Keputusan

1516 Words
Beberapa hari kemudian, Evans pun datang dengan membawa kedua orang tuanya yang baru saja datang dari luar negeri. Hal yang ia sayangkan adalah ia tidak bisa menemukan gadis yang bernama Sharen itu untuk menjadi saksi. Seberapa keras ia mencari, mengerahkan semua pengawal di rumahnya, keberadaan gadis itu bagai tak terlihat. Ia seperti ditelan bumi. Ia menyesal kenapa malam itu tidak menyuruh pengawal menangkap gadis itu saja. Diketahui nama ayah Evans adalah Ellard, keturunan Australia, dan Ibunya bernama Vania, asli Indonesia. Setelah ia dan kedua orang tuanya dipersilahkan masuk, mereka pun berkumpul di ruang tamu rumah itu. Tak berselang lama, Marisa pun datang dengan mata yang terlihat membengkak. Itu pertanda bahwa selama beberapa hari ini ia tak henti-hentinya menangis. Itu menyisakan luka mendalam bagi Evans. Wanita yang selalu ia puja, menangis selama itu karena dirinya. "Kedatangan kami ke sini, untuk mendamaikan kedua anak kita," ucap Ellard membuka pembicaraan. "Benar, kami juga ingin meminta maaf atas apa yang telah dilakukan anak kami, Evans. Tapi saya yakin, Evans tidak pernah melakukan hal sehina itu. Saya sudah berpuluh kali melihat tindakan-tindakan Evans yang mencerminkan betapa dia mencintai Marisa," sambung Vania. "Baiklah, apa Evans bisa membuktikan bahwa dia tidak selingkuh?" tanya Marko sambil menatap tajam pada Evans. "Sebenarnya saya dan anak buah saya sudah melakukan pencarian terhadap gadis itu, tetapi dia menghilang," sahut Evans. "Ya, pasti kau yang telah menghilangkannya," sahut Marisa sambil menatap sinis. "Marisa, tenanglah dulu, Nak, jangan terbawah emosi. Kami tahu kau kecewa pada Evans, tapi bisa saja kan foto dan pernyataan gadis itu hanyalah rekayasa. Sekarang zaman modern, apa-apa bisa diedit, termasuk foto tersebut." Vania mencoba memberi pengertian pada Marisa. "Maaf, Bu, tapi aku sudah ke hotel dan melihat sendiri rekaman CCTV saat mereka masuk bersama ke dalam kamar. Kurang bukti apalagi? Apa sekarang kalian juga ingin mengatakan bahwa rekaman CCTV hotel itu hasil editan?" Merisa menatap Vania dengan tatapan emosional. Siapa juga yang tidak marah, anak sudah salah, tetapi masih dibela, begitu pikir Marisa. "Intinya Evans tidak bisa membuktikan fitnahan tersebut. Karenanya, semua keputusan ada pada Marisa," ucap Marko tegas. Dari sorot matanya menggambarkan kekecewaan yang amat mendalam melihat anak kesayangannya disakiti seperti itu. "Sebentar, Tuan Marko, jangan gegabah dulu. Kami sangat menyayangi Marisa. Dia sudah seperti anak kandung kami sendiri. Evans sangat mencintainya, tolong, jangan pisahkan mereka," pinta Vania dengan mata berkaca-kaca. "Tidak, keputusan sudah jelas, sebaiknya mereka,,,," "Sebentar, anak buahku menelepon." Evans memotong ucapan Marko dan langsung mengangkat ponselnya. "Halo." Dengan wajah tegang dan penuh harap. "Benarkah? Kalau begitu, bawa dia kemari secepatnya." Ekspresi wajah senang. Menandakan ada berita baik untuknya. Setelah panggilan terputus, Evans menatap mereka semua dengan senyuman. "Anak buahku sudah menemukan wanita itu. Dia akan ke sini dan bersaksi." Kedua orang tuanya sangat senang mendengarnya. Namun tidak bagi orang tua Marisa yang menduga-duga pasti gadis itu sudah dibayar untuk menutup mulutnya. Sepuluh menit kemudian, Sharen pun datang bersama beberapa anak buah Evans. Ia segera di dudukkan di sana, dan disuruh menceritakan yang sebenarnya. Dilihat dari keadaannya yang sangat berantakan, diduga Sharen habis dikejar-kejar oleh para pengawal Evans. "Nona, sekarang katakan, kita tidak saling mengenal, kan?" tanya Evans sambil menatap penuh harap. Sharen masih diam saja. Wajahnya terlihat berkeringat karena tadinya ia sempat berlari menghindari kejaran para anak buah Evans. "Nona, katakan yang sebenarnya, aku tidak akan menyakiti mu. Siapa yang menyuruhmu?" tanya Evans yang kini mulai kesal karena Sharen terus diam dan menunduk. "Katakan pada kami semua, seperti apa kebenarannya?" tanya Marisa yang juga tidak sabaran dengan jawaban Sharen. "Kau tidak punya hubungan dengan Evans, kan?" Kali ini Marisa menatap dengan mata berkaca-kaca. Kali ini ia menunjukkan betapa ia juga masih mencintai Evans. "Kami akan melindungimu jika kau memang disuruh seseorang untuk menjebak suamiku di dalam hotel," ucap Marisa lagi. Sharen mulai mengangkat kepalanya. Ia menatap mereka semua dengan raut wajah penuh ketakutan. "Sebenarnya saya,,,saya memang disuruh," ucap Sharen dengan perlahan. "Siapa yang menyuruhmu?" tanya Marisa tidak sabaran. "Evans, dia yang menyuruh saya untuk mengatakan bahwa kami tidak ada hubungan apapun. Namun nyatanya, saya dan dia sudah menjalin hubungan khusus selama beberapa bulan ini." Sharen menatap Evans dengan mata berkaca-kaca. "Kemarin dia mengakhiri hubungan kami setelah saya tahu kalau dia telah menikah, makanya saya datang dan mengatakan semuanya pada Nona Marisa. Saya tidak ingin Nona Marisa dikhianati lagi dan tinggal begitu saja seperti saya." Seketika semua orang terkejut mendengar pernyataan Sharen. Marisa pun langsung menangis tersedu-sedu dipelukan ibunya. "Jadi benar kalau kau adalah selingkuhan Evans?" tanya Marko sambil mengepalkan tangannya. Sharen mengangguk dan menangis. "Dasar laki-laki kurang ajar!" Marko berdiri, lalu menarik kerah kemeja Evans dan mendaratkan sebuah pukulan di wajah Evans sampai Evans jatuh ke lantai dengan mulut yang berdarah. "Evans!" Vania memekik dan langsung menolong Evans berdiri. "Pergi kalian dari rumah ini! Saya tidak sudi menerima menantu sebejat dirinya!" Marko menunjuk ke arah pintu dengan wajah merah padam karena amarah yang memuncak. Salsa berusaha menenangkan Marko, namun pria separuh baya itu tak menghiraukannya. Ia lebih memilih mengusir menantunya keluar daripada melihat putri kesayangannya hancur. Evans masih tidak tinggal diam. Dia berusaha menggapai Marisa, berharap wanita itu masih mau mengulurkan tangannya. Namun, Marisa yang merasa sangat kecewa enggan untuk melihatnya. Marko yang lihat tindakan Evans langsung menahan tubuhnya dan mendorongnya hingga terjatuh ke lantai. Tentu saja perlakuan Marko membuat orang tua Evans merasa marah. "Tuan, cukup! Jangan perlakukan anak kami seperti ini! Saya saja tidak pernah memukulnya seperti ini!" Ellard sudah kehabisan emosi langsung mendatangi Marko dan menarik kerah bajunya. "Cukup, Sayang, jangan seperti ini! Yang kau lakukan ini hanya akan membuat Evans semakin dibenci!" Vania berusaha untuk meredam emosi suaminya. "Cobalah punya anak perempuan. Maka kau akan merasakan bagaimana sakitnya melihat anak perempuanmu disakiti!" Ellard melepaskan cengkraman tangannya pada kerah baju Marko. "Ya, saya mengerti. Maafkan saya. Tapi perlu saya beritahu, saya yakin anak saya tidak akan selingkuh karena dia sangat mencintai anakmu. Sudah beberapa kali Evans mengabaikan kami demi anakmu. Bahkan, saat baru tiba di luar negeri, dia pernah kembali ke Indonesia karena belum mengucapkan salam perpisahan. Dia bahkan pernah membatalkan keberangkatannya menuju ke rumah kami hanya karena anakmu meminta untuk ditemani. Dan kalau kau punya anak laki-laki, pasti kau akan merasakan bagaimana sakitnya melihat anak laki-lakimu diperlakukan seperti seorang pecundang." Setelah mengatakan hal itu, Ellard langsung mengajak Evans dan Vania keluar dari rumah itu. Berkali-kali Evans menoleh ke belakang berharap Marisa akan melihatnya. Namun nyatanya, sedikitpun Marisa tidak menoleh ke arahnya. Ia terus memalingkan wajahnya. Sharen masih duduk di sofa ruangan itu. Ia terlihat sangat takut karena baru melihat pertengkaran dua keluarga, bahkan berujung perkelahian. Ia menatap Marisa yang masih ditenangkan oleh ibunya. "Maafkan saya, sebelumnya saya tidak tahu kalau Evans sudah menikah. Dia mengaku belum menikah. Namun, setelah ketahuan, dia malah memutuskan hubungan dengan saya. Saya hanya ingin melindungi Nona Marisa dari orang seperti Evans." "Sudahlah, meskipun rumah tanggaku hancur , setidaknya aku tidak akan dibohongi lagi," ucap Marisa. Dengan langkah gontai, ia pun pergi ke kamarnya. "Sopir akan mengantarkan mu sampai ke rumah. Setelah ini, tolong jangan muncul lagi dihadapan anak kami," ucap Salsa. Marko yang masih kesal pada Marisa memilih pergi ke kamarnya. Setelah Sharen diantar pulang, Salsa yang hendak ke kamarnya dihampiri oleh adik Marisa yang bernama Melisa. Gadis berusia dua puluh tiga tahun, hanya berjarak dua tahun dari Marisa. "Bu, ada apa, ini?" tanyanya yang baru saja pulang dari bekerja. "Tadi keluarga Evans datang meminta maaf, tapi wanita simpanan Evans mengatakan siapa Evans sebenarnya. Ayah marah dan Marisa tidak mau kembali dengan Evans." "Jadi Kak Marisa akan bercerai dari Kak Evans?" tanya Melisa dengan ekspresi terkejutnya. "Sepertinya begitu, sudah tidak ada lagi jalan damai. Ayahmu juga sangat murka pada mereka tadi. Kau tahu sendiri kan kalau Kak Marisa terluka, maka dia juga akan terluka." "Ya, Bu, aku juga tahu kok Ayah hanya peduli dengan Kak Marisa, sedangkan padaku tidak. Apa karena aku tidak sepintar dan secantik Kak Marisa, ya?" tanya Melisa sambil tersenyum kecut. "Jangan begitu, Sayang, kau tahu sendiri kan kalau Kak Marisa itu anak dari istri pertama Ayah yang meninggal setelah melahirkan dirinya?" Salsa mencoba memberi pengertian pada Melisa. "Ya, tapi tidak perlu kan ayah menganggap ku tidak ada di sini. Itu sangat menyakitkan, Bu. Ayah bisa bersikap baik pada Kak Marisa, tapi denganku, dia hanya menganggap ku angin lewat, hahaha." "Melisa, sudahlah, semua orang di rumah ini sedang pusing karena masalah Kak Marisa. Tolong jangan tambah lagi dengan aksi protesmu ini. Jangan membuat ayah semakin marah." "Ya, Bu, pergilah dan hibur Kak Marisa, aku juga tidak perlu dihibur atau diberi ucapan selamat karena aku naik jabatan jadi direktur di perusahaan tempat ku bekerja. Setidaknya aku bisa membuktikan pada Ayah bahwa tanpa bekerja di perusahaannya pun aku bisa menjadi direktur." Setelah mengatakan hal itu, Melisa langsung pergi ke kamarnya. Salsa yang terus memanggil- manggilnya pun tidak dihiraukan sama sekali. Ia berjalan ke dalam kamarnya dengan air mata yang terus menetes. Dialah Melisa, anak dari pernikahan kedua Marko dengan Salsa. Namun Marko yang sangat menginginkan anak laki-laki dari Salsa hanya menganggap bahwa Melisa adalah beban. Tidak ada kasih sayang, yang ada hanya perlakuan buruk dan terus membanding-bandingkan Melisa dengan Marisa. Dan karena itulah, Melisa memilih bekerja di perusahaan orang lain agar dapat membuktikan pada ayahnya bahwa ia adalah anak yang berguna
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD