Masa Lalu Dafa

2720 Words
Hanya 2 hari Tasya dirawat di rumah sakit pasca melahirkan. Akhirnya, dokter mengizinkannya untuk pulang. Mengingat Tasya yang baru melahirkan, ibu Tasya memutuskan untuk menginap di apartemen beberapa hari kedepan dan ikut merawat cucunya. Tentu, ia akan memberi nasehat caranya merawat bayi yang benar kepada Tasya. Namun, sejak saat itu hingga pulang ke apartemen, Nadira selalu menghindar dari Farel. Ia akan mendekati keponakannya hanya saat Farel sedang keluar untuk membeli kebutuhan dapur ataupun kebutuhan Tasya dan bayinya. Nadira kecewa atas respon Farel saat ia tahu apa yang dilakukan oleh Dafa kepada dirinya. Kakaknya itu seolah tak dapat membelanya dan membiarkan apa yang terjadi kepadanya begitu saja. Setelah sempat bersitegang di rumah sakit perihal itu, Farel belum memberi penjelasan lagi alasan ia tak dapat membelanya. Hal itu membuat Nadira tak ingin bicara dengannya, bertemu dengannya ataupun apapun itu yang menyangkut Farel. Bahkan saat makan saja, Nadira tak ingin bersama, ia akan menemani keponakannya saat semua sedang makan dan akan makan setelah semua selesai. Hari ini, Farel tak ingin membiarkan Nadira menghukumnya berlarut hingga berhari-hari. Dengan langkah ragu ia mendekati pintu kamar sang adik. “Dek?” panggil Farel sambil memasuki kamar Nadira. Adiknya itu sedang melamun, menatap ke arah jendela. Pandangannya teralih kepadanya yang segera duduk di dekatnya, ditepi ranjang. “Lo kenapa? Gue punya salah apa sama lo? Sampe-sampe lo gak mau ngomong sama gue,” tanya Farel merajuk. Sebenarnya ia tahu penyebab kekesalan sang adik, ia hanya sedang berbasa-basi saja. “Pikir aja sendiri.” Nadira tak berniat sedikitpun untuk menatap yang bertanya. Ia menjawab acuh tak acuh. “Soal Dafa?” tebaknya dengan santai. Namun, kali ini adiknya menatap dengan tatapan murka. “Apalagi?! Gue pikir lo bakal lindungi gue dari cowok-cowok kayak dia! Tapi apa? Lo malah tenang-tenang aja setelah tau apa yang dia lakukan ke gue!” bentak Nadira dengan napas terengah-engah menahan segala sesuatu yang ingin ia serukan saat itu. “Lo mau gue gimana? Gampar si Dafa? Trus apa? Hubungan pertemanan gue berakhir, begitupun pekerjaan gue dan semua yang gue punya sekarang?” Farel ikut tersulut emosi. Nada ia bicara juga tak tenang dan sungguh terdengar tak enak di telinga Nadira. “Artinya lo jual harga diri adek lo, buat kepentingan lo sendiri!” Nadira menujuk Farel dengan jarinya yang ia layangkan di udara dengan mata melotot. “Dek, dia terpaksa lakuin itu. Gue kenal Dafa kayak apa. Dia cowok baik-baik. Dari dulu dia gak pernah main cewek.” Farel mencoba untuk memberitahu Nadira tentang Dafa yang sesungguhnya. “Trus apa yang dia lakuin sama gue? Apa lo pikir itu pantas?” bentak Nadira mengintimidasi. “Gak! Kalo lo tanya benar atau salah, itu jelas salah. Tapi kalo gue ada di posisi dia, gue yakin gue juga bakal lakuin hal yang sama. “Lo denger baik-baik. Dafa gak suka main cewek, apalagi cewek yang kegatelan kayak si Celline. Lo tau cewek itu kayak gimana, 'kan? Nempel-nempel kayak minta digaruk?! Jangankan Dafa, gue yang sering liatnya aja jijik!” Farel menceritakannya panjang lebar sedangkan Nadira memilih diam. Entah apa yang merasukinya, Nadira sebenarnya penasaran juga tentang Dafa dan sifat aslinya seperti apa. Jadi, ia memilih diam dan mendengarkan apa yang diceritakan Farel. “Masalahnya, si Celline itu mulutnya manis banget. Dia berusaha deketin Bu Mega, tujuannya ya si Dafa, gak ada lagi. Trus ya, Bu Mega luluh tuh hatinya, trus paksa si Dafa buat nikahin Celline.” Farel mengatakan itu semua dengan nada gemas dan berhati-hati dalam mengucapkannya. Ia berharap adiknya dapat mencerna apapun yang ia katakan dan mempercayainya. “Lagian, kenapa gak dia nikahin aja biar cewek itu gak gatel lagi?” gumam Nadira sambil memoyong-monyongkan bibirnya. “Sungut lo ya?! Si Celline itu jauh dari tipenya si Dafa. Dafa suka cewek yang lemah lembut, ramah—” Farel ingin memberitahu, seperti apa wanita yang disukai Dafa tapi Nadira menyela ucapannya. “Udah, udah. Stop! Lo malah ngabsen tipe tu orang. Hadew.” Nadira mendelikkan matanya dengan kesal. “Iya maksudnya Celline itu bukan tipe si Dafa. Satu lagi, Dafa itu aslinya memprihatinkan, Dek. Dia gak mau deket cewek lagi pas tunangannya meninggal. Hatinya ketutup gitu, gak percaya sama nasehat-nasehat orang disekitarnya,” jawab Farel yang mulai kesal juga untuk menceritakan sahabatnya, sedangkan Nadira terlihat tak peduli dengan apa yang ia ucapkan. “Dasar bucin! Cewek banyak kale ... bukan tunangannya doang!” cibir Nadira merendahkan. “Mulut lo jaga mulut! Ntar lo bucin sama cowok baru tau rasa lo!” serobot Farel menyumpahi Nadira. “Mohon maaf, itu bukan Nadira namanya.” Nadira tersenyum menyeringai, menyombongkan dirinya dengan percaya diri. Farel mengambil napas dengan rakus lalu membuangnya dengan kasar. Sekian detik diam, Farel menatap adiknya dari ujung kaki hingga ujung kepala lalu ia tersenyum geli. “Tapi ... tipe si Dafa kayak lo, Dek,” celetuknya dengan suara pelan. “Hah?!” pekik Nadira terperanjat hingga melompat dari tempat duduknya dan kini ia berdiri sambil melotot ke arah sang kakak. Farel langsung menutup kedua telinganya saat melihat gerak-gerik Nadira dan ia tahu wanita itu akan berteriak histeris mendramatisir. “Lo masih aja lebay banget kayak gini! Pantesan gak laku-laku. Suara lo bisa bangunin 1 RT buat sahur,” cerocos Farel dengan cepat hingga mulutnya mengeluarkan gemercik saliva yang Nadira hindari susah payah. Hari itu, Farel menceritakan tentang Dafa yang lainnya yang ia ketahui. Tepatnya saat pria itu kehilangan wanita yang sangat dicintainya. Satu tahun yang lalu Seorang pria berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan tergesa-gesa. Langkah demi langkah ia lewati dengan hati dan pikirannya yang cemas setelah mendengar kabar bahwa tunangannya mengalami kecelakaan. Dafa Pratama, pria itu terus berjalan melewati orang-orang yang berpapasan, tak peduli dengan mereka yang mengumpat tak jelas saat Dafa menabraknya. Dafa menghentikan langkahnya dan terdiam saat melihat keluarga tunangannya sudah ada di sana. Yang membuatnya terdiam adalah, ketika melihat ibu sang kekasih yang terlihat sangat terpukul, menangis histeris dan beberapa anggota keluarga lainnya yang berada di sampingnya mencoba untuk menenangkan wanita itu. Paman dari kekasihnya menyadari kehadiran Dafa yang sedang berdiri cukup jauh dari mereka dengan setelan lengkap khas perkantoran. Ya ... Dafa sedang menghadiri meeting di perusahaan Abizard Group saat mendapat panggilan dari paman kekasihnya perihal kecelakaan sang kekasih dan Dafa tak menunggu apapun lagi, ia bergegas datang ke rumah sakit yang disebutkan paman kekasihnya itu. “Dafa.” Pria itu menghampiri dengan wajah tak biasa. Wajahnya terlihat sedih dan terpukul. “Om? Ada apa? Bagaimana Naina? Ibu? Kenapa Ibu—” Dafa bertanya bertubi-tubi dengan raut cemas. Seolah mengetahui apa yang terjadi dengan tunangannya, Dafa tak sanggup untuk melanjutkan langkahnya mendekati keluarga tunangannya. Pria itu menatap lesu, tampak kelopak matanya berwarna merah menggenangi air. “Naina sudah tiada. Nyawanya tidak tertolong,” jawab pria itu pasrah sambil menggelengkan kepalanya, lalu menunduk penuh penyesalan. “Jangan bercanda. Naina baik-baik saja. Dia tidak—” Dafa menghentikan ucapannya, seolah tak ada kata-kata yang dapat ia luncurkan dari mulutnya. Namun, ia juga tak dapat membohongi perasaannya yang mengatakan hal demikian, terlihat dari reaksi keluarga sang kekasih yang mengartikan itu semua. “15 menit yang lalu. Kamu terlambat, Nak.” Pria itu menegaskan sambil mengangguk kecil. “Om?” Dafa ingin memastikan lagi, ia menatap paman kekasihnya itu dengan penuh harap. Berharap dugaannya itu salah, dan pria itu mengatakan bahwa yang ia ucapkan itu bohong. “Tenangkan dirimu,” pinta pria itu mengusap lengan Dafa. “Itu ... gak mungkin. Naina .... ” Dafa menggelengkan kepalanya masih tak percaya. Tubuhnya hampir merosot ke lantai dan para pengawal yang berada di belakangnya, segera membantu Dafa agar tetap tegak. Dengan langkah tergopoh-gopoh, Dafa mendekati keluarga Naina dan paman Naina membantunya untuk berjalan, sedangkan para pengawal memilih untuk menunggu Dafa yang sedang memasuki ruangan. Dafa melihat tunangannya itu sedang berbaring tak berdaya, seluruh badan dan wajahnya tertutupi kain. Dafa ingin melihatnya dan ingin memastikan bahwa wanita itu bukanlah Naina, tunangannya. Namun, siapapun tidak memperbolehkannya. Menurut kabar, Naina mengalami kecelakaan tunggal. Mobil yang dikendarainya menabrak sebuah pohon besar sangat keras sehingga bukan hanya mobilnya yang hancur, tapi beberapa bagian tubuh Naina juga mengalami patah terutama wajahnya yang tak dapat dikenali karena hancur. Satu kesalahan fatal yang Naina lakukan, yaitu tidak memakai seatbelt sehingga dirinya tak terlindungi dari benturan keras. Saat ambulan datang ke tempat kejadian, kondisi Naina sudah sangat kritis dan wanita itu hanya bertahan selama 30 menit setelah sampai di rumah sakit. Sayangnya, Dafa terlambat untuk menemui Naina di sisa hidupnya meski ia sendiri yang mengendarai mobil agar dapat melajukannya sendiri dengan kecepatan tinggi. Hari itu, Dafa kehilangan cintanya, kehilangan wanita yang paling ia cintai. Satu bulan lagi menuju pernikahannya, tapi sayangnya takdir berkata lain. Kekasih hatinya itu harus meninggalkannya untuk selama-lamanya setelah 2 tahun menjalin hubungan. Ia masih mengingat hari-hari lalu, saat terakhir bertemu dengannya, yaitu di sebuah hotel saat di pesta satu tahun pernikahan sahabatnya, William dan Elvina. “Sayang.” Naina berbisik. Dafa hanya menoleh dan mengangkat kedua alisnya sebagai jawaban tanpa mengatakan apapun. “Bu Elvina cantik banget, ya? Beda banget sama aku,” ujar Naina sambil menunjuk ke arah Elvina yang sedang berada di samping William, menyambut para tamunya saat mereka baru saja datang. Dafa hanya diam, malas menanggapi atau terkesan bosan membicarakan hal yang sama dengan tunangannya itu. “Bener, 'kan? Kamu coba lihat pasangan temen-temen sama rekan kerja kamu, mereka punya style berkelas, cantik, kalangan atas. Aku?” Naina masih saja mengomentari wanita lain yang terlihat lebih cantik darinya dan Dafa hanya mendelik kesal tanpa mengatakan apapun. “Sayang jawab,” rengek Naina menggoyahkan lengan Dafa. “Aku bosan jawabnya,” decih Dafa malas. “Tapi bener, 'kan? Pasangan yang lain pada cantik. Kamu gak malu bawa aku?” tanya Naina merasa tidak percaya diri. “Aku harus berapa kali bilang? Masih belum cukupkah? Atau harus setiap hari, aku katakan hal yang sama kalau kamu itu cantik? Aku gak peduli pandangan orang lain seperti apa. Menurutku, kamu sudah sangat cantik dan wanita yang hadir di pesta ini gak ada yang bisa ngalahin kecantikan kamu. “Kapan kamu mengerti, Na? Dengar, kalau aku menyesal karna pilih kamu, maka kamu gak perlu susah payah buat kasih tau aku. Aku pasti udah ninggalin kamu dari dulu, Sayang,” tegas Dafa panjang lebar. Dafa hampir saja membuat kehebohan di ruangan tersebut dengan suaranya, tubuhnya bahkan ingin melakukan sesuatu agar tunangannya percaya dan tak membicarakan hal itu lagi. Ia ingin sekali membanting apapun yang ada di sana, akan tetapi sosok malaikat berbisik agar ia tak membuat malu dirinya sendiri. Pasalnya, ia adalah orang yang paling menjadi sorotan, dikarenakan statusnya adalah orang yang sangat dipercayai oleh keluarga Abizard, keluarga yang sangat terkenal dan terhormat di Indonesia. “Maaf,” lirih Naina dengan bibirnya yang tersenyum bangga dan akhirnya Dafa ikut tersenyum menyakinkan Naina. Tepat keesokan harinya setelah menghadiri pesta ulang tahun pernikahan William dan Elvina, Dafa dan Naina mengunjungi sebuah butik untuk memesan gaun pernikahannya. Sesampainya di sebuah butik yang sangat mewah, bahkan butik tersebut seperti khusus orang berkelas dikarenakan tidak sembarangan dapat dikunjungi orang-orang. Mereka disambut dengan ramah oleh karyawan-karyawan setempat. Salah satu karyawan segera menghampiri dan mempersilakan Dafa dan Naina untuk duduk di sebuah ruangan. Karyawan itu mengatakan, bahwa seorang designer sedang dalam perjalanan, ia meminta Dafa dan Naina untuk menunggunya. Setelah karyawan itu pergi dan pintu ruangan tersebut sudah tertutup rapat, dengan malu-malu Naina berdiri lalu mendekati deretan gaun yang terpajang di ruangan tersebut. Setelah melihat-lihat beberapa gaun, tampak semburat senyum melengkung di bibir Naina. Hal itu disadari Dafa, ia segera berdiri dan mendekati tunangannya itu karena merasa penasaran. “Sayang, aku cocok gak sih pake yang ini? Kayaknya kekecilan.” Naina menunjukkan salah satu gaun yang sepertinya ia menyukai gaun itu. Dafa menghela napas dalam-dalam, akhirnya ia mendengar celotehan itu lagi dari mulut Naina. Wanita itu sangat tak percaya diri dengan tubuhnya sendiri yang sedikit sintal, kulit yang tidak putih ataupun hitam dan pendek. “Kamu selalu aja bilang begitu. Kamu 'kan bisa atur gaun yang sesuai ukuran yang pas di badan kamu,” jawab Dafa mencoba setenang mungkin, walau hatinya tidak. Ia sudah bosan membicarakan ketidak percayaan diri Naina sejak dulu. “Maksud aku, aku cocok gak kalo gaunnya kayak gini. Takutnya gak cocok kalo buat badan aku yang gemuk gini. Malah ntar keliatannya aneh gitu,” tutur Naina meminta pendapat. Namun, dari caranya bicara, sudah jelas bahwa ia tetap tak bisa menyembunyikan keraguannya. ‘‘Kamu cantik pakai apapun. Dan jujur, aku bosan bilang seperti itu. Kamu harusnya percaya diri, Sayang.” Dafa memelas dengan lembut. Tak ingin melanjutkan pembahasan itu lagi, Dafa memutuskan untuk kembali ke sofa. Namun, saat Dafa memutar badannya, Naina memanggilnya. “Mas Dafa.” Dafa berhenti, ia kembali menatap Naina. “Hm.” Dafa hanya berdeham sebagai jawaban. Ia menyembunyikan kedua tangannya di balik saku celana yang sedang ia pakai. Naina berjalan mendekati Dafa sambil berkata, “Hingga detik ini, aku masih gak percaya kalo kamu mau sama aku, sama cewek kayak—” “Naina—” potong Dafa memperingati. Tetapi Naina balik memotong ucapannya. “Dengerin dulu!” pinta Naina yang akhirnya Dafa terdiam. “kamu liat aku, liat wajah aku, badanku? Apanya yang bagus? Aku berasal dari keluarga tak punya dan kamu? Kamu sempurna .... ” Naina menghentikan ucapannya, lalu melanjutkannya kembali, “kamu memiliki segalanya. Kamu tampan dan aku tau sendiri banyak cewek yang ngejar kamu—” Naina belum selesai bicara, akan tetapi Dafa menghentikannya saat ia lihat wanita itu hendak menangis. Suaranya tiba-tiba bergetar, matanya berkabut memerah. “Dan aku tetap memilihmu. Sayang ... aku ingin menikahi wanita yang mencintaiku apa adanya, tanpa melihat aku yang sekarang. Apapun yang aku miliki saat ini, belum tentu bisa ku pertahankan sesuka hatiku. Dunia ini berputar, tidak ada yang tahu bagaimana kita di hari esok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan atau waktu yang akan datang. “Bisa saja minggu depan aku jatuh miskin. Entah dengan cara apa hal itu bisa saja terjadi dan aku mau mempunyai istri sepertimu. Istri yang bisa aku ajak dalam keadaan suka ataupun duka dan aku mengenalimu Naina, kamu bisa untuk aku ajak susah kalau aku jatuh miskin,” jawab Dafa panjang lebar meyakinkan. Sorot matanya yang tajam menyiratkan kesungguhan hatinya mengatakan itu. “Enak aja! Kamu miskin, aku cari yang lain lah!” ujar Naina menggoda seraya membalikan badannya menghadap ke arah deretan gaun. “Hey, Nona gemuk, jangan—” Dafa ingin menggodanya kembali, tetapi sulit. Naina malah kembali merajuk seperti tadi. “Tuh, 'kan! Katanya aku harus percaya diri, tapi kamunya sendiri malah suka ngejek.” Naina menggerutu, bibirnya ia buat cemberut membuat Dafa merasa serba salah. Cewek mah emang selalu benar! Dafa aja yang gak tau, kalau kalimat itu akan tetap berlaku! “Loh, kamu yang duluan bikin bete. Aku sayang banget sama kamu, Sayang ... jangan pernah tinggalkan aku dalam keadaan apapun,” ucap Dafa sambil membawa tubuh Naina ke dalam dekapannya yang hangat. Ia beberapa kali mencium puncak kepala Naina dengan lembut dan kasih sayang yang tulus. Jika seorang pria kaya dan tampan identik dengan wanita modern, cantik, betubuh ramping, putih dan sexy. Semua itu tidak berlaku untuk Dafa. Sifat dinginnya terhadap wanita diwarisi dari sang ayah. Bukan hanya itu, selama ia berhubungan dengan keluarga Abizard, William yang merupakan anak tunggal Abizard juga memiliki sifat yang sama, yaitu dingin kepada wanita. Dafa lebih menyukai wanita sederhana, tak peduli wanita itu berasal dari pedesaan atau perkotaan. Tak peduli tubuh dan wajahnya seperti apa. Tak peduli juga apa status pekerjaannya, materinya, latar belakang keluarganya dan lain sebagainya. Pria itu menyukai wanita yang mandiri, murah hati, tulus dan mencintainya dengan apa adanya tanpa melihat materi yang ia miliki saat ini. Dafa sangat mengerti, seseorang tak mungkin akan selalu sama dari waktu ke waktu. Hal yang ia khawatirkan adalah, kembalinya keluarga Pratama ke masa dulu, masa dimana mereka menjadi keluarga sederhana. Ia tak ingin punya istri yang berjiwa sosialita sangat tinggi seperti Celline. Baginya, hanya akan membuat celaka di masa depan jika memiliki istri seperti itu. Ia selalu membayangkan apapun yang ia miliki saat ini, bisa saja hilang dan ia kembali menjadi orang biasa. Hanya akan membuat malu sang istri. Ia juga tak ingin menjadi seorang suami yang tak dapat memenuhi kebutuhan istrinya. Dafa sudah mendapatkan wanita yang ia inginkan dan ia dambakan, yaitu Naina. Sayangnya, takdir merencanakan hal lain. Dafa harus mengubur perasaannya dan hingga detik ini, rasanya ia belum siap untuk membuka hatinya kembali. Banyak wanita yang menginginkannya termasuk Celline, tapi apa mereka memiliki hati yang tulus seperti Naina?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD