"Ada lagi?" tanyaku.
"Tentu, lihat ke atas!"
Aku mendongakkan kepalaku. Buah-buah kecil seperti leci dengan warna hijau kekuningan banyak bergerombol. Itu pasti berbiji. Jika dari bunganya sudah kuubah, apakah buah itu juga akan berubah?
Aku mendongak menatap buah-buah itu. Hingga teman bicaraku akhirnya bertanya. Siapa namaku.
"Kisyara."
"Valensi," dia pun menyebutkan namanya.
"Ke sini mencari pohon bukan juga?" tanyaku.
"Iya, aku menyukainya."
"Tidak untuk lainnya?" tanyaku penasaran.
"Misalnya?"
"Penelitian?"
"Tidak. Aku hanya pecinta pohon gagah ini,"
Aku tersenyum mendengar jawabannya. Dia lalu bercerit tentang ayahnya yang pernah menanam pohon serupa di rumahnya. mereka membuta ayunan dari batangnya. Mereka bermain di bawah daun-daunnya bahkan di musim gugur.
Tapi di suatu malam, petir menyambar, pohon itu patah sebagian batangnya dan menimpa ayahnya yang saat itu baru pulang dan melintas di bawahnya. Ibunya dengan sangat marah, meminta agar pohon itu dipotong saja. Begitulah dia kehilangan ayahnya dan pohon kesayangannya hampir bersamaan.
"Padahal jika pohon itu masih ada, mungkin aku masih bisa melihat ayah sesekali memainkan ayunanku."
Aku mendengar ceritanya sambil bersandar di batang Sycamore. Aku juga punya kenangan seperti itu biarpun tidak banyak. Ayahku tidak sedekat itu denganku. Tapi setidaknya dia masih hidup sampai saat ini.
"Jadi, apakah kamu peneliti Kisyara?"
tanya Valensi.
"Aku harap aku pantas disebut begitu," jawabku.
"Apa yang akan kamu lakukan pada pohon tua ini?"
Aku mengulum senyumku. Cukup malu untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi aku berharap dia bisa membantuku atau menyarankanku agar aku tak merusak alam seperti halnya burung yang kulihat tadi.
"Apakah buah Sycmore punya kegunaan?"
"Hai bukankah tadi sudah kujawab untuk berkembang biak?" kedua alis Val terangkat.
"Selain itu?" tanyaku.
"Aku tak tahu apakah buah Sycamore bisa digunakan untuk pengobatan, tapi kalau kayunya sangat banyak digunakan untuk furniture."
Terlihat Val mencoba mengingat-ingat apakah Sycamore benar-benar tidak bisa digunakan untuk pengobatan.
"Kamu belum menjawabku, apa yang akan kamu lakukan untuk pohon besar ini," Val menatap mataku baik-baik.
"Aku ingin merubah bunganya," jawabku sambil tertunduk.
"Jadi apa?"
"Jadi bunga yang lain, yang berwarna, yang bermanfaat."
Val melihat ke ranting-ranting yang melebar kemana-mana. Membuat daun-daun kering itu berguguran merata di atas tanah.
"Bagaimana menurutmu?" tanyaku lagi.
"Tidak pada semua kan?"
"Tentu tidak, setidaknya pada yang pernah benar-benar ke bulan," kami terkikik bersama.
"Selama itu membuat maple-maple ini berguna, aku tak masalah Ra," Val menepuk bahuku.
Kami terlihat hampir seumuran dalam avatar ini. Aku berharap dia memang secantik yang saat ini kulihat.
"Val, berapa usiamu saat ini?"
"18 tahun, kamu?"
"Baru 15," jawabku.
"Dan sudah menjadi peneliti? Itu keren!" Val bertepuk tangan dengan cepat sebelum kemudian berdiri.
Dia berkata, dia harus mengerjakan tugas kuliahnya. Sudah waktunya kembali serius dengan aktivitasnya. Kami saling berharap bisa bertemu kembali. Bahkan mungkin di dunia nyata.
Aku keluar dari meta, meskipun masih bertahan di twighome. Aku mengerjakan abstrak sesuai dengan format yang sudah dibagi Suvara sebelumnya. Kukerjakan dengan bahasa ilmiah sederhana seperti saat aku membuat laporan mawar biruku.
Saat sedang asyik mengerjakan, tib-tiba tabku berdering. Nama Suvara ada di atas layarnya.
"Segeralah kembali, ada kelas tiba-tiba."
Panggilan tanpa halo itu langsung mati. Aku sendiri langsung melompat dan segera turun. Dengan berlari kencang aku keluar dari hutan belakang gedung dan segera masuk ke dalam asrama. Segera naik ke lantai tiga dimana kelasku berada.
Baru saja aku akan masuk, aku ingat jaketku masih tertinggal di dalam kamar. Berlari ke arah yang berlawanan kembali sekencang mungkin. Lorong sangat sepi karena aku yakin semua anak pasti ada di kelas mereka.
Kusambar jaket di atas tempat tidur dan kembali ke deretan pintu dengan knop berwarna-warni. Kemilau hijau itu sudah akrab di mataku dari kejauhan. Tanpa basa basi aku mendorong knopnya dan seluruh ruangan terjeda. Semua melihat padaku.
Dan dipelototi oleh diri sendiri itu sangat tidak menyenangkan. Aku meminta maaf pada Mrs. Marsche dengan menundukkan kepalaku. Kemudian berjalan di tepian tangga tribun sampai ke deret yang paling atas.
Tanpa menungguku mendapatkan bangku kosong, Mrs. Marsche sudah mengulas apa yang harus kami bawa dalam seminar. Dia menunjukkan video suasana seminar tahun lalu. Dan kurang lebih akan sama.
Aku dengan napas tersengalku masih memburu kapan seminar itu dilaksanakan. Aku bertenya pada anak di tepiku tapi bahkan dia tidak menjawab sapaanku. Ujung lain sudahlah tangga. Aku tahu sebenarnya tangga ini lebih akan menjawab pertanyaanku andaikan dia bisa bicara. Aku membuang napas kesal.
"Ada yang ingin kalian tanyakan?" tanya Mrs. Marsche.
Segera kuangkat tanganku tinggi-tinggi berharap dia melihatku dan memberiku kesempatan untuk bertanya. Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dan tentu saja tidak ada yang menanyakan kapan seminar dilakukan.
Aku masih terus menaikkan lenganku setiap kali Mrs. Marsche memberi peluang bertanya. Sampai kemudian dia menunjuk padaku dengan kelima jarinya.
"Maafkan keterlambatan saya, tapi bisakah anda memberi tahu saya kapan seminar itu dilaksanakan?"
Seluruh kelas seketika ramai. Bahkan anak yang tadi tidak menjawab pertanyaan seketika memberi jawabannya. Seolah aku telah membuang waktu untuk pertanyaan lain yang lebih bermutu.
Mrs. Marche mengetukkan ujung pulpennya untuk menenangkan kelas. Dalam tiga ketukan, seluruh atensi segera kembali padanya.
"Dua hari lagi nona, hari Rabu ini kami akan mengeluarkan jadwal untuk masing-masing dari kalian," jawabnya datar.
"Terimakasih Mrs. Marsche."
Dua hari bukan waktu yang panjang untuk abstrak sebuah penelitian. Abstrakku yang sudah tersusun beberapa hari lebih awal adalah anugrah.
"Terima kasih Suv!" aku memeluk Suvara saat kami kembali ke kamar.
"Terlambat?" tapi justru pertanyaan itu yang kudapat.
"Ah iya," aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
"Aku juga", tiba-tiba dia menyeringai lebar.
Kami berdua sambil membenahi peralatan yang tadinya kami sandang, bercerita saat berlarian dari twighome menuju camp dan harus kembali ke kamar dulu karena tas juga jaket kami tertinggal. Aku mendengarkan cerita Suvara yang harus melompat dari twighome karena merasa buang-buang waktu jika menggunakan Ranchlift.
"Semoga jika dapat giliran di awal, lebih cepat selesai, lebih baik."
Aku mengatakannya lirih sembari menduduki kursi belajar kami. Kurasa aku mulai rindu rumah dengan keluargaku yang mungkin justru bersyukur aku tidak ada di rumah.
"Semoga aku dapat giliran di akhir, semakin akhir akan semakin banyak RR yang beredar," Suvara mengeluarkan statement yang berbeda dari harapanku.
Aku mengira dia akan bahagia jika selesai di awal. Dengan begitu persiapan penelitiannya akan lebih panjang. Senyumnya yang tanp basa basi membuatku ingin bertanya lebih tentang alasannya.