lalu, apa sekarang?” Nadira bingung. “Pura-pura menjadi kekasihku,” pinta Dafa tak memiliki pilihan lain. “Eh?!” Nadira memekik, tak percaya dengan pendengarannya sendiri. “Hanya sebentar, Nadira, saya mohon. Setelah itu, saya akan menjelaskan kepada ibu saya. Sekarang, kita ke bawah lagi, genggam tangan saya.” Dafa memelas, tampak dari wajahnya ia sangat tak tenang juga tertekan. “Pak Dafa, Anda mabuk?” Nadira ingin memastikan permintaan pria itu. Dafa menjawab dengan nada lesu, “Hanya sebentar, Na—” Nadira langsung menyela, “Bukan masalah itu, tapi bagaimana kalau semua tau, kalau saya hanya adik dari seorang sopir Anda? Apakah semua orang mau mempercayai kalau Pak Dafa memiliki kekasih yang hanya adik dari seorang sopir?” Nadira menekankan kata-katanya. “Ibu saya tak pernah memandang kasta, begitupun keluarga saya yang lainnya.” Dafa tak ingin melanjutkan pembicaraan lagi, lebih tepatnya tak ingin mendengar bantahan dari mulut Nadira. Dafa segera meraih tangan Nadira dan menggenggamnya erat. Keluar dari ruangan tersebut, kemudian berjalan kembali ke ruangan tadi, dimana pesta ulang tahun ibunya akan dilaksanakan. Nadira diam, tak punya pilihan lain. Lagipula, hanya satu kali ini, bukan? Tidak salahnya membantu pria yang malang itu. Tampak semua orang sudah berkumpul di ruangan tersebut. Namun, Mega terlihat kesal. Ia menghampiri Dafa lalu mengoceh, “Di mana adikmu, Dafa? Dia ... benar-benar!” Mega terlihat sangat kesal karena menunggu anak keduanya yang belum juga datang. Sedangkan anak sulungnya yaitu Dafa dan anak bungsunya yang bernama Randy, sudah berada di dalam pesta. “Tunggu sebentar lagi, Bun. Bentar lagi juga pasti datang,” jawab Randy yang berada tepat di samping Dafa, di sebelah kanannya, lalu menatap Nadira yang juga di samping Dafa di sebelah kirinya. Pria berusia 17 tahun itu tersenyum ke arah Nadira dan Nadira membalas senyumnya dengan singkat meski ia benar-benar jengah berada dikerumunan orang-orang yang tak ia kenal. “Dafa?” panggil seorang wanita. Sontak Dafa, Nadira, dan Randy menoleh ke asal suara. Seorang wanita yang terlihat sangat cantik, berdiri di belakang mereka. Dari pakaian yang ia pakai, sudah sangat terlihat bahwa wanita itu memakai barang-barang mewah yang Nadira tahu harganya membuat ia mual saking mahalnya. Wanita yang berada di sampingnya —ibunya— turut berpakaian ala sosialita kelas atas. Dafa tidak merespon apapun, melainkan mengencangkan genggaman tangannya pada tangan Nadira. Wanita itu bertanya ingin tahu, “Dia kekasihmu?” Kemudian, wanita itu menelisik tubuh Nadira dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan sinis. Dafa kembali mengarahkan pandangannya ke depan sambil berkata, “Ya.” Wajahnya tampak acuh, tak terlihat tegang sedikitpun, tidak seperti yang Nadira alami. Wanita itu menatap ibunya, lalu beralih menatap Mega, kemudian pergi dari ruangan tersebut. Sedangkan Mega, menatap temannya, Gina, yang merupakan ibu dari wanita itu dengan tak enak. “Maaf,” ucap Mega kepada Gina seraya mengusap lengannya lembut. Gina terlihat tak suka, ia bahkan tak berniat membalas permintaan maaf Mega dan memilih untuk pergi menyusul anaknya. Nadira sangat gugup dengan situasi ini. Ia merasa sangat tidak enak, baik itu dengan Mega ataupun wanita tadi dan ibunya. Apa-apaan bos kakaknya ini? Mengapa menyeret dirinya ke dalam masalahnya? Batin Nadira geram sendiri. Sementara Dafa, tetap dengan wajah dinginnya, menggenggam erat tangan Nadira yang tak dibalas olehnya. Jika saja Dafa melepaskan genggamanan itu, maka sudah pasti tangan Nadira akan langsung terjatuh karena ia memang tidak menggenggam tangan Dafa. “Bunda.” Seorang pria memanggil Mega, membelah kerumunan. Pria itu langsung mendekati Mega, melewati Dafa, Randy dan Nadira. Namun, Nadira merasa bahwa dirinya sedang bermimpi. Ia menundukkan kepalanya yang terasa sangat pusing ketika melihat pria yang baru saja datang. Aditya, pria itu? Pria yang selama ini Nadira hindari. Pria yang telah membuat luka di hati Nadira yang hingga saat ini Nadira belum bisa melupakannya. Siapa Aditya di rumah ini? Mengapa memanggil Mega dengan sebutan Bunda? Jika Mega adalah ibu Aditya, artinya Aditya adalah adik Dafa? Nadira menaungi banyak dugaan di dalam pikirannya. “Ditya? Kamu—” Mega hendak mengomeli, akan tetapi putra keduanya itu segera memotong. “Sudah. Adit di sini, Bun. Di depan Bunda.” Pria itu segera mencium punggung tangan sang ibu, lalu mencium pipinya dengan lembut. Aditya tak datang seorang diri, ia juga membawa seorang wanita. Sepertinya wanita itu adalah kekasihnya. Setelah wanita yang dibawa Aditya mencium tangan Mega, Aditya menatap Dafa dan yang lainnya yang tadi ia lewati. “Bang Dafa,” ucapnya sambil mendekati Dafa, lalu memeluknya. Dafa membalas pelukannya, juga tepukan di punggung sang adik. Satu tangannya tak berniat untuk melepaskan genggaman dari tangan Nadira. “Kita by one setelah acara selesai. Hukuman karna udah buat Bunda nunggu,” bisiknya yang terdengar Nadira juga Randy. Aditya tak membela dirinya, melainkan melihat Nadira yang terlihat menundukkan wajahnya, lalu menatap Dafa. Matanya seolah bertanya 'siapa dia?'. “Nadira.” Dafa memperkenalkan wanita yang berada di sampingnya tanpa menatapnya terlebih dahulu. Aditya hanya mengangguk, lalu berdiri di samping Nadira. Hatinya merasakan yang lain ketika mengetahui bahwa wanita itu bernama Nadira. Tak henti matanya curi-curi pandang ke arah Nadira, tapi wanita itu tak mempunyai keberanian untuk menegakkan wajahnya. Sementara di sampingnya yang lain, ada kekasihnya yang bernama Shahnaz Fransiska. Wanita yang sepertinya seusia Nadira itu terlihat sangat cantik dan manis. Ia berbeda dari wanita kebanyakan, yaitu tidak adanya raut sombong sebagai kekasih Aditya Pratama yang sangat terkenal dikalangan remaja. “Kita mulai?” tanya Mega menatap semua putranya. “Tentu, semua anak Bunda sudah hadir. Tunggu apalagi?” jawab Dafa yang diangguki sang ibu. Dafa ingin melepaskan genggaman tangan Nadira untuk meninggalkannya dan memulai acara sang ibu, akan tetapi Nadira malah mengeratkan genggamannya sehingga Dafa menatapnya heran. “Aku permisi mau ke toilet,” lirih Nadira, lagi-lagi wanita itu tak berani untuk mengangkat wajahnya. “Acara baru dimulai, Sayang. Tunggu sebentar,” jawab Dafa terpaksa memanggilnya 'sayang'. Dafa melihat wanita yang dihindarinya tadi, kembali ke dalam ruangan itu bersama ibunya. Kepala Nadira sudah terasa pusing, ditambah mendengar Dafa memanggilnya dengan sebutan 'Sayang', membuat wanita itu kehilangan kesadarannya dan pingsan saat itu juga. “Nadira!” teriak Dafa dan Aditya secara bersamaan. Namun, Aditya dengan sigap mencegah tubuh Nadira menyentuh lantai, sehingga ia dapat melihat dengan jelas wajah Nadira yang sejak tadi wanita itu sembunyikan. Dafa segera mengambil alih tubuh Nadira dan membawanya ke dalam dekapannya. Berjalan ke tempat lain, lebih tepatnya ke dalam kamar tamu di lantai atas. Tak henti ia merutuki dirinya, karena sudah membuat Nadira tak nyaman, bahkan wanita itu kini tak sadarkan diri. Dafa merebahkan tubuh Nadira di atas ranjang, lalu meminta seorang asisten rumah untuk menemaninya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD