Bab 6

1099 Words
Pukul 10 pagi, Stella sudah bangun dari tidurnya dan sekarang Stella sedang memakan cemilan untuk mengganjal perutnya yang keroncongan. Sedangkan Alex, pria itu sama sekali tidak bisa dipercaya. Alex masih tidur meringkuk dilantai, Stella yang baik hati dan suka menabung sama sekali tidak berniat untuk memberikan Alex selimut. “uummm, lapar” ujar Alex dengan suara parau, dengan rasa kantuk yang masih ada Alex bersandar dipundak Stella. Stella membiarkan Alex bersandar pada dirinya dan terus memakan cemilan,  “yoss, aku akan memasak” ujar Alex berdiri, namun detik kemudian duduk kembali. “akukan tidak bisa memasak” ujarnya lagi dengan lemah. “baiklah, telah aku putuskan. Aku yang akan memasak” ujar Stella hendak berdiri namun ditahan oleh Alex. “kita gofood saja, aku masih mau hidup dan tidak ingin memadamkan api kebakaran karena kau memasak” ujar Alex membuat Stella menganggukan kepalanya.  Alex jadi mengingat kenangan 2 tahun silam, dimana mereka hampir mati karena kebakaran yang disebabkan oleh Stella karena percobaan memasak Stella.  “kita makan dibawah saja” ujar Stella pelan lalu bangkit dari duduknya. “okey” Setelah bersiap, Alex dan Stella turun kebawa tentu saja diikuti oleh Will dari belakang.  “silahkan duduk Nona, saya dan yang lainnya akan sarapan dimeja yang berbeda” “terima kasih Will” Sekitar 20 menit duduk menunggu akhirnya pesanan mereka tiba, Stella maupun Alex langsung menyantap sarapan mereka.  Byurrr.... Seseorang menyiram wajah Stella dengan jus jeruk, Stella terdiam sesaat lalu membersihkan wajahnya dengan tisu. “Dasar wanita j@l4ng! Berani sekali kau berhubungan gelap dengan kekasihku!” ujar wanita itu meluapkan kemarahannya pada Stella. Stella menggenggam sendoknya erat lalu mengambil kopi panas milik Alex dan membalas wanita yang tadi menyiramnya dengan jus. “Ah Panas! J4l@ng sialan!” ujar wanita itu mengumpat dan hendak menampar wajah Stella dengan gerakan cepat Stella menampar wanita itu sebelum dia menampar wajah Stella.  “jauhkan tangan kotormu!” Stella menatap wanita itu dengan tajam. Stella tidak ada urusan dengan wanita itu tapi dia berhasil merusak sarapan Stella. “Gara-gara kau, aku dan kekasihku putus. Kau melakukan pelet apa hah! Sehingga kekasihku berpaling dariku! Dasar wanita sialan!” amuk wanita itu mengacaukan meja makan Stella. Alex? Pria itu tidak membantu sama sekali, bahkan ia tetap melanjutkan sarapannya tanpa terganggu sama sekali. “karena aku cantik tentu saja” jawab Stella setengah malas, “percaya diri sekali! Kau pasti mengg0da kekasihku kan?!” “berkacalah sebelum kau berkata, kekasihmu saja aku tidak tahu yang mana. Bagaimana bisa aku mengg0danya!” “tidak mungkin, kalian pasti bertemu diam-diam dibelakangku dan melakukan hubungan gelap!” Stella diam lalu mengambil sarapan Alex yang masih tersisa, Alex membiarkannya. Stella tidak ada waktu untuk berdebat. Mau sekeras apapun Stella membala diri tetap saja ia yang salah.  Will dan bodyguard yang lainnya menyeret wanita yang baru saja mengacau. “dasar w*************a. KALIAN! BERHATI-HATILAH PADA WANITA ULAR ITU JIKA TIDAK MAU KEKASIH KALIAN DIGODA OLEHNYA!” “LEPASKAN AKU! AKAN AKU TUNTUT KALIAN SEMUA!” “DIAM! Kau akan kami tuntut balik karena mengganggu Nona kami sarapan dan menyebarkan berita palsu!” ujar Will mulai geram pada wanita itu, Will bahkan menyeret wanita itu dengan kasar.  “kau masih populer seperti biasa” puji Alex membuat Stella memutar bola matanya dengan malas.  “kau masih pecundang seperti biasanya” ejek Stella membuat Alex tidak terima.  “Ei, itu tidak adil. Aku hanya tidak mau terlibat dengan wanita yang berkelahi. Merepotkan” “terserah saja pecundang”   $$ Stella sedang berenang sekarang, sendirian. Alex, pria itu sudah pulang. Alex masih memiliki jadwal pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Alex adalah seorang model yang terkenal, siapa yang tidak mengenal Alex, kaum hawa bahkan mencoba bersaing untuk menaklukan Alex.  Stella pandai berenang, dan 1 kelemahannya Stella cepat keram didalam air. Tidak terasa sudah 1 jam Stella berenang. Dengan segera Stella beranjak dari kolam berenang.  Setelah mengganti pakaian, Stella mengeringkan rambutnya. Hari jumat yang melelahkan padahal Stella tidak melakukan apapun selain tidur, makan dan berenang.  $$ Wanita yang datang untuk mencoba menyerang Stella tadi, sekarang sedang berada dikantor polisi. Dia juga mencoba menuntut Stella namun dituntut balik oleh pihak hukum Stella. Tentu saja Will yang melakukannya.  Wanita itu mati kutu tidak bisa berbuat apapun, dan akhirnya wanita itu membatalkan tuntutannya namun Will tetap pada pendiriannya tanpa menarik tuntutan baliknya. Tidak ada yang boleh menyakiti Nonanya barang sejengkal saja. Itu sudah menjadi aturan lama. Siapapun yang mencoba menyakiti Nonanya akan hilang dari muka bumi. “kau urus ini, aku akan pergi ke Nona Stella” ujar Will pada pengacara keluarga yang ia hubungi. “baik Tuan” $$ Leon meeting dengan rekan kerjanya yang bernama Bryan, rekan kerja sekaligus temannya. Jadi setelah meeting mereka mengobrol diruangan Leon.  “kau kelihatan lelah Bry, tidak seperti biasanya. Apa karena efek istrimu baru melahirkan? Kau jadi sibuk mengurus bayi mungilmu” tanya Leon yang memperhatikan Bryan yang memang tampak lelah. “itu sudah kewajibanku Le, aku tidak wajib mengeluh karena itu” jawab Bryan memijit pelipisnya. “lalu? Jangan-jangan kau mempunyai simpanan yang merepotkan” tebak Leon asal yang membuatnya langsung mendapat pelototan tajam dari Bryan. “Sialan! Mana mungkin aku menghianati istriku dengan simpanan. Bodoh!” “Emosian sekali kau ini, lalu kenapa? Pekerjaan?” “adikku, benar-benar membuat daddy dan aku stress akhir-akhir ini” jawab Bryan melepaskan kacamatanya sambil memijit pelipisnya. Adik? Benar, Bryan memang sering bercerita tentang adiknya namun Leon tidak pernah sekalipun bertemu dengannya. Entah kenapa, ketika Leon mampir kerumah Bryan adiknya tidak pernah ada dirumah.  “memangnya ada apa dengan adikmu?” “banyak sekali yang mengincar nyawanya, beberapa lalu dia hampir dicelakai oleh pria yang terobsesi dengannya. Sebulan yang lalu dia dirawat dan koma selama seminggu” “dan dia sama sekali tidak mau pulang kerumah dengan alasan ingin mandiri, betapa konyolnya adikku itu Le. Walaupun sekarang dia sudah diawasi oleh banyak penjaga tetap saja aku dan daddy tidak berhenti was-was dan selalu cemas dengan keselamatannya” Leon menatap horor Bryan, “jangan menatapku seperti itu! Aku sudah memiliki wanita yang akan jadi pendampingku” “ah, padahal aku ingin mengenalkan adikku padamu Le” “sudah ku duga dengan tatapan menjijikan itu!” gerutu Leon menatap Bryan kesal. Pasalnya dari dulu Bryan selalu mencari cela untuk menjodoh-jodohkan Leon dengan adiknya. Untung saja Leon tidak pernah sekalipun bertemu dengan adik Bryan. Pernah, Bryan mengatur kencan buta untuk kami, namun aku sudah mengetahui itu dan tidak datang. Entah dengan adik Bryan, mungkin dia datang. “baiklah, aku akan berhenti menjodohkan adiiku denganmu. Jadi, siapa wanita malang itu?” “Mulut kotormu itu! Nanti akan kukenalkan.” “baiklah, aku tunggu” “hm”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD