Chapter 44

1116 Words
“Sudah kembali ke asrama Ill?” tanyaku. “Sudah Ra, bagaimana denganmu? Asramamu sudah baik-baik saja?” “Kuharap begitu, tadi baru saja diadakan pembukaan,” terangku. “Sudah dapat bahan?” “Sudah lah,” aku mengangkat beberapa biji Sycamore dalamkantung kertas bertuliskan Sycamore Seed. “Nice, selamat berjuang untuk waktu-waktu yang berat ya?” kata Illeus. “Kamu juga, oh ya, sekarang asramaku bisa digunakan untuk akses twiggram, bagaimana denganmu?” “Yup, tidak jauh berbeda,” jawabnya. Kami kemudian membicarakan progress penelitian kami dan saling bertukar informasi. Seperti janjinya dulu, Illeus kemudian mengirimkan salinan buku tentang DNA sebagai literasi untuk penelitianku. Aku sangat senang dan berjanji akan mempelajarinya dengan teliti. Selagi kami berdiskusi, sebuah panggilan lain menjeda percakapan kami. “Ill, maaf aku potong dulu, sepertinya ada yang ingin terhubung denganku,” pamitku. “Silakan saja.” Aku keluar dari perbincanganku bersama Illeus dan ternyata ada Sazre yang sudah menungguku di sana. Aku segera menggeser profilenya agar bisa terhubung denganku. “Dari mana saja kamu?” tanyanya. “Kamu tahu kan, aku dipulangkan dari asrama,” jawabku. “Kamu tersisih?” “Bukan begitu, tapi,” kalimatku terpotong. “Oke maafkan aku, soal virus itu ya?” “Iya.” “Aku sudah cerita padamu?” “Tentang apa?” Diapun lalu mengirim banyak gambar luar angkasa yang indah. Gugusan bintang yang tersebar dengan beberapa planet juga asteroid menjadi foto yang luar biasa di mataku. “Itu indah sekali Saz,” pujiku. “Aku memenangkan kontes itu,” katanya sembari tersenyum. “Wah, selamat, aku ikut berbahagia,”kataku. “Temanmu memintaku bekerja di planetariumnya sebagai agen dokumentasi perjalanan luar angkasa,” jelasnya. “Lalu?” “Aku bingung apakah aku harus menerimanya?” “Kamu terikat pekerjaan dengan orang lain?” “Tidak, aku hanya photografer freelance.” “Terikat pendidikan kedinasan?” “Apalagi itu, tidak mungkin.” “Kalau begitu tunggu apalagi? Jangan buang-buang kesempatan, ambil cepat tawaran Vans.” “Aku tidak terlalu suka terikat pekerjaan,” katanya. “Kamu akan bekerja sesuai hobbi dan bakatmu Saz,” bujukku. “Jadi menurutmu sebaiknya aku menerimanya?” “Harus!” tegasku. Dia terlihat tidak terlalu senang, tapi kemudian tersenyum dan mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan kabarku. Memintaku bercerita tentang apa saja yang aku lakukan selama kami tidak saling menghubungi. Aku pun menurutinya tapi sebelumnya mengatakan bahwa aku sambil belajar. “Tidak masalah,” jawabnya. Kemudian sambil bercerita, aku membaca salinan file yang dikirim oleh Illeus, memberi warna berbeda pada teks yang kuanggap penting dan suatu saat kubutuhkan. Sazre yang tidak keberatan dengan aku yang lebih banyak menunduk dibanding melihat ke wajahnya mendengarkan dengan baik apa yang kuceritakan. Sesekali dia menanggapi ceritaku, saat aku sedang berada di konsentrasi tinggi, dia akan menungguku menyelesaikan satu kalimat yang sulit kupahami. “Bagaimana dengan kedua adikmu?” “Baik, mungkin jadi lebih baik tanpaku,” jawabku acuh. “Hahaha, bagaimanapun mereka adikmu, jangan bersikap seperti itu,” nasihatnya. “Kalau mereka tidak bersikap keterluan, aku juga tidak,” kali ini aku menatap wajahnya dan menyadari sesuatu. Dia mengerjapkan matanya, seolah-olah bertanya kenapa berhenti bercerita. “Rambutmu baru?” tanyaku. “Ah iya, ini salah satu permintaan departemen jika aku ingin dipekerjakan,” jawabnya. Rambutnya yang semula panjang dan bercat kemerahan. Saat ini menjadi pendek, persis seperti potongan rambut Kapten Jack dan petugas yang ada di sini. Pun rambut itu kini berwarna kecoklatan. Mungkin itu adalah rambut aslinya. “Kamu lebih tampan kalau begitu,” pujiku. “Aku justru malu dengan rambut sependek ini,” tuturnya. “Sudahlah, kamu terlihat lebih rapi,” kataku. Dia terbahak dengan mengelus kepalanya yang berambut tidak sepanjang biasanya. Dia terlihat salah tingkah saat aku melihatnya, tapi kemudian dia tersenyum dan memainkan gitarnya selagi aku belajar. *** “Hari ini kamu pergi ke lab?” tanya Suvara saat melihatku sudah siap dengan blazer dan juga jas lab di tanganku. Aku mengangguk dan bersiap dengan kotak coklatku untuk kubawa ke lab di lantai dua. Suvara memberi pesan untuk berhati-hati saat melakukan percobaan dan untuk menyimpan hasil percobaanku seberapapun progressnya di tempat yang aman. “Iya, terima kasih,” jawabku sebelum kemudian keluar dari kamar. Dengan tangga, aku turun ke lantai dua, melewati lorong-lorong yang cukup asing demi sampai ke laboratorium. Begitu melihat nomor ruangan yang sama persis dengan yang tertera di kertas jadwal, aku meletakkan liontinku di bagian penguncinya. Begitu identitasku dikenali, pintu lab itu terbuka dan aku tercengang melihat lab yang begitu luas dan peralatan begitu lengkap di dalam. Di dalam, Mrs Marsche sudah siap dengan jas laboratnya. Dia pun memintaku untuk segera mengenakan jas milikku. Aku dengan cepat menurutinya. Kemudian dia terlihat memeriksa salinan abstrakku dulu. “Persilangan tanaman ya?” tanya Mrs Marsche. “Iya Mis,” jawabku. “Waktu kita tidak banyak, bagaimana kamu bisa menyingkat waktu yang kita punya?” tanya Mrs Marche. Aku pun menjelaskan bahwa aku akan menggunakan biji-bji tanaman ini untuk mendapatkan urutan DNA-nya, setelah terpotong dan terpasang dengan baik, aku akan menyuntikkan atau membuat pencangkokan internal di dalam tubuh Sycamore, sehingga hasil bisa dilihat lebih cepat. Mrs. Marsche terlihat mengangguk walaupun tampak masih tidak yakin dengan waktu yang kami punya. Dia kemudian mengajakku ke salah satu ruangan yang juga ada di laboratorium ini. Sekilas saja, aku sudah tahu bahwa laboratorium genetika ini diperuntukkan untukku. Sepucuk pohon sycamore muda tumbuh dengan bunga-bunga yang cukup lebat walaupun hanya mendapat sinar matahari dari sebuah pancaran surya buatan di dalam ruangan. “Ini adalah ruanganmu, setiap jadwalmu percobaan, silakan datang ke ruang ini sepuasmu, tapi saat bukan, jangan coba-coba untuk masuk ke tempat ini, karena kamu tidak akan dikenali, paham?” “Paham Mis,” jawabku. “Baiklah, silakan bereksperimen, saya harus menyambu anak-anak lain,” jawabnya kemudian keluar dari lab kecil yang diperuntukkan padaku. Dengan segera aku mengekstrak biji Sycamore untuk mendapatkan bagian DNA yang ada di inti selnya. Semua pengetahuan dan keterampilan yang telah kuperoleh sebelumnya kali ini benar-benar kuterapkan. Saat aku melupakan langkah yang harus kulakukan, aku membuka jurnal yang sudah merupakan rangkuman dari semua langkah pengekstrakan hingga mendapatkan urutan DNA yang termudah. Memecah DNA hingga seluruh rantai proteinnya terbaca dengan baik kulakukan dengan tenang. Kemudian menandai DNA yang mengandung informasi tentang bunga dan biji sycamore. Yaitu bagian yang nantinya akan kupadukan dengan DNA clitoria. Waktu tidak terasa hingga alarm berbunyi yang menandakan aku harus bersiap menyimpan semua percobaanku dalam tempat yang aman dan melanjutkannya pada hari lain sesuai dengan jadwal yang sudah kudapat. Aku meletakkan kertas kromatografi dalam pendingin dan menyetel suhunya agar tidak merubah hasil yang saat ini kudapat. Kemudian setelah memastikan ruangan itu bersih dan seluruh percobaanku aman tersimpan, aku keluar dan melihat ke sekeliling. Beberapa anak juga keluar dengan wajah yang sama lelahnya denganku. Salah satunya kukenali sebagai Sunna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD