Sejak hari itu akhirnya kami jadi tahu bahwa Kapten Jack dan Hana rupanya bukan saudara kandung seperti yang kami pahami sebelumnya. Tetapi kedekatakan mereka telah seperti kakak beradik. Mungkin karena kebaikan Kapten Jack yang tidak membeda-bedakan seseorang membuat nyaman banyak anak-anak sehingga tidak lagi segan menganggap beliau saudara.
Hari ini, setelah satu minggu berlalu sejak perbincangan kami itu, aku mendapat kabar dari Suvara bahwa Kapten Jack dikonfirmasi terinfeksi Virus Crowna. Kabar terbaru tentang sakitnya Kapten Jack membuatku sedih. Dia orang yang baik bagiku. Dan sakit karena virus yang sefrontal ini membuatku mengkhawatirkannya. Aku bertanya pada Suvara apakah dia baik-baik saja. Mengapa kabar ini baru tersebar.
"Bukankah inkubasinya 3 hari Suv? Bagaimana bisa Kapten Jack baru terinfeksi? Kita saja di rumah sudah sepuluh hari," protesku.
"Kan virus itu masih menyebar Suv, Kapten Jack tidak terinfeksi lnagsung, karena itu kita belum boleh kembali ke sana," jelas Suvara.
"I see, kamu sudah menyicil rancanganmu?" tanyaku.
"Tidak mungkin, bahan yang dibutuhkan cukup mahal untuk membuatnya."
"Programnya?"
"Sudah jadi sebelum kita pulang dulu."
Aku dan Suvara membicarakan banyak perkembangan penelitian kami agar kami tidak kehilangan momen dan waktu.
"Menurutmu anak-anak lain juga sudah lebih siap?" tanyaku lagi.
"Aku tidak tahu, kamu tahu kan, mereka sangat tertutup."
"Coba aku tanya Art," kataku.
"Ah iya, bagaimana aku bisa lupa tentang empat sekawan itu, mereka pasti tahu tentang Moons Camp, Kapten Jack dan juga survei keadaan anak-anak yang dipulangkan."
Suvara pun sepakat mematikan panggilannya agar aku bisa menghubungi Art untuk mendapatkan informasi penting.
"Hai Art," sapaku.
"Hai Ra," jawabnya.
"Dimana?"
"Sama denganmu, di rumah," jawabnya.
"Jangan sok tahu, aku sedang di sekolah," jawabku.
"Kamu belum pulang?"
"Di sini jauh lebih nyaman," jawabku.
“Baiklah, maafkan aku, ada apa tiba-tiba menghubungiku?” tanya Art kemudian.
“Sudah ada kabar lagi belum tentang Moons Camp?” tanyaku.
“Kapten Jack terinfeksi, sepertinya Moons akan mundur lebih lama,” jawab Art.
“Ah iya, aku juga mendengar itu, kenapa baru terinfeksi ya?”
“Kan aku sudah pernah bilang, virus ini bisa bertahan lebih lama dupletnya,” aku ingat kami sudah pernah berdiskusi sebelumya.
“Aku takut kehilangan ambisiku jika terlalu lama,” kataku.
“Kurasa semua punya masalah yang sama, oh iya, sepertinya perjalanan lain juga tertunda,” terang Art padaku.
“Venus? Yupiter?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Virus ini sudah menyebar ke distrik lain.”
Art lalu menjelaskan bahwa orang-orang yang dengan tidak sengaja menularkan virus ini sudah membuat sang virus menyebar ke seluruh pelosok negeri. Meski saat ini vaksinnya sudah disiapkan, tapi untuk menguji vaksinnya butuh waktu yang cukup lama. Dia tidak yakin sebulan cukup untuk mengembalikan semua sistem seperti semula.
“Semoga kita selalu baik-baik saja,” harapku.
“Iya, aku dengar pemerintah akan membuat protokol kesehatan lagi kalau virus ini terus menyebar dan tidak bisa ditaklukkan,” terang Art padaku.
“Oh, tidak!” ungkapku kecewa.
“Aku juga tidak mau itu terjadi.”
Aku lalu mematikan sambungan twiggram begitu mendengar suara alarm yang menunjukkan sistem kelistrikan di sekolah akan mulai dimatikan. Pengingat itu akan berbunyi sekitar 10 menit dan seluruh orang yang ada di seluruh ruangan harus keluar dari gedung. Hal ini dilakukan untuk menghemat penggunaan listrik dan energi.
Saat aku sampai di luar gedung, disusul beberapa anak lain yang tampaknya sedang mengerjakan proyek di sekolah, tak lama setiap jendela menutup dan gedung menjadi lebih gelap dari luar yang menandakan semua sistem sudah dimatikan.
Kami saling melemoar senyum dan harus menerima bahwa kami terusir dengan tidak hormat sore ini dari gedung sekolah kami. Seperti biasa, aku dengan berjalan kaki pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, ibuku tidak mempertanyakan aku yang pulang terlambat, seolah dia sudah sangat tahu aku dari mana. Tapi baiklah, untuk hal itu dia bisa mempercayaiku tidak akan berbuat nakal.
Begitu selesai berganti pakaian, aku membuka kulkas. Mengambil sebotol air dan membiarkannya berselancar di kerongkonganku. Rasanya dingin sekali. Kemudian aku memanaskan sebungkus lasagna instan dalam microwave. Sembari menunggu aku memainkan tabku di dekat meja dapur.
“Ibu aromanya seedap sekali,” teriak Bilqis adikku.
Rupanya dia tidak tahu bahwa aku yang ada di balik meja dapur. Setelah dia tahu aku yang membuka pintu microwave dan mengeluarkan lasagna dari dalam microwave, dia pun menelan ludah. Dia berbalik ke kamarnya tanpa menyapaku. Ah, peduli apa!
Aku menyuap sesendok demi sesendok menikmatinya. Di mataku, barisan huruf informasi DNA telang dan Sycamore kudapat dari jurnal yang dikirim oleh Illeus. Tepat seperti yang dikatakan Art, rupanya asrama Venus juga belum dimulai lagi. Sehingga Illeus menggunakan banyak waktunya untuk mencarikan informasi untukku.
“Kamu harusnya masuk jurusan genetika saja,” kataku.
“Lalu menjadi pesaingmu? Tidak mau!”
“Jangan bersaing denganku, tapi jadi teman satu timku,” kataku.
“Sayangnya untuk lokakarya ini, tidak ada kata tim,” jawabnya.
“Iya, kamu benar,” aku sama sekali tidak melihat pada Illeus meski kami sedang melakukan videocall.
“Bisakah kamu melakukan salah satu saja?”
“Apa?”
“Habiskan makananmu dulu, teliti informasi itu nanti. Atau hentikan makanmu sekarang juga,” kata Illeus.
“Hahaha, tidak, aku akan melakukannya secara bersamaan, jadi keduanya bisa selesai bersamaan, dan sisanya aku akan melanjutkan jurnalku sendiri,” kali ini aku melihat Illeus yang ternyata menatapku dengan serius.
“Jangan menatapku begitu, aku bisa serba salah dengan tatapanmu itu,” kataku.
“Ah, maafkan aku.”
Seperti kataku padanya, keduanya selesai bersamaan. Aku membuang bungkus lasagna ke tempat sampah lalu membawa tab ke dalam kemarku. Masih terhubung dengan Illeus, dia justru bertanya padaku, apakah Sytoriaku bisa berhasil tanpa beasiswa dari Moons Camp.
“Secara langkah bisa, tapi secara biaya dan peralatan lain untuk mendapatkan hasil yang cepat, tidak!” tegasku.
“Baiklah, aku paham.”
Sesaat kami sama-sama diam, sebelum sebuah pertanyaan muncul di otakku dan membuat tanganku tak lagi menuliskan rancangan penelitianku. Illeus yang membaca gerakan tanganku yang terhenti pun bertanya padaku.
“Apa? Menemukan sesuatu yang lain?”
“Tiba-tiba muncul pertanyaan,” jawabku.
“Apa?”
“Kamu sudah pernah ke bulan?” tanyaku.
“Belum, dari dulu distrik Succary hanya melakukan perjalanan ke Venus,” jawabnya.
“Itu lebih jauh,” kataku.
“Iya, tentu saja.”
“Kalau aku sudah ke bulan, kamu ke Venus, bisakah kita bertukar tujuan suatu saat?” tanyaku.
“Mungkin bisa.”
“Baiklah, aku akan bekerja lagi.”
Tentu saja aku tidak puas dengan jawaban Illeus. Tapi kupaksa seperti apapun, kalau saat ini dia tidak punya catatan tentang hal itu dia bisa apa? Aku kembali menunduk dan melanjutkan catatanku. Sebaliknya Illeus tampak juga sedang melanjutkan program rancangannya. Kami tidak saling berbicara meskipun tetap terhubung sampai lama.