Aku memalingkan mukaku. Aku takut salah paham dengan kehadirannya. Ya, aku takut dia mengira aku sudah cukup dewasa untuk digoda. Karena itu aku hanya melihat ke arah lain, mencoba bisa mengalihkan perhatiannya.
“Hai Kis? You still there?” tanyanya setelah sekian detik aku tidak bergerak.
“Ah iya,” aku lalu kembali melihat padanya.
“Baiklah, maafkan aku, jadi apa kamu punya sesuatu yang bisa membawaku ke luar angkasa?”
“Aku masih dalam kompetisi, aku tidak bisa menjanjikan apapun,” elakku.
“Mungkin orang lain seperti katamu tadi?”
“Kamu bisa mencarinya sendiri,” bantahku.
“Aku tidak terbiasa di lingkungan seperti ini sebenarnya, jadi, bisakah aku mengandalkanmu?”
Aku kembali mengingat-ingat siapa yang bisa kukenalkan padanya agar aku bisa segera menghindar. Di saat yang sama, aku melihat Vans baru saja masuk ke dalam tempat yang sama. Aku melambai padanya, berharap dia akan melihatku secepatnya.
“Hai Ra, sedang bersama Suvara?” tanya Vans ketika dia juga duduk di meja set yang sama.
“Tidak Vans, aku sendiri di sini, Suvara sedang di komunitas lain atau mungkin di private room,” jawabku menjelaskan.
“Oh baiklah, aku akan mencarinya sendiri,” jawab Vans sembari hampir berlalu.
“Tunggu Vans,” panggilku menahannya.
“Ya ada apa?”
“Perkenalkan ini temanku, diasedang butuh bantuan, mungkin kamu bisa membantunya?” aku mengerlingkan mataku padanya.
Vans tahu aku dan Suvara adalah anak-anak yang harusnya tidak berada di sini. Begitu aku mengirimkan pesan aku ingin dia melindungiku, dia segera mengerti. Dia pun kembali melihat pada Sazre dan bertanya apa yang bisa dia bantu. Sedangkan aku kemudian pamit untuk mencari Suvara. Vans mengijinkanku berlalu.
Kemudian aku benar-benar menghubungi Suvara. Kulihat Twiggramnya sudah mati, tapi twighomenya masih menyala. Aku kemudian menghubunginya melalui tablet.
“Suv, kamu dimana?” tanyaku.
“Masih di Twighome,” balasnya.
“Kenapa akunmu terlihat mati?”
“Ah iya, aku sedang menggunakan searchtwig jadi kumatikan chatnya,” terangnya.
“Vans mencarimu.”
Aku lalu menceritakan awal pertemuanku dengan Sazre hingga kemudian aku meninggalkannya bersama Vans. Suvara membenarkan caraku karena menjauh dari Sazre. Dia menganggap Vans akan berbeda setelah selama ini melindungi dirinya selama mereka saling mengenal. Walaupun entah mengapa, aku menangkap Suvara agak berlebihan membela Vans.
“Bukankah sudah waktunya kita kembali?” tanyaku.
“Tunggu aku hubungi Vans sebentar.”
Aku sendiri lalu hanya menunggu karena tidak ada yang kukenal yang sedang aktif, akan masuk ke komunitas aku tidak ada kepentingan untuk mencari informasi sesuatu. Aku menunggu Suvara siap untuk meninggalkan twighome.
“Kenapa kamu meninggalkanku?” sapaan itu membuatku terkejut.
Sazre menghubungiku secara pribadi di luar komunitas. Aku menjawab pertanyaannya dan bertanya padanya, bagaimana perbincangannya dengan Vans tadi. Dia menjawab Vans memberinya jalan untuk mendapatkan gambar yang diinginkan dan sesuai dengan waktu yang masih tersisa untuknya mengikuti kompetisi itu.
Aku menanggapi bahwa aku ikut bahagia dia akhirnya menemukan orang yang tepat untuk proyeknya. Dia bercerita juga tentang rencana Vans yang akan mengajaknya ke pusat penelitian luar angkasa dan bahkan menjanjikan jika hasil dokumentasi Sazre berhasil memenangkan lomba, Sazre akan dijadikan staff khusus pendokumentasian.
“Itu hebat Saz,” jawabku sambil tersenyum.
“Terimakasih, kalau bukan karenamu, aku tidak akan mengenalnya,” katanya.
“Jangan lupa datang tepat waktu, jangan kecewakan Vans,” jawabku.
“Tentu saja, walaupun sebenarnya agak jauh antara disktrikku dengan Vans,” keluhnya.
“Akan sebanding dengan hasilnya Saz, percaya padaku.”
Aku kemudian berpamitan setelah mendapat notifikasi bahwa Suvra siap meninggalkan twiggram. Tanpa menunggunya mengijinkanku, aku mematikn semua sambungan dan bersiap meninggalkan twighome milikku.
Aku kembali melihat Suvara saat kami berjumpa di ujung lorong. Di saat yang sama aku melihat Art justru baru akan melewati lorong yang sama. Kami saling menyapa dan meminta maaf karena tadi tidak sempat menjawab pertanyaanku. Karena dia membuka percakapan, aku pun menahannya.
“Art, boleh aku bertanya sesuatu?” tanyaku.
“Tanyakan saja,” ijinnya.
“Apakah kamu tahu jadwal seminar?” tanyaku ragu.
Art tersenyum.
“Aku hanya tahu jadwalku sendiri Ra, aku tidak tahu milikmu,” jawabnya.
Aku dan Suvara agak kecewa dengan jawabannya, berharap dia tahu atau punya file semua jadwal seminar kami. tapi aku dan Suvara tahu kami tidak bisa memaksa Art untuk tahu. Semua adalah hak Kapten Jack untuk memberi tahu siapa diantara kami.
“Andai aku juga bisa tahu,” keluh Suvara.
“Tidak akan ada bedanya Suv, percaya padaku.”
“Kamu tentu lebih siap,” bantah Suvara dengan pernyataan Art tadi.
“Tidak, sungguh tidak, aku tetap tidak tahu apa yang salah dengan abstrakku, aku juga tidak tahu bagaimana penguji membantah semua proyekku, percayalah padaku,” Art menunduk.
Aku menyentuh tangan Suvara. Membujuknya untuk tidak memaksa Art. Toh bisa saja apa yang dikatakan Art memang benar. Kami tetap tidak bisa mempersiapkan apapun selain menyiapkan abtrak sebaik mungkin ketika sudah mengetahui jadwal kami.
“Iya Art, kmi percaya, maaf kami hanya berharap punya kesempatan yang sama untuk dekat dengan Kapten Jack,” tutur lemah Suvara kemudian.
“Dekati saja, beliau akrab dengan siapapun, dia pimpinan yang menyenangkan,” jawab Art.
“Benar?” tanya Suvara gembira.
“Iya, kalian ada twiggram kan? Cari saja akunnya, twighomenya juga tidak jauh dari sini,” kata Art.
“Iya, aku pernah melihatnya juga,” kataku.
Kami kemudian berpamitan dan saling berpisah. Aku dan Suvara kembali ke kamar setelah membungkus beberapa potong sandwich dari food court. Kami akan memakannya di kamar selagi kami menunggu jadwal yang kabarnya sudah siap.
Saat kami sedang berbincang dan memeriksa kembali abstrak kami, tiba-tiba pintu kamar kami diketuk. Suvara turun dari tempat tidurnya, membuka pintu yang kosong. Dia keluar dan mencari siapa yang telah mengetuk kamar kami, tapi nihil. Bahkan beberapa anak lain juga merasakan kebingungan yang sama.
Aku melihat sesuatu di antara sela pintu yang terbuka dengan kaki Suvara. Saat aku memberi tahunya Suvara pun menunduk. Dia mengambil sesuatu yang kulihat itu. Hanya dua lembar kertas kecil dengan warna yang berbeda.
“Apa isinya?” tanyaku.
“Kosong?” dia bertanya setelah menunjukkan potongan kertas itu padaku.
“Tidak mungkin ada yang seiseng ini ke semua peserta asrama,” jwbku.
“Warnanya sama dengan liontin kita kan?” tanya Suvara lagi.
“Iya, mungkin ada yang harus kita lakukan yang berhubungan dengan liontin kita.”
Suvara membagi kertas dengan warna kehijauan padaku. Sama dengannya, aku hanya melihat kertas itu sebagai potongan kosong yang tidak memberi informasi apapun. Aku masih terus membolak-balikkan kertas itu.
“Tanya Hana?” usulku.
Suvara tidak menjawabku. Dia masih terus penasaran dengan apa yang ada di tangannya. Dia masih terus mengamati potongan kertas itu, bergantian dengan liontin yang kini dilepasnya dari lehernya. Tak lama, matanya nyalang melihat sesuatu, senyumnya mengembang dan dengan lantang dia berteriak padaku.
“Aku tahu!”