Chapter 48

217 Words
Kembali melalui lorong panjang hingga akhirnya sampai di ruang kesehatan, aku masuk dan beberapa perawat melihat ke arahku. Aku dengan tersenyum menghampiri mereka dan meminta ijin untuk mengantar tab milik Suvara. Mereka pun mengijinkan asal aku tidak perlu membangunkan Suvara jika ternyata Suvara masih tertidur. Dengan mengangguk aku meninggalkan mereka. Menyibak tirai ruang rawat Suvara dan melihatnya ternyata masih tertidur. Aku meletakkan tab di meja yang ada di sebelahnya. Lalu berniat kembali keluar. “Aku tidak tahu kenapa dia membela laki-laki itu,” aku mendengar obrolan itu tanpa mengacuhkannya. “Zara sangat mencintainya,” nama suster Zara yang disebut membuatku tertahan di bilik Suvara dan tidak jadi keluar. “Sampai mau berbuat begitu?” “Orangtua Zara sudah sangat setuju jika mereka menikah, mereka sudah pernah bertemu kan?” “Tapi bukan dengan cara seperti itu juga seharusnya.” Ucapan mereka yang sedang membicarakan nona Zara menampakkan dia telah berbuat sesuatu yang sangat salah. Tapi apakah itu? “Sya?” panggil Suvara membuatku terkejut. Telunjukku kuletakkan di depan bibirku, mengharap Suvara untuk tidak berbicara lebih dulu. Dengan isyarat mata, aku meminta Suvara juga memperhatikan pembicaraan di depan itu. “Tapi aku yakin dia tidak sengaja menumpahkan botol virus itu,” aku dan Suvara kemudian saling menatap. “Husst,” seseorang yang lain mengingatkan agar pembicaraan mereka terhenti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD