Chapter 23

1000 Words
Dia memberi banyak komentar tentang simulas yang kulakukan. Baik dan buruk yang tertangkap matanya dia ulas benar-benar tanpa terkecuali. Sampai kemudian dia menunjukkan sebuah catatan di jurnalnya. “Akan ku kirim padamu,” katanya. Tidak lama kemudian, sebuah file dengan coretan tangan, banyak warna, rapi di beberapa bagian dan acak banyak coretan di bagian lainnya. Aku membaca dan mendongak padanya. “Ini catatan genetika Ill,” pekikku gembira. “Iya, aku merangkum dan mencari dari berbagai komunitas untukmu. Pelajari dengan baik,” pesannya dalam senyum yang membuatnya semakin terlihat manis. Dia menceritakan penjelajahannya dari satu komunitas ke komunitaslain untuk mencari orang-orang yang sudah memulai seminarnya. Dia mencari tahu di antara sekian banyak orang apakah yang sama dari bidang yang berbeda, juga apa yang berbeda. Hingga didapatlah rangkuman yang tidak rapi tapi anehnya terlihat menarik untuk di baca. “You have an art sense Ill,” pujiku. “Sudah tidak usah memberi pujian palsu begitu.” Aku berjanji akan membacanya. Kami saling berbasa basi sebentar sebelum dia memintaku segera kembali. Aku mengiyakan kemauannya. Aku mematikan sambungan dan kembali ke camp. Di ujung lorong aku melihat cahaya lebih terang dari dalam hutan. Masih terang rupanya cahaya matahari. Aku dengan menutup mataku menggunakan telapak tanganku, mencoba menghalau silau yang tampaknya tidak mau mengalah begitu saja. Tapi aku masih tetap mencoba berjalan meskipun mataku belum beradaptasi dengan baik. Saat kubuka mataku, aku melihat sesuatu yang tidak asing. Itu adalah sepasang laki-laki dan perawat yang beberapa malam lalu kulihat di semak bawah menara. Aku melihat si perempuan itu memeluk sang petugas dengan erat. Di pipinya tetesan air mata masih mengalir apik tanpa mengurangi kecantikannya. Pipinya semakin merona ketika dia sesenggukan. Kakinya berjinjit demi menggapai leher pasangannya. Aku menahan kakiku untuk berlalu. Memilih untuk diam saja di balik sebuah tugu hiasan di halaman camp. Aku merasa tidak akan sopan melewati keduanya yang terlihat sangat sedih. Aku bahkan terduduk menunggu mereka selesai dan saling melepas. “Kamu baru saja bertemu orangtuaku, mereka sudah setuju untuk pernikahan kita, tidak bisakah kamu menunda kepergianmu?” “Tidak!” Kalimat yang terlalu tegas itu membuat si wanita menunduk tidak berkutik. Seolah tidak ada pilihan lain jika membiarkan laki-laki itu perg artinya hubungan mereka berakhir. “Apakah semuanya tidak lagi berarti?” “Sangat berarti Zara, tapi dengarkan aku, di distrik itu karirku akan pesat, di distrik itu kamu pun bisa mendapat pekerjaan yang sama dengan dirimu sekarang.” Aku mendengar setiap percakapan mereka. Bukan maksud menguping, tapi benar-benar tidak merasa nyaman jika tetiba aku melintasi jalan dan terliaht oleh keduanya. Aku mendengar perdebatan mereka sambil membaca catatan Illeus. Bercampur antara keilmiahan dan hati yang memburu. Kini aku memahami bahwa sanga petugas keamanan akan dipindah distrik, sedangkan sang perawat klinik tidak bisa membersamainya karena dia tidak bisa meninggalkan orangtuanya. “Kalau bisa kembali, kembalilah, aku akan menunggu,” suara bergetar itu terdengar jauh lebih tenang dari sebelumnya. Seolah putus asa dengan perdebatan panjang yang tidak bertemu titik temu, mereka berpisah. Aku melihat keduanya memilih jalan yang berbeda. Sang petugas sempat melihat ke arahku, tapi aku memang tengah asyik membaca. Dan tampaknya dia dipaksa paham oleh keadaan bahwa tempat ini memang unik. Anak-anak bebas belajar, bekerja, mencari apapun senyaman mereka. Dan sepertinya, yang memilih tempat ini untuk berpamitan dengan Suster Zara, aku juga memilih tempat ini untuk membaca catatan Illeus. Aku melihat padaku, begitu juga dengannya. Mata kami bertemu, dan dia menjadikan desah keluhnya sebagai kalimat perpisahan di antara kami. Seperginya melewati gerbang, aku pun berdiri dan masuk ke dalam camp. Kembali ke kamarku. Entah mengapa, tapi kejadian yang kulihat di mataku terasa ikut mengacak-acak suasana hatiku. “Serumit itukah hubungan manusia?” gerutuku. “Apa?” “Kamu tidak ingin meneliti gelombang perasan manusia? Siapa tahu kamu bisa menambahkan pada robotmu,” tuturku asal. “Ada apa denganmu?” Pertanyaan itu membuatku mengawali ceritaku dari Illeus yang memberikan catatan ini padaku. Lalu beralih ke dua sejoli yang aku yakin Suvara pun masih mengingatnya dengan baik. Suvara mendengarnya dengan baik. Dia ternyata mengenal baik Suster Zara, dia memang salah satu tim kesehatan yang dipercaya melakukan pemeriksaan dan perawatan sebelum seseorang terbang ke bulan. Tentunya dia tidak bekerja sendiri, petugas medis saling bekerja sama sampai bulan terinjak dengan baik. “Kalau kita yang manusia saja tidak bisa mengendalikan perasaan kita, apalagi robot,” bantah Suvara pada usulku. “Ya kan justru karena dia tidak berakal, dia bisa memindahkan semua perasaan pada perngkat, dia tidak perlubersedih seperti halnya Zara ketika menemukan semua faktanya.” “Tidak semudah itu, sudah kubilang, justru robot mudah dikendalikan karena sinyal dalam tubuhnya hanya mengerti perintah, dan bukan membuat keputusan.” “Pokoknya moodku tiba-tiba buruk sekali,” potongku. “Kalau begitu urusi urusanmu sendiri, pelajari catatan dari Illeus, jangan sia-siakan, tidak perlu memikirkan yang lain lagi.” Aku pun ingin seperti itu jika bisa. Sayangnya adegan menyakitkan itu masih terus membayangi mataku. Suvara memberi headpohone padaku, menghubungkannya dengan alat pembagi tabletnya. Sehingga kemdian, ponseldan headphoene ku itu menyalakan musik yang lembut sekali. “sudah membuat sesuatu untuk membalas kebaikan Ill?” tanya Suvara. “Belum,” jawabku. “Jangan sampai lupakan hal itu,” dia meletakkan telunjuknya di hidungku. “Tapi aku sendiri sedang mempersiapkan seminarku Suv,” jawabku ingin mengelak dari tanggung jawab. “Aku tahu, karena itu aku mengingatkanmu untuk melakukan sesuatu juga,” nasehat gadis yang dua tahun lebih muda dariku itu. “Iya terima kasih, semoga belum terlambat saat dia aku sudah selesai seminar,” jawabku. Suvara tampak tersenyum. Dia sendiri kemudian kembali mematangkan abstraknya. Rancangan robot dan potongan-potongan tubuhnya tergambar apik di bukunya. Kurasa, kalaupun dia tidak membuat media untuk presentasi, cukup dengan memperbesar gambarnya di layar, penguji akan sangat mengerti dan memberi nilai yang terbaik padanya. "Itu robot apa?" tanyaku. "Ini robot pembangun meta. Membuat meta akan lebih nyata. "Keren. Kali ini tidak akan gagal Suv, kamu akan pergi ke bulan." "Ya, aku harus ke bulan dan membuktikan ke semua orang itu." Walaupun berbeda maksud dan tujuan. Tapi keberangkatan kami ke bulan nanti sama-sama untuk berbagai pembuktian eksistensi kami di penelitian masing-masing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD