Pagi yang ditunggu seluruh penghuni camp. Pagi yang dijanjikan untuk keluarnya jadwal seminar abstrak akhirnya tiba. Aku dan Suvara bangun hampir bersamaan dan saling menyapa meski tubuh kami bahkan masih menempel di tempat tidur.
“Pagi Sya,” sapa Suvara yang hanya kepalanya saja yang menoleh padaku.
“Pagi juga Suv,” jawabku.
Kutarik selimut yang menghangatkan tubuhku. Kukemas dengan rapi setelah aku bangun dari tempat tidurku.
“Aku berdebar,” kata Suvara.
“Aku juga,” kataku.
“Ini bukan kesempatan terakhirku, tetapi aku merasa aku tak akan sehat akal lagi jika kali ini aku masih gagal,” suara lemah Suvara membuatku menghentikan aktivitasku.
“Jangan putus asa begitu, orang-rang seperti kita tidak akan kehilangan akal, kadang mau tidur saja ide bermunculan yang membuatmu tidak jadi tidur kan?” bujukku.
“Iya itu benar, tapi ketika semua hasil terbengkalai untuk apa?” tanya Suvara kesal.
“Ya buatlah agar tidak terbengkalai, mau kamu lolos atau tidak dari tepat ini, mau ke bulan atau tidak, lanjutkan karyamu,” usulku.
“Kadang karyaku butuh biaya yang cukup besar, butuh dukungan banyak orang, Cuma di sini sebuah karya seperti itu ternyata tidak berguna,” dia mulai terkikik.
“Jadi, mulai sekarang, buat karya sederhana yang banyak gunanya, yang bisa kamu kerjakan sendiri dengan biaya yang terjangkau,” kataku.
“Ada benda seperti?”
“Gayung elektrik?” aku terkekeh sambil melihat ke arah gayung kami.
“Ah kamu!”
Kami berdua menuju ruang mandi. Setelahnya turun untuk mencari makan di food court. Tidak berani keluyuran ke twiggram untuk saat ini karena bisa saja kelas dimulai sewaktu-waktu. Jadi kami bertahan dan bersantai di tempat ini saja.
“Jam berapa sih?” tanyaku pada Suvara.
“Sekarang jam 9 pagi,” sahutnya.
“Bukan, pengumumannya,” katakumenegaskan.
“Owh, tentu aku tidak tahu, kenapa tidak tanya temanmu yang malam itu menolong kita, mereka pasti tahu,” kata Suvara sambil meminum kopinya.
“Biasanya mereka juga ada di sini, ya walaupun tidak semua, tapi biasanya sebagian dari mereka berkeliaran di sini,” jawabku sambil mengedarkan pandanganku ke semua arah.
“Sebagian? Mereka geng? Ada berapa?”
“Ada empat orang yang selalu bersama, mereka dekat, saling akrab,” aku masih tidak menemukan mereka.
“Enak ya, dekat dengan adek Kapten Jack,” kata Suvara berandai-andai.
“Memangnya siapa Kapten Jack?” tanyaku.
“Jadi kamu belum tahu Kapten Jack?”
“Bukan belum tahu, kami sudah beberapa kali bertemu kok,” kataku.
Suvara lalu menjelaskan bahwa Kapten Jack adalah orang memimpin penerbangan kami ke bulan. Setiap tahun dialah yang mengawal berbagai eksperimen sampai pemenangnya akan ke bulan. Dia bukan Kapten tertinggi di tempat ini, tapi dialah yang akan paling dekat dengan kita sampai kita bisa menginjak bulan dengan kaki sendiri.
“Kalau Hana adik Kapten Jack, apakah dia juga sama dengan kita?” tanyaku.
“Harusnya tetap sama, tapi aku tak tahu juga, tampaknya dia merasa istiemewa berkakak sekeren itu,” Suvara melihat ke arah yang jauh.
Kami berpindah dar foodcourt ke lapangan bola. Duduk di barisan tribun melihat beberapa anak-anak berlarian dan bermain bola dalam kelompok-kelompok kecil. Kami menikmati angin yang sesekali berhembus menerbangkan rambut-rambut kecil kami.
“Aku benar-benar tidak sabar,” kata Suvara.
“Aku juga, bukan hanya jadwalnya, aku berharap aku segera mendapat kepastian untuk pulang atau bertahan,” kataku.
“Kamu rindu keluargamu Sya?” kali ini Suvara berpaling dan menghadap padaku.
“Ternyata iya,” jawabku jujur.
“Pasti keluarga yang begitu hangat ya kan?”
Senyum bahagia tampak di wajah Suvara. Seolah dia menginginkan hal yang sama tapi tidak mungkin mengiri padaku.
“Sebenarnya tidak Suv,” aku melihat bola yang mengarah pada kami.
Segera aku menunduk dan bola itu mengenai kursi di belakang kami.
“Maaf Nona!” teriakan itu kukenali.
Aku melempar kembali bola itu padanya.
“Aku sangat senang akhirnya aku keluar dari rumah itu Suv, akhirnya aku tidak perlu mendengar suara piring berbenturan. Tidak perlu bersembunyi di rumah paman jika kedua orangtuaku saling beradu argumen,” kali ini aku yang memandang Suvara dengan serius.
Aku tahu dia akan mengetahui inti yang kuceritakan. Karena itu dia pun tidak banyak bertanya lagi. Menarik senyum dari wajahnya dan memandang jauh ke arah bola yang masih terus dimainkan.
“Tadi itu Visyn kan?” tanya Suvara.
“Iya, aku ingin bertanya tapi rasanya tidak mungkin di sini,” kataku.
“Kita ke bawah saja bagaimana? Siapa tahu kita bisa menyapanya,” usul Suvara.
“Aku menurut padamu saja.”
Kami kemudian turun. Memilih duduk di tribun paling bawah, berharap Visyn segera menyelesaikan main-mainnya. Kami memainkan tablet kami masing-masing sembari tidak melepas Visyn dari lirikan mata kami. Kami tahu, hari ini hanya masalah waktu, tapi menunggu itu tidaklah menyenangkan.
“Hai, kalian di sini juga?” sapa Art pada kami.
“Iya, mengusir jenuh,” kataku.
“Menunggu pengumuman ya?” goda Art pada kami.
“Kamu sudah tahu waktunya?” tanya Suvara bersemangat.
“Tahu lah,” jawabnya.
“Kapan?” tanya kami hampir bersamaan.
“Nanti malam,” sebuah jawaban muncul di belakang Art.
Kami bertiga pun menoleh pada pemilik suara. Melihat dua orang perempuan datang. Rose dan Hana. Bagiku aku sudah mengenal keduanya, tapi Suvara hanya memandang mereka dengan banyak tanda tanya. Kecuali bahwa tentu saja mereka tahu. Pasti Hana mendapat info dari kakaknya.
“Terima kasih sudah memberi tahu kami Hana,” kataku.
“Cukup buatmu dan teman sekamarmu saja, kalian spesial,” kata Hana dengan senyum tipisnya.
“Sampai jumpa di seminar!” Art melambaikan tangan pada kami setelah berlalu bersama Hana juga Rose.
“Jangan-jangan mereka juga tahu jadwalnya?”
Aku dan Suvara saling berpandangan. Menyesal tidak menahan mereka untuk menanyakan hal itu juga. Tapi setidaknya kami lalu memilih pergi ke twiggram sebelum saat pengumuman datang. Kami pergi ke twighome masing-masing. Berinteraksi dengan kawanan masing-masing.
“Hai Nona,” sapa sebuah akun saat aku duduk di lobbi sebuah komunitas.
“Oh, hai, apakah saya mengenal anda?” tanyaku.
“Tidak, tapi perkenalkan, nama saya Sazre,” tangannya terulur dan tersambut tanganku.
“Kisyara.” Jawabku.
“Akun asli?”
“Fake lah,” jwabku jujur.
“Nice answer,” dia tersenyum dan duduk di sofa yang sama denganku.
Aku membalas senyumnya dan kami berbincang. Dia bercerita padaku dia seorang fotografer dan sedang mencari inspirasi untuk sebuah lomba yang dia ikuti. Dia mencari tema antariksa, karena itu dia masuk ke komunitas nama-nama planet ini, dia sama sekali tak menyangka dia akan tersesat.
“Tapi kamu bisa benar-benar mendapatkan sumber yang bagus di sini,” hiburku.
“Bagaimana caranya?”
Dia menyangga rahangnya dengan tangan kanannya dan menatapku dalam. Membuatku bingung dan jadi terbata-bata ketika harus menjawab pertanyaannya.
“Di sini tidak hanya orang-orang yang belum pergi ke sana kan, beberapa orang di sini juga adalah penjelajah luar angkasa, coba saja sapa orang-orang yang banyak memberi petunjuk untuk pengunjung lain yang bertanya, biasanya mereka adalah orang yang sudah melakukan perjalanann yang kamu maksud,” aku masih dipandanginya dengan dalam.
“Jawaban yang sederhana untuk sesuatu yang rumit,” katanya.
“Bisa tidak memandangiku begitu?” tanyaku lirih.
“Oh maaf, tapi avatarmu begitu menawan,” jawabnya masih dengan cara memandang yang tidak berubah.