Chapter 7

1030 Words
"Apa itu Suv?" tanyaku. "Entahlah, ayo mendekat." Aku mengiyakan ajakan Suvara. Anak-anak lain juga tidak kalah antusiasnya untuk melihat apa yang terjadi. Kami berbondong pergi ke arah kepulan asap menghitam. Sebuah roket kapsul sedang disiram dengan air juga fire foam. Beberapa orang berlarian mendekat, begitu api tidak lagi sebesar sebelumnya. Pintu roket dipaksa membuka dan seorang anak ditarik keluar. Anak laki-laki dengan topi penerbang dan kacamata bulat itu terkulai lemah. Di brankar yang didorong, dia sedang diselematkan. Itu artinya dia masih hidup. Petugas Moon Camp meminta kami menjauh dan sebaiknya kembali ke aktivitas kami sebelumnya. Tapi anak-anak teknik seperti Suvara masih bertahan. Mereka mengenali roket kapsul itu sebagai buatan sendiri. Entah anak tadi atau bukan, tapi yang pasti, roket itu adalah rakitan orang bukan pabrikan. "Memangnya di pabrik, siapa yang akan merangkai roket kapsul itu?" tanyak berseloroh. "Robot lah," jawab Suvara yang memilih bertahan. Sekalipun aku menarik tangannya untuk kembali ke meja makan kami, dia tetap menolaknya. Aku mendengus dan akhirnya kembali sendiri. Kutinggalkan Suvara dengan ketakjubannya. Desas-desus anak yang terluka itu menyebar dengan cepat. Beredar kabar dia telah sadar dan tidak mati pada kebakaran roketnya. "Dia hebat," kata Suvara kagum. "Iya, tidak mati pada kebakaran yang seperti tadi itu luar biasa," kataku. "Bukan itu," jawaban Suvara membuatku menoleh padanya. Suvara melepaskan bukunya dan berpindah duduk di sampingku. Anak perempuan berambut panjang itu mengikat rambutnya sebelum kemudian memutar arah duduknya dan kini menghadap padaku. "Dia membuat roket itu sendiri Sya, sayangnya rancangan yang dia bawa ikut terbakar bersama roket itu. Dan kamu tahu? Dia lolos mengikuti seleksi Moon Champions," Suvara menjelaskan dengan berapi-api. "Kenapa kamu sebahagia itu? Bukankah itu artinya akan ada orang baru yang menjadi rival kita?" tanyaku aneh. "Dia belum tentu rival kita Kisyara, tapi dia keren!" Suvara mendekatkan dua aorta nadinya dengan gemas di bawah dagunya. "Hei, Kisya saja tanpa ra," ingatku padanya. "Kisya Ratriana kan? Sudah Kisyara saja, itu lebih keren!" Teman sekamarku itu sehari ini menjadi sangat periang, sejak dia merasa wali kelasnya baik, menemukan ide dan sejak roket tersesat itu mendarat. Tapi semangat belajarnya bahkan tidak mengendur, dengan tersenyum, dia membuka kembali bukunya dan duduk di meja belajar dengan tegak. Memindah informasi dari buku literasi ke tabnya. Melihatnya setekun itu aku sebenarnya jengah. Tapi karena aku sendiri pun ingin melihat bulan dengan kakiku sendiri, baiklah aku duduk di sampingnya dan membuka tabku juga. Kukenakan head phone pemberian Suvara, lalu meskipun dengan bersenandung, Suvara tidak lagi terganggu dengan cara belajarku. Aku masih berkutat dengan catatanku tentang clitoria. Bunga keunguan itu akan kuapakan lagi kali ini. Bunga itu bisa kujadikan apa agar aku bisa ke bulan. Bulan. Bulan. Sesuatu untuk bulan. Bisakah ditanam di bulan? Ah, tidak mungkin. Dibawa dalam roket? Untuk apa! Bulan, seandainya di bulan ada pohon. Tunggu! Bukankah sebuah pohon memang pernah diterbangkan ke bulan? Nah itu! Aku mencari tahu tentang pohon bulan di tabku. Mencatat setiap informasi pentingnya. Mencari jurnal-jurnal tentang Moon Tree. Bagian yang menjadi pertanyaan kugarisbawahi. Bagian pokok kutebali. Finally, aku punya gambaran akan membuat apa. Buat saja dulu, menang atau kalah urusan belakang. Langit sudah gelap dan bintang bersinar semakin terang ketika lampu camp mulai berkurang. Kami berada di lantai tiga. Tidak cukup dekat untuk melihat gemintang dari jendela kamar kami. Kulepas headphone pemberian Suvara. Seketika gelembung holo itu juga menghilang dari pandanganku. Kuarahkan tabku ke langit. Pada aplikasi pencari gugusan bintang, semuanya langsung terlihat jelas. Bintang-bintang itu berkerumun membentuk kelompok-kelompok yang tidak sama jumlahnya. "Suv?" aku menggoyangkan tubuh Suvara yang menelungkup di meja. Perlahan matanya membuka dan melihatku. Aku yakin di matanya saat ini, aku hanya keremangan semu yang kabur sekali. "Ya Sya?" jawabnya. "Pergilah ke tempat tidur." Dia mengangguk. Menutup semua bukunya lalu berpindah di tempat tidurnya. Sayangnya distorsi ruang tidaj berlaku di ruang peserta. Andai saja iya mungkin masing-masing kamar kami akan begitu luas dan bisa bermain dulu sebelum tidur. Aku melihat bintang-bintang itu sekali lagi sebelum aku menutup jendela dengan tirai. Masih sangat manis. Orangtuaku, apakah mereka merindukan aku juga. Kami di bawah langit yang sama, tapi tidak dengan perasaan yang sama. Kutarik bingkai jendela untuk menutupnya. Lalu menarik juga tirai agar kamar kami tidak terlihat dari luar. Aku mulai hafal Suvara juga suka tidur dalam gelap malam. Karena itu aku mematikan lampu kamar begitu mendengar nafasnya keras teratur. Aku juga mencoba tidur. Membaringkan tubuhku di tempat tidur dan memejamkan mataku. Sayangnya meskipun sudah kubanting-kubanting, ternyata syarafku belum juga mengijinkanku tidur. Aku kembali bangun, terduduk di tepian tempat tidur, selagi Suvara sudah mendengkur dengan bebas. Dengkurannya tidak keras, hanya saja terdengar sangat menandakan tidur yang nyenyak. Aku membuka kamar. Keluar dan berjalan di lorong yang sepi. Kamar-kamar tak terdengar suara. Hanya beberapa yang menunjukkan lampu masih menyala. Mungkin penghuninya masih berada di depan buku, atau bahkan memang suka tertidur dengan lampu yang menyala. Aku terus melangkahkan kakiku, sampai kemudian menemukan sebuah pintu kaca yang tampaknya ujung dari kamar peserta. Di kaca itu terdapat gambar telapak tangan. Aku menyentuhnya. Meletakkan jariku persis dengan simbol telapak itu. Sebuah cahaya berpendar. Sebuah peta tampak kehijauan di menebal dan semakin jelas terlihat. Aku mengenali food court, lapangan, perpustakan dan rooftop? Aku mencoba mengamati dan mengingat dengan baik dimana rooftop itu berada dan jalan mana saja yang harus kulalui. Setelah mengamati dan mengingatnya dengan baik, aku berjalan menuju lift yang kugunakan utk ke food court biasanya. Hanya saja kali ini aku tidak turun tapi naik. Seorang petugas membukakan lift untukku dan membiarkanku menekan tombol lantai yang ingin kutuju. Belum lagi sampai ke lantai teratas. Pintu lift terbuka. Seorang laki-laki bertubuh tegap dengan rambut yang bersemu putih masuk ke dalam lift. "Belum tidur?" tanyanya. "Belum bisa pak," jawabku. Aku menduganya salah seorang petugas yang sedang bebas tugas. Kusangkakan begitu karena dia hanya mengenakan kaus berwarna abu-abu bergaris hitam. Cara berdirinya yang tidak goyah sama sekali saat lift mulai bergerak juga membuatku berpikir dia adalah seorang yang kuat dan sigap di segala situasi. "Mau ke lantai berapa?" tanyanya lagi. "Ingin melihat bintang di rooftop," jawabku dengan takut. Aku lupa bahwa ini asrama. Sangat bisa terjadi, di tempat ini berlaku jam malam. Jam-jam di mana seharusnya aku ada di dalam kamar. Aku memandang wajahnya yang ternyata sedang menatapku juga dengan senyum mengembang. "Hati-hati di rooftop ya? Segera kembali kalau sudah puas." "Baik pak."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD