Aku berdiri dan menghampirinya. Melihatnya mendekatkan kertas itu di liontinnya dan kertas itu pun menyala. Aku melihat Suvara sedang terkagum pada sesuatu yang tidak terlihat. Langkahnya seolah tergerak tapi aku tak melihat dia berjalan menjauh atau mendekat. Ini hanya seperti...
"Avatar meta?"
Pertanyaanku lagi-lagi tidak terjawab oleh Suvara. Aku akhirnya melakukan sendiri apa yang telah kulihat dilakukan oleh Suvara. Mendekatkan liontin ke kertas itu. Alih-alih menjadi penerang, bayangan sebuah gedung tampak di kertasku. Padahal tadi aku tidak melihat apapun di kertas milik Suvara.
Diorama tiga dimensi itu membesar, menyala, lalu pintunya terbuka menunjukkan sebuah ruangan yang tidak terlalu luas tapi atapnya hanya terlihat bulan yang sedang berputar pada porosnya. Bulan itu sebagiannya gelap sebagiannya terang.
Aku melihat kesebuah meja dengan namaku di atasnya. Kudekati dan di sanalah tertulis hari dan tanggal aku harus duduk untuk diuji. Aku melihat ke arah meja panjang lain yang ada di depan mejaku. Setumpuk file terbagi menjadi tiga bagian. Aku membuka salah satunya, di sana ada CV pendidikan dan juga penelitian yang pernah kubuat sebelumnya.
Aku berjalan ke arah pintu, dan cahaya pun meredup. Diorama gedung itu tak lagi tampak. Aku melihat Suvara yang sudah tersenyum melihatku.
"Untung kita tidak berlama-lama di twiggram," katanya.
"Ya, kamu benar."
"Kapan?"
"Lusa," jawabku lesu.
"Semangat, aku akan membantumu mencari tahu pertanyaan yang keluar terkait penelitianmu."
Suvara lalu melingkari kalender di meja belajar kami. Lusa dan keesokannya. Pasti tanggal lain itu adalah hari seminarnya. Di atas lingkaran yang dibuatnya, dia menggambar roket juga kata,"To the moon."
"Ternyata tak perlu menunggu malam," kata Suvara sambil memakan sandwich.
"Menurutmu Hana berbohong?" tanyaku.
"Tidak ada untungnya," katanya.
Mulut yang penuh dengan roti isi itu menjadi tak jelas berkata apa. Tapi dia terlihat sangat siap untuk seminar yang akan segera datang. Berbeda denganku yang mulai ketakutan dan ingin memilih menyudahi dan pulang saja.
"Telepon orangtuamu kalau menurutmu kamu butuh jimat keberuntungan," kata Suvara.
"Mereka tidak punya."
"Apapun yang mereka punya, yang mereka berikan padamu tulus adalah jimat yang sangat manjur. Percayalah Sya!"
"Apakah mereka masih punya sesuatu untukku?" tanyaku mencelos.
"Mereka selalu punya untuk anak-anaknya."
Aku menghela napas, mengambil potongan kertas yang terjatuh. Mencoba mendekatkannya ke liontin yang kupakai, tapi ternyata tidak terjadi apapun.
"Padahal mau kucoba, bisa tidak aku melihat punyamu, hahahaha."
Suvara bergelak begitu melihat aku mencoba sesuatu yang gagal. Aku ikut tergelak terbawa dengan tawanya yang lepas. Tawanya tersengal saat secuil roti isinya yang menyangkut di kerongkongannya. Segera kuserahkan segelas air padanya.
"Terima kasih Sya," ucapnya dengan mengelus d**a.
"Jangan terlalu semangat begitu," kataku sambil tertawa.
Memang kasihan melihatnya tersedak. Tapi melihatnya sudah baik-baik saja sedang aku mengingatnya ketika membelalakkan mata dengan tangan menggapai-gapai, sekarang aku tidak akan menahan tawa.
"Apa yang harus kusiapkan sekarang?" tanyaku.
"Pergi ke twig, cari orang-orang yang sudah seminar!"
Entahlah perkataannya apakah saran ataukah perintah. Di telingaku terdengar tegas, keras dan tidak bisa ditawar. Maka begitulah otakku mengerjakan perkataannya dengan segera.
Aku mengambil jaketku dan turun ke lantai dasar. Aku tidak melihat Suvara menyusulku. Walaupun aku tidak terburu, tapi langkahku terlanjur lebar dan terlihat seperti melayang.
Twighome menyambutku seperti biasa. Seperti kawan yang baru berjumpa. Andaikan ibuku akan menyambutku seperti ini setiap kali aku pulang. Dan saudara-saudaraku juga memelukku sehangat sambutan ini. Aku akan sangat bahagia.
"Ill, bagaimana?" tanyaku.
"Santai saja, semuanya akan baik-baik saja," jawabnya.
"Oh iya, aku seminar lusa, lebih dulu darimu, ada yang bisa kukerjakan?"
"Wow, mencuri start?" candanya.
"Jangan begitu!"
Dia lalu memberiku waktu untuk mensimulasi keadaan saat seminar. Bahkan dia meminta aku merubah rumah twig menjadi hampir sama dengan ruang seminar yang aku lihat tadi.
"Oke wait," pintaku.
"I will," jawabnya.
Dia tidak memutus sambungan, melainkan menungguku menyiapkan ruangan dengan tata letak yang kurang lebih sama dengan ruang virtual yang kulihat.
"Ra?" panggilnya.
"Iya aku masih di sini."
"Kamu suka musik?"
"Iya aku suka."
"Mau kuputarkan lagu apa?"
"Talking to the moon," jawabku.
Kemudian musik mengalun, terdengar dalam beda versi dengan musik asli yang sudah ratusan tahun lalu. Aku tak memandang pada Illeus, begitu musik itu terdengar. Aku menuruti kemauannya untuk merenovasi interior meta twighome. Meja panjang dengan tumpukan abstrak dan tiga tablet berjarak. Kemudian sepasang kursi dan meja persegi yang menghadap pada meja panjang itu. Ruangan bernuansa putih keabuan dengan atap yang seolah terbuka.
Aku mencari di antara banyak pilihan dekorasi, tapi tak menemukan pilihan atap yang sama dengan ruang seminarku. Aku terus mencari dekorasi yang mungkin mirip jika tidak akan bisa sama sekali. Aku terus memainkan jariku di panel pengaturan.
"Masih lama?" tanya Illeus.
"Aku mencari yang paling ikonik," kataku.
"Atap langit?"
Aku mendongak melihatnya, melihat senyumnya yang mengejek, menebak dan entahlah, tapi aku akhirnya terpana juga. Hidung mancung dan pundak tegapnya mulai menarik mataku. Walaupun senyum lebih sering kecut dan kalimatnya lebih ambiusius dari Suvara, tapi aku tidak mungkin mengatakan dia tidak menarik.
"Iya, atap langit dengan rembulan yang sangat dekat, rembulan sabit yang gelap dan terang di sedikit bagiannya," jawabku panjang.
"VIP," jawaban singkatnya menjelaskan padaku tentang apa yang tidak kutemukan.
Akhirnya aku membiarkan langit-langit itu menjadi apa adanya, dengan helain daun yang sesekali terlihat menjuntai. Saat itu dengan tanganku, aku menggeser layar seolah-olah Illeus sedang duduk di meja penguji. Di tangannya sudah ada salinan abstrakku. Aku membuka presentasiku dengan ucapan selamat pagi, kemudian menampilkan pohon bulan virtual yang daunnya sedang berguguran, ketika salah satu buahnya juga jatuh, aku menangkapnya. Menanyakan padanya apakah dia tahu buah apa yang ada di tanganku. Dia menjawab nama buah dan juga nama pohonnya. Lalu aku melanjutkan dengan menerangkan bagaimana selama ini Sycamore hanya sebagai penyejuk halaman rumah, hanya sebagai ikon pohon yang pernah melakukan perjalanan dengan Apollo 14. Buah yang di tanganku tidak pernah diketahui kandungannya dan kurang pemanfataannya.
"Stop," potong Illeus.
"Kenapa?" tanyaku.
"Opsi kedua," jawabannya membuatku bingung.
Tapi tidak lama kemudian dia kembali berkata-kata, tapi kali ini dia mengatakan tidak tahu tentang pohon dan juga buah yang ada di tanganku. Dengan ketidaktahuannya, maka aku harus menjelaskan dari awal seperti apa pohon ini dikenal. Dia masih terus mendengarkanku tanpa melihat ke arahku, dia masih terus mendengarkan dan membolak-balik salinan abstrak yang ada di tangannya. Berkali-kali dia membuat kemungkinan pertanyaan yang sangat mungkin ditanyakan.