Chapter 26

1082 Words
 “Presentasi yang bagus Nona Kisya,” sapaan itu mengawali 10 menit perjuanganku mempertahankan hipotesa bahwa clitoria dan sycamore dapat bersanding apik dalam satu tubuh. Banyak pertanyaan yang mereka lontarkan, aku tidak menganggap itu upaya mematahkan hipotesaku, aku tahu volume otak mereka bahkan lebih besar dari ambisiku untuk mewujudkan kebaikan ini. Beberapa pertanyaan sama dengan yang ditanyakan oleh Illeus padaku saat kami simulasi di twiggram kemarin. Jadi jawabanku juga tidak jauh berbeda dengan yang menjadi keyakinanku dengan kata yang sudah diluruskan dan dibenahi oleh Illeus. 10 menit yang begitu tidak terasa, ketika aku begitu menikmati dengan kejaran saran mereka, tak ada pertanyaan lagi, justru mereka saling berargumen untuk membantuku ini terwujud. Bulan sabit di langit-langit telah semakin tipis dan gelap menguasai ruangan itu. Tepuk tangan mereka berbalas tundukan kepalaku sebelum aku berlalu. Dari ruangan itu aku keluar dengan debaran yang tidak kalah cepat dari saat aku memasukinya lalu.  Aku melihat Suvara dari kejauhan berlari menyongsongku. Seikat bunga berbagai warna di tangannya. Dia merangkul leherku. “Baik kan?” tanyanya. “Menurutku begitu, rasakan ini,” aku menarik tangannya ke d**a yang masih juga belum mereda debarannya. “Ini tidak seberapa dari debaran yang terasa saat kita melewati itu,” tangannya menunjuk langit biru yang terlihat dari jendela. “Iya,” sebenarnya ada kata lain yang ingin terucap, tapi aku tidak ingin melukainya. Kami saling bergandeng tangan menjauh dari tempat itu. Tidak banyak anak yang begitu hangat seperti Suvara padaku. Ya, kecuali mereka tentu saja. Mereka yang berdiri di sisi pintu yang lain. Aku mengenal semuanya kan? Aku mengajak Suvara mendekat untuk menyapa mereka. “Hana sedang di dalam?” tanyaku. “Iya, dan kami tidak sabar mengharap yang terbaik darinya,” jawab Art. “Semoga dia dimudahkan,” jawabku dengan tersenyum. “Kamu sudah? Apa yang terjadi di dalam?” tanya Art. “Tidak ada selain keseruan ketika kamu ingin menyatakan anganmu,” dan ketiganya tersenyum dengan jawabanku. Aku tahu mereka paham, jawaban panjangku hanya tertangkap kata ‘gampang’ di otak mereka. Karena itu mereka akhirnya meringankan hati mereka. Aku berpamitan setelah berbincang sebentar. Aku dan Suvara melambai pada mereka saat menjauh. “Apa hanya Art yang ramah diantara mereka,”kikik Suvara. “Semuanya baik, mungkin sedang tegang saja,” jawabku. “Ah iya, tadi aku juga begitu saat menunggumu,” dia terkekeh. Kami menuju ke twiggram, Suvara mengikut padaku di twighomeku. Sempat terpana dengan dekorasi yang kulakukan, Suvara lalu bertepuk tangan. Dengan tabnya dia melakukan sesuatu dan guguran kelopak bunga phlox yang berwarna magenta gelap mulai bertabur dari langit-langit, seolah mengenai tubuh kami dan bertumpuk di bawah. “How to?” tanyaku dengan terkesima. Tanganku menengadah berharap bisa menangkap kelopak yang cantik itu. Tapi nihil kan, kelopak itu menembus tanganku dan tetap jatuh bersama tumpukan yang akhirnya tidak pernah lebih tinggi dari mata kaki kami. “Kamu tidak perlu tahu, nikmati saja kelegaanmu,” katanya sambil menggoyangkan tabnya. Kami bergandengan tangan berputar di antara guguran bunga dan tanpa sadar, Vans sudah di sana terhubung dengan kami. Saat dia menyapa kami, kami tertawa malu kemudian duduk di atas meja panjang menghadap pada Vans. “Sangat gembira ya? Semoga akumendengar kabar bahagia,” begitu kata Vans sambil mengangkat secangkir kopinya. “Tentu saja tuan,” jawab Suvara terkikik. “Kamu belum selesai, jangan gembira dulu,” ingatnya. “Aku akan gembira ketika temanku juga bahagia,” bantah Suvara tanpa menghilangkan lengkung senyum dari bibirnya. “Baiklah,” Vans mengangkat kopinya dan menunjukkannya pada kami bagaimana dia menyesapnya dengan begitu nikmat. Dia bertanya apa yang sudah kulakui. Aku menceritakan semua yang kuingat. Dia seolah mengidentifikasi jika itu ada di bidang robotika. Dia meminta Suvara bersiap untuk beberapa pertanyaan. Dan kali ini Suvara ringan menjawab dia akan menguasai semuanya. Bahkan lebih baik dariku. Kami saling memberi semangat. Suvara memberi tahu dia akan bersenang-senang hari ini. Dia tidak akan merisaukan hari esok saat dia harus menikmati presentasi. Dia merubah meja panjang yang kami duduki menjadi sofa putih panjang dan menghilangkan meja set milikku. “Begini lebih seru,” katanya. “Oh iya Ra, temanmu siap menemuiku kan?” Awalnya aku agak bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan Vans, tapi lalu aku mengerti itu maksudnya adalah Sezra. “Entahlah Vans, aku belum menghubunginya lagi. Terakhir dia bilang di akan siap menemuimu sekalipun jauh.” “Baiklah, aku akan menunggunya.” “Suv, cobalah untuk simulasi di sini,” kataku. “Sudah kubilang, aku akan bersenang-senang hari ini, besok biarlah besok, apapun yang terjadi aku tidak akan menyesali, karena aku pasti ke bulan kali ini,” katanya serius. “Karena itu, jangan terlalu santai, terlalu jumawa juga tidak baik,” timpal Vans. Sebenarnya aku setuju dengan Vans, tapi melihat Suvara yang bersikeras dia tidak akan mempersiapkan apapun hari ini, aku tidak ingin merusak hari-harinya. Aku membelokkan percakapan kami. Membawa tema baru di dalam perbincangan kami. Lalu Suvara ijin kembali ke twighomenya untuk berbincang maya dengan Vans secara pribadi. Aku membiarkannya berlalu setelah berterimakasih kepadanya. Kami kembali berpelukan sebelum dia keluar dari pintu. Aku melepas blazerku. Meninggalkan kemeja putih dengan lengan mengembang dan sebuah pita di leher. Kemudian masuk ke komunitas yang sudah memberiku banyak info dan ilmu untuk mengembangkan penelitianku. Kubagikan pengalamanku hari ini bersama beberapa orang lain. Sejak seminar dimulai, sebuah panggung disediakan di lobi komunitas. Semua bisa membagikan pengalamannya walaupun hanya avatar yang akan dinikmati oleh orang lain. Avatarku kuganti sesuai dengan baju yang hari kupakai. Hal itu membuat peserta lain segera mengenali aku baru saja selesai seminar. Aku diberikan kesempatan untuk maju ke panggung dan menceritakan yang kualami hari ini, mulai dari rancangan penelitian, hipotesaku, hingga pertanyaan-pertanyaan yang kudapat. Banyak yang bertanya bagaimana caraku menjawab. Diskusi berjalan dengan merelevansikan rancanganku dengan rancangan mereka masing-masing. Beberapa mempunyai pembidangan penelitian yang sama denganku. Sehingga diskusi yang kami lakukan begitu menyenangkan bagi kami semua. “Aku membuat rancangan yang kurang lebih sama denganmu, tapi akan kulakukan pada buah-buahan, menurutmu apa aku akan mendapat pertanyaan yang sama?” tanya seseorang dengan avatar laki-laki dengan topi baseball yang ditundukkan sehingga wajahnya tidak terlalu terlihat. “Tentu saja tidak, kita tidak diuji oleh orang yang sama, teknik perekayasaan genetika pun mungkin berbeda, jadi kurasa kita tidak akan mendapat pertanyaan yang sama, tetapi ada pertanyaan kunci yang kurasa akan sama yang didapat semua anak genetika,” jawabku. “Ah, pertanyaan tentang isu lingkungan polusi sampel percobaan ya?” tanyanya menegaskan. “Iya benar,” jawabku. “Bagaimana kamu menjawabnya?” “Aku melakukan penelitian pada tanaman, kurasa tidak terlalu menimbulkan polusi, jika pun tidak berhasil, pemusnahan sampel tidak akan melanggar hukum.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD