Menara suar bukanlah pertama ini kudatangi. Menara yang menjadi tempat menyimpan teropong untuk mengintip angkasa itu juga menjadi tempat pertama kali aku mengenal Art dan ketiga temannya. Saat aku datang bersama Suvara mala mini. Ruangan di dalamnya tidak banyak berubah. Hanya menambah satu set meja makan dengan empat kursi.
Aku masuk dengan pelan. Begitu juga dengan Suvara yang baru saja mengalami perjalanan waktu dari lorong yang berisi sejarah perjalanan bulan. Dia masih terkagum-kagum dan keinginannya untuk pergi ke bulan semakin besar.
“Kamu lihat tadi? Aku juga mau suatu saat dioramaku ada di salah satu menit tayangannya,” katanya penuh harapan.
“Sebagai apa?” godaku.
“Pokoknya ada,” paksanya dengan tersenyum.
Kami duduk di kursi meja makan itu dengan saling berdampingan. Menunggu sang pengundang datang.
“Aku bertemu Art di sini pertama kali,” jawabku.
“Aku bertemu pertama kali di bawah sana,” tunjuk Suvara.
Tentu saja aku juga mengingat saat kami pulang terlalu malam dan gerbang telah terkunci.
“Kamu masih mengagumi Art seperti awal kedatangannya dulu?” tanyaku.
“Itu masih keren bagiku,” jawab Suvara.
“Sudah lama menunggu?” suara Kapten Jack segera mengalihkan perhatian kami.
“Tidak Kapten,” aku menjawab bersamaan dengan kami berdiri menyambutnya.
Kapten Jack masih dengan seragamnya malam itu. Dengan seorang putri kecil bergaun pesta warna salmon yang sangat serasi dengan warna kulitnya yang terang.
“Ini putri saya, Camelia,” gadis kecil itu tersenyum dan menarik gaunnya sehingga agak mengembang.
“Suvara,” jawab Suvara sembari menunduk dan tersenyum.
Aku juga melakukan hal yang sama ketika menyebutkan namaku. Kami lalu duduk setelah Kapten Jack mempersilakan.
“Bagaimana? Bahagia kembali ke tempat ini?” tanya Kapten Jack.
“Sangat Sir,” jawabku.
Kami kemudian banyak berbincang tentang virus yang telah merenggut banyak waktu kami. Bahkan sempat menginfeksi Kapten Jack. Tapi Kapten Jack mengalihkan pembicaraan saat aku mulai bertanya siapakah yang memecahkan virus itu? Apakah virus itu juga bagian dari penelitian Moons Camp?
“Apa yang membuat kalian ingin pergi ke bulan?” pertanyaan itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang kuajukan padanya.
“Aku ingin membuktikan ke ibuku bahwa aku mampu Kapten. Bahwa dia tidak salah menilai kepintaranku selama ini,” jawab Suvara dengan semangat.
“Bagaimana denganmu Kisyara?”
“Ehm…,” aku kesulitan menjawab pertanyaannya.
“Tidak mungkin tidak ada tujuan bukan?”
“Dari Suvara saya mengenal kata anak tersesat, saya salah satunya Sir,” kataku.
“Tidak benar-benar ingin pergi ke bulan?”
“Ingin, tapi tidak seambisius Suvara.”
Aku menjawab jujur dan pembicaraan kami terhenti saat semangkuk besar salad dihidangkan. Berikut dengan beberapa gelas jus buah dan segelas air untuk masing-masing kami.
“Tapi kamu benar Kisyara, pergi ke bulan hanya hadiah, yang epic adalah perjuangan kamu bisa pergi ke sana, dan apa kalian tahu? Di luaran sana, orang-orang bisa pergi ke bulan, Venus atau ke manapun itu tanpa menjadi pemenang dari kompetisi semacam ini. Bahkan pemenang pun belum tentu bisa mengalami perjalanan ke bulan,” jelas Kapten Jack.
“Maksudnya?” Suvara tersentak dengan penjelasan Kapten Jack.
Sebenarnya aku juga. Tapi ekspresiku telah didahului oleh Suvara. Aku hanya mengikuti ketercengangannya.
"Bagaimana jika tidak sehat? Banyak prosedur yang harus kamu lalui untuk menjadi yang menginjak bulan," setelah mendengar pernyataan Kapten Jack, aku meneruskan memotong steak.
"Lalu apa gantinya jika kami pemenangnya tapi kami tidak bisa pergi ke bulan?" tanya Suvara.
"Banyak, bisa berupa pendanaan penelitian berikutnya, bisa menjadi crew dari Moons Camp, bisa diganti berupa uang."
Suvara terdiam, tampaknya itu tidak memuaskan hasratnya. Sangat berbeda dengan impiannya. Aku tidak tahu mengapa dia kecewa bahkan tidak tahu dengan konversi hadiah yang diterima. Bukankah ini tahun ketiganya berkecimpung di dunia kompetisi pergi ke bulan.
"Bagaimana? Dari banyak pilihan itu, mana yang kamu pilih?" tanya Kapten Jack sembari menyuap salad ke mulutnya.
"Tidak, aku hanya ingin ke bulan."
Penegasan Suvara bisa kutebak. Yang tidak bisa kutebak justru senyum dari Kapten Jack. Dia mengunyah saladnya sampai habis kemudian menelannya dengan senyum terkulum.
"Kalau begitu jaga dirimu, tetap prima hingga kamu pantas kukirim ke bulan."
"Aku lebih mudah memantaskan diri daripada harus menerima kekalahan."
Aku terkejut dengan jawaban Suvara. Tanpa basa basi dan tegas bahkan tidak memandang ke arah Kapten Jack saat menjawabnya.
"Baiklah. Itu optimisme yang bagus."
"Papa, aku mau ice cream," pinta putrinya.
"Ada es krim?" tanya Kapten Jack pada petugas yang ada di dekat kami.
"Ada vanilla pisang hari ini," jawab petugas itu.
"Baiklah tolong siapkan empat ya?"
Permintaan Kapten Jack dibalas dengan anggukan petugas itu. Sembari menunggu pesanan kami itu siap. Kapten Jack membicarakan banyak hal termasuk sikap heroikku yang turut mencari Hagi yang notabene adalah pesaingku.
"Aku ingin semua solid, tidak hanya berkompetisi sebagai lawan, tapi juga serapat rekan kerja. Jadi ketika dua atau bahkan semua menjadi kru di tempat ini suatu saat nanti, tidak ada yang saling menjegal dan menggagalkan penerbangan."
"Pernah?" tanyaku.
Pertanyaanku tidak terjawab selain oleh senyum yang bisa kujawab dengan prediksi. Suvara pun sudah tahu jawaban ekspresi yang diperlihatkan oleh Kapten Jack.
"Saya harus pergi dulu, kalian boleh berlama-lama di sini."
Pamit Kapten Jack ketika kami sudah membicarakan banyak hal dan terlihat putrinya sudah cukup mengantuk. Kami pun mempersilakan kepergian beliau. Terlihat beliau kemudian menggendong putrinya di punggungnya.
Kami berdiri dari tempat duduk begitu Kapten Jack tak lagi terlihat. Meja dibersihkan selagi aku dan Suvara mendekati teropong bintang. Kami mengintip planet-planet yang malam ini jelas tanpa bayangan awan mendung.
"Ini makan malam yang sempurna Sya, aku senang bisa mengenalmu."
"Hai, kenapa aku?"
"Sikapmu yang mudah berteman dengan siapapun bahkan dengan orang sekelas Kapten Jack membuatku lebih kaya pengalaman tentang kompetisi ini."
"Bukankah kamu yang justru mengajarkan banyak hal padaku?" tanyaku.
Kami berdua bersandar pada teralis pembatas menara. Kaca di depan kami membuat kami leluasa melihat bintang berkelip yang bergugus-gugus.
"Mau kembali ke kamar?" ajakku.
"Boleh, ayo."
Kami kemudian berjalan kembali ke kamar. Sepanjang perjalanan Suvara dengan riang mengulas setiap pembicaraan Kapten Jack. Dan aku merasakan keriangannya.
Kami akhirnya tahu, kedekatan Kapten Jack dengan Art dan teman-temannya bukan karena Hana adalah kakaknya. Tapi murni karena beliau orang yang baik dan mudah dekat dengan siapapun.