Nadira vs Farel

2049 Words
Saat mereka sampai di pelataran rumah sakit, hari sudah gelap. Jam di ponsel Nadira memperlihatkan pukul 19:45. Nadira tak ingin menunggu, apalagi berjalan bersamaan dengan Dafa. Ia berjalan lebih dulu ke arah lift sehingga Dafa tertinggal di belakangnya. Pintu lift terbuka, Nadira lanjut berjalan menuju ruangan dimana Tasya berada. Tampak keluarga Tasya masih ada di sana. Paman Tasya langsung mempersilakan Nadira untuk masuk ke dalam ruangan. Tentu, dengan semangatnya Nadira masuk ke dalamnya. Ia segera menghampiri Farel dan Tasya. Tidak ... maksdunya bayi yang berada di samping Tasya. “Lucu banget ... Sayang, kamu cantik banget sih,” puji Nadira merasa sangat gemas, ingin sekali mencubit pipi bayi yang baru lahir beberapa jam yang lalu itu. “Gimana pestanya? Bu Mega bilang apa tau gue gak bisa hadir?” cecar Farel. “Tanya aja sendiri.” Nadira mengangkat bahunya sekilas dengan malas. Mengingat Dafa juga ikut ke rumah sakit, membuatnya semakin malas untuk memberitahu apa yang ia alami di pesta tadi. Rasanya akan percuma jika ia mengadu. Seperti yang dikatakan Dafa, mungkin saja Farel tak akan marah dan malah memahami situasi sahabatnya itu. Dalam kata lain, Nadira merasa percuma jika meminta dukungan dari kakaknya itu. “Lah?” Farel tak mengerti apa yang dimaksud adiknya itu. “Ekhem, Rel?” deham Dafa yang baru saja masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu karena pintunya sedikit terbuka. “Dafa? Wah, thanks udah jenguk. Padahal gak usah repot ke sini, 'kan Bu Mega lagi ada acara,” sapa Farel dengan antusias. Farel senang karena orang sekelas Dafa mau menjenguk bayinnya di rumah sakit. Namun, ia juga merasa tak enak karena ia tahu sendiri Mega yang merupakan ibu Dafa sedang mengadakan acara ulang tahun. Lalu, untuk apa Dafa malah menjenguknya di rumah sakit? “Acaranya udah mau selesai. By the way, gue mau jelasin sesuatu sebelum Nadira yang kasih tau lo,” jelas Dafa sambil melirik ke arah Nadira yang juga menoleh ke arahnya dengan tatapan sinis. “Soal apa?” Farel mengernyitkan keningnya bingung, lalu menoleh ke arah Nadira yang akan menggendong bayinya. “het ... jangan digendong!” cegahnya dengan cepat menghambat Nadira, melarang wanita itu untuk menggendongnya bayinya. “Apa sih? Bentar aja.” Nadira melemparkan tatapan protes. “Gak bisa, pokoknya gak boleh!” Farel tetap tak memberi izin Nadira menggendong putrinya. “Ya tapi kenapa? Gue udah cuci tangan kok,” bentak Nadira tak terima dengan larangan Farel. “Bukan itu masalahnya, lo 'kan gak pernah gendong bayi.” Farel merasa khawatir jika Nadira menggendong bayinya. Sementara Dafa dan Tasya hanya diam, menonton adegan kakak beradik yang sedang berseteru tanpa ingin terlibat ke dalamnya. “Tau dari mana gue gak pernah berurusan sama bocah? Di Australia, gue udah biasa gendong ginian!” Nadira sambil berkacak pinggang, lalu menunjukkan ibu jarinya ke arah bayi. “Ra, gendong aja sih. Gara gak usah didengerin,” sela Tasya tak ingin mereka berdua terus mendebatkan perihal itu. Belum lagi ada Dafa yang sangat ia hormati. Sangat tidak sopan jika adik kakak ini terus bertengkar di hadapan Dafa yang akan menjenguknya. “Loh Yang, ntar jatuh gimana? Kamu itu—” Farel jelas tak terima dengan lontaran Tasya, akan tetapi istrinya itu segera memberi isyarat, bahwa ada orang lain di dalam ruangan tersebut yaitu Dafa. Farel segera menyadarinya, ia langsung menoleh ke arah belakang. “Sorry Daf. Eh, tadi mau ngomong apa? Kita bicara di luar?” tanyanya yang baru ingat kalau temannya itu ingin mengatakan sesuatu. Dafa mengangguk satu kali atas pertanyaan Farel dan Farel berniat untuk membawa temannya itu keluar dari ruangan tersebut. “Jangan gendong kelamaan, ntar lo pegel. Jatuh awas aja!” Farel memperingati Nadira setelah adiknya itu berhasil menggendong putrinya. Farel mendengus sebal, kemudian keluar dari ruangan itu bersama Dafa. Bukan hanya keluar dari ruangan, tetapi keluar dari area rumah sakit. Dafa membawa Farel ke sebuah cafe yang tak jauh dari rumah sakit. Setelah minuman yang dipesan datang, Dafa menjelaskan apa yang terjadi di rumahnya bersama Nadira. Tidak semuanya, tetapi Dafa mengatakan inti dari masalah yang terjadi yang membuat Nadira marah padanya. Farel bukan hanya sekadar seorang sopir pribadi, tapi juga sahabat yang selalu mendengarkan cerita Dafa. Ia sendiri tahu, betapa bersusah payahnya Dafa menghindari wanita bernama Celline. Farel sempat marah dan tak terima dengan ungkapan Dafa yang mengatakan bahwa dirinya mencium Nadira karena terpaksa. Namun, ia juga ingin Mega mengerti perasaan Dafa yang tak ingin dipaksa untuk menikah dengan Celline. Dengan berat hati, Farel memaafkan sahabatnya itu meski ia harus mengorbankan perasaan sang adik. Farel juga akan menjelaskan alasan Dafa melakukannya, juga alasan ia tak bisa marah dengan apa yang dilakukan Dafa kepada Nadira. Farel harap, Nadira akan mengerti situasi Dafa yang sangat tertekan dengan tuntutan ibunya yang menginginkan Dafa segera menikah dengan Celline. Setelah cukup lama membicarakan masalah itu juga berbincang yang lainnya, Dafa dan Farel memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Dafa bahkan belum sempat melihat bayi yang ingin ia jumpai, khawatir Nadira akan mengadu berlebihan yang mungkin akan membuat Farel salah paham, ia ingin segera menjelaskannya lebih dulu sebelum Nadira yang bicara. “Tasya, semoga cepat pulih agar cepat pulang. Oh ya, siapa nama bayinya?” tanya Dafa saat baru memasuki ruangan, mendekati bayi yang sedang berada dalam tempat tidurnya. Sedangkan saat itu, Nadira sedang memotong buah apel untuk Tasya makan. “Karina Zahra Anggara. Panggil aja Karin.” Farel yang menjawabnya. Dafa ingin sekali menggendong bayi itu, akan tetapi ia tak berani melakukannya. “Waw, nama yang bagus juga cantik,” puji Dafa tersenyum sambil mengelus pipi mungil bayi itu dengan punggung jarinya. “Seperti ibunya.” Farel ikut tersenyum. Namun, senyumnya langsung menghilang saat mengkhawatirkan sesuatu. Farel menambahkan, “eh, tapi lo gak usah puji ibunya, ya?” Farel memperingati Dafa untuk tidak ikut memuji kecantikan Tasya. Hanya dia sendiri yang boleh memuji istrinya, pria lain jangan. Bucin mode on. “Apaan sih?” Tasya geli sendiri. Pipinya langsung memerah, tersipu dengan lontaran suaminya. “Dasar bucin!” gumam Nadira tanpa berniat menatap siapapun dan fokus dengan buah yang sedang ia potong. Namun, lontarannya terdengar oleh Dafa karena posisi mereka cukup dekat. “Kalau gitu, bayi lo cantik kayak tantenya,” ujar Dafa kepada Farel. Farel melarang Dafa untuk memuji Tasya. Tidak ada salahnya memuji bibi bayi itu, bukan? “Eh?!” pekik Nadira merasa pendengarannya itu salah. Mau tidak mau, ia spontan menghentikan aktivitasnya, lalu menatap Dafa yang sedang tersenyum menyeringai. Pria ini benar-benar diluar nalar manusia. Batin Nadira bergidik ngeri. “Ekhem ... aduh, keselek infusan,” seru Tasya yang sedang susah payah menahan tawa mendengar ucapan Dafa. Ia menggosok-gosok tenggorokannya, guna meredakan keinginannya untuk tertawa. Nadira semakin geram dibuatnya. Ia melotot horor ke arah Dafa sambil mengeratkan pisau yang sedang ia genggam. “Ra?” panggil Farel memperingati. Khawatir adiknya itu melakukan sesuatu dengan pisaunya kepada Dafa. “Kok malah gue?!” Kini tatapannya teralih ke arah sang kakak, masih dengan wajahnya yang tak tenang dilihat. “Oh iya, Bang Dafa, terima kasih kadonya bagus banget loh.” Tasya menyela sebelum keributan yang mungkin akan tercipta saat itu juga. “Adik iparmu tau barang bagus, Sya,” jawab Dafa tenang, mengangguk kecil. “Maksud lo, barang mahal ya?” celetuk Farel dengan entengnya. Farel sendiri tahu, barang yang diberikan Dafa sangatlah mahal karena mereknya sendiri sudah sangat terkenal dengan harganya yang fantastis. “Gue lagi? Demi apa Jaenudin?” bentak Nadira kepada Farel, merasa tersinggung. Matanya benar-benar melotot seperti akan keluar dari kelopaknya. “Lupakan itu. Terima kasih sudah membantu mencarikan kado,” ucap Dafa kepada Nadira. Kali ini, ia yang ingin menghentikan perdebatan Nadira dan Farel. “Rel, Sya. Gue harus cabut,” pamit Dafa setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Santai dulu lah,” cegah Farel merasa tak enak, karena sepertinya Dafa tak nyaman dengan tatapan Nadira yang sinis. “Gak baik kalau gue lama-lama di sini.” Dafa menatap Nadira sekian detik, lalu kembali menatap Farel seolah sedang mengadu dengan isyarat matanya. “Sekali lagi terima kasih, Bang,” ulang Tasya sambil tersenyum manis. Dafa hanya mengangguk kecil, lalu menepuk bahu Farel sebelum akhirnya ia keluar dari ruangan tersebut. Nadira masih menatap tak suka saat Dafa melewatinya ketika akan keluar. Farel langsung mengoceh, “Lo itu ya, gak sopan mata lo melotot gitu.” Farel menasehati, tapi yang dinasehati malah memutar bola matanya dengan malas. Nadira balik mencak-mencak. Berkata, “Dia atau lo yang harus gue pelototin? Hah? Lo gak tau dia—” “Gue tau, gue tau. Dia udah jelasin semuanya. Ngomong-ngomong, suara lo jaga, ntar anak gue nangis anjir,” potong Farel dengan cepat sebelum adiknya selesai bicara. “Trus, lo apain tu orang? Lo tau, dia tuh cium gue!” terang Nadira dengan nada ketus. “Hah? Serius? Bang Dafa?” pekik Tasya mendramatisir. “Lo juga Sya, muka lo kondisikan! Gak usah lebay,” cibir Farel lalu mendengus kesal. “Kok lo santuy ya anjir? Kakak macam apa lo coba?” geram Nadira karena Farel terlihat biasa saja tanpa adanya amarah mengetahui adiknya diperlakukan semena-mena oleh temannya sendiri. “Dek, gue gak bisa nyalahin Dafa sepenuhnya. Kalo gue ada diposisi dia, gue juga bakal lakuin itu.” Farel mencoba menjelaskan dan ia berharap Nadira akan mengerti. “Cium cewek seenaknya?” tebak Nadira mengangkat satu alisnya dengan wajah tak enak dipandang. Farel ingin menjelaskan lebih. Berkata, “Bukan gitu—” “Oh ... lo mau cium cewek lain, gitu maksudnya?” serobot Tasya yang malah kali ini, ia yang ingin berhadapan dengan suaminya. “Tuh 'kan ribet jadinya. Lo mah gak ngerti.” Farel mendelik kesal ke arah Nadira. “Lo yang gak ngerti!” bentak Nadira tak terima. “Gara jawab!” Tasya meminta penjelasan sang suami. “Au ah. Gue mau nyari angin segar.” Farel tak ingin berhadapan lagi dengan adik dan istrinya. Ia memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut sebelum suasana semakin panas. “Eh, sini lo! Nyari angin apa nyari cewek?!” Tasya memerintah dengan nada tak tenang. “Dua-duanya!” jawab Farel sekenanya saat akan menutup pintu kembali, sementara dirinya sudah di luar ruangan itu. “Gara!” teriak Tasya memanggil tapi pria itu tak ingin melanjutkan perdebatan apapun lagi. Tasya tampak mengumpat tak jelas. Namun, ia teringat dengan apa yang Dafa lakukan pada Nadira. Ia langsung berseru, “Dek, lo serius dicium sama Bang Dafa?” Nadira menipiskan bibirnya, menatap malas ke arah Tasya lalu memutar bola matanya ke arah lain. “Malah pelanga pelongo. Gue tanya, Dek,” desak Tasya meminta penjelasan. “Dia terpaksa! Gue jadi pacar boongannya tadi. Sialan emang!” Nadira mengoceh sambil duduk di kursi, di samping Tasya. “Apa?! Serius? Pura-pura depan siapa?” Tasya memekik histeris. Pikirannya langsung membayangkan apa yang Nadira dan Dafa lakukan sebagai pasangan kekasih. “Semuanya,” lirih Nadira. Bibirnya lalu mengkerut seperti anak kecil yang akan menangis. “Astaga .... ” Tasya tercengang. Kembali, membayangkan adegan 'pasangan' dadakan itu di depan banyak orang. Sayangnya, ia tak dapat menyaksikannya secara langsung. Andai ia bisa melihatnya, tentu ia akan merekamnya sebagai dokumen bersejarah. Nadira sangat tersentuh dengan kekagetan Tasya. Ia pikir, kakak iparnya itu tak menyangka bahwa Dafa adalah pria yang sangat tidak masuk akal. Jadi, Nadira berseru, “Gak nyangka, 'kan? Gue juga awalnya ngira tu cowok waras. Ternyata, lebih sakit dari cowok yang biasanya godain gue!” “Bukan itu!” Tasya mengoreksi kesalahpahaman Nadira. Ia melanjutkan, “kemungkinan, Bu Mega bakal cepet-cepet sebar undangan.” Nadira bingung sendiri. Ia bertanya, “Kawinan tu dedemit ama cewek yang namanya Celline?” “Sama lo! Masa ama si Celline! 'Kan lo yang jadi pacarnya.” Tasya sewot sendiri, merasa gemas dengan pikiran sempit Nadira. “Lah?” Nadira semakin bingung. “Lagian, lo harusnya seneng, Dek. Pratama itu keluarga terpandang. Kaya raya tapi gak sombong,” ujar Tasya penuh dengan percaya diri, memuji keluarga Pratama yang selama ini ia kenal. Nadira tidak tahu harus tertawa atau menangis. Ia sudah cukup gila hari ini, malah semakin gila saat berbicara dengan kakak iparnya. Nadira langsung berakting seperti sedang mengikuti casting FTV, berkata seolah sedang berpuisi, “Ohhh, aku sangat bahagia hari ini. Setelah dicium seorang pangeran, aku akan segera menikah dengannya. Tuhan, aku—” “Kagak gitu aturannya Maemunah!” bentak Tasya kesal sendiri. Nadira menghentikan aktingnya, mulutnya komat-kamit, entah mantra apa yang sedang ia bacakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD