Chapter 47

207 Words
Vans mengatakan bahwa dia sangat bersemangat saat menemani Sazre memotret hari itu. Dia tahu Sazre adalah anak berbakat dan rasanya sayang jika anak seberpotensi itu hanya akan menjadi mengembara waktu dan tidak terikat dengan pekerjaan apapun. Dia tahu Sazre adalah orang yang begitu independent, tidak ingin dikekang dalam imajinasi dan keinginannya. “Aku tahu itu,” jawabku. “Sudah pernah bertemu dengannya?” tanya Vans. “Belum, hanya virtual.” “Dia anak yang ramah dan mudah bergaul, tentang wataknya yang agak keras, itu masih bisa dikendalikan lah,” terang Vans. Mengingat Suvara yang berada di ruang kesehatan dan Vans terlihat biasa saja, tidak terlalu panik, aku jadi berubah pandanganku tentang laki-laki satu ini. Tapi selama itu tidak mempengaruhi aku dan Suvara, biarlah, tidak mengapa. Setelah panggilan terputus, aku merasa seluruh ruangan menjadi begitu sunyi tanpa Suvara. Ya, memang biasanya juga sepi, karena baik aku maupun akan sibuk dengan renungan dan pemikiran kami masing-masing. Tetapi setidaknya aku masih bisa melihatnya dan semua kejenuhannya pada lembaran-lembaran jurnal jika hipotesanya tidak terpecahkan. Kali ini tidak ada apapun di ruangan kami, setelah aku mematikan tabnya. Hingga tiba-tiba terbersit sesuatu tentang tab yang tergeletak itu. Mungkin Suvara akan membutuhkannya saat terbangun nanti. Aku pun mengambilnya dan berinisiatif mengantarkannya ke ruang rawatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD