Suvara mengantarku sampai ke depan ruangan seminar. Semua peserta yang mendapat jadwal hari ini sudah bersiap di lobi ruangan. Mereka menempati barisan kursi yang sewarna dengan liontin penanda bidang masing-masing.
"Goodluck, aku hanya menunggumu di sini," kata Suvara sambil menepuk bahuku.
"Wish me luck," kami pun saling berpelukan.
Dibantu seorang petugas yang membukakan pintu utama, aku memasuki ruang tunggu. Melewati sebuah alat pemindai, liontin yang kupakai di tanganku menyala terang sesaat. Setelah pemindai bekerja, liontin itu meredup kembali.
Sekarang masing-masing kami tidak lagi bisa menyembunyikan diri kami. Kursi yang hijau saphire itu langsung menarik penglihatanku dari hal lain yang ada di ruang tunggu itu.
Beberapa mata menatapku. Kursi biru terlewati, merah terlewati, merah terlewati juga, beberapa mata sudah melepasku. Kursi hijau dan mata-mata yang penuh penantian itu akhirnya melihatku duduk di salah satu bidang kosong di baris kedua.
Tidak ada tegur sapa. Semua kembali ke dunianya masing-masing. Hanya sesekali menoleh ketika ada orang baru datang. Aku menunduk dan berharap aku bisa melewati semuanya sesuai simulasi yang kulakukan bersama Illeus.
Baru saja membersit namanya di otakku. Aku melihat pesannya di tabletku. Aku membuka pesannya dan membalasnya.
"Hari ini kan? Semangat ya!" begitu bunyi pesannya.
"Terima kasih Ill, aku berdebar," jawabku jujur.
"You're the winner," pesan yang diikuti emoticon malaikat itu membuatku tersenyum.
"Yes I will."
"Call your mom," sarannya.
"I did but nothing," jawabku.
Dia menghiburku. Sama dengan yang dilakukan Suvara. Walaupun tidak bisa benar-benar baik-baik saja. Tapi aku berterima kasih dengan usahanya. Dia kemudian menguatkan hatiku lagi dan mengakhiri chat kami.
Sekat dinding di depan kami terangkat. Ruangan besar dengan beberapa panelis dan penguji yang duduk di meja panjang menghadap kami. Aku yakin seluruhnya berdebar. Langit-langit dengan bulan sabit seperti yang terlihat di diorama kertas dulu tidak bisa mengganti rasa cemas dengan rasa takjup kami yang duduk di barisan peserta.
Pintu utama tertutup. Menandakan siap yang baru datang tidak akan bisa menyusul masuk. Aku melihat anak-anak lain yang meronta di dekat pintu. Aku mengerti rasa sakit hati mereka. Setelah beberapa hari di tempat ini, setelah mereka berusaha menyusun abstrak sesuai format yang benar, dan berakhir di ketidakdisiplinan waktu, aku memahami kesakithatian mereka.
Aku melihat kapten Jack. Berjalan dari ujung ruangan luas menuju tengah. Meminta ijin pada beberapa profesor di belakangnya sebelum kemudian suara tegas dan berwibawanya terdengar ke seluruh ruangan.
"Selamat Pagi," sapanya.
Seluruh isi ruangan membalas salamnya. Dia pun tersenyum dengan menarik napas sebelum memulai kembali pembukaannya.
"Selamat datang di Seminar Abstrak Moon Champions..." kalimat per kalimat diucapkannya dengan jeda dan penekanan yang pas.
Aura persaingan dan rasa cemas membuat tidak satupun dari kami berbicara sekali pun mungkin tidak sedikit yang mengabaikan pembukaan yang dilakukan Kapten Jack. Beberapa dari kami pasti sedang menikmati debaran jantung yang meningkat, keringat dingin, yang mengucur, juga rasa cemas yang bergumul dengab gugup.
"Baiklah, di kursi kalian masing-masing sudah berisi angka. Jadi secara tidak sengaja, kalian telah menempatkan diri kalian sendiri pada nomor undian."
Anak laki-laki di ujung itu menghela napas panjang. Antara siap atau tidak siap tidak mungkin dipilih.
"Nantinya setiap seorang maju masuk ruangan ini, hanya ada waktu 10 menit untuk maksimal presentasi, sisa waktunya adalah pertanyaan dari penguji yang maksimal berwaktu 10 menit."
Masing-masing punya waktu 20 menit, untuk menjelaskan abstrak yang telah dibuat. Aku tidak terkejut, simulasi yang kulakukan hanya memakan waktu 8 menit untuk menerangkan percobaan dan hipotesa singkat yang kupunya.
Aku secara tidak sengaja telah duduk di bangku yang tepat. Tidak di awal sekali, tidak di akhir sekali. Urutan yang pas untuk menata kesiapan. Juga urutan yang pas untuk segera mengembalikan detak jantung ke ritme normal.
Dinding menutup kembali perlahan. Menyisakan satu jendela kaca di mana terlihat para peserta mempresentasikan hasil karyanya dan nilai dari para penguji langsung tampak di layar samping kaca tersebut. Nilai 0 sampai maksimal 300 tayang pada persatu nama yang keluar melalui pintu lain. Tidak suara yang terdengar keluar saat penguji mulai bertanya. Sehingga masing-masing kami yang di luar tidak tahu apa yang ditanyakan.
Kuarahkan pandanganku pada dua bangku terdekatku. Dua orang lagi dan berikutnya aku. Aku meraba kotak biji Sycamore dalam sakuku. Masih ada. Menekan tombol di tabku melihat folder data Sycamore. Masih lengkap. Kutarik napas dan melepasnya kembali dengan pelan. Tinggal satu orang.
"Ada apa Sya?" ibuku menghubungi.
Berkirim pesan setelah terlambat. Tapi aku masih berusaha membalas pesannya sampai kemudian anak yng disampingku pun sudah berdiri.
"Doakan aku bisa ke bulan Mam," aku kemudian mengirim pesan suara itu padanya.
Beserta tanda cium sebelum aku mematikan sambungan internet dari tabletku. Aku tak mau saat aku menyajikan hasil karyaku nanti, ponselku masih berdering. Aku melihat anak terakhir sebelum aku mendapat nilai yang cukup baik. 203 adalah nilai yang cukup tinggi sampai saat ini.
Aku tak tahu apa yang dia teliti, aku hanya melihat ikan mas kecil yang diletakkannya di ats meja penguji. Entah akan diapakan hewan itu. Atau bisa saja hewan itu adalah penelitiannya.
Dia berbalik arah. Dia sudah selesai. Sekarang giliranku berdiri dan memasuki pintu itu. Tak lagi takjup dengan suasana asli di dalamnya, aku mengangguk begitu melihat ketiga penguji di meja panjang.
"Selamat.. siang nona Kisyara?" tanya penguji yang duduk di tengah.
"Selamat pagi Sir."
"Baiklah Nona, kami sudah banyak terkesan dengan hasil pemikiran teman-teman anda hari ini. Jadi anda harus lebih menakjubkan untuk membuat kami menerbangkan anda. Waktu anda ada di atas kami. Jika bulan itu sampai di fase purnama, waktu anda habis, sebaliknya jika bulan itu kembali ke bulan mati, waktu kami yang habis, mulailah sekarang."
Aku melakukannya seperti yang kulakukan dihadapan Illeus juga Suvara setelah sebelumnya meletakkan salinan abstrakku di koneksi data mereka. Aku kemudian memulai pertunjukkanku. Kulutekkan kotak biji Sycamore di lantai, kubuka. Sebuah pohon yang rindang perlahan tumbuh, mengembangkan ranting di segala sisi bahkan di atas kepala para penguji. Hologram daun berjatuhan memberi suasana sejuk yang mengundang senyum mereka.
Di lantai sulur menjulur dan merambat perlahan baik mengelilingi batang Sycamore yang besar. Sulur telang itu kemudian mulai mengeluarkan bunga ungunya yang cantik, bersamaan dengan buah-buah Sycamore yang bulat keemasan. Seperti skenario yang sudah-sudah, salah satu buah jatuh, dan aku memulai presentasi yang sesungguhnya.
Aku menjelaskan bahwa buah Sycamore yang tidak banyak digunakan, akan kuubah menjadi bunga telang di pohon yang sama sehingga bunga telang akan lebuh meningkat produksinya karena akan didapat bunga yang lebih banyak. Poin akhirnya adalah pengobatan atau pengolahan makanan yang menggunakan yang menggunakan ekstrak telang akan jauh lebih mudah didapatkan.
Aku terus menjelaskan isi dari abstrakku sampai bulan di atas itu semakin terang cahayanya dan tidak lagi ada bagian gelapnya. Purnama telah datang. Tepat saat aku sampai di bagian akhir yaitu musim gugur bunga telang.