"Galaxy!" Suvara bersuara agak keras.
Layar itu dengan segera terhubung pada sebuah media sosial bernama galaxy seperti yang dimaksud Suvara. Beberapa pertemanan juga jaringan terhubung.
"Hai Suv!" terdengar sapaan untuk Suvara.
"Hai Drew," Suvara membalas sapaan bahkan tanpa melihat ke layar itu.
Terlihat mereka telah terbiasa, saling mengenal dan bahkan hanya mendengar suaranya saja, keduanya seolah berada di tempat yang sama.
"Ini siapa Suv?"
"Teman sekamarku, Kisya..ra," dia tersenyum padaku saat menambahkan kata Ra di belakang namaku.
"Halo Kisyara, aku Andrew," remaja ini tampak lebih dewasa dari kami berdua.
"Hai Drew," sapaku.
"Sudah dimulai kah kelasmu Suv?" tanya Andrew lagi.
"Sudah Drew," jawab Suvara.
"Kelasku belum, lambat pun tak mengapa, aku masih belum tahu akan membuat apa," Andrew terlihat menyeruput kopi dari cangkir dihadapannya.
"Kelasmu?" tanyaku aneh.
Setahuku, kelas dimulai serentak kemarin. Apakah ada kelas yang belum dimulai? Aku mengernyit sehingga Andrew segera menyadari pertanyaanku sekalipun terlontar sepotong saja.
"Aku bukan ingin ke bulan, aku akan ke jupiter, mau ikut? Sini pindah camp!" ajaknya.
"Jangan asal ngomong, Kisyara baru sekali ini tersesat di Moon Camp, jangan mengajarinya yang tidak-tidak."
Kalimat Suvara semakin membuatku bingung. Tapi Andrew segera meminta maaf walaupun dengan tertawa. Dia menjelaskan ada banyak camp di distrik yang berbeda. Kamipun dibebaskan akan ikut di kompetisi di distrik kami sendiri atau ikut di distrik lain, tergantung mimpi dan tujuan yang ingin kami capai.
Andrew berasal dari Distrik Covsky, hadiahnya adalah perjalanan ke Jupiter. Dia tidak tertarik dengan bulan, terlalu dekat. Sedangkan bila kami sudah terdaftar dalam camp kami masing-masing maka jangan berharap kami bisa mengikuti perjalanan lain sebelum perjalanan dari camp yang kami ikuti selesai. Maka itulah yang membuat Suvara menahan kebingunganku. Kalau sampai aku berpindah camp, justru aku tidak akan memenangkan perjalanan ke manapun.
Aku mendengarkan penjelasan dan percakapan mereka berdua, sampai terdengar panggilan dari belakang Andrew, diapun bergegas kembali dan meninggalkan kami.
"Sepertinya kelasnya baru akan dimulai," tutur Suvara.
"Bagaimana untuk mendapatkan semua ini Suv?" tanyaku.
"Ingat ceritaku tentang sepupuku yang akhirnya terbang ke bulan?"
"Hehem," aku mengangguk tanpa sepatah kata.
"Dia yang memberitahuku tempat ini."
"Memangnya ini tempat apa?" tanyaku masih bingung.
"Tahu f*******: kan?"
"Media sosial? Yang sudah tidak beroperasi itu?"
Suvara mengangguk lalu menjelaskan, ini berawal dari meta yang dibangun pendiri f*******:. Disaat seseorang bisa membeli luasan tanah dan membangunnya menjadi tempat-tempat yang strategis yang diinginkan pasar. Beberapa membangun cottage, mall, pertokoan, entah apa lagi.
Seseorang lain, membangun Twiggram, yaitu dia membeli lahan luas dan menanaminya dengan banyak pohon. Secara meta. Tanpa bentuk fisik. Dia membuat setiap ranting dari pohonnya yang tumbuh cepat menjadi terhubung satu sama lain.
Diantara titik-titik yang terhubung dia membuat rumah pohon. Dia merencanakan taman wisata alam dengan wilayah yang dia dimiliki. Dan sains berkembang begitu pesat. Lahan metanya kini menjadi nyata setelah dia bekerja sama penemu distorsi ruang. Jadilah bangunan yang saat ini kami tempati.
Twiggram berkembang dengan tersedianya jaringan di twiggram di seluruh dunia. Pengguna-pengguna twiggram bisa terhubung satu sama lain dan menemukan komunitas bahkan rapat secara hologram dengan para twipple, twiggram user people.
Twiggram hampir tidak memiliki aturan apapun. Begitu bebas dan tidak memiliki batas minimal umur penggunanya. Hal itu membuat semua informasi masuk ke dalam twiggram mengalahkan media sosial dan mesin pencari lain. Begitulah akhirnya twiggram juga menjadi ajang pertemanan antara orang-orang yang sedang ingin menjelajah angkasa, sepertiku, Suvara juga Andrew.
"Kalau kamu sudah pernah pergi ke bulan, tidak akan sulit melakukan perjalanan kedua, ketiga dan seterusnya. Tapi langkah pertama ini lah yang susah."
Suvara membuka tirai salah satu jendelanya. Matanya memandang jauh pada rumah pohon lain yang terlihat tidak ada orangnya.
"Apakah ini milikmu?" tanyaku.
"Saat kamu membangun akun, secara otomatis kamu juga akan punya bangunan serupa. Dan akan terhubung dengan banyak akun lain di komunitas yang kamu inginkan. Aku sendiri hanya ke sini saat Moons camp dibuka."
Suvara terlihat tersenyum meski aku juga melihat matanya yang sendu. Ada kekecewaan yang tidak bisa dikatakannya.
"Kenapa Suv?"
"Aku yang memberi tahu sepupuku tentang twiggram ini, tapi aku juga yang tertinggal darinya. Dia memanfaatkan twiggram dengan sangat baik. Dia menemukan ini," Suvara lalu mengucap "to the moon", dan kemudian bayangan hologram muncul dengan banyak kotak-kotak ruang meta.
"Itu adalah komunitas orang-orang yang sedang berkompetisi, diantara mereka banyak orang-orang baik yang membagikan cara agar kita bisa ke bulan."
"Dengan cara?"
"Menyediakan informasi apapun yang kamu butuhkan."
Penjelasan Suvara diakhirinya dengan senyum. Seolah dia menghapus sakit hatinya sendiri. Anak sebelia dia harus termakan kesedihan hanya demi obsesi. Sedangkan aku yang lebih tua saja sebenarnya tak peduli tentang apa itu pergi ke bulan. Ketika apa yang kutemukan sudah diakui saja aku sudah bahagia.
"Eh, aku ada makanan juga," Suvara menjetikkan jarinya dan sebuah mesin snack otomatis muncul dari atas atap.
"Dunia sudah secanggih ini, selama ini aku ada di mana Suv?" tanyaku datar.
Bingung harus menamakan apa ekspresi bodoh dan keluguanku. Harusnya aku tahu dunia sudah tidak bersekat, kenapa aku justru asyik terkurung di laboratoriumku sendiri. Hanya tinggal menekan tombol kata Suvara, maka makanan yang kumau akan sampai di tanganku.
"Siapa yang menyediakan ini?" tanyaku masih sedemikian asing.
"Aku membeli akun berbayar, aku twipple premium," Suvara menekankan kata premium dengan sangat jelas.
Beberapa hari aku mengenalnya, baru kali ini aku melihatnya menyombongkan diri. Senyum mengembang lebar dengan ali terangkat ke atas lalu tertawa begitu lepas.
"Tunjukkan padaku salah satu fungsi bergabung ke komunitas itu," aku menunjuk pada layar to the moon.
"Kamu mau cari apa?"
"Pohon bulan," jawabku.
"Ada?"
"Coba saja," jawabku dengan mengerling.
Suvara menyentuhkan harinya di salah satu rumah. Terlihat di dalamnya banyak sekali orang yang sedng membaca di dalamnya. Seolah Suvara baru saja masuk ke ruangan itu, hampir semua orang menatapnya. Suvara menunjuk seorang yang berdiri di balik meja panjang dengan secangkir kopi di atasnya.
"Pak, anda tahu pohon bulan?"
Suvara mengernyit ketika menanyakannya, seolah dia takut pertanyaannya memalukan dan dia akan mendapat hinaan yang besar. Si penunggu meja itu mengeluarkan kunci dan menyodorkannya pada Suvara.
Suvara melihat nomor di kunci itu lalu menekan angka di ujung bawah layar sehingga suasana berubah. Seketika ruangan kami bercahaya hijau dengan sesekali pendar cahaya matahari menerobos. Persis yang kulihat di ulasan pohon bulan. Kami sedang berada di bawah pohon bulan.
"Iya?" tanya Suvara.
Aku mengangguk, mengiyakan memang ini yang aku mau. Suvara lalu menyentuh pohon yang ada di layar itu dan perlahan seluruh ruangan pun berubah menjadi rindangnya berteduh di bawah pohon bulan.