Chapter 27

1024 Words
Kami terus berdiskusi dan memberikan waktu yang kupunya untuk menjadi Real Reporter tentang pertanyaan demi pertanyaan yang bisa kolektifkan. Aku melihat avatar Suvara di antara penonton yang melihatku. Dia bertepuk tangan saat tak ada lagi pertanyaan mereka tanyakan. Saat itulah aku turun dari panggung dan kali ini ada rasa lega sudah bisa berbalas rasa terima kasih. Bagaimanapun, kesiapanku selalu dibantu oleh teman-teman dari komunitas ini. Entah itu dari real report atau dari pribadi orang-orang seperti Illeus. Aku mendekati Suvara. Duduk di sampingnya. "Katanya tidak ingin melakukan apapun?" godaku. "Ini sidah tidak, aku hanya duduk dan mendengar orang-orang mengatakan real report yang mereka alami kemarin." Aku mendengus geli dengan jawabannya. Aku yakin teman kamarku ini sedang panik dan cemas tak berkesudahan. Tapi dia tidak menunjukkannya pada siapapun. "Aku tidak pernah melihatmu menghubungi orangtuamu." Dengan raut wajah yang tidak berubah, dia menjawab pertanyaanku bahwa ibunya hanya peduli jika dia sudah berada di bulan saat ini. Sesungging senyum dan yang tidak simetris ditunjukkannya padaku. Membuatku mengerti mengapa dia kali ini cukup tertekan. Aku memeluknya. Mengelus punggungnya. Dia membalas pelukanku, kemudian dia pamit akan pindah komunitas. Aku mengijinkannya. Aku sendiri juga keluar dari lobby komunitas ini. Dan memilih diam di halaman beranda twiggram. Sampai bunyi dering merebut fokusku. Nama Sazre tampak di layar twiggram. "Hai Ra!" "Hai Saz," jawabku. "Hari ini kan?" "Iya, baru saja selesai." "Wah, kamu manis sekali dengan seragm ini." "Terima kasih," kataku. "Aku sedang dalam perjalanan untuk menemui temanmu." "Oh iya, tadi dia juga mencarimu. "Mungkin besok barulah aku sampai." "Sangat jauh ya?" "Butuh dua malam untuk sampai ke sana." "Hati-hati," pesanku. Dia menunjukkan makanannya yang telah habis. Bercerita dia sedang beristirahat di hotel kapsul di pinggiran kota. Dia juga menjelaskan, tadinya dia tidak ingin menginap, tapi punggungnya cukup lelah karena duduk lebih dari sehari dengan motornya untuk sampai ke tempat ini. Sazre bertanya bagaimana presentasiku. Memaksaku untuk bercerita dengan begitu antusias. Dia terlihat tersenyum di avatarnya. Entahlah aslinya apakah sama bahagianya. "Sudah kuduga kamu pasti bisa, kapan hasilnya akan keluar?" "Entahlah, belum ada informasi lebih lanjut." "Wish you luck." "Thank you." Dia lalu memilih off karena harus meneruskan perjalanan. Aku sendiri kamudian mengenakan blazerku dan menghubungi Suvara untuk mengajaknya kembali ke kamar. "Pulang yuk, kamu butuh persiapan kan?" tanyaku. "Iya." "Bertemu di ujung," jawabku. Aku menuruni ranchlift. Bersandar di kacanya sebelum kaca itu menghilang di dasar tanah. Aku berjalan keluar menuju lorong dan melewatinya. Lalu di ujung lorong, aku duduk di sebuah batu bekas runtuhan. Melihat ke arah gedung Moons Camp. Mungkinkah tahun depan mereka merubah tujuannya, misalnya jadi Mars atau Venus. "Yuk," ajak Suvara sembari menepuk pundakku. Kami lalu berjalan untuk kembali ke Moons Camp. Suvara masih seceria sebelumnya, sampai kemudian kami berpapasan dengan Zara. Aku melihat pada Suvara tepat saat dia menoleh juga padaku. Aku tahu dia mengenali Zara. Perawat klinik Moons Camp yang membuat kami takut untuk kembali melewati pagar malam itu. Suvara dan aku berjalan biasa seolah tidak mengenalinya. Tapi mengingat peristiwa beberapa malam lalu itu, kamipun terkikik. Saling menyalahkan di sela-sela gurauan kami. "Aduh!!" aku memekik saat aku tersandung sebuah batu. Tubuhku limbung karena sebelumnya memang bercanda dengan Suvara. Aku jatuh dan lututku mengenai pecahan kaca. "Auh," aku memegangi lututku yang berdarah dan hitam terkena tanah. "Ouh, Sya, maafkan aku," Suvara menghampiriku. Dia melihat lukaku. Lalu melihat ke sekitar. Kami melihat Zara kembali dan mendekat pada kami. Mungkin karena mendengar eranganku. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya. "Kakinya terkena pecahan kaca," jawab Suvara khawatir. "Masih bisa jalan?" suaranya datar. Aku mengira dia ada urusan penting, sesuatu yang tergesa-gesa, tetapi dia tidak bisa meninggalkanku sendiri. "Kurasa masih." Suvara membantuku berdiri. Meskipun dengan terpincang-pincang, aku dengan tangan merangkul bahu Suvara berjalan kembali ke asrama. Begitu sampai di gerbang keamanan, Zara meminta aku duduk di ruang keamanan, memberi air pada lukaku. Pecahan kaca yang menancap telah dicabutnya tadi, tapi karena tadi tidak ada air, dia baru bisa membersihkannya saat ini. Dia meminta petugas keamanan untuk mengambil peralatan dan obat-obatan di klinik. Supaya aku tidak berjalan terlalu jauh katanya. Dengan telaten dia membersihkan lukaku sembari menunggu obat dan pembalut lukanya datang. "Kakak, maafkan saya, sepertinya kakak tadi tergesa-gesa tapi harus kembali karena saya," ucapku. "Tidak apa-apa, sudah kewajibanku," jawabannya datar. Sama sekali tidak tersenyum. Tapi juga tidak menunjukkan ekspresi kesal. Sepertinya dia hanya ingin cepat keluar lagi. "Ah, itu dia perbannya sudah datang." Dengan cekatan dia kembali mengobati lukaku. Dan berakhir dengan merekatkan plester di perbanku. Kini lukaku sudah terbalut rapi. "Minta tolong antarkan dia ke kamarnya ya," pinta Zara pada petugas keamanan gerbang itu. "Baik Nona Zara." "Lain kali hati-hati kalau jalan ya," dia melihatku dan berpesan begitu. "Iya terima kasih," aku dan Suvara hampir berbarengan mengucapkannya. Seperti dugaanku, dia masih tergesa-gesa. Dengan langkah yang cepat, dia kembali ke luar asrama dan entah akan ke mana. Aku dibopong oleh petugas itu untuk kembali ke kamarku. Banyak mata melihatku. Membuatku mati kutu kali ini. Malu sekali sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi memang kakiku masih sakit untuk berjalan. "Terima kasih pak," ucap Suvara begitu aku dibaringkan di atas tempat tidur. Petugas itu hanya mengangguk. Kemudian berbalik dan kembali ke posnya. "Sakit sekali ya?" tanya Suvara cemas. "Mau coba?" tanyaku bercanda. "Aih, tidak terima kasih!" jawabnya sewot. Suvara lalu pamit ke food court untuk mencarikanku makanan. Dia bertanya apa yang kuinginkan. Aku pun menjawab aku ingin kentang goreng saja. "Tidak ingin yang lain?" tanyanya. "Tidak, terima kasih." "Baiklah." Suvara kembali keluar dari kamar. Aku melihat balutan di lukaku. Mulai terasa denyut dan rasa perihnya. Aku meringis menahan rasa sakit saat luka itu kuluruskan. Sembari berbaring tiba-tiba ponselku berdering. Gambar ibu ada di layarnya. Aku segera menerima panggilan telponnya. "Ada apa Sya?" tanyanya. Suaranya tidak kalah tergesa-gesanya dengan Nona Zara tadi. Membuatku tidak lagi meminta restunya. Toh aku sudah tampil dengan baik di dalam seminarku. Terlepas apakah aku lolos apa tidak. "Ah, tidak bu, tadi seminarku sudah selesai." "Hanya itu?" aku terhenyak dengan jawabannya. "Iya, hanya itu," jawabku lesu. "Kukira ada apa." "Tidak." Kemudian ibu mematikan panggilannya. Tidak bertanya apakah aku baik-baik saja. Baru saja aku ingin bercerita tentang kakiku, panggilan itu sudah tidak tersambung. Kuhela napas kecewaku. Kuletakkan kepalaku pada bantal dan mencoba tak peduli dengan yang baru saja terjadi. Toh ibu memang sudah biasa begitu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD