Itu adalah makan malam yang istimewa. Ketika tidak semua anak bisa sedekat itu dengan Kapten Jack, aku justru mendapat undangan makan malam. Ekslusif dengan undangan khusus darinya pribadi. Aku kembali ke kamar dengan tangan bergandengan bersama Suvara. Kami tertawa-tawa ketika kemudian membanting tubuh bersama-sama ke tempat tidur masing-masing.
"Aku sangat tercerahkan oleh Kapten Jack," kata Suvara.
Kukira itu artinya ambisinya mereda. Kukira kini dia telah tahu bahwa tidak selamanya tujuan hidupnya hanya tentang bulan dan perjalanannya ke sana. Tapi ternyata...
"Karenanya aku semakin ingin menginjak bulan dengan kakiku sendiri."
Aku menoleh padanya yang memejamkan mata. Mungkin dia sedang menginjak-injak permukaan bulan dengan kedua kakinya yang terbungkus pakaian astronot.
Aku bukan seorang pendoa. Tapi untuknya, aku selalu berharap agar dia bisa benar-benar mewujudkan mimpinya. Tentang aku, biarlah aku jadi anak tersesat seperti katanya. Kalaupun bulan tak bisa kuraih, menjadi bagian dari penerbangannya saja pun cukup.
Terbayang di mataku, aku memakai seragam gagah itu dengan pangkat di kedua pundakku. Berjalan dengan sepatu high heels namun tegap dan sama sekali tidak kemayu atau manja. Aku tersenyum melihat diriku yang memakai seragam itu.
"Membayangkan apa?" aku mendadak membelalak melihat Suvara sudah ada di atas kepalaku.
"Haish," kataku sontak berdiri.
"Jawab pertanyaanku, sedang membayangkan apa? Bulan?" tebaknya
"Aku tidak seambisi dirimu Suv", jawabku.
"Lalu apa?"
"Menurutku berseragam dan berjalan dengan sepatu berhak itu keren," jawabku jujur.
"Nanti kalau kamu sudah ke bulan, kamu bisa jauh lebih keren."
Suvara lalu kembali ke tempat tidurnya. Kali ini dia menarik selimutnya dan memunggungiku. Aku juga melakukan hal yang sama sehingga kami tertidur dengan sendirinya.
****
Pagi kusambut dengan maple yang bergerisik terkena angin. Embun di daunnya beberapa jatuh menjadi gerimis palsu bagi anak-anak yang bermain di bawahnya.
"Hai Suv, bangunlah, pagi ini kita ada apel pagi kan?" kataku.
"Eghh," aku melihat tubuh Suvara menggeliat dengan mata yang tetap terpejam.
"Hai, bangun!"
Setelah dia menggosok-gosok matanya, dia melihatku dengan terpaku. Saat itu aku menyambar handuk dan meninggalkannya yang masih mengumpulkan segenap nyawa.
Pagi ini, kami akan memulai tahap ini. Kami akan mengetahui nama-nama anak yang menjadi pesaing dari bidang yang sama. Walaupun tentang anak-anaknya yang mana masih butuh usaha yang cukup keras.
"Hari ini kita akan berseragam," kata seorang anak yang menyandang handuk di bahunya.
"Iya, itu keren", tanggap lawan bicaranya.
Aku masuk ke kamar mandi kemudian bersiap seperti yang anak itu katakan. Ya, kami mulai hari ini akan mengenakan rok span di bawah lutut dengan kemeja polos warna putih yang dimasukkan dan jas yang di dadanya terdapat logo bulan.
Liontin masih harus terpasang, Karena itu sekarang setiap anak punya cara sendiri untuk menggunakan liontin mereka sendiri. Seperti aku misalnya, yang memakai liontin di tanganku. Suvara mengenakannya sebagai kalung. Rose memakai liontinnya di kakinya.
Aku kemarin ada pula yang memakai liontinnya sebagai bros bahkan sebuah anting. Tapi anak-anak yang tidak terlalu percaya diri tetap menyembunyikan warna liontinnya.
"Kamu cantik sekali Sya," puji Suvara.
"Kalau aku berseragam seperti kakak-kakak yang bertugas di sini, mungkin jauh lebih cantik."
"Iya setelah pergi ke bulan bersamaku."
Aku menunggunya selesai berkemas. Kemudian kami menuruni gedung dan berada di aula lantai dasar. Empat ratus anak dalam satu ruangan yang sama. Kesemuanya memakai seragam yang sama
Kali ini tak lagi terlalu terpana. Sebagian kami saling menatap dengan senyum, dan sisanya acuh tak peduli walau sesekali melihat untuk saling bersikap asing.
Aku dan Suvara memasuki ruangan dan membelah kerumunan dengan tenang. Kami duduk di tempat yang agak berjauhan. Sesuai dengan nomor peserta yang telah diberitahukan dan tertera pada kaki kursi dengan nyala kedip led.
Kami menunggu dengan tenang dimulainya acara. Tidak banyak anak berbicara, jika pun ada hanya berupa bisik-bisik basa-basi.
Aku mengedarkan pandanganku. Mencoba mencari Hagi. Dan kemudian menemukannya duduk agak jauh dariku. Kami saling melempar senyum tanpa sapaan lewat lisan.
Justru Art yang melambai padaku. Akupun membalas lambaian tangannya. Di belakangnya, Rose juga melambai padaku. Kemudian dia mengisyaratkan bertanya di mana Suvara, aku pun menunjukkan tempat Suvara duduk. Mereka saling melambai.
Asing rasanya melihatnya hanya berdua. Matqku terlanjur terbiasa melihatnya dengan Hana dan Visyn. Tapi kami sudah tahu kedua anak itu tidak bisa melanjutkan perjuangan ini.
"Dari genetika?"
"Iya," jawabku.
"Aku juga, Sunna," dia mengulurkan tanganya padaku.
"Kisyara," kuajukan tanganku sehingga kami saling berjabat.
"Mengembangkan proyek apa?" tanyanya lagi.
"Persilangan tanaman, bagaimana dengan kamu?"
"Konjugasi bakteri antibiosis," jawabnya.
"Keren, sudah progress berapa persen?"
"Baru sebatas abstrak, bagaimana denganmu?"
"70% mungkin?"
"Melanjutkan selama pandemi?"
"Sedikit yang bisa kulakukan," jawabku.
"Iya, kamu benar."
"Tunggu, siapa namamu tadi?"
"Kisyara."
Karena aku menyebutkannya agak keras, beberapa anak akhirnya menoleh padaku. Dengan tatapan yang beragam. Ada yang tersenyum ramah, ada juga yang sebaliknya.
"Berarti kamu yang mencari rival kita?"
"Iya," jawabku singkat.
"Kenapa harus dicari? Kamu bisa mengurangi jumlah pesaing kita."
"Kamu tahu rasanya bersalah kan?" tanyaku.
Sunna mengangguk dengan tetap menatap padaku. Matanya hampir tak berkedip menunggu jawabanku.
"Itulah yang kurasakan. Karena itu aku mencarinya."
"Apa sekarang dia sudah ada di sini?"
"Sudah," aku menoleh pada Hagi.
Bukannya aku ingin menunjukkan keberadaan Hagi. Hanya saja aku mengingat kesalahanku pada beberapa waktu lalu. Dan kurasa Sunna segera mengenali arah mataku.
"Dia tampak lebih muda darimu," kata Sunna.
Karena jawabannya, aku mengerjap, menoleh ke arah lain. Tapi kemudian memikirkan jawaban itu, Hagi memang terlihat lebih muda dariku. Mungkin baru seusia Suvara.
Aku dan Sunna berbincang dengan sopan. Dia berusia sepantaran denganku. Ini adalah kedua kalinya dia mengikuti kompetisi. Di kompetisi sebelumnya dia kalah di tahap kedua ini. Hipotesanya gagal dibuktikan.
"Jadi menurutmu yang kali ini pasti berhasil?" tanyaku basa basi.
"Seharusnya iya," jawab Sunna.
"Bagaimana jika hipotesa kita sama-sama berhasil dikembangkan?"
"Pasti ada penilaian dari panitia dan juri bukan?"
"Kita akan diberitahu apa saya indikatornya?"
"Tahun lalu iya, saat seperti inilah aturan sebenarnya akan diterangkan dengan sangat jelas."
"Terima kasih untuk informasinya Sunna, apa aku perlu memanggilmu kakak?" tanyaku.
"Senyamanmu saja, panggil aku Sunna saja juga tidak masalah."
Kami saling berbalas senyum. Sunna adalah anak laki-laki bertubuh tambun dengan kacamata tebal bertengger di wajahnya. Aku suka saat menaikkan kacamatanya di saat matanya menyipit.
"Baiklah Sunna."
Saat seluruh ruangan mendadak diam, kami menoleh ke arah pintu masuk. Beberapa orang masuk, diantaranya Kapten Jack, Mrs Marsche, juga tampak para profesor yang mengujiku dulu.