Pagi ini aku berbeda rencana dengan Suvara. Dia akan kembali ke twiggram sedangkan aku ingin ke perpustakaan saja. Kami berpisah di lobbi dan berjanji akan makan siang bersama di foodcourt.
"Hati-hati, selamat bersenang-senang!" teriakku dengan malambaikan tangan padanya.
"Yap!"
Aku lalu kembali ke dalam gedung dan berjalan menuju perpustakaan. Mengembalikan buku yang kupinjam dan berjalan diantara rak-rak yang biasanya penuh dengan literasi tumbuhan.
Setiap punggung buku k****a dengan teliti. Sampai kemudian aku melihat buku dengan sampul tebal dan masih cukup bagus seperti buku yang tidak pernah tersentuh sebelumnya. Hanya karena sudah lama bertengger di rak atas itu.
Aku dengan berjinjit mencoba meraih buku itu. Sebuah tangan mendahuluiku. Mengambil buku itu dan menyerahkannya padaku. Dengan barisan gigi yang rapi, orang itu tersenyum.
"Terlalu tinggi ya?" tanyanya saat mengulur buku itu padaku.
"Eh, iya sepertiny begitu Pak, atau saya yang terlalu pendek," jawabku sambil terkikik.
"Iya, tumbuh baik di sini ya, walaupun belajar, jangan lupa makan yang sehat."
"Baik Pak, terimakasih."
Beliau lalu berlalu selagi aku masih melihat langkahnya menjauh. Dari persimpangan rak saat dia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, kulihat dia melambai juga. Sekelompok anak menghampirinya sehingga dia pun menghentikan langkahnya. Mereka berhigh five, terlihat sangat akrab.
Aku mengenali anak-anak itu, mereka adalah Art, Rose, Visyn, dan Hana. Mereka anak-anak yang ramah. Aku menyukai persahabatan mereka. Pada waktu mereka melihatku, mereka juga melambai padaku. Membuat sang petugas tadi juga tersenyum kembali padaku. Aku membalasa senyumannya dan sambil mendekap buku itu aku berjalan ke ruang baca di dekat jendela besar. Tempat yang paling aku suka dari perpustakaan ini.
Sambil mendekap salah satu kakiku, aku membaca setiap kalimat yang tertulis di bab pertama. Bab itu berisi tentang dasar persilangan tanaman. Berbagai teori dan sejarah awal persilangan, tertuai di halaman demi halaman di bab pertama itu. Sebagian orang hanya akan mencari di bagian yang mereka perlukan saja. Alasan klasiknya tentu untuk mempersingkat waktu. Tapi seringkali jika kita membaca keseluruhan isi dari awal, bisa jadi kita bahkan menemukan sesuatu yang tidak kita cari. Karena itu aku ada di kelompok kedua. Yaitu yang membaca semuanya dari awal dan tidak membatasi dengan apa yang sebenarnya kucari.
Kalimat demi kalimat kusalin di jurnalku. Aku dan Suvara memang masih menyukai cara ini, tidak hanya menyimpan semuanya dalam gadget yang seringakali justru menghilangkan file-file yang kami butuhkan. Dengan mencatat, kami akan mengingat satu hal yang sama berkali-kali. Dan itu memudahkan kami yang sedang meneliti dan bersiap melakukan percobaan.
Dan waktu cepat sekali berlalu saat aku tenggelam dalam pencarianku. Tidak terasa sudah waktunya makan siang. Aku segera pergi ke foodcourt setelah meminjam buku yang sedang k****a.
Diantara ratusan anak, aku mencari Suvara. Untung saja anaknperempuna berhidung mancung itu selalu mudah ditemukan. Segera kuhampiri dan kutepuk pundaknya daei belakang.
"Hai, aku baru saja ingin pergi, kukira kamu tidak datang," kata Suvara sambil tersenyum.
"Maaf aku lupa waktu," kataku.
"Iya, cepat pesan makananmu," usul Suvara.
Aku berjalan ke mesin makanan, menekan tombol dengan kode voucher yang kami dapat di awal kedatangan kami. Dan tak lama, sepiring steak dengan sayuran lengkap tersaji.
Suvara bertanya apa aku menemukan buku yang kumaksud. Sambil mengunyah makananku, aku mengangguk.
"Bagaimana denganmu? Twiggram memberimu sesuatu?" tanyaku.
"Tentu, aku dapat format proposal terbaru dari Venus."
Begitulah kami menyebutnya. Tak peduli siapa namanya, tapi ke mana perjalanan hadiahnya. Maka ada Venus, ada Yupiter, bahkan galaksi lain.
Bulan perjalanan yang terkecil. Tapi kami sendiri harus mengukur kemampuan kami bukan? Beberapa kompetisi mensyaratkan hal-hal yang tidak kami miliki, terkadang usia, nilai minimal yang tidak rendah dan lain sebagainya.
"Hai Ra," panggilan itu tidak membuatku menoleh.
"Hai, kenapa sombong sekali," akhirnya sapaan itu disertai dengan pundakku yang tertepuk.
Aku segera menoleh asal suara, begitu juga dengan Suvara. Terlihat Art dan Visyn di antara kami dan menu makan siang kami.
"Oh, maaf, aku mengira kalian tidak sedang memanggilku. Pasti banyak Ra di sini," jawabku.
Padahal aku sendiri asing dengan panggilan itu. Melihat Suvara yang melihat Art dengan tanpa berkedip. Akupun memperkenalkan mereka.
"Suv, ini Art, dan ini Visyn," aku melihat mereka saling berjabat tangan.
"Dia yang jatuh dengan roket kan?" teriak Suvara girang.
"Iya, maaf ya bikin heboh ya?" jawab Art.
"Sangat heboh, tapi keren!" puji Suvara.
“Kamu suka?” tanya Art masih dengan tersenyum memandangi wajah kagum Suvara?
“Iya, suka sekali,” pekik Suvara gemas.
“Sayangnya aku tidak,” jawaban Art langsung menghilangkan senyum dari Suvara.
“Kenapa?” tanya Suvara kemudian.
“Tentu saja aku berharap roket itu akan mendarat dengan cantik di tempat ini,” jawab Art.
“Tapi yang kemarin pun sudah sangat keren,” tutur Suvara tanpa rasa bersalah.
“Baiklah, terima kasih,” kata Art seolah kehabisan kata-kata menghadapi rasa gemas Suvara.
“Silakan duduk Art, Visyn,” tawarku mempersilakan.
“Terimakasih Ra, kami akan kembali ke perpustakaan, mau bergabung?” tanya Visyn.
“Tidak, saya sudah menemukan buku yang saya inginkan,” jawabku.
Kami lalu saling melambaikan tangan sebelum akhirnya kedua anak laki-laki itu menghilang di antara kerumunan anak-anak lapar lain. Suvara tampaknya masih begitu bersemangat setelah bertemu dengan Art.
“Semoga dia bukan rivalku,” katanya pelan.
“Kalungnya merah,” jawabku.
“Benarkah Sya?”
“Aku yakin begitu,” jawabku mengangguk.
“Syukurlah,” dia mengelus dadanya.
Kami segera menyelesaikan makan siang kami. kemudian Suvara mengajakku kembali ke kamar. Di sana, dia membagi struktur proposal yang bisa jadi acuan tahun ini. Dia mendapatnya dari Vans. Kami mencetaknya kemudian mempelajarinya dan memasukkan ide penelitian kami ke dalam abstrak itu.
“Kamu yakin susunanya akan sama dengan ini?” tanyaku.
“Pasti tidak jauh berbeda, kita hanya berbeda distrik saja.”
Kami saling tersenyum dan melanjutkan pekerjaan kami. Menyusun abstrak setelah mendapatkan ide rupanya bukanlah hal yang mudah, kajian pustaka pun harus sesuai dengan apa yang telah kami kumpulkan informasinya sebelumnya. Aku dan Suvara mengetiknya pada tab kami. Semalam itu kami tidak turun dan hanya mencoba mencuri start dari kamar-kamar lain.
“Menurutmu, anak-anak lain juga melakukan ini? Apakah ini bukan kecurangan?” tanyaku.
“Iya, ini termasuk kecurangan, tapi apakah anak lain melakukan? Ya aku yakin mereka juga melakukannya, walaupun tidak semua,” jawab Suvara.
“Suv, boleh aku bertanya sesuatu?”
Aku tahu pertanyaanku selanjutnya bisa membuatnya sangat sedih, tapi entahlah, kurasa aku ingin mengetahuinya.
“Apa?”
“Bagaimana dengan karya-karyamu sebelumnya?”
“Yang mana?”
“Yang gagal.”
“Ya… gagal, tidak terpakai.”
“Sama sekali tidak bisa dilanjutkan kah?”
“Bisa pun hanya akan membuang-buang waktu Sya,” dia berpaling dariku.
Aku masih ingin bertanya hal yang lain, tapi melihat Suvara yanga sudah berpaling pada tabletnya lagi, rasanya aku tak ingin jadi orang yang tidak menyenangkan baginya. Aku memilih diam,meskipun masih berharap semoga suatu hari aku akan tahu nasib penemuan-penemuan Suvara sebelumnya.
Semoga saja dia berhasil kali ini, sehingga kegagalannya yang sudah-sudah bisa terobati. Dan dia akan menceritakan kegagalannya sebagai keberhasilan yang tertunda. Semoga memang begitu.