Pukul 1 siang, Hana ibu Leon sudah datang keapartemen Stella. Tentu saja Stella memberikan alamat apartemenya pada Hana malam harinya.
“pagi mam”
“pagi sayang,” jawab Hana mencium kedua pipi Stella.
“sudah siap sayang?” tanya Hana membuat Stella menganggukan kepalanya dan mengangkat paperbag gaun yang akan ia pakai nanti.
“kalau begitu ayo kita cari makan siang, setelah itu kita nyalon bersama”
“okey mam”
Stella menatap Will dan bodyguard yang lain bergantian,
“kami akan mengikuti Nona dari belakang” ujar Will membuat Stella menganggukan kepalanya paksa.
Tidak ada harapan ia akan lepas dari Will, sedangkan Hana ia tidak bertanya tentang bodyguard yang ia pentingkan ialah Stella akan pergi bersamanya. Siapapun Stella, bagi Hana Stella adalah wanita yang menyenangkan.
Stella dan Hana sampai di restoran dekat kantor Leon, tentu saja Leon yang menyarankan Hana agar ia bisa bertemu dengan Stella.
Pada awalnya Leon sangat tidak ingin ikut serta dalam acara makan malam keluarga besar, Leon sama sekali tidak pernah hadir setiap tahunnya. Alasannya, karena Leon tidak ingin bertemu dengan keluarganya tentu saja.
Tapi tadi pagi, Hana memberi tahunya bahwa Stella diundang keacara makan malam, tanpa berpikir 2 kali Leon langsung mengiyakan untuk hadir diacara makan malam keluarga besar.
Bahkan dari pagi hari Leon sudah merasa berbunga-bunga tidak sabar untuk bertemu dengan Stella.
Stella menatap makanan didepannya sekarang dengan tatapan berbinar, Hana yang melihat itu tersenyum.
“maaf terlambat ma” ujar Leon mengambil kursi disebelah Stella.
“tidak apa, iya kan sayang?” jawab Hana lalu bertanya pada Stella, Stella menganggukan kepalanya.
“hei, lama tidak bertemu”
“hm, Ya” jawab Stella seperti biasanya.
Leon, Hana, dan Stella makan dengan tenang. Sesekali Leon menjawab pertanyaan Hanna. Stella, wanita itu jangan ditanya. Stella tidak akan membuka mulutnya selain ditanya dan untuk makan.
“aku duluan ma, Stell” pamit Leon sambil melihat jam tangannya. Waktu istirahat sudah lewat.
“ya”
“hati-hati sayang, see you malam nanti ya”
“iya ma”
Setelah Leon pergi, Hana dan Stella juga pergi. Mereka menuju salon.
“sayang, kau biasanya memakai merk apa?” tanya Hana sebelum mereka masuk kedalam solan. Stella menatap Hana sambil berpikir.
“aku pakai merk apapun cocok ma”
“kulitmu tidak sensitif?” tanya Hana membuat Stella menggelengkan kepalanya.
“cantik sekali” puji Hana mencium pipi Stella gemas.
“mama lebih cantik”
“bisa saja kau ini” jawab Hana tersipu malu,
Stella dan Hana terus mengobrol selagi perawatan rambut mereka hingga waktunya berdandan. Hana banyak bercerita tentang masa kecil Leon yang nakal dan menggemaskan. Stella menjadi pendengar yang baik.
Tidak terasa 4 jam sudah mereka didalam salon, membuat Stella meregangkan otot-ototnya karena lumayan pegal. Stella jarang sekali kesalon, sesekali bersama ibunya atau bersama kakak iparnya. Selebihnya bisa dihitung dengan jari Stella mengunjungi salon.
“kau cantik sekali sayang” puji Hana ketika Stella sudah mengganti pakaiannya. Dress hitam selutut dengan belahan dipahanya. Benar-benar sexy dan pas pada tubuh Stella.
“terima kasih ma”
“mama tidak sabar ingin kau jadi menantu mama, akan menyenangkan mempunyai menantu sepertimu sayang” ujar Hana membuat Stella tersenyum kaku. Selama ini Stella belum ada pikiran untuk menikah. belum, mungkin nanti dan itu entah kapan.
“sayang sini, kita berfoto” ujar Hana mengambil ponselnya, Stella langsung memposisikan dirinya disebelah Hana.
Ckrek
“hasilnya tidak jauh beda dengan aslinya, benar-benar sempurna” puji Hana membuat Stella tersipu malu.
“ah mama bisa saja, tapi Stella benar-benar cantik. Hihi”
Setelah berfoto, Hana mengirim foto mereka pada Leon. Senyum Hana terbit dan mengajak Stella pergi.
“ayo sayang, kita pulang”
“ayo ma”
Sedangkan dikantor Leon menggerutu kesal karena Hana mengirim foto Stella tapi diberi emot jadi Leon sama sekali tidak bisa melihat wajah Stella dengan jelas. Leon mematikan laptopnya lalu bersiap pulang, bisa gila Leon tidak melihat Stella barang sedetik saja.
$$
Stella tidak kaget dengan kondisi mansion keluarga Leon yang sangat megah, karena rumah ayahnya tidak jauh berbeda dengan mansion Leon.
Stella terkejut ketika melihat Leon sudah duduk manis ditempatnya, ah sudah pulang. Pikir Stella lalu duduk disamping Hana dan Leon.
“hai kita bertemu lagi, kata orang kalau sering bertemu bisa jadi kita jodoh” bisik Leon membuat Stella memutar bola matanya dengan malas.
“hanya kebetulan”
“kebetulan yang membawa jodoh”
“terserah saja” jawab Stella membuat Leon tersenyum didalam hatinya yang paling dalam, Leon berterima kasih pada Hana karena telah membawa Stella kerumah ini. lihatlah betapa cantik wanitanya sekarang. Ingin rasanya Leon mencongkel satu per satu mata sepupunya yang menatap Stella lapar seperti makanan.
Bahkan Lily merasa tersaingi oleh Stella, seharusnya Lily yang menjadi pusat perhatian sekarang. Karena makan malam ini sekaligus pengumuman pertunangannya dengan Luke salah satu sepupu Leon.
“baiklah, sebelum acara dimulai kakek ingin mengumumkan pertunangan Lily dan Luke. Sebentar lagi anggota keluarga kita bertambah, pertunangan mereka akan dilaksanakan bulan depan. Selamat datang ke keluarga Pradipta, Lily”
Lily tersenyum sekarang semua perhatian jatuh padanya dan juga Luke, bukan pada Stella. Baru saja bertemu Stella tapi Lily sudah membenci Stella.
“selamat untuk kalian” ujar Bima ayah Leon lalu kemudian ucapan selamat untuk Lily dan Luke diucapkan oleh semua anggota keluarga termasuk Stella.
“siapa wanita cantik ini?” tanya Pradipta yang menyadari keberadaan Stella.
“calon adik ipar granfa” jawab Bella membuat Stella menutup mulutnya kembali.
“Stella, mantu Hana pa” jawab Hana membuat Stella tersenyum kikuk, sedangkan Leon jangan ditanya betapa senangnya dirinya sekarang. Ibu dan kakaknya mendukungnya.
“hany...” Stella ingin menjawab ‘hanya teman’ namun sudah dipotong oleh Bima.
“Bima, ayah Leon. Jangan canggung panggil papa saja”
Sungguh Stella ingin sekali keluar dari situasi kaku ini, sedangkan Lily benar-benar membenci Stella sekarang. Lagi-lagi Stella merebut perhatian keluarga besar. Bahkan dengan terang-terangan memuji Stella didepannya.
“permisi, saya ingin bicara dengan Nona Stella” ujar Will sopan membuat Will seketika menjadi pusat perhatian. Stella yang menyadari keberadaan Will langsung menghadap Will.
“Ada apa Will?” tanya Stella.
“Tuan Besar ingin berbicara pada Nona” Stella menganggukan kepalanya, lalu menerima ponsel dari Will.
“bolehkan?” tanya Stella takut menyinggung tuan rumah, Hana tersenyum.
“boleh sayang”
Stella tersenyum lalu mengangkat telpon dari ayahnya.
“hai Dad, Stella sedang makan malam sekarang”
“anak kesayangan daddy sedang makan? Seharusnya daddy tidak mengganggu”
Stella langsung mematikan loudspeaker, suara daddy nya terdengar jelas diruangan ini. Stella ingin menenggelamkan dirinya kedasar laut sekarang.
“hm dad, nanti Stella telpon lagi”
“iya sayang, jangan lupa untuk menelpon daddy ya”
“iya dad”
Setelah panggilan putus, Stella memberikan ponsel pada Will. Banyak yang bertanya-tanya siapa Stella sebenarnya? Tapi tidak ada satu pun yang bertanya.
“Stel, apa pekerjaanmu?” tanya Bella membuat Stella melihat kearah Bella
“dj” jawab Stella santai, dan lagi-lagi banyak yang penasaran siapa Stella sebenarnya? Kenapa pekerjaannya DJ?
“baiklah, kakek rasa sudah cukup. Mari kita makan sekarang” ujar Pradipta menengahi.