Alasan

1010 Words
Sharen yang baru saja sampai di rumahnya langsung menutup pintu dan setelah memastikan bahwa sopir yang mengantarnya sudah pergi. Wajahnya terlihat sangat sedih, ia sudah tidak mampu lagi menahan air matanya hingga pada akhirnya ia menumpahkannya saat ini juga. Menangis tersedu-sedu sambil duduk di sudut ruangan beralaskan lantai yang terbuat dari semen kasar. "Ya Tuhan, ampuni aku karena telah melakukan dosa besar. Aku terus saja menghancurkan rumah tangga orang lain. Jika aku boleh memilih, lebih baik aku saja yang menggantikan posisi adikku saat ini daripada aku harus mengorbankan kebahagiaan orang lain demi menyelamatkan adikku." Dunianya serasa runtuh. Hidup di bawah ranah kemiskinan, adik yang sedang berjuang di rumah sakit, hingga paksa menerima pekerjaan kotor ini agar dapat membiayai operasi adiknya. Ia masih ingat saat beberapa bulan yang lalu, seorang wanita menemuinya dan kerjasama dengan imbalan biaya operasi dan rawat inap adiknya akan ditanggung oleh wanita itu jika ia mau melakukan pekerjaan kotor itu. Dengan terpaksa Sharen menyetujuinya dan melakukan pekerjaannya malam ini dengan sempurna. Dering ponsel tipe zaman dulu pun terdengar. Sharen segera merogoh tasnya dan lihat siapa si pemanggil. Ternyata yang memanggilnya adalah orang yang bekerja sama dengannya. Ia langsung mengusap air matanya, lalu mengangkat telepon tersebut. "Halo." "Pekerjaanmu sangat bagus. Aku senang semuanya sudah berakhir." "Ya, Nona, saya juga senang tugas saya sudah selesai. Lalu, kapan anda akan membiayai operasi adik saya?" "Aku tidak akan mengirimkan uang itu sebelum palu hakim diketuk. Setelah perceraian itu terjadi, maka aku akan langsung menepati janjiku." "Tapi, saya kan sudah melakukan apa yang Anda suruh. Kenapa saya harus menunggu perceraian terjadi? Adik saja benar-benar membutuhkan biaya saat ini." Sharen seperti tidak terima karena orang yang menyuruhnya seperti ingkar janji. Ia menyesal karena tidak menulis perjanjian hitam di atas putih. "Kau tentu sudah tahu bagaimana permainan orang seperti ku. Tidak ada uang sampai perceraian itu terjadi." Sharen hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menunggu waktunya tiba. Orang yang menyuruhnya cukup cerdik, sepertinya sudah berpengalaman soal ini. Setelah telepon mati, Sharen pun langsung bangku dan pergi ke kamarnya. Malam yang cukup melelahkan baginya karena baru saja mengacaukan pernikahan orang lain. Ia pun duduk di atas ranjang yang biasa ditiduri oleh dirinya dan adiknya, Bella. Gadis kecil berusia sepuluh tahun yang baru saja alami kecelakaan karena menjadi korban tabrak lari. Satu siang yang panas, saat bel sekolah dasar berbunyi, semua murid berhamburan keluar gerbang. Tak terkecuali Bella yang saat itu sudah duduk di kelas empat sekolah dasar. Dia berlari keluar dan menemui Sharen yang tengah menjemputnya sepulang bekerja di toko laundry. Mereka pun pulang dengan berjalan kaki karena ingin menghemat ongkos agar tempat mengumpulkan uang untuk membeli kue ulang tahun Bella yang akan berulang tahun seminggu lagi. Namun, saat mereka sedang berjalan, tiba-tiba saja, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi dari arah depan mendatangi mereka dan berhasil menabrak Bella hingga terpental ke jalan dengan luka serius di kepalanya. Sedangkan Sharen hanya mengalami luka memar saja karena tangannya terbentur spion mobil itu. Melihat Bella yang terkapar di tengah jalan, ia langsung berteriak histeris dan meminta pertolongan pada orang-orang yang lalu lalang di sana. Sangat sulit untuk meminta bantuan di zaman yang sudah canggih ini. Kebanyakan dari mereka memilih untuk diam saja dan mengabadikan foto Bella yang sedang terkapar bersimbah darah. Sharen meraung-raung hingga akhirnya, seorang sopir angkot menolongnya karena merasa kasihan melihat dirinya berteriak tanpa ada yang menolong alasan takut dijadikan sebagai saksi oleh pihak kepolisian. Setelah dibawa ke rumah sakit, Bella langsung ditangani. Namun, karena luka yang cukup parah di kepalanya, Bella pun koma. Dokter tidak bisa berbuat apa-apa dan menyarankan penyembuhan di rumah sakit luar negeri. Akhirnya tidak ada pilihan lain. Sharen menjual semua harta yang dirinya punya. Namun hanya cukup untuk biaya rawat saja. Hingga akhirnya, ia yang putus asa berdiri di atas jembatan penyeberangan sambil menatap jalanan yang padat kendaraan. Dan wanita yang menyuruhnya melakukan pekerjaan kotor ini mengira bahwa dirinya hendak bunuh diri sehingga menariknya dan berusaha untuk menenangkannya. Setelah Sharen menceritakan semuanya, wanita itu pun mengerti dan menawarkan kerjasama pada Sharen. Ia akan membantu membiayai pengobatan Bella ke luar negeri jika Sharen mau bekerja sama dengannya. Sharen menghapus air matanya yang berjatuhan setelah mengingat kenangan pahit itu. Seandainya waktu bisa diputar ulang, pasti dirinya tidak akan mengajak Bella untuk jalan kaki. Hal yang paling ia sesali adalah tidak bisa memberikan kebahagiaan pada adik satu-satunya itu setelah kedua orang tua mereka meninggal karena kecelakaan saat dirinya baru saja menyelesaikan sekolah SMA-nya. Itulah awal mula kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat. Membanting tulang dengan bekerja kasar agar dapat memenuhi kebutuhannya dan adiknya. "Kakak berjanji. Kau akan mendapatkan pengobatanmu dan kita akan berkumpul bersama lagi." Tersenyum meskipun saat ini hatinya terasa perih. Membiayai adiknya dengan uang yang didapat dari pekerjaan kotor. Sharen memilih untuk pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Besok ia harus pergi ke toko laundry untuk bekerja demi menyambung hidupnya. *** Evans yang baru sampai di rumah memilih untuk langsung pergi ke kamarnya. Ia tidak mampu lagi membendung rasa sedihnya saat ini. Pernikahannya dengan Marisa sudah hancur karena ia tidak dapat membuktikan bahwa wanita itu bukanlah selingkuhannya. Ia meraih ponselnya dan mencoba untuk mengirimkan pesan kepada Marisa. "Aku sangat mencintaimu. Percayalah padaku bahwa aku tidak pernah menghianatimu. Apakah selama ini rasa cintaku tidak cukup membuatmu yakin? Apakah kedatangan orang asing yang baru kita temui beberapa hari yang lalu membuatmu melenyapkan rasa percayamu padaku? Percayalah, Marisa, aku tidak pernah mengkhianatimu." Setelah Evans mengirimkan pesan itu, terlihat beberapa detik kemudian ada centang dua, kemudian diikuti oleh warna yang dari abu menjadi biru. Pertanda bahwa pesan dari Evans sudah dibaca oleh Marisa. Namun, Evans mengerutkan dahinya saat melihat foto profil Marisa sudah tidak ada lagi. Dia berusaha untuk mengirimkan pesan lagi, namun hanya centang satu. Itu artinya, saat ini Evans sudah memblokir nomor Evans. Lagi-lagi Evans menangis saat mengetahui jika Marisa memang sudah tidak berniat bersamanya lagi. Ia merasa bahwa semua harapannya sia-sia. Ia takkan mampu meraih Marisa lagi. Namun, tangisannya pun langsung terhenti saat ia mengingat gadis yang bernama Sharen. Ia mengepal erat tangannya sambil menatap tajam ke sembarang arah. "Aku berjanji akan membalas semuanya, wanita tidak tahu diri!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD