Chapter 16

1129 Words
“Jadi, apa yang ingin kamu tanyakan Visy?” tanyaku. “Bagian ini…,” dia mengutarakan pertanyaannya. Dia menanyakan struktur yang disesuaikan dengan rencana penelitian yang akan dia lakukan. Bagian itu harusnya bisa tidak dilakukan untuk rencananya. Aku meminta ijin untuk melihat rancangan yang sudah dia buat. Sayangnya dia bahkan belum membuat rancangan apapun. Rencananya masih dalam angannya. “Nah, apalagi masih berupa ide kan? Justru kamu akan dipermudah ketika sudah menyusun semuanya lebih rinci, bagian yang akan kamu lewati itu bisa cukup membantu saat di tengah rencanamu, ternyata ada kesalahan hipotesis, bagaimana?” “Penjelasan yang bagus,” puji Mrs. Marsche. “Baiklah, jadi menurutmu aku harus membuatnya juga?” tanya Visyn menegaskan jawabanku. “Iya,” jawabku singkat. “Apa kamu sudah punya gambaran akan membuat apa nona…,” tanya Mrs. Marsche. “Kisya…ra,” aku menjawabnya dengan melihat ke arah Visyn. “Iya, apa kamu sudah tahu proses kerja idemu?” “Sedikit ada gambaran Mrs,” jawabku. “Baiklah, lanjutkan, buat abstrak sebagus mungkin, singkat tapi seluruh detail tersampaikan,” beliau tersenyum sebelum kemudian berdiri dan berpamitan. “Genetika?” tanya Visyn padaku. Aku melihat bahwa kalungku tidak berada di luar, tapi dia pasti melihat ke literatur yang ada di dekapanku. Aku mengangguk menanggapi pertanyaannya. “Apa kamu juga?” tanyaku. “Tidak,” jawabnya. Kami berdiskusi sebentar sebelum kemudian saling berpamitan dan saling meninggalkan. Sayangnya dia tidak membalas kejujuranku dengan jawaban yang serupa. Dia tidak mengatakan dia ada di bidang apa. Aku sendiri kemudian pergi ke belakang gedung. Menaiki sebidang lingkaran berkaca untuk masuk ke twighome. Begitu aku masuk ke dalam, Moon segera menyambutku. Seluruh fitur menyala sesuai dengan seleraku. Termasuk tema tampilan layar twiggram. Warna hijau yang teduh segera menuansai seluruh sudut twighome. Aku bersandar di kursi dan melihat daftar komunitas yang sudah kuikuti sebelumnya. Aku memilih komunitas planet venus dan masuk ke dalamnya. Tampak sebuah ruangan dengan banyak avatar 3D yang sedang berdiri di sudut-sudutnya, ada juga yang duduk di antara meja yang melingkar. Aku menyentuh layarnya dan harusnya avatarku juga kini ada di layar orang lain. Aku terus berjalan meski ragu. Beberapa tentu punya tampilan yang jauh lebih dewasa dari aku. Begitu juga avatarku sebenarnya telah kubuat dengan tampilan yang lebih dewasa dari usiaku yang sebenarnya. Aku duduk di sebuah meja dan masih melihat sekeliling. Seorang laki-laki dengan perkiraan usia 20 tahun mendekat padaku. “Sendiri saja?” tanyanya. “Iya,” jawabku. “Mencari sesuatu?” “Sangat terlihat ya?” “Apa?” “Apakah ini juga komunitas kompetisi?” tanyaku ragu. “Iya, kamu benar,” jawabnya sambil menyunggingkan senyumnya. “Bukankah harusnya diikuti oleh anak-anak dan remaja?” “Lalu avatarmu sendiri apakah terlihat seperti anak-anak?” balasnya. “Ah iya, tapi aku tidak tersesat kan?” “Tidak, jadi apa yang kamu cari?” “Hanya ingin tahu sudah sejauh apa kompetisi di distrik kalian,” kataku. “Kami masih menunggu jadwa seminar abstrak,” jawabnya. Kami pun lalu berkenalan. Aku mengingat namanya dengan baik, Illeus, dari bidang numera. Kami saling bertukar informasi tentang kompetisi kami masing-masing. Tahapan yang dilalui juga peraturan yang ditetapkan di Venus Camp. Bahkan kami saling bertukar email dan ponsel asli kami, sehingga saat malam hari di mana seharusnya kami hanya boleh ada di asrama, kami masih bisa saling terhubung. “Abstrak apa yang kamu buat untuk bisa pergi ke Venus?” tanyaku. “Sederhana saja, hanya membuat aplikasi perkiraan biaya setiap satu meter cahaya.” “Harus?” “Sebelumnya belum ada kan? Dan seringkali biaya hanya perhitungan kasar yang ketika kita menemukan pendananya, bisa jadi ternyata banyak pengeluaran yang tidak tercover yang menyebabkan sponsor akhirnya mundur.” Aku mendengarkan detail rencananya yang cukup rumit. Mungkin hanya karena kami tidak sebidang, sehingga aku tak banyak mengenal istilah yang dia pakai untuk menjelaskan proyeknya. Tapi aku tetap menanggapi dengan baik. Sebaliknya ketika dia ingin tahu apa yang kira-kira akan kubuat, aku pun menjelaskannya padanya. Dia tampaknya tidak terlalu asing dengan bidangku. Itu terlihat dari betapa tahunya dia pada zat-zat yang kubutuhkan untuk bisa menyelesaikan proyekku. Kami berbincang dan saling meneliti abstrak masing-masing. Dalam percakapan video sebelum aku pulang, kami berjanji akan bertemu lagi besok dan membuat simulasi dari presentasi abstrak yang akan dia lakukan tidak jauh lagi. Kami saling bertukar file astrak dan telah sepakat untuk menemukan kejanggalan atau kekurangan dari abstrak yang telah tersusun. “Oke, besok pukul 10.00 ya?” “Kabari kalau tiba-tiba ada kelas,” pesanku. “Iya, tentu saja, bye.” Kemudian kami saling meninggalkan. Dia bangun dari meja yang kami hadapi kemudian berjalan ke meja lain, sedangkan aku masih duduk di sana. “Hai,” seseorang menyapaku. Aku segera mengenalinya dari suaranya. “Sudah selesai juga Suv?” tanyaku. “Sudah dari tadi lah.” Beberapa orang mendekat pada Suvara. Aku tahu Suvara lebih mudah mengakrabi orang dibandingkan aku, juga dia telah berada di berbagai komunitas lebih lama, sehingga hal ini sama sekali tidak menggangguku. Bahkan Suvara bisa mengenali avatar-avatar yang dimiliki anak-anak seusia kami. Bagaimanapun cara mereka menyapa sesama temannya atau orang lain di tempat ini akan sangat berbeda dengan avatar-avatar orang dewasa. “Baiklah Suv, sukses ya? Berjuang!” seru seseorang memberi semangat. Kami melambaikan tangan padanya. Kini akun itu juga menjadi teman di twiggramku. Dia sama-sama anak yang berkeinginan pergi ke bulan, tapi hasil karyanya bahkan belumberuntung untuk diloloskan. Toh dia tetap semangat, dia mencari jalan bagaimana agar bisa membuat sesuatu yang lain, yang lebih bagus, yang lebih sempurna dari yang sudah dia ciptakan sebelumnya. “Boleh lihat abstrakmu,” tanya Suvara saat kami keluar dari ruang komunitas dan hanya bervideo berdua. “Tentu saja,” aku membagikan layar tabku pada layar twiggram. “Baru setengah saja?” tanya Suvara. “Iya, itupu masih harus kucari penguat teorinya,” jawabku. “Tidak pergi ke bawah pohon bulan lagi?” “Belum,” jawabku. “Jam berapa kembali ke asrama?” “Nanti saja ya?” “Iya, terserah aku ikut saja.” Kami kembali saling terpisah, mencari jalan dari masing-masing hal yang berkaitan dengan rencana penelitian kami. Aku kembali menyusun abstrak berdasarkan fakta-fakta yang kuperoleh dari buku yang k****a. Berseluncur di perpustakaan jurnal secara jaringan juga pergi ke bawah pohon bulan demi menemukan puzzle-puzzle pembiakan pohon bulan. Saat itu di bawah pohon bulan, ternyata tidak hanya aku, melainkan seorang anak lain juga di sana. Atau mungkin bukan anak-anak, ah aku belum secanggih Suvara ketika harus mengenali mereka. “Hai,” sapaku. “Oh hai, mencari sesuatu?” Tampaknya pertanyaan itu adalah kata kunci. Seolah semua yang datang di sini pasti adalah bagian dari mesin pencari yang ada di twiggram. Tapi tak ingin memedulikan hal itu dulu, aku menjawab pertanyaannya dan mengungkapkan bahwa aku ingin tahu cara pohon bulan berkembangbiak. “Ini bisa divegetatif kok,” jawabnya sambil menepuk batang besar berkayu yang kokoh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD