Chapter 13

1020 Words
Begitu berhasil membawakannya sepaket ayam dengan bawang tepung yang masih hangat, ada kebahagiaan tersendiri di hatiku. Apalagi saat melihatnya masih menghadap ke arah dinding dengan memeluk boneka pisangnya. Bukankah secerdas apapun kami, kami tetaplah anak-anak ynag butuh dipeluk. Mungkin jika pelukan orangtua kami cukup, kami tidak akan memilih berada di sini. Aku mengguncang bahunya. Berusaha membangunkannya yang masih lelap. "Suvara bangun, makan dulu," kataku. Hanya terdengar lenguhan malasnya tanpa berusaha membuka matanya. Aku mengguncangnya lebih keras. Sampai dia menggeliat lalu membuka matanya. "Ayolah, harusnya aroma ini menarik seleramu!" Aku mendekatkan kantung berisi ayam tepung itu ke lubang hidungnya. Benar saja, Suvara mulai mengendus dan segera ingin menyambar kantung ramah lingkungan itu. "Eits, jangan makan di tempat tidur," kataku lalu meletakkan kantung itu pada meja belajar kami. "Kamu sendiri?" tanyanya padaku yang hanya melihatnya makan sendiri. "Aku tadi ambil jatah makan saja. Sambil makan aku membelikanmu itu. Aku tahu kamu tidak akan bangun cepat.Tapi pasti kelaparan saat besok harus membuka matamu. Aku tak mau kamu memakan otakku." "Kamu pikir aku zombie?" "Owh jadi bukan?" Suvara mengejarku yang mengejeknya. Aku berlari melompati tempat tidur kami. Sampai Suvara terengah-engah, dan aku menertawakannya. "Tangkap aku penjelajah bulan, ayo tangkap!" aku memprovokasi teman sekamarku yang saat ini memegang dadanya. "Kamu tak apa Suv?" tanyaku mulai khawatir. "Sakit Sya," jawabnya. Tangannya meremas dadanya. Berjalan ke dekat jendela mencari udara. Tapi aku justru tidak memperbolehkannya. "Jangan Suva, terlalu banyak karbondioksida di bawah maple," cegahku. Dia melihatku dengan pandangan mata sayu. Secepat itu dia melemah setelah berkejaran denganku. Aku menanyakan apakah dia membawa obat atau sesuatu yang bisa menolongnya? Dia kemudian menunjuk laci meja. Dengan cepat aku membukanya. Mengambil sebuah inhaler dan membantunya menghirupnya. Dengan tarikan napas yang panjang juga berat, beberapa kali Suvara membiarkan alat itu membantunya merasa lebih baik. "Sudah Suv?" tanyaku. Diapun mengangguk. Aku mengembalikan inhaler di lacinya. Kubantu dia duduk di tempat tidurnya. "Maaf, aku tak tahu kamu...," kalimatku terpotong. "Tidak apa-apa," aku juga salah karena terlalu gembira denganmu. "Apakah sering seperti itu?" "Cukup sering, itu juga yang menbuatku ragu, jikapun aku punya karya yang bagus, yang bisa membuatku menang, bisakah aku pergi ke bulan," dia menceritakannya dengan mengurut dadanya sendiri. "Masih sakit?" "Sudah tidak, tapi masih sesak." Aku lalu bertanya padanya, apakah dia masih mau makanan yang kubeli atau justru ingin lainnya. Tapi Suvara hanya menggeleng, dia ingin makan makanan yang sudah menggoda seleranya dari tadi. Aku melihatnya makan dengan pelan, tapi lahap. Setiap gigitannya besar dan setiap kunyahannya begitu dia nikmati. Aku jadi ikut senang melihatnya selahap itu. "Nah begitu, makan yang lahap, cepat besar ya adik," godaku lagi. "Hahaha, iya kakak, besok belikan lagi," dia menjawab dengan kelakarnya. Aku lega dia keluar dari masa-masa berbahaya tadi itu. Kubantu dia membuang sampah makanan sisanya. Lalu menyuruhnya beristirahat. "Aku masih punya waktu 2 jam sebelum tidur." Tapi itulah yang dikatakannya saat aku memintanya beristirahat. Dia dengan sigap membawa sebuah buku literatur tebal dan buku catatannya. Berbagai tulisan dia pindah dari buku itu buku catatannya. Dia merinci semuanya dengan rapi. Dengan tulisan tangannya yang bagus dan tinta warna-warni namun memiliki fungsi. Istilah-istilah yang dia butuhkan ke depannya dituliskan dengan tinta biru. Sedangkan yang merupakan cara kerja dengan tinta hitam dan efek dengan tinta merah. Perlahan aku mulai hafal dengan rutinitas Suvara. Kalau sudah melihatnya terpekur seperti itu, baik di meja maupun tempat tidur, aku tidak berani mengganggunya. Jadi kuputuskan untuk melakukan hal yang sama dengannya. Aku menulis seluruh informasi dan fakta yang kudapat dari twiggram. Membuat simpulan-simpulan abstrak sederhana jika penelitian itu benar-benar kulakukan. Seperti biasa, agar tidak mengganggu Suvara yang memang selalu bekerja dalam senyap, aku memakai headphone pemberiannya. Perisai udara segera membentengi aku dan suaraku sehingga tidak akan menyebar ke sekelilingku. Hanya aku yang mendengar musik dan suara aku sendiri. Berbeda dengan Suvara yang suka mendetail dengan efek cara kerja dan langkah rangkaian percobaan lain, aku lebih suka membuat peta konsep dengan garis dan coretan gambar asal. Kami sama-sama tenggelam pada khayalan ilmiah kami masing-masing. Tidak saling bertanya sama sekali. Hanya terkadang mencuri pandang lalu sama-sama berpaling tanpa canda, seloroh atau bahkan senyum. Kurasa aku mulai tahu apa yang dikatakan Suvara memang benar. Pertemanan kami ini bisa jadi adalah pertemanan yang paling raman diantara kamar-kamar lain. Karena ketika masing-masing orang orang punya ambisi dan keseriusan seperti kami saat ini. Orang lain terlihat seperti tak pernah ada. Kami fokus pada masing-masing diri kami. Aku tidur lebih dulu saat mataku mulai lelah dan sudah buntu untuk meneruskan konsep ilmiahku. Kututup bukuku dan mengembalikannya ke dalam jejeran buku literatur dan lainnya. "Suv, tidur dulu ya, aku sudah lelah." Suvara hanya menjawab pamitku dengan berdehem bahkan tidak menoleh padaku. Aku memandanginya, pada kompetisi sebelumnya bagaimana rasa kegagalannya setelah dia berusaha sekuat itu? Lalu di tahap apa dia gagal? Sopankah jika suatu saat aku bertanya tentang itu? Pertanyaan dalam otakku bergumul dan membuat otakku semakin lelah, sehingga kantuk pun semakin mendekat dan mengambil alih seluruh kendali tubuhku. Mataku terpejam perlahan dengan suara gerisik maple yang tertiup angin. *** Saat aku terbangun, Suvara masih tertidur. Tapi kali ini aku tahu dia memilih tidur bukan ketiduran. Bukunya kembali ke tempatnya dengan rapi. Begitu juga dengan jurnal dan catatannya. Aku pergi ke ruang mandi lebih dulu. Beberapa anak yang bangun awal juga ada di sana. Kebanyakan memang apatis. Mau bertukar senyum saja sudah sangatlah bagus menurutku. Ketika ada yang berbincang, biasanya kami tidak saling bertanya nama. "Hai Sya", sapa Suvara yang menyusulku. "Nyenyak tidurmu?" tanyaku. "Hahaha, 3 jam yang berkualitas." Aku lalu masuk ke kamar mandi begitu kamar mandi yang biasa kupakai kosong. Begitu juga dengan Suvara. Kata Suvara, sebenarnya setiap desain dari gedung ini memungkinkan setiap anak untuk berkomunikasi. Dengan saling ramah dan slaing tegur sapa. Contohnya penggunaan ruang mandi ini. Sengaja dibuat kamar mandi untuk satu lantai, agar kami semua tidak apatis. Tapi tampaknya begitu sulit menghilangkan aura curiga dan persaingan yang ada. Aku yang tidak ingin bersaing pun merasa canggung jika harus memulai percakapan lebih dulu. Begitu di dalam kamar, aku membuka jendela dan menikmati cahaya matahari yang tidak malu-malu mengisi setiap panel surya di bingkai jendela kami. Bagian luar masing-masing jendela dikelilingi oleh panel surya yang menangkap setiap energi matahari demi kelangsungan listrik di masing-masing kamar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD