“Dafa?” panggil Mega sambil membuka pintu yang tak tertutup rapat. Tentu, Mega terkejut dengan apa yang dilihatnya. Mega pikir, Nadira masih tak sadarkan diri dan ia ingin menjenguknya.
Dafa melepaskan ciuman itu, lalu menatap Mega dan berkata malu-malu, “Bun, maaf.”
Sementara Nadira, rasanya ingin pingsan kembali. Wajahnya terasa panas menahan segala sesuatu yang ingin ia ledakkan saat itu juga. Marah? Kesal? Geram? Merasa terhina? Tentu saja! Segala rasa Nadira rasakan saat ini. Namun apa boleh buat, ia tak dapat mengatakan apapun di hadapan Mega. Urusannya bersama Dafa yang sangat lancang mencium bibirnya dan bukan dengan Mega yang tak tahu rencana Dafa.
“Tidak perlu, Bunda sudah lihat.” Mega menggeleng pelan, merasa geli dengan apa yang dilihatnya.
Nadira ingin meninggalkan ruangan tersebut. Bukan hanya ruangan itu, tapi juga pesta dan rumah itu. “Maaf, saya—”
“Sayang, sudahlah. Ada apa sama kamu ini? Apa kamu lihat Bunda gak suka sama kamu? Katakan Nadira.” Dafa menatap Nadira dan menggenggam tangannya penuh harap, berharap wanita itu hanya mengiyakan apapun ucapannya tanpa berani membantah.
“Apa Bunda tidak menyukai Nadira?” Kini tatapan Dafa beralih ke arah sang ibu yang sedang menatapnya dan Nadira silih bergantian.
“Bu—bukan—” Nadira sangat gugup.
Mengapa pria di hadapannya itu seolah Nadira yang mengadu, Mega tak menyukainya? Apa-apaan ini? Apalagi? Batin Nadira semakin frustasi dengan tingkah laku dan ucapan Dafa.
“Bunda gak pernah bilang seperti itu.” Mega mengernyitkan keningnya bingung.
“Tapi Nadira sangat sungkan sama Bunda. Dia takut kalau Bunda gak suka sama dia,” tutur Dafa kepada Mega. Jelas, ucapannya hanya bualan semata.
Nadira ingin melotot ke arah Dafa, tetapi Mega berseru sehingga Nadira menatapnya. “Nadira, jangan pernah berpikir seperti itu. Kita bahkan belum saling mengenal. Darimana kamu bisa menilai Bunda gak suka sama kamu?” ucapnya lemah lembut sedangkan Nadira mendadak membisu.
“Sayang, kamu dengar, 'kan? Kamu hanya perlu banyak bertemu dan bicara sama Bunda,” ujar Dafa dengan tenangnya, tak peduli dengan Nadira yang sedang susah payah menelan salivanya.
“Bunda tunggu kalian di bawah. Teman-teman kamu baru saja datang,” pinta Mega memberitahu Dafa.
“Kami akan menyusul.” Dafa mengangguk patuh dan Mega segera keluar dari ruangan itu.
“Pak?!” Nadira melotot tak tenang.
Rasa-rasanya ia ingin menghajar pria di hadapannya itu, akan tetapi ia memikirkan pekerjaan Farel serta mengingat kebaikan Dafa kepada Farel selama ini.
“Jangan mulai! Turuti perintahku!” Dafa menatap tajam.
“Bapak lancang! Beraninya Bapak cium saya!” bentak Nadira tak tenang, lalu mengusap bibirnya sendiri dengan kasar.
“Itu hukuman karena kamu banyak bicara!” jawab Dafa yang juga bernada tinggi.
“Apa? Bapak lihat saja, saya pastikan Kak Farel kasih pelajaran buat Bapak!” ancam Nadira meskipun sebenarnya ia tak yakin bahwa kakaknya akan memberi pelajaran kepada pria yang sangat lancang itu.
“Saya sudah minta maaf dan saya minta kamu untuk mengerti, Nadira.” Dafa sudah kehabisan kata-katanya untuk memohon, ia ingin Nadira mengerti situasinya saat ini yang sulit ia kendalikan sendiri.
“Minta maaf, lalu membuat kesalahan lagi disaat itu juga?” sindir Nadira menusuk, lalu menyunggingkan senyumnya.
“Terserah. Untuk saat ini, saya tidak punya pilihan. Sekarang ikut saya.” Dafa menyambar tangan Nadira hendak menyeretnya kembali untuk berjalan berdampingan dengannya dan memainkan sandiwara sebagai kekasihnya lagi.
“Tunggu! Bukannya Pak Dafa bilang mau jelaskan kepada Ibu Mega? Lalu, apa barusan?!” pekik Nadira membuat Dafa menghentikan langkahnya.
Nadira baru mengingat ucapan Dafa yang akan memberitahu kebenarannya kepada Mega. Kenapa Nadira bisa lupa itu saat tadi ada Mega? Nadira sendiri bingung. Lidahnya mendadak kelu saat tadi Mega menghampiri, otaknya blank tiba-tiba sehingga ia tak dapat mengingat ucapan Dafa sebelumnya.
“Saya tadi bilang apa? Setelah selesai acara, Nadira. Sekarang ikut saya,” jawab Dafa dengan tenangnya dan kembali menggusur tangan wanita itu agar mau berjalan bersama.
“Ke tempat yang tadi?” Nadira ingin memastikan.
“Ya,” jawab Dafa singkat tanpa berniat untuk menatap Nadira kembali.
“Tidak!” Nadira menahan tangannya yang sedang diseret Dafa.
“Nadira!” bentak Dafa yang sudah sangat kesal sejak tadi.
“Saya tidak bisa— em” Ucapan Nadira terhenti lagi saat Dafa menyerbu bibirnya.
Dafa yang memang sudah memegang tangan Nadira, membuatnya mudah untuk mengunci pergerakan tubuh wanita itu. Mereka sudah berada di luar kamar, akan tetapi mereka belum menuruni anak tangga sehingga posisi mereka masih di lantai atas.
Nadira tak dapat melakukan apapun, tangannya bahkan tak dapat bergerak sedikitpun karena Dafa benar-benar mengunci pergelangan tangannya. Sedangkan Dafa menyerbu bibirnya tanpa ampun dengan penuh gairah.
“Lepas!” Nadira mendorong tubuh Dafa dengan sekuat tenaganya.
“Turuti saya atau saya akan melakukan yang lebih?” ancam Dafa tak main-main. Wajahnya yang sangat dekat dengan wajah Nadira, seakan-akan siap untuk menyerbu bibirnya kembali.
Tidak ada pilihan lain selain menganggukkan kepalanya. Nadira benar-benar tak ingin Dafa melakukan yang lebih parah lagi jika ia membantah. Dafa membawa Nadira menuruni anak tangga dan berjalan menuju ruangan pesta yang sedang berlangsung.
Benar saja, teman-temannya baru saja hadir. Ia melihat William bersama istrinya, Elvina. Masih ingat dengan dua makhluk yang kurang waras ini? Kalau belum, coba kenalan di sequel 'Aku, Dia, dan Suamiku'. Mereka ada di sini juga, tapi seriusan, mereka itu gak penting banget di sini.
Masih di ruangan yang sama, Dafa melihat Evano yang sedang berbincang dengan ibu dan adiknya, Gina dan Celline. Melihat Dafa masuk ke dalam ruangan, Evano langsung menghampirinya untuk menyapa, “Hey, Dafa?” Tatapan Evano tak enak dipandang oleh Dafa maupun Nadira.
“Jangan tanya sekarang,” jawab Dafa yang seolah tahu apa yang membuat temannya itu tak suka, yaitu genggaman tangannya dan Nadira.
Namun, Dafa tak bisa menjelaskan apapun untuk saat ini. Evano mengangguk pelan seraya menatap Nadira dengan tatapan aneh. Pria itu terlihat kesal, marah atau apapun itu. Yang jelas, Nadira tak bisa mengartikan tatapannya. Dafa lalu membawa Nadira mendekati sahabatnya, William.
William dan Evano tidak terlalu dekat. Hal itu dikarenakan William yang tak suka dengan sikap angkuh Evano. Sebenarnya, William juga memiliki sifat angkuh yang tinggi. Hanya saja, ia tak pernah memperlihatkan keangkuhannya kepada teman-temannya. Berbeda dengan Evano. Seperti yang diketahui, pria itu akan bersikap angkuh kepada siapapun termasuk Dafa, teman dekatnya.
“Sorry telat, Bro.” William mengulurkan tangannya, begitupun Dafa dan mereka bersalaman layaknya sahabat.
“Santai aja.” Dafa tak mempermasalahkan itu.
“Maaf telat.” Kali ini istri William yang berbicara, Elvina.
Dafa hanya mengangguk satu kali, membalas salam Elvina lalu bertanya, “Mana si kembar?”
“Sama nenek kakeknya.” William yang menjawab seadanya.
“Enak banget, jadi kayak pacaran lagi,” sindir Dafa menggelengkan kepalanya.
“Iya dong. Eh?” William mengangkat kedua alisnya, tatapannya tertuju ke arah Nadira. Seketika Dafa baru menyadari bahwa ia membawa Nadira yang berdiri di belakangnya.
“Nadira.” Dafa memperkenalkan Nadira, sedangkan yang diperkenalkan hanya menatap kosong ke arah Dafa sehingga Dafa memberinya isyarat agar ia mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan William dan Elvina.
Dengan sungkan, Nadira menjabat tangan sahabat dan istri Dafa yang berada di hadapannya, tak lupa ia memberi senyuman kecil tanda hormatnya.
“Ehem?” William sengaja berdeham seolah meminta penjelasan tentang Nadira.
“Nanti gue ceritain. Gue mau sapa yang lainnya dulu,” jawab Dafa yang diangguki William. Sementara Elvina, tersenyum manis saat Nadira hendak pergi.
Selanjutnya, Dafa kembali menggenggam tangan Nadira, membawanya ke ruangan lain. Namun, saat Dafa akan membawanya memasuki ruangan yang ada Mega dan wanita-wanita tadi yang ia lihat, termasuk Celline dan ibunya yang menatap dengan tatapan tak suka, Nadira menahan langkahnya. Dafa ikut menghentikan langkahnya dan memutar setengah badannya untuk menatap Nadira.
“Ikut saya menyapa tamu,” pinta Dafa memelas.
“Tapi—” Nadira ingin menolak, tetapi Dafa segera menyela, mengeluarkan sarkasnya dengan angkuh.
“Apa kamu menantang saya? Kamu ingin saya melakukannya di sini?” ancam Dafa tak main-main, sorot matanya penuh keseriusan dalam berucap.
Nadira hanya diam, tak ingin pria itu benar-benar melakukan sesuatu yang akan membuatnya sangat malu di tempat itu. Melihat ketidakberdayaan Nadira, membuat Dafa juga tak ingin memaksanya lagi. Akhirnya, ia membawa Nadira ke arah sofa.
“Kamu tunggu di sini. Biar saya sendiri yang menyapa tamu.” Dafa meminta Nadira untuk duduk di salah satu sofa, sedangkan dirinya akan menghampiri ibunya dan rekan-rekan ibunya yang baru saja datang.
Nadira hanya menuruti apa yang diminta Dafa. Ia duduk seorang diri di sebuah kursi. Tampak para tamu berlalu lalang melewati Nadira, sementara Nadira memilih menundukkan kepalanya seraya menatap layar ponsel yang ia genggam dan memainkannya tanpa minat.
Tak lama dari itu, seorang pria menghampiri Nadira dan ikut duduk di sampingnya. Parfum itu? Batin Nadira merasa tak asing dengan bau parfum dari seorang pria yang ikut duduk di sampingnya. Nadira tahu itu bukan Dafa, akan tetapi rasa-rasanya ia tak sudi untuk menoleh ke arah pria yang sedang memandanginya saat ini.
“Ra?” panggil pria itu membuat jantung Nadira bertalu-talu sangat cepat.
“Nadira?” panggil pria itu lagi karena tak mendapatkan respon apapun. Nadira masih saja pura-pura tak mendengar panggilan itu dan tetap memainkan ponselnya.
“Mas Adit.” Seorang wanita memanggil Aditya dengan suaranya yang merdu serta lembut. Baru setelah itu, Nadira mengangkat wajahnya dan melihat si pemanggil Aditya adalah wanita yang dibawa Aditya, kekasihnya.
“Naz.” Aditya menanggapi tanpa bergerak sedikitpun, tetap duduk di samping Nadira.
“Aku cari kamu dari tadi,” kata wanita itu sedikit kesal.
“Aku juga cari kamu sampe kecapean. Akhirnya ikut duduk sama pacarnya Bang Dafa,” kilah Aditya sekilas menatap Nadira, lalu kembali menatap kekasihnya.
Wanita itu ikut menatap Nadira, lalu mendekatinya sambil tersenyum dan berkata, “Kak. kita belum kenalan.” Wanita itu duduk di samping Nadira tanpa diminta dan kini Nadira berada di tengah-tengah antara Aditya dan kekasihnya.
“Nadira.” Nadira mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
Ada rasa gugup dan kesal di hatinya. Berkenalan dengan kekasih mantannya? Sungguh, Nadira bahkan tak sudi untuk membayangkannya tapi sekarang bukan hanya bayangan, melainkan kenyataan.
“Shahnaz. Panggil Nana aja.” Wanita itu membalas uluran tangan Nadira. Senyumnya tak berbahaya, menandakan wanita itu memang orang yang baik.
“Ehem.” Dafa berdeham sambil mendekati mereka bertiga.
“Jadi ini pacar lo yang baru?” tanya Aditya sambil berdiri, mendekati kakaknya itu.
“Kenapa?” Dafa balik bertanya.
“Cantik,” puji Aditya menatap Nadira, lalu kembali menatap Dafa. “semoga kalian bahagia.” Setelah mengatakan itu, Aditya membawa Shahnaz pergi.
Seketika Nadira merasa kepalanya sangat pusing saat mendengar lontaran Aditya. Ia memegangi kepalanya seraya memijatnya pelan. 'SEMOGA BAHAGIA' dua kata itu banyak menyimpan makna. Namun, Dafa yang tak tahu kisah masa lalu antara Nadira dan Aditya, tak merespon apapun.
Sementara Aditya, merasa ingin melakukan sesuatu di tempat itu. Misalnya, mengacaukan acara sang ibu? Atau menghajar Dafa yang telah menjadi kekasih Nadira?
Shahnaz, wanita itu telah menjadi kekasih Aditya selama 7 bulan. Selera Aditya hampir sama dengan Dafa, begitupun dengan ayahnya, yaitu wanita yang sederhana.
Keluarga Pratama tak suka kepada wanita yang senang berfoya-foya, sosial yang terlalu tinggi, sombong atau yang lainnya. Shahnaz sendiri telah memenuhi kriteria Aditya. Namun, bukan berarti cinta Aditya kepada Shahnaz sebesar cintanya pada Nadira.
Jika bisa memilih, Aditya tentu akan memilih Nadira jika wanita itu mau menerimanya kembali. Apa boleh buat, Nadira bahkan tak memberinya kesempatan untuk menceritakan kesalahpahaman yang tercipta di masa lalu.