Chapter 12

1056 Words
Aku membuka pintu dengan hati-hati. Mataku bahkan terpejam karena tidak siap melihat dalamnya. Rumah pohon Suvara yang sederhana tanpa banyak barang di dalamnya sudah terasa dan terlihat nyaman. Apakah milikku juga akan sama? Aku membuka mataku begitu terdengar sapaan untukku. "Selamat datang Kisyara, aku Moon, apa yang kamu butuhkan?" Suvara terkikik mendengar kata Moon. Ya, aku memang memberi nama Moon pada robot sistem rumah pohonku. Tapi dia masih berdecak kagum dengan piranti yang aku tambahkan untuk perabotan di dalam. "Kamu hebat juga merancang ruangan ini Sya?" kata Suvara kemudian memintaku menampilkan layar akun twiggramku. Aku mengiyakan kemauannya. Dan layar pun tampil di hadapan kami yang akhirnya duduk di kursi santai di depan layar transparan. Suvara memintaku memincari beberapa komunitas sains, terutama yang sama dengan kompetisi yang saat ini kami geluti. Dengan bantuannya, aku menemukan komunitas peneliti genetik juga. Ribuan orang kini telah terhubung denganku dengan akun twiggram ini. "Aku mengenal Vans juga di sini Sya," terang Suvara sebelum memasukkanku ke breakroom yang mengantar kami ke meta pohon bulan tadi. "Lalu?" "Dia yang membimbing sepupuku sehingga dia akhirnya terbang ke bulan," jawab Suvara. "Mana yang lebih dulu? Mengenalnya atau sepupumu ke bulan?" tanyaku. "Sepupuku mengenalnya, sehingga bisa pergi ke bulan dengan bimbingannya, lalu sepupuku mengenalkan aku padanya, membantuku membuat twiggram, seperti yang aku lakukan padamu. Tetapi yang kurasakan berbeda Sya," tutur Suvara. "Apa yang beda?" aku menjentikkan jariku, sayangnya tak ada mesin snack keluar dari atap. "Kamu belum VIP Sya, hentikan jentikan jarimu," kata Suvara sambil tertawa. "Siapa tahu ada versi trial begitu Suv," jawabku ikut tertawa juga. "Lanjutkan ceritamu," lanjutku. "Vans bukan penggiat robotik, tapi penggiat kimia sama seperti sepupuku. Hal itu membuat caranya mengarahkanku dengan mengarahkan sepupuku sangat jauh berbeda." "Lalu kamu cemburu?" godaku. "Kamu lupa apa katanya? Tidak boleh ada 'hubungan' di antara kami." Seringkali dia menceritakan seperti apa permukaan bulan kepada Suvara. Dan itu membuat Suvara semakin menggebu untuk sampai ke sana. Menjadikannya seolah bulan satu-satunya tujuan hidup. Aku mengerti keinginan Suvara, yang tidak kumengerti hanya di usianya yang masih begitu muda, masih anak-anak ketika memulai semua ini, tidakkah dia ingin bermain? Dia memainkan layar twig dan masih menambahkan beberapa komunitas juga person yang menurutnya pasti berguna bagiku suatu saat. Aku membiarkannya melakukannya sampai aku melihat matahari agak bergelincir. Aku menepuk pundaknya. "Apa tidak apa-apa kalau di sini lebih lama?" aku menunjuk pada langit yang mulai jingga kemerahan. "Ouh, waktu cepat sekali berlalu, kita bahkan melewatkan makan siang," terlihat dia menjejak-jejakkan kakinya ke lantai dengan kesal. "Ayo kita kembali dulu." Kami segera kembali ke kamar dan mandi. Kebetulan kami terlambat pulang sehingga kamar mandi sudah sepi. Tidak lagi harus mengantri di dalam ruang mandi. Saat aku kembali lebih dulu, aku melihat selebaran di atas meja belajar kami. Di selembar kertas itu terdapat iklan penjualan bahan-bahan penelitian. Beberapa di antaranya aku rasa aku membutuhkannya. Di iklan itu juga terdapat tautan di mana kami bisa membelinya. Mereka mengatakan mereka bisa menyediakan apapun yang kami butuhkan. "Kamu yang meletakkan ini?" tanyaku pada Suvara sekembalinya dia dari ruang mandi. "Ah, pasti dari jendela." Kami berdua melihat ke arah jendela yang terbuka. Kami memang tidak menutupnya saat kami pergi tadi. Selebaran macam ini seringkali diterbangkan melalui drone dalam lipatan-lipatan kecil kemudian akan membuka seiring lipatan kertas terkena suhu kamar. "Kamu pernah?" tanyaku. "Pernah, bagus sih, alat dan bahan mereka lengkap pun petunjuk penggunaannya jauh lebih mudah dimengerti dari yang tersedia di sini, tapi harganya tidak terjangkau." "Baiklah, kalau bagimu saja mahal, apalagi bagiku." Aku meremasnya dan melemparnya ke tempat sampah yang segera mencincang pamflet iklan itu hingga tak berbentuk lagi. "Kenapa mereka tidak menyebar ke tab saja," keluhku sembari merebahkan tubuhku di tempat tidur. "Karena mereka tahu kamu tidak akan membacanya, tetapi dengan meletakkan brosur mereka di kamar dengan acak, kamu akan lebih terkesan dan mengingatnya." Suvara menjelaskan padaku dan aku hanya manggut-manggut seolah mengerti. Padahal di otakku, cara kerja seperti itu sama sekali tidak efisien disaat twiggram saja bisa membangun meta di alam nyata. Suvara naik ke tempat tidurnya, memeluk salah satu bantalnya dan memandang padaku. Pandangannya lama-lama membuatku jadi kikuk sendiri. "Kenapa memandangku seperti itu?" tanyaku aneh. "Aku sedang berpikir, bagaimana jika bisa pergi ke bulan lebih dulu, apakah aku akan membencimu?"jawabnya dengan pertanyaan di akhir kalimatnya. "Kira-kira kamu sakit hati?" tanyaku takut. "Teman sekamarku di tahun pertamaku di sini lolos dalam percobaan pertamanya. Teman sekamarku tahun lalu gagal setelah berkali-kali mencoba. Aku penasaran denganmu." "Kalau aku menang dan kamu kalah, lalu kamu tetap ingin ke bulan, pakai saja kemenanganku." Aku mengatakan hal itu untuk menghiburnya. Meskipun aku sendiri berpikir tidak akan mungkin aku menang sedangkan dia kalah. Kalaupun aku bisa mendapatkan keberuntungan bisa pergi ke bulan, tentu dia dengan kemampuannya tak perlu keberuntungan lagi. "Tidak bisa seenaknya begitu memberikan hadiah ladies," dia melempar bantalnya padaku. "Kan namanya hadiah, terserah pemenang donk mau diapakan," selorohku. "Iya tapi hadiah yang satu ini tidak bisa begitu." "Ah, kamu kan belum pernah mendapatkannya, kenapa bisa bilang begitu?" aku dengan sedikit tinggi membuatnya menatapku nanar lalu berbalik menghadap dinding. "Iya, aku memang belum pernah menang." Kalimatnya yang diucapkan dengan lirih, menyadarkan aku akan kesalahanku. Aku sudah terlalu keras membantahnya. Aku tidak lagi menghiburnya tapi mempertanyakan kompetensinya. Dan aku tahu dia tersinggung. Aku turun dari tempat tidurku sendiri lalu mendekat padanya. Aku bermaksud meminta maaf. "Suv, aku tidak bermaksud begitu," ucapku pelan. "Tapi ucapanmu benar Sya, aku belum pernah memenangkannya, aku juga tak tahu apakah kemenangan itu bisa diberikan untuk orang lain." "Sudahlah jangan bahas ini lagi, tidak ada yang perlu hadiah, kita akan ke sana bersama. Maafkan kata-kataku." Aku mengusap bahunya. Membuatnya berpaling padaku lagi. Kamipun tersenyum bersama. "Kamu tahu Sya?" "Apa?" "Kamu teman kamar tersantai yang pernah kupunya." "Bukan tersantai, aku hanya tak tahu bagaimana cara menggebu sepertimu." "Punya orang dekat yang sudah berkali-kali melihat bulan tapi tidak pernah membawamu." Lega rasanya melihatnya menjawab pertanyaanku dengan tersenyum dan kembali hangat padaku. Aku membiarkan Suvara tertidur meski tidak sengaja. Dengkurannya yang agak keras menunjukkan dia benar-benar lelap. Bahkan kali ini dia meninggalkan jam makan malamnya lagi. Aku kasihan saat akan membangunkannya. Aku melihat ke luar jendela. Mencoba mengingat-ingat apa makanan kesukaannya. "Tunggu di sini, kubawakan kamu makan." Aku membuka dan menutup pintu kamar kami dengan sangat pelan. Dengan setengah berlari aku menuju ke foodcourt. Melihat menu dari bawah dan merogoh saku celanaku. Makanan gratis kami bukanlah menu kesukaannya, jadi aku harus membelikannya sesuatu. Seperti yang dia lakukan untukku tadi pagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD