Jam menunjukkan pukul 9 malam. Luna menunggu Daffa di ruang tamu sambil membaca novel favoritnya. Sesekali dia melirik ke arah pintu tapi tidak ada tanda Daffa akan pulang. Makan malam pun sudah dia siapkan.
" Apa dia tidak pulang? Siapa harus aku hubungi? Huffff aku juga tidak punya nomornya" Kemudian bangkit menuju meja makan.
" Makanannya sudah mulai dingin" Aku harus memanaskannya"
20 menit berlalu. Daffa pun kembali bersama sekretaris Fablo.Luna berjalan menyambut Daffa. Di raihnya tas kerja Daffa. Daffa hanya meliriknya sekilas.
" Kak aku sudah memasak makan malam. Mandilah kemudian kita makan bersama" Tanpa memedulikan perkataan Luna daffa menuju ke arah tangga.
" Sudah kukatan jangan terlalu berharap. Aku tidak akan pernah menyentuh apapun yang kamu buat. Ingat itu. Letakkan tas kerjaku di ruang kerja" Ucapnya dengan tatapan dingin kemudian berlalu menuju kamar.
Luna tersentak kaget. Dengan menahan airmata dia menatap kepergian Daffa. Sekretaris Fablo yang melihat kejadian itu pun merasa kasihan dengan Luna . " Semoga anda tidak menyesal Tuan" batin Fablo.
" Mmmm maaf Kak, apa aku boleh tau siapa nama mu?" Tanya Luna membuyarkan lamunan Fablo
" Maaf Nyonya perkenalkan nama saya Fabio Lucio Oskar anda bisa memanggil saya dengan nama Fablo. Saya sekretaris pribadi Tuan Daffa"
" Senang berkenalan dengan mu kak. Tapi jangan memanggil ku Nyonya. Aku merasa tidak pantas"
" Maaf Nyonya tapi saya tidak bisa"
" Terserah mu. Oh iya apa aku boleh menanyakan sesuatu?"
" Silahkan Nyonya"
" Apa kak Daffa sudah makan malam? "
" Maaf Nyonya, Tuan Daffa sudah makan malam"
"Hufff. Padahal aku sudah menyiapkannya" Luna pun kexewa. Dia memasang wajah cemberutnya yang terlihat sangat lucu bagi Fablo. ' Bagaimana Tuan bisa menolak Nyonya muda. Dia terlihat lucu dan menggemaskan' batin Fablo. Tanpa sadar Fablo menatap Luna kagum akan kecantikannya. Kemudian dia menunduk kembali setelah sadar akan kelancangannya
" Kak aku sudah memasak, tidak mungkin bisa aku habiskan. Aku akan bungkuskan makanan ini untuk mu. Tidak apa-apa kan?
" mm bagaimana ya Nyonya . Apa tidak jadi masalah?" tanya Fablo ragu
" Tidak apa-apa kak toh juga Kak Daffa sudah makan malam. Jadi kasian mubazir"
" Baiklah , jika tidak keberatan"
" Tunggu sebentar ya kak aku siapkan"
Kemudian Luna bergegas menuju ruang makan. Kejadian tersebut tidak luput dari perhatian Daffa. Ternyata sedari tadi dia memperhatikan interaksi Luna dan Fablo. Ada perasaan tidak rela jika Luna berdekatan dengan pria lain. ' Rasa ini?' Batin Daffa. Kemudian dia menepis kembali perasaan yang dia sendiri belum mengerti.
" Kak ini. Terima kasih sudah membantuku menghabiskannya"
"Saya yang harus nya berterima kasih Nyonya. Terima kasih atas masakannya. Kalo begitu saya pamit"
" hati-hati di jalan"
Luna kembali membersihkan dapur. Setelahnya dia menuju ke kamar. Dia tidak berani menatap ke lantai atas. Karena dia tau bahwa Daffa memperhatikannya sedari tadi. Hal itu dia sadari ketika menyiapkan makanan untuk Fablo. Rasa gugup menyelimutinya tapi dia berusaha senormal mungkin.
Daffa menaikkan sudut bibirnya, kemudian masuk ke kamarnya.
Di kamar atas Daffa merendamkan diri di buth tub. Memejamkan mata
" Sialan wanita itu. Apa dia tidak bisa membaca point dalam perjanjian, dasar murahan. Sekali murahan akan tetap murahan. hhhhh kenapa aku harus memikirkannya. Lebih baik aku menghubungi Sarah"
Daffa pun berdiri dan menuju shower untuk membersihkan badan. berpakaian dan menelpon sang pujaan hati.
tuut tuut tuut panggilan pun tersambung
" Halo beibbbb aku kangen banget sama kamu. maaf aku belum bisa menghubungi kamu" ucap Sarah diseberang telepon.
" no problem beib. apa kamu menikmatinya?"
" Sangat menikmatinya. Aww,,,,,
" kenapa beib ? apa terjadi sesuatu?
"Ahh i,i, ni tidak beib, aw, sa,,,,
" beib kamu sedang dengan siapa?"
" Oh ini ,, aku sedang bersama Angel dia membantu ku memasang anting. Maaf ya beib membuat mu khawatir
" Syukurlah. aku sangat merindukanmu
" Aku juga sangat merindukan mu beib. Oh iya aku tadi melihat tas dan perhiasan bagus tapi uang ku tidak cukup apa...
" Aku akan mentransfer nya untuk mu"
" Aahhh thank you. you're my best. really love you . muacchhhhhh. aku tunggu ya hari ini beib"
"Love you too"
panggilan pun dimatikan dan Daffa mentransfer sejumlah uang ke Sarah dengan nominal yang fantastis.
" Nominal ini tidak seberapa atas penghianatan yang telah aku lakukan. Maafkan aku Sarah. aku akan menyusul mu dan menceritakan semua. Ku harap kamu mengerti".
Hari-hari berikutnya telah berlalu. Luna sudah kembali dengan aktifitasnya bekerja di Villa pukul 9 pagi dan pulang kerja pukul 5 sore. 8 jam selama bekerja dan pulang dari kerja dia harus berangkat ke kampus.
Dia mengikuti perkuliahan malam sehingga dia bisa membagi waktu dalam bekerja maupun menuntut ilmu. Hal ini dimanfaatkan oleh Luna untuk menghabiskan waktu dan jarang bertemu dengan Daffa. Meskipun berangkat pagi pulang malam, Luna tetap menyiapkan sarapan pagi untuk Daffa, tapi tetap saja makanan tersebut ditolak oleh Daffa. Perkuliahan yang di ambil setiap hari senin- kamis, jumat pulang kerja dia biasa ngegym dekat tempat kost nya dulu karena dia sudah memiliki member.di sana. Itulah yang membuat tubuh Luna terlihat indah dan proposional. Dengan tinggi 160cm, rambut hitam panjang, kulit putih, mata bulat hidung kecil tapi mancung, membuat siapapun akan terpukau dengan kecantikannya. Luna memiliki kecantikan alami, senyum yang dia perlihatkan menjadi daya tariknya. Banyak lelaki yang menaruh perhatian terhadap Luna, Tak ayal banyak juga yang menyatakan cinta padanya tapi selalu dia tolak dengan alasan masih fokus kuliah. Ya Luna memang senang menghabiskan waktunya dengan bekerja dan belajar. Biasanya setiap hari sabtu pulang bekerja dia akan pergi dengan teman-temannya hanya unyuk menghabiskan malam minggu. Jalan-jalan, nonton atau hanya sekedar nongkrong, atau biasanya Luna akan mengunjungi panti asuhan tempat dia kecil dulu untuk menghabiskan malam dan mengajar anak-anak di sana. Sedangkan hari minggu biasa Luna gunakan untuk istirahat full. Seperti itulah kegiatan Luna sebelum menikah dan mungkin akan tetap dia lakukan setelah menikah. Karena mengingat pernikahan ini sudah tidak bisa di harapkan. Sekeras apapun Luna ingin mempertahankan pernikahannya dan melaksanakan kewajibannya tapi tetap tidak dipandamg oleh Daffa. Karena bagi Daffa Luna adalah awal kehancuran hidupnya. Pernikahan yang seharus nya dilakukan oleh Daffa dan Sarah tapi pihak keluarga malah mendukung perjodohan dan wasiat nenek Laras. Itulah yang membuat Daffa sangat membeci Luna. Tapi tidak dengan Luna, dalam lubuk hatinya yang terdalam dia sudah jatuh cinta kepada Daffa tapi di pendam perasaan itu karena baginya itu salah dan Daffa sudah memiliki seseorang yang spesial di hatinya. Pemilik tahta tertinggi di hati Daffa yaitu Sarah.