Chapter 8

1046 Words
Orang itu keluar tepat sebelum lantai yang kutuju. Aku meneruskan perjalanan begitu lift tertutup kembali. Hanya dalam hitungan detik, pintu lift kembali terbuka. Berada di lantai ke 6 dengan langit yang terbuka. Langit menunjukkan gemintangnya dalam gelap. Bulan terlihat sabit dengan bayangan sisa sabitnya. Suatu saat, jika aku bisa pergi ke sana, tentu tak akan kutemui cahaya seterang itu di sana. Juga tidak akan kulihat bentuk sabit yang seindah yang kulihat saat ini. Jika bulan menjadi destinasi perjalanan, apakah titik-titik orang akan terlihat dari sini? Aku mendekam kakiku dan duduk di lantai di tepian puncak gedung. Memandang ke atas dengan menengadah hingga leherku mulai pegal. Ku rebahkan tubuhku pada akhirnya, tidak peduli apakah lantai ini kotor atau tidak. Aku hanya ingin menikmati langit yang cerah dengan indah dan tanpa lelah. "Hai!" sebuah teriakan terdengar dari kejauhan. Aku mencari panggilan itu dan menemukan beberapa anak melambai dari menara yang tidak jauh dari tempatku merebah. Aku bangkit dan membalas lambaian tangan mereka. Tangan mereka menunjuk teropong bintang yang ada di hadapan mereka. Tanpa menjelaskan panjang lebar, aku tahu mereka berharap aku mendekat dan melihat langit bersama mereka dari atas sana. Aku bertanya dengan isyarat tanganku, aku harus lewat mana. Mereka pun menunjuk sebuah lorong yang menghubungkan gedung dengan menara tempat mereka. Lorong itu ada di bagian belakang lift, berupa terowongan panjang berdinding kaca sekitar 300 meter. Ketika aku masuk melalui pintu dengan seorang penjaga, seketika aku terkesima. Setiap langkah yang kutempuh merubah tampilan dinding menjadi video awal bangunan ini terbentuk. Seorang reporter menjabarkan sejarah gedung ini dengan langkah kaki yang mengiringiku. Aku semakin takjub dengan reporter hologram yang kini tersenyum padaku itu. Menunjukkan para pemenang perjalanan ke bulan dengan berbagai penelitian mereka. Termasuk itu, pohon bulan yang akan menjadi bahan observasiku. Aku berhenti melihat daunnya yang hijau cerah dengan batang pucat yang sudah semakin tinggi. Aku tahu untuk penelitian yang akan kulakukan, tidak mungkin menggunakanny secara langsung. Aku hanya harus mencari spesiesnya yang sejenis. Itupun jika memungkinkan. "Apa anda butuh bantuan?" pemandu itu rupanya juga mengerti saat langkahku terhenti. Aku pun melangkahkan kakiku lagi. Hingga ujung dari lorong itu akhirnya terlihat. Aku mempercepat langkahku. Pemandu mengantarku pada ujung cerita, bahwa penerbangan ke bulan sudah semakin dekat padaku. Semangat yang menggairahkan. Membuatku lupa pada langkah-langkah yang panjang dan jauh hingga pintu lorong terbuka. Sebuah hall luas dengan berbagai hasil penelitian yang selama ini mengantar penemunya ke bulan sedang dipamerkan. Ada yang fisik, ada yang diorama. Seorang anak laki-laki dengan rambut belah tengah menungguku di ujung anak tangga. Tangannya memintaku segera bergabung dengannya. Aku pun menurut. Mengikuti langkahnya yang cepat saat menaiki anak tangga. Tanpa jeda kami menderapkan kaki hingga sampai di puncak menara. Empat anak yang tadi melambai kini ada di hadapanku. "Hai!" seorang gadis jangkung tersenyum dengan barisan gigi yang teramat rapi. "Hai," jawbaku. "Sedang apa berbaring di rooftop?" tanya anak laki-laki yang tadi menjemputku. "Mencari inspirasi saja," jawabku. "Ah, perkenalkan namaku Visyn," dia mengulurkan tangannya padaku. Aku menggapai tangan itu, menyebutkan nama yang baru dihadiahkan oleh Suvara. "Kisyara," ucapku. "Nama yang bagus, aku Rose," anak perempuan jangkung itu melakukan hak yang sama. Disusul oleh Hana, seorang anak perempuan agak tambun yang mengikat rambutnya agak tinggi. Dan terakhir memperkenalkan dirinya dengan nama Art. "Art?" tanyaku. "Seni yang terkubur dalam sains, anggap saja begitu," dia dengan tergelak meninggalkan pandangannya pada teleskop bintang di hadapannya. "Mau melihat bintang Ra?" panggilan itu menjadi asing di telingaku. "Ah iya," akhirnya aku mendekatkan mataku dan mengintip gemintang yang kini seolah ada di depan mataku. Aku menggerakkan teropong itu, mencari sisi lain langit yang ingin kulihat. Bulan bulat itu sekarang terlihat sangat tidak rata. "Mencari apa Ra?" tanya seseorang entah siapa. "Bulan," jawabku tanpa menoleh asal suara itu. Bayangan satelit melayang yang melintas membuatku teringat roket yang terbakar dan juga Art yang sedang dibawa keluar dari roket. Art! Anak itu Art! Bagitu menyadarinya, aku menoleh ke belakang dan keempat anak itu masih tersenyum padaku. "Kamu yang tadi pagi...," belum lagi pertanyaanku selesai, Art sudah mengangguk. "Sudah sehat?" tanyaku. "Sampai saat ini masih bisa berkeliaran di sini." Jawabannya membuatku tersenyum. Aku berpaling dari keempatnya dan kembali menikmati bulan dari lensa teropong. "Tapi sepertinya aku lebih suka berbaring dan menikmati luasnya langit." "Berbaring saja di sini, di sana anginnya kencang," jawab Hana. Visyn mengawali dengan merebahkan tubuhnya di lantai. Sedangkan hana berlari ke sebuah tempat lalu menekan tombol dan kubahpun terbuka. Gugusan bintang kembali terpampang di mataku. Kubah menara yang tadinya putih tulang kini hanya berupa kaca bening dengan rangka yang juga berkilat transparan. Kami berlima menengadah ke atas. Hanya Rose yang tetap duduk dengan memeluk kakinya. Sedang Visyn tampak memainkan tangannya menghitung sesuatu lalu tersenyum. "Suatu saat kita akan ke sana bersama," Hana menunjuk bulan yang kini kembali sabit tanpa teropong. "Aku tak berharap banyak," jawabku. "Kembali padamu sendiri Ra, kita punya obsesi yang berbeda." Kami terdiam. Tidak lagi bercanda seperti sebelumnya. Membuat malam yang cukup hening menjadi semakin senyap dan tiba-tiba dingin mulai menjalar. Aku bangkit dan melirik jam tanganku. "Hampir tengah malam, aku balik ke kamar ya?" pamitku. "Ya, kami juga." Satu persatu kami bangun dan saling tos sebelum kembali melewati lorong dengan tour yang sama. Kali ini tidak lagi semenarik tadi. Bahkan Visyn yang seolah mulai hafal dengan lafal sang holo guide kini justru menirukan gerak bibir dan tangannya. Membuat kami menggelak bersama. Menuruni lift ke lantai kamar kami masing-masing, menyisakan aku dan Rose yang berada di lantai terbawah diantara mereka. Kami berjalan menuju kamar masing-masing dan harus terpisah di persimpangan ruangan. Saling melambai, aku melihat kilau kemerahan di balik blousenya. Entah mengapa aku lega. Aku selalu berharap orang-orang baik yang kutemui di sini bukanlah orang yang harus kusaingi. Setidaknya aku tak ingin menyerah pada kawan sendiri. Meski tidak seambisi Suvara atau Hana, tapi aku masih ingin menginjakkan kakiku ke bulan. Dengan perjuangan dan keringatku sendiri. Aku akan membuktikan pada bu Mira yang mengantarku ke tempat ini, bahwa keterburu-buruannya bisa jadi cerita. Bahwa keengganan yang kutangkap padanya bisa jadi kebanggaannya mengantarku ke sini. Pintu kamarku sudah terlihat. Aku sedikit berlari dan bergegas masuk ke dalamnya. Kali ini gelap yang ada di hadapanku cukup menyenangkan. Bulan terlihat dari jendela kamarku. Tepat diantara celah daun maple yang kemerahan. "Kalau kamu bisa menerobos tirai kamarku, aku juga bisa menembus atmosfermu." Kutarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhku. Lalu kututup mataku dan menciptakan gelap yang cukup lelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD