Chapter 43

1090 Words
Seluruh mata tertuju pada mereka yang berjalan masuk ke dalam aula luas yang bernuansa putih itu. Senyum Kapten Jack selalu jadi yang paling menonjol. Begitu mudah dikenali dengan barisan rambut samping yang mulai memutih. Walaupun tegap tubuhnya berlawanan dengan penampilan rambut itu, tapi senyum dan sigapnya sama sekali tidak berlawanan. Aku dengan mudah mengingat saat dia berlari ke arah laboratorium malam itu. Wajah paniknya saat meminta kami segera berkemas, mengungkapkan ketulusannya di samping bahwa itu adalah caranya menunjukkan etos kerjanya yang tinggi. Basa basi para petinggi yang sedang berada di hadapan kami, menguaarkan aura formal yang sebelumnya terbangun kaku. Mereka saling menyapa dengan senyum ramah dan seketika menghentikan kasak kusuk di deretan para peserta saat mereka mulai menatap ke arah kami dengan pandangan yang diplomatis. “Kudengar kamu pernah makan malam dengan Kapten Jack?” tanya Sunna mengalihkan pandanganku. “Baru saja tadi malam,” jawabku. “Ada hal-hal tentang perjalanan ke bulan yang dia ungkapkan?” tanyanya lagi. “Banyak, termasuk bahwa tidak semua pemenang akan sampai di bulan,” jawabku tanpa menoleh padanya. “Tentang itu aku sudah tahu,” sahutnya. Kami tidak lagi berkata-kata saat Mrs Marsche memulai acara. Dia membuka dengan sambutan dan membacakan seluruh rangkaian acara pertemuan kali ini. Di acara inti yang pertama, dia memperkenalkan setiap tamu undangan yang menghadap kami, termasuk Kapten Jack. Setelah memperkenalkan masing-masing dari profil profesor di depan. Waktu sambutan oleh Kapten Jack telah tiba. Dengan gagah, dia melangkah ke arah podium kaca dengan lambang bulan sabit di bagian depannya. “Selamat siang, apa kabar kalian semua?” sapanya. “Baik,” serentak jawaban terdengar dari kami para peserta. “Baiklah, sebelumnya mohon maaf atas keterlambatan kelanjutan dari kompetisi ini, kalian tentunya tahu accident yang terjadi beberapa saat lalu membuat kami yang ada di sini harus estra sterilisasi lokasi.” Banyak yang beliau utarakan sebagai pemimpin perjalanan ke bulan ini. Termasuk bahwa jumlah yang bisa terbang ke bulan tidak bisa diumumkan saat ini. Kami semua hampir tidak bersuara menyimak penjelasannya. “Baiklah, aturan yang pertama di babak ini,” saat kalimat itu terucap, Kapten Jack segera mendapat perhatian semua peserta. “Tidak ada lagi privasi identitas, kalian dengan bebas diijinkan mengenal satu sama lain, bahkan jika itu adalah rival kalian dalam kompetisi ini. Kedua, seluruh bahan penelitian yang kalian butuhkan akan disiapkan sesuai dengan rancangan yang kalian ajukan, tidak lebih tidak kurang. Jika perhitungan kalian kurang maka tidak ada dan tidak diperbolehkan mengajukan penambahan bahan. Jika hitungan kalian lebih, maka lebihan bahan akan ditarik di akhir penelitian dan digunakan untuk proyek selanjutnya. Ketiga…,” Kapten Jack tanpa membaca teks apapun menjelaskan setiap detail aturan yang harus kami taati. “Jika ada pertanyaan, bisa kalian ajukan pada saya ataupun Mrs Marsche di twiggram yang sekarang bisa diakses di dalam Moons Camp dengan syarat identitas nama dan avatar harus sesuai dengan yang ada di dalam data kami,” penjelasan Kapten Jack yang kali ini memancing sorai kebahagiaan dari seluruh peserta, termasuk aku. Kemudian masing-masing profesor yang ingin memberi sambutan di persilakan untuk menerangkan setiap langkah penelitian, laporan dan seminar yang digunakan dalam Moons Camp selama ini. Kami pun tidak ada yang melewatkan penjelasan beliau-beliau yang kebanyakan berkacamata tebal. Setelah acara pembukaan selesai, aku dan Suvara menuju ke foodcourt dan makan di sana. Awalnya kami tidak terburu-buru, sampai kemudian kami mendengar kabar bahwa alat dan bahan yang kami list sebelumnya dalam abstrak pertama, sudah tersedia di kamar tidur kami masing-masing. Dengan setengah berlari, aku dan Suvara menembus anak-anak yang juga menuju ke kamar mereka masing-masing. Di sebuah kamar yang terbuka pintunya, aku melihat anak-anak yang kegirangan dengan bahan dalam kotak coklat besar. Namun di kamar lain, aku melihat juga seorang anak yang tampak putus asa melihat kotak coklat yang diterimanya. “Bisakah bahan yang kita terima salah?” tanyaku pada Suvara. “Harusnya tidak, kecuali memang kita salah menuliskan dalam abstrak kita dulu,” jawab Suvara. “Artinya aku baru saja melihat penyesalan,” jawabku bergumam. Saat semakin dekat pada kamar kami, dadaku semakin berdegup keras. Akankah aku kegirangan seperti anak tadi, ataukah aku akan menyesal seperti anak satunya? Suvara memutar knop pintu dan mendorongnya. Sehingga kami saat ini melihat dua buah kotak coklat dengan besar yang tidak sama. Punya Suvara jauh lebih besar dari milikku. Di bagian atas kotak coklat, terdapat nama juga kode peserta masing-masing kami. Suvara menyentuhnya pelan. Aku melakukan hal yang sama. Tapi kemudian aku meninggalkan kotakku dan menutup pintu kamarku. “Kenapa Sya?” tanya Suvara melihatku menutup pintu. “Aku tidak mau ada yang tahu apakah bahanku cukup, lebih atau kurang,” jawabku. Suvara mengangguk dan mulai melepas segel kotak coklat dengan liontinnya. Aku mengamati caranya yang meletakkan liontinnya pada lingkar warna disamping namanya. Kemudian terdengar bunyi bahwa tutup kotak coklat itu telah terpisah dengan bagian bawahnya. Suvara melihat padaku, mengsyaratkanku untuk segera melakukan yang sama. Aku mengangguk sebelum melakukan hal yang sama. Dan suara pop dari kotakku akhirnya terdengar di telingaku. Aku mengangkat pelan tutup kotak coklat itu dan mataku berbinar melihat beberapa biji Sycamore, biji Clitoria, dan beberapa enzim untuk membantu pemotongan DNA. “Cukup?” tanya Suvara padaku sembari mengintip isi kotakku. “Cukup, bagaimana denganmu?” “Harusnya lebih dari cukup, toh bentukan badan robot ini sudah sesuai abtrak yang kuajukan dulu,” jawab Suvara. “Selanjutnya apa?” tanyaku. “Lihat catatan yang ada di dalam kotak,” kata Suvara. Aku pun mengeluarkan semua isi kotak dengan hati-hati demi mencari catatan yang dikatakan Suvara. Akhirnya sebuah kertas putih terlihat di bagian yang paling bawah. Aku membukanya dan membacanya dengan teliti. “Laboratorium lantai 2, Minggu dan Kamis.” Begitu tertulis di kertas itu. Aku mengamati tulisan itu cukup lama sampai kemudian paham dengan sendirinya bahwa itu adalah jadwal penelitian juga tempat yang bisa kugunakan untuk bereksperimen. Aku menutup kembali kotak coklat itu dan meletakkannya di atas meja belajar. Besok baru hari selasa, masih ada waktu sampai aku diijinkan menggunakan laboratorium. “Lantai berapa Suv?” tanyaku “Dasar,” jawab Suvara. “Aku akan menghubungi Ill,” ijinku. “Aku juga ingin menghubungi Vans,” kata Suvara. “Aku ingin mencoba fungsi twiggram di sini,”kataku. “Aku juga,” jawab Suvara semangat. Dengan tab yang ada di tangan kami, kami kemudian mengakses twiggram dari dalam kamar kami. Dan seketika ruangan kami terbagi jadi dua ruangan yang sangat kami kenali. Ini adalah ruangan twighome kami masing-masing. Aku dan Suvara tersenyum dan membuka pintu twighome kami masing-masing. Meta yang sangat menarik dan sangat nyata. Begitu aku masuk ke dalam ruangan twighomeku, aku tak lagi mendengar suara Suvara padahal dia begitu dekat denganku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD