"Sstt... aww..." "Tahan Garril, jangan banyak gerak." Miranda menahan kepala Garril yang sejak tadi bergerak ke kiri-kanan, menghindari kapas dengan obat merah di ujungnya itu. "Nanti infeksi, bahaya, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa." Gadis itu tampak tak menyadari kata-katanya. Ia masih sibuk menekan-nekan ujung kapas ke sudut bibir Garril yang lebam. "Perih, sstt ah... sakit," ringis Garril. Tangannya mencengkeram tepian sofa, mencoba menahan untuk tak berteriak. Miranda mendengkus sinis. "Itu risiko dari kelakuan kamu sendiri. Mabuk terus berantem. Untung ya nggak mati." Miranda menutup luka Garril dengan plester, lalu mulai membereskan betadine, alkohol, kapas dan sisa plester yang ia gunakan tadi ke dalam kotak first aid. "Kenapa?" Garril menegakkan tubuhnya, lalu menatap Miranda

