Chapter 24

1080 Words
“Pagi, ayo bangun! Cepat!” suara Suvara yang penuh semangat mengguncang tubuhku. Mataku yang perlahan terbuka menemukan dia yang merekah senyumnya dalam balutan piyama ungu. Senyum itu semakin merekah saat melihatku sudah membuka mataku. Dia lalu meninggalkan tempat tidurku. Dengan sigap membuka lemari bajuku. Mengambil sebuah kemeja warna biru, blazer biru tua dan rok pendek berwarna sama dengan blazernya. “Hai baju siapa itu?” tanyaku. “Haish, tentu saja bajumu, ayo cepat-cepat bangun, bergegas mandi,” dia memukul bahuku dan menarik lenganku agar terpisah dari tempat tidur. “It’s still morning Suva!” kataku. “Ok, that is way, I must to wake you up! Go!” Suvara melempar handukku dan mendorongku keluar dari kamar. Di lorong, beberapa anak terlihat begitu semangat, tidak kalah dengan yang terjadi pada Suvara. Senyum-senyum mereka mengembang dan berjalan ke kamar mandi dengan melayang-melayang saking ringannya langkah mereka. Beberapa sisanya tampak seperti sedang depresi dan menjadi begitu gugup. Kegugupan mereka begitu tampak dari gerakan kaki yang tidak bisa diam, wajah yang tegang dan bicara yang terulang-ulang dengan cepat. “Hai Ra!” sapa seseorang dari kejauhan. “Hai Rose!” Kami saling melambaikan tangan dari kejauhan. Panggilan Rose membuat dorongan Suvara padaku berhenti. Tapi melihat semangat Rose yang berapi-api, Suvara tidak memadamkan juga semangatnya. Rose mendekat dengan senyumnya yang riang dan lebar. “Siap untuk hari ini?” tanya Rose padaku. “Harus kusiapkan,” jawabku. Suvara mencubit lenganku, dan rasanya benar-benar panas. “Dia sangat siap,” jawab Suvara menimpali. “Semangat ya Ra, tampilkan yang terbaik!” Tangan rose mengepal. Memberi dukungan penuh untukku yang masih mengumppulkan nyawa di pagi yang harusnya mendebarkan ini. “Terima kasih Rose,” kataku. Rose pun berlalu dan sesuatu terlewat di otakku, seolah kepingan puzzle yang acak baru saja terhubung dan menyambung. “Hai, rose dari mana kamu tahu?” tanyaku setengah berteriak. Pertanyaanku tidak terjawab. Hanya raut muka Rose tersenyum dan mengangkat kepalan tangannya agar aku tak perlu menghiraukan lainnya, cukup menjadi sangat semangat saja untuk hari ini. Kemudian dia membalik punggungnya dan meneruskan lanagkahnya yang entah akan ke mana. “Aih, kamu lupa ya, dia kan kawanannya Hana, adik Kapnten Jack kan?” “Ah, iya aku lupa,” sahutku. “Bagus, jangan ingat apapun sementara ini fokus di presentasimu aja,” kata Suvara. “Kalau aku tidak mengingat apapun, aku juga akan melupakanmu, siapa kamu?” tanyaku bercanda. “Aku peri keberuntunganmu, hari ini, aku akan menjagamu penuh,” kami pun terkikik. Seperti pagi yang lain, ruang mandi tidak pernah sepi di pagi hari. Anak-anak perempuan itu akan berjajar di antara pintu-pintu kamar mandi atau duduk menjauh dan rela mandi belakangan. Di tangan anak-anak seperti itu, buku dan jurnal tidak terpisahkan. Entah bagaimana ketika mereka mandi, apakah juga dengan membaca. Aku menggelengkan kepala, rasanya tidak mungkin aku bisa mengalahkan mereka yang telah bertahun-tahun berusaha dengan ambisi yang membesar setiap tahunnya. Suvara sudah meninggalkanku di ruang mandi. Dia sendiri tidak ikut mengantri bersamaku. Aku menenangkan diriku. Memilih duduk di salah satu sisi sambil menutup wajahku dengan handuk. Hari ini aku hanya berharap keberuntungan. Jika aku ternyata tidak beruntung, semoga keberuntunganku itu ada bersama Suvara saat tiba waktunya dia yang seminar. Salah satu kamar mandi akhirnya kosong, aku berdiri dan bersiap membersihkan diriku. Kubiarkan air mengguyur sekujur tubuh. Berjuta gelembung menjelajah dan meletup menjadi bagian-bagian kecil yang mengesatkan kulit. Jika saja kuman punya mata, mungkin mereka akan merasa perih di mata mereka sebelum mati karena terkena sabun. “Mandimu lama sekali, tapi tidak apa-apa, itu bagus, biasanya kamu mandi hanya sekadar siram air lalu sudah,” celoteh Suvara. “Aih, kapan aku pernah begitu?” protesku. “Sering,” ujung mata Suvara melirik tajam padaku, membuatku tidak berani membantahnya lagi. Aku menyiapkan semuanya, mulai dari data, salinan abstrak juga biji sycamore di sebuah kotak kecil. Aku duduk di tempat tidurku kembali ketika aku merasa sudah siap. “Kenapa?” tanya Suvara. Aku menggeleng. Ada kebingungan yang menyerang hatiku. Aku tidak ingin melakukannya, tapi aku merasa butuh untuk melakukannya. Kutatap langit yang membiru dengan burung-burung yang sesekali melintas. “Kamu butuh orangtuamu?” tebak Suvara. “Sepertinya iya,” jawabku. “Kalau begitu, hubungi saja,” Suvara tersenyum padaku. Disodorkannya tabletku yang masih ada di atas meja belajar kami. Aku mengambilnya dan menekan tombol call, nomor-nomor bernama itu berbaris memenuhi layar. Aku menekan barisan huruf terbaca “Mammy”. Lama, panggilanku hanya berupa dering yang tidak terjawab. Mungkin dia tidak ingin mendengar kabarku. Mungkin juga dia tidak ingin mendengar suaraku. Bisa jadi dia sedang sibuk bersama adikku. Iya, dia sedang sibuk bersama adikku, cukup itu saja untuk menghiburku. “Tidak tersambung?” Aku menggeleng. Tapi kemudian aku tersenyum. “Setidaknya aku sudah berusaha Suv,” jawabku kemudian berdiri. “Iya, jangan sia-siakan usahamu, kamu harus bisa ke bulan bersamaku,” kata Suvara menyemangati. Kami kemudian turun ke food court. Kata Suvara aku tidak boleh kelaparan saat memulai seminar. Rasa cemas dan gugupku membutuhkan banyak energi katanya. Aku memesan sepaket kentang goreng dengan milkshake vanilla. “Tahu bahan vanilla Suv?” tanyaku mencairkan suasana. “Dulu sih buah vanili, kalau sekarang ya bahan pabrikan lah, aroma sintetis dari bahan kimia kan? Tapi aku lupa kode bahannya.” “Dari castoreum, dubur berang-berang,” jawabku. “Aih, aku sedang makan Sya, jangan membuatku memuntahkan makananku,” katanya. Dia dengan bersungut-sungut tetap melanjutkan acara makannya tetapi dengan menggerutu memintaku tidak mengulangi hal tadi. Dia akan mempercayaiku, tapi tidak kali ini, tidak saat dia sedang menyuap topping cream vanilla ke dalam mulutnya. Aku tertawa keras saat dia masih sempat mengatakan makanan itu sangat lezat. “Kalau robotmu berhasil, buat meta di bulan, untuk kita sombongkan pada Vans,” kataku. “Ah, tentu saja,” jawabnya sambil mengunyah. Tapi kemudian raut mukanya berubah. Aku memandang matanya yang hilang lengkung senyumnya. “Kalau di bulan kita bangun meta, kalau di bulan bisa seramai di hutan twig, apakah akan terlihat dari sini?" tan”anya. “Aku yakin tidak, tapi mungkin bulan tidak akan sempat pucat lagi, atmosfernya akan berubah warna seiring lampu flip flop yang kamu bawa kesana untuk menghiasai meta twigmu,” jawabku bercanda. “Ah, iya, lampu flip keunguan muda yang menyala bergantian, ah, bulan pasti cantik sekali,”jawabnya gemas dengan mata yang menerawang. Aku tidak percaya dia benar-benar membayangkan akan menghiasi bulan dengan berbagai lampu flip. Ekspresi angannya terlihat bahwa dia sangat mengharapkan itu terjadi. Itu membuatku terbahak-bahak dan melupakan sejenak keresahanku. Aku yang gugup dan cemas hingga membuat telapak tanganku dingin, kini sudah mulai menghangat. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD