Aku agak tercengang merasai sengatan matahari yang mengenai dahiku. Tak kukira dunia sudah seterang ini. Aku terkesiap bangun dan kulihat tempat tidur Suvara sudah kosong. Kusibak selimut dan berbegas ke kamar mandi dengan peralatan mandiku.
Sekembaliku, Suvara terduduk di tempat tidurku dengan cemberut. Tangannya bersedekap dan mulutnya mengerucut.
"Ada apa Suv?" tanyaku.
"Kemana kamu semalam?" tanyanya padaku.
"Aku ke rooftop, menikmati langit."
"Kamu tidak membawaku?"
"Kamu sudah tertidur sejak duduk di meja belajar, menurutmu aku kuat mengangkatmu?"
Dia terkikih. Di tangannya sebuah paperbag tersodor padaku. Aku segera menerimanya dan berterimakasih.
"Aku tadi kesulitan membangunkanmu."
"Iya maaf, aku kemalaman tidurnya."
Aku mengambil sebuah kaos berlengan panjang dan sebuah celana jeans berkantung banyak.
"Sya?" panggilan Suvara memalingkanku dari kaca saat aku menyisir rambutku.
"Tidakkah kamu ingin memakai rok?" tanyanya.
"Ingin sekali, tapi aku pernah memakainya dan ternyata sangat tidak nyaman. Aku tidak berlari, bergerak cepat , atau mendaki dataran yang tinggi," aku kembali menatap cermin.
Kugosokkan cream sunblock ke mukaku. Hanya itu keseharian yang kulakukan. Berbeda jauh dengan Suvara yang salah satu rak di lemarinya penuh dengan aksesoris. Diapun bisa berlarian sekalipun mengenakan rok pendek dengan warna cerah. Sama sekali tidak terganggu dengan kibasan roknya yang kadang terkena angin.
"Hari ini kamu mau ke mana?" tanyaku.
"Makanlah dulu, nanti kuajak kamu ke tempat yang sangat penuh inspirasi."
Jawabannya membuatku semangat untuk menghabiskan burger yang dibelikannya untukku. Setumpuk roti isi sayur dengan daging udang di tengahnya. Dia mulai hafal dengan seleraku.
"Pelan-pelan, jangan gara-gara mau kuajak pergi terus makanmu jadi sembarangan begitu," cibirnya padaku.
"Ini sudah pelan," jawabku.
"Ah, iya, kenapa makanmu cepat sekali? seperti sedang dikejar kerbau marah," dia duduk dan menyangga dagunya dengan kedua pergelangannya.
"Kamu benar-benar mau mendengar?" tanyaku balik.
"Iya, ceritakan!"
"Ayahku seorang petani yang setiap pagi harus ke ladang untuk melihat apakah ladang anggurnya dirusak kawanan rusa, sedangkan ibuku adalah seorang penjaga toko alat tulis yang ketika pagi-pagi sekali harus menjemput rejeki dari anak-anak sekolah yang tertinggal alat tulisnya.
Karena harus setiap pagi-pagi sekali meninggalkan rumah, keduanya selalu mengantarku pagi buta ke sekolah, dan rumah kami pun terkunci. Maka beginikah caraku sarapan agar aku tak perlu mengunyah sisa makanku di jalan."
Ceritaku terhenti. Ada sekelebat bayangan tentang pagi-pagi itu yang begitu kurindu. Meskipun dulu tak menyenangkan, tapi tampaknya masih lebih menyenangkan daripada hari-hari ini.
"Kenapa sedih?" tanya Suvara.
"Aku rindu suasana tergesa-gesa itu."
Aku menggigit kerat terakhir dan menelannya bulat-bulat. Suvara menggeleng kepala melihat cara makanku. Aku hanya meringis sembari manyambar ranselku. Tab, note dan buku morfologi tanamanku sudah ada di dalamnya.
"Sekali ini, tinggalkan saja ensiklopedimu, aku juga tidak membawa apa-apa," tuturnya sembari memutar tubuhnya hingga rok merah jambunya berkibar membundar.
Aku mengeluarkan buku yang cukup tebal lagi berat itu. Aku menuruti kata-kata Suvara. Kini ransel itu tak lagi membebani bahuku. Suvara mengganti sepatunya dengan sepatu kets yang lentur.
"Kita mau mendaki?" tanyaku penasaran.
"Hampir seperti itu."
Aku mengikutinya. Mulai dari keluar kamar sampai ke lantai dasar tempat pertama kali aku datang kemarin. Aku menahan tangannya saat dia membawaku ke pintu yang lain dari pintu tempatku masuk.
"Yakin tidak apa-apa keluar dari sini?"
"Kita tidak keluar, hanya berpindah tempat saja."
Suvara mengerlingkan matanya. Meyakinkanku semuanya tetap akan baik-baik saja. Kami menunduk pada sebuah terowongan yang ditumbuhi lumut juga tanaman paku dalam satu tempat. Aroma lembab menusuk hidungku. Mulai tidak nyaman dengan tanah basah yang tampaknya cukup liat. Pemandangan yang sangat kontras dengan Moons Camp yang bersih, megah dan terlihat begitu gagah.
"Kita tidak tersesat kan Suva?"
"Aku tidak akan menyesatkan diriku sendiri Sya."
"Oke."
Aku kembali menuruti kata-katanya, mengikuti jejak yang dia tinggalkan. Sekalipun memakai rok, dia dengan lincah melompat dari satu bebatuan ke bebatuan lain.
Dia sama sekali tidak menoleh ke belakang. Seolah-olah dia yakin aku tidak akan kesulitan melompat mengikuti jejaknya. Langkah kakinya yang panjang-panjang kuikuti sampai satu lompatan terakhir, kukira dia masih terus melompat, ternyata langkahnya berhenti. Aku menabraknya dan kamipun jatuh diantara bebatuan yang tampaknya dekat dengan aliran sungai.
Baju kami basah dan kotor. Aku takut Suvara marah karena aku menabraknya. Aku segera berdiri dan mengulurkan tanganku untuk menolongnya.
"Maaf, kukira kamu tadi masih terus berjalan."
"Hahaha, tidak apa-apa, jangan merasa bersalah begitu."
Dia bangkit dan melihat tanah coklat yang menempel di rok cerahnya. Pasti akan sulit menghilangkan noda itu dari roknya. Tapi tampak seperti tidak peduli, dia hanya mencibirkan bibirnya dan lalu menengadah.
Membuatku juga tersadar bahwa kami sedang berada di tengah hutan pinus dengan pohon-pohon menjulang. Ah tidak hanya pinus. Ada banyak pohon yang besar dengan cabang melebar yang menjadi kanopi dan menghadang cahaya matahari sampai ke bawah sini. Tempat apa ini?
Suvara pun bersiul. Dengan nada tertentu yang semakin keras, semakin keras dan kemudian bersahutan dengan siulan lain. Membuatku mencari-cari dari mana datangnya sahutan itu. Suvara tampak gembira, sedangkan aku semakin takut. Apakah Suvara sedang berusaha menjebakku?
Siulan sahutan itu semakin pelan, lirih lalu menghilang, berganti dengan bentangan kayu di batang-batang pohon yang perlahan terlihat dan semakin jelas. Tak hanya satu, lebih dari dua. Lantai dasar rumah pohon itu terhubung dari satu pohon ke pohon lain. Suvara masih terus menengadah, menunggu sesuatu datang padanya.
"Suv, apa ini?" tanyaku cemas dan takut.
"Tenanglah Sya, semuanya baik-baik saja."
Sebuah cakram kayu meluncur turun dari sebuah batang pohon. Suvara menarik tanganku begitu dia melihatnya. Kami menginjaknya lalu terbentukah kaca yang membatasi cakram itu sehingga kami seolah berada dalam lift dengan batang kayu sebagai porosnya. Aku melihat ke atas, mencari tahu akan kemana kami, sedangkan Suvara melihat ke bawah.
Akhirnya cakram kami berhenti. Kaca melingkar itu lenyap. Masih seperti mimpi saat Suvara mengajakku melompat dan menapaki sebuah jembatan panjang. Tanah tampak jauh sedang aku tak tahu Suvara akan membawaku ke mana.
"Suv, sebenarnya kita mau ke mana?"
"Itu, rumah pohon yang itu!"
Suvara menunjuk sebuah rumah pohon yang sederhana. Seekor burung kakak tua bertengger di depannya. Atapnya hanya rumbai-rumbai daun kering. Kami sudah semakin dekat. Suvara melangkah membuka pintunya dengan siulannya.
"Selamat datang Suvara, senang bertemu denganmu lagi akhirnya."
Aku menoleh ke segala arah, dan menyadari bahwa suara itu hanyalah robot yang mengoperasikan seluruh rumah pohon ini. Lampu menyala, musik juga menyala, sebuah sofa terbuka dari sisi lain. Sebuah layar hologram juga tampak di dinding yang berseberangan dengan sofa itu.