Aku hampir saja lupa bahwa hari ini Suvara mendapat giliran presentasi. Tidak seperti aku yang mendapat perlakuan istimewa darinya. Dia harus bangun lebih awal sendiri, begitu semangat dan antusias menyambut hari ini. Suara buku-buku yang dirapikannya juga langkah kakinya yang... entahlah, apakah itu semangat atau terburu-buru. Sesuatu yang pasti adalah semua gerakannya menimbulkan suara pagi ini. Aku membuka mataku dan melihat dia sudah mengenakan kemeja birunya dengan liontin di balik krah kemejanya.
Dia duduk di tempat tidurnya dan sepertinya menungguku terbangun. Aku melihatnya dan perlahan senyumnya mengembang.
"Selamat pagi Suv," sapaku.
"Selamat pagi Sya."
Raut mukanya menunjukkan dia tiba-tiba mengingat sesuatu. Dia lalu mengambil tab dari sudut tempat tidurnya. Meletakkan tab itu sejajar duduknya dan menekan beberapa tombol. Lalu dia mengabaikan aku.
"Morning Ma!" sapanya dengan ceria.
Di layar tabnya terlihat seorang perempuan dengan rambut tersanggul rapi, mengenakan dress selutut dengan apron melambaikan tangan pada Suvara.
Mereka berbicara dengan penuh kasih sayang. Meskipun tertangkap di hatiku bahwa sang ibu mewajibkan Suvara untuk lolos kali ini. Dia berkata tidak ada alasan untuk gagal kali ini.
Suvara masih tersenyum dan mengiyakan dengan penuh semangat. Kalau aku jadi dia, aku yakin aku pasti sudah tertekan tidak karuan. Tapi Suvara pasti jauh mengenal ibunya dari pada aku.
“Kakimu sudah lebih baik Sya?” tanya Suvara begitu panggilannya dia matikan.
“Semakin berdenyut sebenarnya, tapi memang begitu prosesnya kan?”
“Iya, itu biasa terjadi, tetapdi kamar saja, tidak perlu ikut turun denganku.”
“Maaf ya?”
Aku merasa bersalah karena tidak bisa melakukan hal yang sama yang dia lakukan padaku saat aku seminar dulu. Tapi Suvara sangat mengerti. Dia tidak meributkan itu sama sekali. Dia bahkan masih membelikanku sarapan untuk kami makan bersama di kamar.
“Hari ini adalah hari keberuntunganmu Suv, ingat saja itu, jangan lainnya.”
Suvara tertawa mendengar kalimatku yang berapi-api, penuh semangat dengan jemari mengepal. Dia mengangguk dan berusaha menelan burgernya tanpa tersedak. Aku dengan terpincang memunguti dan membersihkan remahan kami sementara Suvara sudah membawa tas di punggungnya.
“Biar nanti kubersihkan sendiri Sya, kamu istirahat saja,” katanya saat melihatku berpengangan pada tepian tempat tidur.
“Sudah, pergi saja sana, jangan sampai keberuntunganmu berpindah kaki,” candaku.
“Bye!” dia melambai padaku sebelum menutup pintu kamar kami.
Cahaya matahari sedang bebas-bebasnya masuk ke kamarku. Tapi aku tidak bisa ke mana-mana untuk menikmatinya. Andai bisa pergi ke hutan dan naik ke twighome. Atau andai twiggram bisa dibuka di tempat ini.
Aku memandang langit-langit. Menyadari sesuatu, mengapa media sosial satu itu tidak bisa diakses di tempat ini. Aku mencoba mengakses web twiggram melalui tab namun gagal. Bahkan saat aku mematikan saluran wifi pun tetap gagal. Lokasi, bagaimana jika aku mematikan lokasiku?
Aku mencobanya, kembali mengakses twiggram tanpa sistem lokasi. Berhasil. Aku berhasil berada di beranda twiggram. Aku menekan tombol login. Lalu perintah menyalakan lokasi pun muncul. Ah, tetap saja gagal.
Aku mengambil kotak biji di laci meja belajar. Meletakkannya di lantai, dan kembali biji itu tumbuh menjadi Sycamore gagah dengan ranting bercabang dan daun yang rimbun. Aku membiarkan terbuka. Berkali-kali pohon itu tumbuh, bersemi, gugur dan kembali menjadi biji Sycamore.
Entah sudah berapa kali siklus itu berulang. Tapi rasanya masih asyik untuk dinimati. Saat itu tabku berdering. Aku melihat nama Illeus di layarnya. Ah, iya apakah aku sudah menghubunginya sejak kemarin? Aku sepertinya lupa untuk berterimakasih padanya.
“Hai Nona, bagaimana kabarmu?” tanya Ill.
“Agak sial,” jawabku.
“Kenapa? Kamu gagal?”
“Lihatlah!” aku menunjukkan kakiku yang terbalut padanya.
“Kapan terjadi? Tapi kamu tetap bisa presentasi kan?”
“Setelah presentasiku sukses,” kataku.
“Syukurlah, itu bukan luka yang besar, sebentar juga sembuh,” katanya.
Dia lalu bersamaku melihat siklus Sycamore yang tetap kubiarkan terbuka.
“Sudah memikirkan nama baru?”
“Untuk?”
“Pohon cantik berbunga ungumu,” jawabnya.
“Apa ya? Belum terpikirkan untuk menamainya,” jawabku jujur.
“Genusnya tetap sycamore?”
“Harusnya iya, karena hanya bunganya yang berubah,” jawabku lagi.
“Sycamore Ratriciae?”
Aku menggeleng. Tidak terpikir dan tidak ingin menyertekan namaku di pohon yang spesiesnya akan baru dari Sycamore americans. Kami saling menyebutkan nama untuk pohon baru itu nanti.
“Hai, kita hampir bertengkar, meributkan nama untuknya, menurutmu dia akan berhasil? Dia akan lahir di tanah ini?” tanyaku.
“Dia akan didanai Ra,” jawabnya meyakinkanku.
“Sycamore sytoria,” gumamku.
“Nama yang bagus, iya, itu saja,” Illeus lalu menunjukkan hal yang kalah menakjubkannya.
Dia memperlihatkan padaku roket yang terbang dan menabur koin. Seperti hujan bintang yang berkilau. Koin itu tertampung di pundi-pundi lalu pundi-pundi yang penuh akan menutup dan berubah menjadi kategori pendanaan. Mulai dari pilot, ilmuwan yang saling berpeluk sambil melambai, tumpukan donat aneka topping dan entah apa lagi. Satu yang kuhapal hanya pilot itu menggunakan wajahnya.
“Narsis sekali anda,” godaku.
“Oh itu, iya itu aku yang harusnya menikmati perjalanan yang kuhitung sendiri.”
“Bisa tidak ya kita bertemu di jalan di antara orbit luar angkasa itu?” khayalku.
“Jadi di otakmu di sana ada jalan layang?”
“Siapa tahu suatu saat memang bisa begitu, sebuah terowongan tahan panas yang melewati atmosfer bumi dan bisa terhubung dengan banyak planet lain.”
“Iya, kamu benar, mungkin suatu saat bisa begitu, apa yang ada hari ini juga dulu tidak pernah ada kan?”
Aku mengangguk. Meneguk segelas air karena kerongkonganku mulai kering. Sejenak terbersit apakah Suvara sudah tampil. Apakah dia bisa melaluinya dengan baik. Illeus meyakinkanku bahwa teman sekamarku itu lebih baik dariku. Suvara pasti bisa memenangkan babak ini.
“Iya kamu benar, dia lebih baik dariku, aku baru kali ini rela mengalah demi dia jika bisa,” kataku lirih.
“Nah itu! Jika bisa. Kamu dalam kondisi tahu kamu tidak bisa melakukan apapun untuk mengalah, bahkan jika Suvara kalah dan kamu menang, kamu bahkan tidak akan melakukan apapun, iya kan?”
“Kamu jangan bicara begitu, aku tulus berharap dia akan memenangkan perjalanan ini, sungguh,” tegasku.
“Iya, iya aku percaya, kamu tulus Sya,” suara itu membuatku terhenyak.
Suvara sudah kembali ke kamar. Dengan senyum yang begitu cerah. Aku bersyukur. Setidaknya dia sudah melewati babak ini dengan baik. Tentang kemenangan kami, sebenarnya Illeus benar, kami tidak akan bisa berbuat apa-apa.
“Ah, kamu sudah kembali,” aku merentangkan tanganku.
Dia memelukku. Membalas rentangan tanganku dengan rangkulannya. Kami berpelukan sampai terdengar Illeus berdehem.
“Aku juga mau dipeluk,” kata Illeus.
“Datang kemari, kita akan saling berpelukan seperti badut luar angkasa,” kata Suvara dengan bibir mencibir tapi kemudian tertawa.
“Ceritakan padaku,” perintahku pada Suvara.
Sesaat wajahnya berubah datar. Tapi kemudian dengan penuh semangat dia bercerita tentang presentasinya. Tentang pertanyaan-pertanyaan yang berhasil dijawabnya. Aku dengan lega mendengarnya tanpa mencela. Begitu juga dengan Illeus.
“Baiklah-baiklah, kalian berdua sudah lega, sekarang, bolehkah aku minta tolong?” sela Illeus saat kami masih terkekeh bahagia.
“Apa?” tanya Suvara.
“Lihat presentasiku sebentar,” kata Ill.
“Kan kemarin sudah Ill?” gerutuku.
“Lagi, aku yakin tidak cukup sekali Ra,” bujuknya.
Kamipun mempersilakannya. Saling bergantian mengajukan pertanya seperti yang dilakukannya padaku dulu. Membuat banyak pertanyaan yang bisa saja dipertanyakan. Baik dari segi penelitiannya, maupun dari segi teorinya. Tanpa sadar, saking serunya, percakapan kami terjeda oleh suara perutku yang sudah kembali lapar.
“Hai, bisa-bisanya perutnya sudah lapar lagi padahal tadi kami makan bersamaan,”goda Suvara padaku.
“Kamu harus tahu Suv, bosan membutuhkan energi yang lebih banyak,” celotehku.
“Haish, teori siapa lagi itu?”
“Kisyara,” jawabku sambil mengangkat daguku dan mengangguk.
Seolah aku adalah ilmuwan angkuh yang berhasil membuat penemuan dan teori baru. Illeus dan Suvara tertawa dengan aksiku. Lalu dengan baik hati, Suvara bersedia kembali ke bawah untuk mengambil jatah makan siang kami.
Illeus juga sudah mematikan panggilannya. Kamar mendadak sepi seperginya mereka. Aku kembali menikmati langit yang masih biru dengan burung-burung yang hinggap di maple depan jendela kamarku.