Robot Atau Boneka?

2112 Words
Duduk di kursi yang tadi diduduki Aditya, Dafa menatap Nadira yang terlihat lemas. Wajahnya mununduk dalam, tangannya memijat keningnya yang terasa berat. “Kamu pusing?” Dafa khawatir Nadira akan pingsan kembali. Nadira mengangkat wajahnya yang terlihat kesal. “Lupakan! Kapan acaranya selesai?” bentaknya tak tenang. Nadira merasa akan gila jika berlama-lama lagi di sana, apalagi jika bertemu dengan Aditya dan kekasihnya. Belum lagi Evano, Celline dan ibunya yang menatap sinis. Berbagai tekanan ini terjadi di waktu yang bersamaan. Bagaimana Nadira akan baik-baik saja? Bagaimana bisa ia bersikap tenang jika keadaannya sendiri terus membuatnya tertekan dan terancam? Entah salah Farel yang memaksanya untuk datang ke pesta ulang tahun Mega, atau salah Dafa yang menyeretnya ke dalam berbagai masalah, atau memang takdir yang sedang mempermainkan Nadira. Entahlah, hanya Author yang tahu. “Kita bisa tinggalkan tempat ini sekarang. Biar adik saya yang terima tamu,” jawab Dafa lembut, merasa bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan. Nadira langsung mendongakkan wajahnya, menatapnya dengan kesal. “Kenapa gak dari tadi?” “Maaf.” Dafa mengakui kesalahannya yang sudah membuat Nadira tertekan. “saya antar kamu pulang,” ujarnya kemudian. “Tidak perlu. Saya mau ke rumah sakit,” tolak Nadira dengan sopan serta rendah hati. Setidaknya, ia bisa pulang sekarang dan itu sudah cukup untuk tidak bertindak tidak sopan lagi kepada Dafa, bukan? “Memakai dress?” Dafa memicingkan satu alisnya, menelisik penampilan Nadira. Akan telihat lucu jika Nadira datang ke rumah sakit dengan riasan seolah-olah ia akan tampil di sebuah acara TV. “Nggak sih. Maksudnya, itu tidak perlu, saya bawa mobil.” Nadira kekeh tak ingin Dafa mengantarkannya pulang. Lagpula, dirinya memang membawa mobil sehingga ia tak perlu diantar siapapun untuk pulang, apalagi dengan Dafa si pria yang tak berperasaan. “Tidak apa. Kamu akan meninggalkan tempat ini, artinya saya juga harus pergi. Saya mau menjenguk bayi Farel.” Dafa tetap ingin meninggalkan rumahnya bersama Nadira. Apa jadinya jika ia membiarkan Nadira pulang seorang diri, tentu ia akan dicecari pertanyaan oleh ibunya. “Kalau begitu, Pak Dafa duluan aja. Saya mau ke apartemen dulu.” Nadira tak ingin pusing. Pria itu ingin menjenguk Tasya dan bayinya sebagai alasannya, bukan? Nadira tak mungkin melarangnya, tapi ia tak sudi pergi bersama. “Tentu.” Dafa segera menggenggam tangan Nadira dan membawanya ke hadapan sang ibu untuk pamit pulang. Lagi-lagi Nadira ingin sekali merutuki Dafa yang bertindak sesuka hatinya, akan tetapi ia tetap memasang wajah ramah tanpa memperlihatkan kekesalannya. Dari kejauhan, Nadira sudah mengambil napas panjang dan menghembuskan perlahan, mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Aditya dan kekasihnya. Juga, wanita yang bernama Celline dan ibunya yang sedang berada di meja yang sama dengan Mega. “Bun, Dafa mau antar Nadira pulang,” ucap Dafa setelah tepat di dekat ibunya. Mega segera bangkit dari tempat duduknya untuk berbicara dengan putra sulungnya itu. “Kamu mau ninggalin pesta Bunda? Kenapa sih?” keluh Mega yang terlihat kesal menatap Dafa dan Nadira secara bergantian. “Nadira ingin pulang, Bun,” jawab Dafa malas. Melihat raut wajah Mega yang kecewa, Nadira merasa tak enak dan lagi, ia juga tak ingin Dafa mengantarkannya pulang. “Saya bisa sendiri,” selanya memberanikan diri untuk bicara. Dafa melotot tajam ke arah Nadira, otaknya terus mencari kata untuk ia ucapkan. “Kenapa tidak bilang dari tadi, Sayang? Kalau kamu mau pulang, pulanglah tanpa aku harus mengantarkanmu.” Kini Dafa bernada jengkel. Nadira melongo tak percaya. Sekali lagi, pria itu membuat Nadira merasa tak enak. Aktingnya sangat baik, seolah-olah ia tak peduli Nadira akan pulang seorang diri. Padahal, tadi ia sendiri yang ngotot ingin mengantarkan Nadira, bukan? Menyebalkan! Belum lagi Celline, Gina, Aditya, dan Shahnaz memperhatikannya sejak tadi. Tak perlu dijelaskan, Nadira sangat malu luar biasa. “Dafa?! Antar Nadira pulang!” titah Mega kesal mendengar jawaban Dafa yang tak ingin mengantarkan Nadira untuk pulang. “Teman-teman Dafa baru datang, gak enak tinggalin mereka,” kilah Dafa sekenanya dengan santai. “Kamu ini gimana, sih? Masa Nadira pulang sendiri?!” oceh Mega melotot kesal ke arah sang putra. Nadira sempat mengerjapkan matanya menahan kesal yang semakin dibuat-buat oleh Dafa. Namun, reaksi Mega sungguh membuatnya terkejut. Wanita itu terlihat tak suka jika Dafa tak mengantarkannya seolah ia membela Nadira. Mega memang mendidik semua putra-putranya untuk bertindak dewasa, berlaku adil dan menghargai wanita manapun. Terutama pasangan mereka masing-masing. Mega tak sungkan membela wanita yang menurutnya tak mendapatkan keadilan dari putranya. “Saya bawa—” “Willi sama Evan baru datang, Bun.” Dafa menyela dengan cepat sebelum Nadira selesai bicara. Tadinya, Nadira ingin mengatakan bahwa dirinya membawa mobil sendiri dan memang ia tak menginginkan Dafa untuk mengantarkannya pulang. “Dan kamu lebih milih mereka dibanding pacar kamu sendiri? Keterlaluan kamu! Antar Nadira! Bunda gak mau tau!” bentak Mega tak ingin mendengar bantahan apapun lagi. “Nadira, hati-hati di jalan, ya? Lain kali, kita perlu bicara biar Bunda mengenalmu lebih dekat,” ucap Mega lemah lembut sambil mengusap lengan Nadira. “Saya pamit pulang, Bu.” Nadira membalas senyuman Mega, lalu mengangguk hormat. Setelah itu, Dafa dan Nadira keluar dari rumah tersebut. Salah satu orang Dafa bergegas membukakan pintu mobil untuk Dafa dan Nadira masuki. Tak ada pilihan lain, Nadira terpaksa memasuki mobil Dafa sementara mobilnya dikendarai oleh orang suruhan Dafa. Tak ada percakapan ketika mereka berada di dalam mobil hingga di pertengahan jalan, Dafa meminta maaf atas apa yang ia lakukan tadi kepada Nadira. Namun, Nadira tak berniat menjawab apapun mengartikan dirinya tak memaafkan Dafa. Tibanya di pelataran apartemen, tanpa basa-basi Nadira segera keluar dari mobil dan berjalan ke arah lift. Ia memasuki apartemen sang kakak, lalu berganti pakaian dengan pakaian santai karena dirinya akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk keponakannya yang baru lahir itu. Setelah Nadira selesai bersiap-siap, ia bergegas keluar dari apartemen tersebut dan sungguh, ia kaget melihat Dafa sedang berdiri di depan pintu. Nadira pikir, Dafa sudah pergi saat ia turun dari mobilnya tadi. Namun ternyata, Dafa mengikutinya hingga depan pintu dan menunggu Nadira berganti pakaian. Sementara dirinya, masih memakai pakaian formal, hanya saja ia sudah melepaskan blazer yang tadi ia pakai. “Sudah? Kita berangkat bersama,” tanya Dafa setenang mungkin. “Eh?” Nadira ingin memastikan ucapan pria itu. Dedemit mana yang merasuki tubuh pria berwajah tampan itu? Sungguh, ia tak percaya dengan apa yang dilakukan Dafa hari ini. “Saya tidak menyukai penolakan,” kata Dafa menatapnya tajam. “Tapi Bapak gak bisa seenaknya gitu dong. Saya mau ke sana sendiri,” bantah Nadira tetap tak ingin pergi bersama. “Antar saya membeli kado untuk bayi Farel,” pinta Dafa yang lebih mendominasi memerintah. “Apa?!” pekik Nadira semakin geram. Untuk apa Dafa memintanya untuk menemani membeli sebuah kado? Bukankah pria itu memiliki banyak pengawal? Lantas, kenapa malah meminta Nadira yang menemaninya? Nadira benar-benar tak habis pikir. Mungkinkah ia sedang bermimpi? Sebaiknya seperti itu. Aditya bukanlah anak Mega dan bukan adik Dafa. Nadira berharap dirinya hanya sedang bermimpi, mimpi bertemu Aditya di rumah Mega. “Sekali lagi saya peringatkan, saya tidak suka ada yang membantah perintah saya.” Dafa menekankan setiap kata-katanya. Ucapannya itu membuyarkan lamunan Nadira dan seketika Nadira mencerna apa yang dikatakan pria yang sedang berdiri tepat di hadapannya saat ini. “Mohon maaf Pak, saya bukan bawahanmu.” Tak kalah, Nadira menegaskan ucapannya sambil menatap tak suka. “Siapa yang mengatakan kamu bawahan saya? Saya hanya meminta bantuan kamu untuk mengantar saya membeli kado.” Dafa benar-benar keras kepala, tak ingin mendengar bantahan apapun lagi. Nadira menghela napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan guna menenangkan hatinya sendiri yang ingin sekali mencak-mencak kepada pria yang sialnya adalah bos kakaknya. Baiklah, Nadira akan menemani Dafa membeli kado untuk bayi Farel. Dirinya tak ingin melanjutkan perdebatan yang sepertinya tak akan pernah menang melawan pria tak berperasaan itu. Tibanya di tempat parkiran apartemen, perdebatan kembali terjadi saat Nadira bersikukuh tak ingin ikut dengan mobil Dafa, dirinya ingin mengendarai mobil Farel. Namun, Dafa kembali memaksanya untuk ikut dengannya memasuki mobil miliknya. Sekali lagi, Nadira hanya bisa mematuhinya setelah cukup lama bersitegang dengan pria itu. Tak ada percakapan dari mulut ke mulut sepanjang perjalanan, kecuali Nadira yang tak henti mengumpat di dalam hatinya. Sungguh, hatinya sedang merasakan berbagai hal sejak mengetahui Aditya adalah adik Dafa. Dan kali ini, ia harus menghadapi sikap Dafa yang semena-mena kepadanya, sikap pemaksa dan tak ingin kalah yang sulit Nadira kendalikan mengingat Dafa adalah orang yang selama ini membantu Farel dan Tasya. Sampainya di sebuah toko mainan, seseorang membukakan pintu mobil untuk Nadira juga satu pengawal lainnya membukakan pintu di sisi lain untuk Dafa. Kembali Nadira merasa jengah karena perlakuan para pengawal Dafa yang menurutnya sangat berlebihan, seolah dirinya adalah seorang Tuan Putri kerajaan yang diikuti banyak pengawal. Nadira tetap diam, tak berniat mengucapkan satu katapun. Ia memutuskan untuk memimpin jalan memasuki toko mainan tersebut. Tanpa basa-basi, Nadira segera mencari sesuatu untuk ia jadikan sebuah kado untuk keponakannya. Sementara para pengawal Dafa menunggu di luar toko. “Apa yang bagus menurutmu, ambil saja. Saya tidak tahu kado apa yang bagus untuk bayi Farel,” ujar Dafa yang sejak tadi hanya mengikuti kemana Nadira pergi tanpa mengatakan apapun. “Pak Dafa, kenapa gak minta pacar Bapak aja buat temani?” sindir Nadira tanpa berniat menatap Dafa. Dirinya tak sudi untuk melakukan itu dan fokus melihat-lihat mainan yang terlihat sangat lucu di sana. “Pertanyaan konyol. Kalau saja saya punya pacar, tidak mungkin memintamu bantuanmu, Nadira.” Dafa menjawab setelah mendengus sebal. Nadira tak ingin mengatakan apapun lagi selain segera berjalan ke arah trolli dan mengambil satu dari sekian banyak trolli yang menumpuk di sana. Wanita itu segera mencari sesuatu untuk bayi Farel atas permintaan Dafa. “Sepertinya ini bagus,” ujar Dafa setelah mengambil salah satu mainan robot dan memperhatikannya dengan seksama. Tidak ada yang tahu kecuali keluarga dan temannya sendiri bahwa pria yang sudah cukup umur itu memiliki sikap kekanak-kanakan. Dafa sangat menyukai robot, mobil mainan, atau apapun itu yang bisa dikendalikan dengan sebuah remote. Baginya, mainan-mainan seperti sangat asyik dimainkan saat dirinya jenuh. Tak heran, pria itu memiliki banyak koleksi robot yang ia pajang di kamar dan di kantornya. Robot yang berada di tangan Dafa kini terlihat menarik. Senyum kecil muncul di bibirnya saat membayangkan anak laki-laki sedang memainkan robot tersebut. Nadira sempat menoleh ke arahnya, lalu melihat apa yang dimaksud Dafa, setelah itu ia memutar bola matanya dengan malas. “Benar, 'kan?” Dafa meminta pendapat dengan bangganya bahwa robot itu bagus. “Kak Farel bilang, bayinya perempuan, Pak. Masa Pak Dafa mau kasih mainan robot?” Nadira menggeleng pelan, tak habis pikir. “Apa masalahnya? Yang penting bagus, 'kan?” Dafa tetap pada pendapatnya. “Masalahnya, bayinya itu perempuan, bukan laki-laki. Kalau mau boneka, bukan robot!” Nadira mengeja setiap katanya dengan hati-hati. Nadanya sudah jelas jengkel. “Loh, ya terserah saya dong. Wanita juga bisa main robot,” kata Dafa masa bodoh. “Lagian bayi, mana ngerti main kayak begitu,” cibir Nadira tanpa menatap Dafa. “'Kan bisa dimainkan saat dia agak besaran,” jawab Dafa sekenanya. “Kalau mau terserah Bapak, trus ngapain minta saya temani? Pake minta pendapat segala, nanya mana yang bagus,” sungut Nadira jengkel. Rasa-rasanya ia tak akan kuat lagi berhadapan dengan seorang pria yang bernama Dafa itu. “Oke. Terserah kamu. Apapun yang menurutmu bagus, ambil saja.” Dafa tak ingin berceloteh lagi menyadari dirinya yang keras kepala. Nadira lalu memutari toko tersebut, masih bingung apa yang harus ia beli untuk ia jadikan kado. Akhirnya, ia mengambil satu set tempat tidur bayi atas nama Dafa, sementara ia memilih beberapa dekorasi yang bisa di pajang nantinya. “Kenapa dipisah?” tanya Dafa saat melihat 2 trolli. Yang satu dimaksudkan atas nama Dafa, satunya lagi Nadira. “Ini punya saya,” jawab Nadira seadanya. “Untuk kamu sendiri?” celetuk Dafa tak mengerti. “Untuk bayi Kak Farel lah. Masa untuk saya?!” Nadira kembali merasa kesal dengan pertanyaan Dafa yang terdengar tak masuk akal. Bagaimana ia membeli dekorasi untuknya? Dari bentuknya saja, sudah dapat ditebak bahwa itu untuk balita! “Biar saya yang bayar,” kata Dafa saat sudah sampai di meja kasir. “Tidak perlu.” Nadira menolak dengan angkuh. “Jangan menantang saya di sini,” bisik Dafa mendekatkan wajahnya ke telinga Nadira. “Apa?!” pekik Nadira segera menoleh ke arah Dafa yang berada tepat di sampingnya. Orang-orang sekitar termasuk kasir menatap Nadira setelah wanita itu sedikit berteriak, tak percaya dengan ucapan Dafa yang seolah mengancamnya. Nadira kikuk di tempat, sedangkan Dafa terlihat biasa saja. Pria itu mengeluarkan dompet dari sakunya, lalu mengambil salah satu kartu berwarna hitam dan menyodorkannya kepada seorang kasir. Pada akhirnya, barang yang sudah Nadira pilih untuk ia jadikan kado dibayar oleh Dafa saat itu. Setelah selesai membayar, mereka segera memasuki mobil dan melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD