Satu bulan sejak kami dipulangkan akhirnya ada undangan untuk kembali ke Moons Camp. Kami diminta melengkapi berbagai administrasi, kali ini dilengkapi dengan surat bebas paparan Crowna. Aku dengan bahagia mengabarkan hal itu kepada Bu Mira di sekolah.
“Undangan sudah diedarkan di twiggram komunitas Bu, saya salah satu yang diminta kembali,” kataku dengan bahagia.
“Artinya kamu lolos ke tahap selanjutnya?”
Aku mengangguk. Lalu beliau memelukku. Memberikan selamat dan beliau dengan gembira meminta salinan pengumuman untuk membantuku melengkapi berbagai persyaratan yang diminta.
“Baiklah, sementara ikut kelas Profesor Billy dulu, nanti kalau sudah siap semua persyaratan, aku akan memanggilmu,” beliau kembali memelukku sebelum kemudian berjalan dengan cepat ke ruang kepala sekolah.
Di kelas Profesor Billy, ternyata kabar gembira tentang keberhasilanku sudah terdengar dan kelas itu memberikan selamat padaku sebelum melanjutkan pembelajaran. Aku yang sumringah melewati pembelajaran kali ini dengan begitu semangat.
“Kisya?” mata Bu Mira mengedar ke seluruh kelas mencariku.
Aku segera berdiri dan beliau kemudian meminta ijin kepada Profesor Bill untuk membawaku. Dengan tersenyum, Prof Bill mengijinkan aku membawa tasku keluar ruangan bersama Bu Mira.
“Dengar, di sini, ada surat bebas papar yang kamu butuhkan, kita harus kembali ke rumah sakit seperti waktu itu, kamu mau?”
“Saya tidak keberatan Bu,” jawabku.
“Baik, mari kita pulang ke rumahmu dulu, untuk meminta surat ijin dari orangtuamu,” ajak beliau.
Dengan berjalan kaki, Bu Mira mengantar aku pulang. Perempuan muda energik yang berjalan dengan cepat tanpa kesulitan sepatu berhak tingginya itu ada beberapa langkah di depanku. Rumahku dengan barisan mawar ungu sudah tampak jelas dari tempat kami berdiri. Bu Mira memintaku berjalan lebih dulu untuk masuk ke dalam rumah. Aku memanggil ibuku dengan masygul. Masih ingat saat beliau berkata merayuku untuk tidak perlu kembali ke tempat itu.
“Bu, Bu Mira ingin bertemu,” kataku.
“Ada apa lagi?” tanyanya dengan menukas.
“Temui saja dulu,” baru kali ini aku ketakutan dengan ibuku.
Sungguh aku tidak berharap dia akan menggagalkan perjalananku ke tahap selanjutnya. Dan benar saja, pertemuan itu alot. Meski akhirnya ibu mengijinkan pergi bersama Bu Mira, tapi perdebatan mereka tidak mudah. Ibu berusaha mempertahankan aku untuk tetap bersekolah seperti anak-anak lain daripada harus kembali ke Moons Camp.
Dan perjalanan ke rumah sakit berjalan lebih senyap daripada yang lalu. Aku tahu kalimat-kalimat penolakan Ibu pasti masih membuat hati Bu Mira memburuk. Jadi aku pun tidak ingin berkata banyak. Aku hanya memainkan tabku. Menghubungi setiap orang ku kenal di Moons Camp untuk bertanya siapa saja yang dapat pemberitahuan untuk segera kembali ke Moons Camp. Dan kabar gembira aku dapat dari Rose, Art juga Suvara. Meski dalam perjalanan aku membagi suka citaku dengan mereka. Kami saling memberi semangat dan berjanji akan kembali Moons Camp secepatnya.
“Kamu harus sekamar lagi denganku Kisyara,” kata Suvara.
“Yang kembali hanya setengah dari kontestan, pasti ada banya ruangan kosong,” kelakarku.
“Pokoknya aku mau sekamar lagi denganmu,” balasnya dibarengi gif dia yang sedang merajuk.
“Iya iya Suvara, kita akan sekamar lagi,” jawabku.
“Baiklah kita akan segera bertemu di sana,” lalu kami mengakhiri percakapan.
Dia pun sedang dalam perjalanan ke rumah sakit yang sama untuk mendapatkan surat bebas papar. Hanya saja tempat tinggalnya lebih jauh dan kemungkinan kami saling bertemu di rumah sakit akan kecil. Maka yang dia maksud kami bertemu di sana adalah di Moons Camp.
Aku melirik ke Bu Mira yang masih terdiam. Tapi kali ini tangannya tidak lagi saling memainkan jari, aku berharap dia sudah membaik meski tentu saja nanti dan besok masih harus bertemu ibuku lagi. Rumah sakit sudah di depan mataku. Bu Mira dengan senyum tipis mengajakku segera masuk dan melakukan pemeriksaan seperrti yang kudapatkan saat pertama kali akan kembali ke sekolah dulu.
Tepat saat surat bebas papar sudah ada di tanganku. Aku melihat Suvara melintas akan masuk ke ruang pemeriksaan. Rasanya tidak sopan berteriak memanggil namanya di dalam rumah sakit. Pun tidak baik membuat Bu Mira menunggu jika aku ingin bertemu dengan Suvara. Aku menghela napas untuk tersenyum dan memilih tidak memberi tahu Suvara bahwa kami seharusnya bisa saling bertemu dan bertegur sapa.
Bu Mira kali ini memilih mengajakku makan siang sebelum kami kembali pulang. Di sebuah restoran cepat saji, dia memesankan sepiring kentang goreng dengan burger. Awalnya kami terdiam, kemudian dia menarik napas panjang dan memulai percakapan.
“Apakah setiap harinya ibumu bersikap begitu?”
“Alasan saya begitu ingin kembali ke asrama,” jawabku.
Sangat tidak sopan rasanya memberikan jawaban gamblang dengan sikap ibu padaku. Tapi dengan jawaban tersiratku, kurasa, Bu Mira juga akan paham. Toh terbukti dengan anggukan beliau menanggapi jawabanku.
“Buktikan ke keluargamu kalau kamu bisa ke bulan, mereka akan bangga padamu,” kata Bu Mira.
“Sebenarnya saya ingin seperti anak lain yang tidak perlu pergi ke bulan untuk bisa mendapatkan kasih sayang keluarga mereka.”
“Hidup tidak akan punya cerita yang sama, kamu punya cerita yang sangat istimewa, semangat ya?”
“Iya Bu, terima kasih.”
“Besok siang, aku akan menjemputmu, aku akan mengantarmu untuk kembali ke Moons Camp, kamu bisa bersiap-siap nanti,” terang Bu Mira.
“Jika anda sibuk besok, saya bisa pergi sendiri,” kataku menawarkan diri.
Bagaimana pun aku tidak ingin beliau kesulitan dengan ibuku lagi. Jika aku bisa berangkat sendiri, aku bisa berangkat sangat pagi, saat ibu masih repot untuk menyiapkan pagi bagi sepasang berliannya. Dan dia tidak akan banyak berkutik melepas kepergianku. Toh perjalanan ke Moons camp bisa kulakukan dengan sekali perjalan bus saja.
“Tidak, aku senang mengantarmu, tidak masalah, besok kamu akan tetap berangkat bersamaku.”
Kami saling melempar senyum dan melanjutkan menghabiskan makanan kami. Bu Mira memintaku segera menghabiskannya lalu dia akan mengantarkanku pulang. Aku mengangguk mengiyakan keinginanannya.
Setelah aku menyudahi makanku meskipun di piringku masih ada sekerat burger tersisa, Bu Mira mengajakku kembali ke halte untuk menunggu bus pulang. Begitulah kami kembali ke rumah dan Bi Mira dengan tangguh mengembalikan aku pada ibu dan menegaskan bahwa dia akan tetap mengantarku besok ke Moons Camp. Ibu tidak perlu mengkhawatirkan apapun.
“Segera berkemas, sampai jumpa besok,” begitu pamit Bu Mira padaku.
Aku menatap Ibu sebelum akhirnya aku masuk ke dalam kamar, begitu Bu Mira menutup pintu rumah kami. Aku bergegas menutup pintu ketika aku melihat ibu akan mengejarku. Ketika dia berteriak di pintu kamarku.
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi Kisya, kamu akan tetap di rumah ini! Persetan dengan bulan! Omong kosong dengan penelitianmu itu!”
Aku memasukkan semua baju yang kubutuhkan ke dalam sebuah ransel. Buku tentang pemotongan DNA itu juga kusiapkan di atasnya. Tidak boleh ada yang tertinggal. Headset dari Suvara, kotak biji Sycamoreku, semua ada di depan mataku selagi ari mataku terus mengalir di pipi.
Kalau memang ibu ingin aku bertahan, mengapa tidak ada kehangatan sama sekali di rumah ini? Atau jika dia tidak menginginkan kehadiranku lagi, kenapa tidak melepasku pergi toh dia tidak peduli. Aku terus bertanya dalam hati tanpa berani melawan kata-katanya yang masih terdengar dari dalam kamarku.
“Let her go Mom!” teriak itu sangat kukenali.
Seperti kubilang, aku tidak mengenali wajah anak kembar itu, tapi suara napasnya saja membuatku bisa mengenali siapa yang bersuara di antara mereka.
“Dengarkan dia! Hanya dengarkan mereka kali ini!” teriakku.
“Stay on me Kisya, please,” suara bergetar ibu membuatku tak tahu harus melangkah seperti apa.
“I’m fine Mom, I’ll be safe, trust me,” bisikku dari balik pintu.
Aku tahu dia sangat dekat pintu. Aku tahu ibu bisa mendengarnya. Mendadak ruangan senyap. Tidak ada lagi pertengkaran. Aku membaringkan tubuhku di tempat tidur. Bertengkar juga melelahkan.