Chapter 11

1029 Words
American sycamore berdiri gagah dengan daun yang rimbun. Kusentuh kulit batang yang halus tipis dan seperti sedang mengelupas. Pohon yang moyangnya pernah pergi ke bulan pada abad lalu dua abad yang lalu itu, kini menjadi objek konservasi. Sehelai daunnya yang jatuh, kutangkap dengan tanganku. Merasai kasarnya permukaan daunnya dengan telapak tanganku. "Kita berteleportasi Suv?" tanyaku pada Suvara yang tidak kalah kagumnya. Kali ini dia hanya tersenyum dan melihatku sebelum menjawab pertanyaanku. "Tidak, kita masih berada di twiggram, ini hanya media 8 dimensi, hologram yang dikeraskan sehingga saat kamu menyentuhnya, its look like real," Suvara mengelilingi pohon bulan. Saat kembali di dekatku, dia melanjutkan kalimatnya. "Bagian terseru adalah, kamu tidak harus pergi ke laboratorium untuk mendapatkan bagian genetik dari pohon ini untuk kamu teliti?" "Jadi?" "Sini!" Suvara melambaikan tangannya, membuatku mengikuti ke mana langkahnya. Ini hanya sisi lain dari pohon bulan, tapi di sisi lain ini gelas-gelas braker, tabung reaksi juga elmeyer tergantung apik dengan penutupnya. Berisi berbagai zat ekstraksi dari pohon bulan ini sendiri. "Suv, aku mau twiggramku sendiri!" pekikku. "Kamu yakin? Tidak ingin menikmati ini bersamaku saja?" tanya Suvara sembari menggerakkan alisnya. "No, i want mine", kataku yakin. "Sure, let's make it." Suvara menyentuh pohon bulan dengan punggung tangannya, kami pun kembali ke ruang yang ramai tadi. Lalu Suvara menunjuk pintu hingga kami kembali ke ruangan di depan layar milih Suvara. Di sana tampak Andrew pun menunggu kami kembali terhubung padanya. "Kelas sudah dimulai Suv," katanya menjelaskan. "Sudah kuduga, jawab Suvara. "Kalian mulai bereksperimen?" tanya Andrew. "Kisyara sudah menemukan sesuatu untuk diteliti sepertinya," Suvara mengatakannya sambil menyenggol pundakku. "Kamu juga sudah ada kan?" godaku. "Drew, tahan sebentar, biar aku membangun twiggram milik Kisyara sendiri." "Tentu saja, aku akan menunggu dengan sangat sabar." Suvara membelah tampilan layar dengan gerakan tangan seperti memotong lalu menggeser. Kemudian seperti masuk ke laman akun biasa, Suvara mengetuk bagian 'sign up'. "Sudah ya? Sampai sini saja, kamu lanjutin sendiri gih," kata Suvara sambil menaikkan kakinya di sofa. Aku mengiyakan keinginannya, melanjutkan proses pembuatan akunku yang sangat mudah. Kecuali pada bagian umur, Suvara mengingatkan aku untuk tidak menggunakan tanggal lahir asliku. Karena kami masih di bawah umur untuk bisa menggunakan twiggram. Aku mengangguk. Memasukkan tahun lahir yang salah dengan tanggal lahir yang benar. Memasang foto profil dengan gambar bulan yang bersinar penuh saat purnama. Memberi keterangan tentang bulan yang ingin kudatangi di bio kemudian mensubmit tanpa membaca persetujuan. Setelah aku mensubmit, sebuah peta meta keluar. Menunjukkan akun Suvara dan beberapa akun lain yang ada di dekat cabang rumah pohon kami. "Pilih tempatmu untuk membangun meta twiggram," sahut Suvara saat aku menatapnya. Aku lalu tanpa panah dan meletakkannya tidak jauh dari milik Suvara dan seseorang bernama Jack, juga Art? "Art?" tanpa kusadari mulutku kelepasan menyebut namanya. "Art?" tanya Suvara,"siapa?" "Ingat anak yang jatuh dari roket kapsul?" tanyaku sambil terus membangun twighome di atas tanah meta. "Tentu saja," jawab Suvara bersemangat. "Anak itu juga bernama Art," jawabku. "Kamu sudah bertemu dengannya? Dari mana kamu tahu namanya?" "Kami berbincang semalam, maaf aku tak mengajakmu, aku hanya tak sengaja bertemu, lagipula kamu sidah tertidur." Suvara mendesakku bercerita lebih banyak tentang Art. Akupun hanya mengisahkan apa yang kutahu. Tentang pertemanan kami yang baru dimulai tadi malam. Suvara mengataiku bodoh karena tak bertanya tentang roketnya, atau tentang warna liontinnya. "Kalau dia punya liontin yang sama, mati aku Sya, tidak akan bisa aku pergi ke bulan," terang Suvara. "Tenanglah, jangan menyerah dulu, katamu kalau bulan sudah memanggil, mereka bisa apa?" hiburku. "Nah itu, bulan jangan-jangan juga tertarik padanya dan akan memanggilnya lebih dulu." Raut Suvara menegang kali ini. Seoalah dia tidak ingin kehilangan kesempatan ke sekian kalinya untuk pergi ke bulan. "Aku mendengar pembicaraan kalian!" Sebuah suara mengalihkan pembicaraan kami. Mata kami segera ke arah layar yang kini terbelah kiri dan kanan. Kiri untuk video call dengan Suvara. sedangkan bagian kanan, untukku yang sedang merancang twighomeku sendiri. "Kenalin Sya, itu Vans, dia...," keterangan Suvara terpotong. "Pacar?" tanyaku. "Tidak boleh," jawab laki-laki itu. Aku melihat Suvara tampak kecewa dengan jawaban laki-laki itu. Aku memperkirakan usianya jauh di atas kami. Bentuk wajahnya yang tegas mungkin membuat wajahnya lebih tua dari yang seharusnya. Tapi bisa juga dia memang berumur di atas kami jauh. Bagaimanapun suaranya terdengar agak kebapak-bapakan. Tapi aku melihat Suvara seperti bersikap lain padanya. "Tidak boleh membicarakan pacaran, hati atau apapun itu sebelum kalian mencapai bulan," Vans menegaskan alasan tidak boleh ada kata "hubungan" di antara pertemanan kami. Aku hanya mengangguk-angguk saja sebagai tanda mengerti dan sepakat dengan apa yang dikatakannya. Tapi hal itu tampak melukai Suvara. Aku melihatnya menyibukkan diri dengan buku catatan di pangkuannya tanpa memperhatikan Vans yang ada di layar. "Jurnalmu sudah selesai Suv?" tanya Vans. Aku berusaha mengacuhkan mereka selagi rancangan metaku belum selesai. "Belum," jawabku. "Selesaikan sebelum kamu ke bulan," kata Vans. "Yakin aku bisa ke bulan?" ucapan Suvara terdengar sangat pesimis. "Kali ini pasti bisa kan? Kamu sendiri yang yakin bisa, ayo kembalikan keyakinanmu," Vans memberi semangat pada Suvara. Suvara menunjukkan coretannya pada layar, aku melihat hal itu dari gerakan tangannya, tapi tidak benar-benar melihatnya. Merancang twighome tidak kusangka akan semenyenangkan ini, selama perabot dan bahan bangunannya gratis, aku bisa memilih berbagai bentuk dan material untuk mendirikan twighome di meta. "Done!" teriakku tanpa sadar saat twighome rancanganku selesai. "Sedang membuat apa Sya?" tanya Vans. "Merancang twi...," belum lagi ucapanku selesai aku mendengar sesuatu terdengar berisik di luar. Aku keluar dan melihat dengan mata kepalaku sendiri, rancanganku tadi terbangun tidak jauh dari twighome Suvara, tempatku berpijak saat ini. Besi-besi kerangka tersusun sendiri dan semakin lama semakin rapat oleh serat kayu berwarna hijau muda, warna yang kupilih. Daun rumbia yang masih segar juga terpasang di atasnya. "Milikmu Sya?" tanya Suvara yang juga tampak kagum. "Begitukah cara membangun twighome? Apakah itu nyata? Dari mana datangnya semua bahan pembangun itu?" "Nyata di matamu," Suvara menjawab tanpa melihat padaku. Aku, dia, juga Vans melihat berdirinya twighome milikku dari layar maya itu. Sebuah sulur merambat dari satu ranting ke ranting lain mulai dari pohon yang kupilih untuk membangun twighome milikku sampai ke teras twighome milih Suvara. Aku sengaja menghubungkan kedua twighome kami. "Aku tidak sabar melihat ke dalamnya," kata Suvara setengah berlari dan menuju rumah pohon milikku. Melewati jembatan sulur yang terlihat kecil dan rapuh, nyatanya kami bisa melewatinya dengan mudah tanpa goyah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD