Daffa sedang sibuk memeriksa satu demi satu laporan via email. Sesekali dia melihat notifikasi di layar HP. Dia pun tersenyum dan terlihat menghubungi seseorang
" Apa sudah kau urus semua?"
............ ( seseorang disebrang telepon)
" Baiklah. aku tidak ingin berlama-lama. Besok setelah semua selesai, siapkan penerbangan
.........
Kemudian Daffa mematikan benda pipih dan melirik ke jendela serta melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
*********
Pagi yang cerah, di sebuah office di salah satu villa tempat Luna bekerja. Terlihat aktifitas pagi para karyawan sebelum memulai pekerjaan.Luna sedang menikmati sarapannya bersama sahabatnya Putra, Naya, dan Mira. Keempatnya sibuk membicarakan masalah pekerjaan dan juga kehidupan Luna. Ketiga sahabat Luna sudah mengetahui permasalahan rumah tangganya. Hal itu Luna sengaja ceritakan karena mereka terus mendesaknya.
Di awal dia memulai bekerja, Luna terlihat lebih banyak diam. Berbanding terbalik ketika sebelum menikah. Meski dikenal kalem tapi jika mereka berempat berkumpul Luna pun akan ikut bercanda dan tertawa bersama menanggapi candaan renyah para sahabatnya. Tapi tidak ketika dia sudah menikah. Hal itu lah yang membuat ketiga sahabatnya mengendus sesuatu yang telah terjadi dengan Luna. Akhirnya Lunapun menceritakan semuanya kecuali masalah perjanjian pernikahannya. Dia tidak ingin ketiga sahabatnya merasa sedih dengan nasibnya. Setelah selesai sarapan, merekapun kembali ke back office.
" Ayooook semuaaaa kita mulai briefing" Ucap Desi supervisor Luna
Luna, Putra, Mira, dan Naya menuju salah satu ruangan yang biasa mereka gunakan untuk rapat maupun briefing. Desi meminta ruangan kusus kepada General manager agar mereka bisa leluasa menyampaikan hal-hal penting terkait villa yang mereka tangani.
Villa tempat Luna bekerja merupakan villa milik keluarga Pratama. Salah satu orang terkaya di kota A tempat Luna tinggal. Viila yang langsung dipimpin management dari keluarga Pratama yaitu Varel Pratama anak dari Agung dan Nyonya Lili Pratama.
Varel memiliki 4 villa yang ditangani oleh Luna dan sahabat nya. Masing- masing villa terletak di berbeda lokasi. tapi memiliki konsep yang sama yaitu dikhususkan untuk pasangan yang sedang berhoneymoon atau sedang melakukan perayaan anniversary atau hanya sekedar untuk menginap. Mengusung tema honeymoon . Villa yang dilengkapi dengan private pool dan Jacuzzi. Luna sendiri menghandle Amora Villa, Terdiri dari 20 units One Bedroom Villa dengan Private Pool dan Jacuzzi. Selain Villa, keluarga Pratama juga memiliki Hotel, Suites, cottage, restaturan dan usaha lainnya.
Briefing hari ini di hadiri beberapa anak-anak dari team sales marketing, dan anggota dari team reservasi.
Tugas reservasi disini adalah menerima semua email masuk baik itu bookingan dari berbagai travel agent online maupun offline, website, direct email ataupun sekedar inquiry. Mereka juga mengatur letak kamar disistem sesuai dengan permintaan tamu yang nantinya akan tehubung langsung dengan front office.
"Baiklah Luna, sekarang giliran mu" Setelah semua melaporkan kejadian kemarin maupun hari ini tibalah giliran Luna
" Terima kasih untuk waktu yang telah diberikan. Seperti yang kita ketahui untuk hari ini occupency kita masih 100% itu artinya hari ini kita sudah fully booked. Hari ini ada 13 villa yang check out dan 13 villa yang check in. 1 Villa sudah early check in dan menitip luggage nya di lobby. 4 Villa akan ada late check in dan sudah saya informasikan ke pada pihak front office. Dan yang lainnya akan check in sesuai jadwal. untuk saat ini tidak ada masalah. Terima kasih"
" Terima kasih Luna"
Seperti ituah briefing di pagi hari. Berbagi informasi. Apa yang harus dilakukan dan tidak di lakukan. Berbagi informasi dan mengatur strategi penjualan. baik itu promosi promosi di berbagai travel agent.
1 jam sudah berlalu,,,
Meereka pun beraktifitas kembali. Duduk didepan komputer. Membalas email email yang datang nya mencapai ratusan setiap hari. Pemandangan yang terlihat sangat sibuk tapi sangat dinikmati oleh Luna.
Kringgggg bunyi telepon di meja Luna membuatnya untuk mengalihkan aktifitasnya.
" Good morning Amora Villa, how may assist you?"
" Morning Luna. Aku ada kirim email untuk update harga dibulan ini. Berhubung hari ini Villa yang kamu handle sudah full. Kita juga harus mempertahankan untuk hari- hari berikutnya. Ada di akhir bulan beberapa villa yang kosong, Jadi setelah berunding dengan beberapa tim sales, kita harus mengupdate harga dan beberapa package. Tidak ada yang banyak kita ubah. Harga berlaku untuk 3 bulan kedepan. Karena occupency mu bulan ini sudah di atas 50%.
" Baik Mba Desi terimakasih"
****
Langit malam terasa sangat indah jika dilihat dari kamar Daffa. Memang Daffa sengaja mendesain kamar nya yang luas dengan jendela menghadap view perbukitan. Daffa sangat menyukai view dalam kamarnya di temani langit malam dan bintang-bintang.
Rasa haus tiba-tiba membuatnya mengarah ke arah minibar yang sengaja dia taruh di kamarnya. Yang dia inginkan adalah air mineral namun yang tersedia hanya day coke, cola, dan beberapa soft drink. Akhirnya dia memutuskan untuk turun tangga menuju ke dapur.
Langkah demi langkah tangga dia turuni dengan perlahan tanpa ada suara apapun. Dia tidak ingin mengganggu aktifitas seseorang yang berada di depan kulkas. Ketika Daffa hendak menuruni tangga dia melihat Luna berdiri di depan Lemari pendingin. memegang handphone, sesekali ia tertawa selebihnya dia llebih ke tersenyum. Sejenak Daffa terpesona akan kecantikan alami yang Luna miliki. Ada hasrat ingin memiliki dia seutuhnya tapi dia selalu membuang keinginannya mengingat akan janjinya dengan Sarah. Daffa mengakui bahwa Luna memiliki fisik di atas Sarah. Bagaimana tidak , wajah cantik, kulit putih , dan body bagus mengalahkan Sarah yang seorang model. Diperhatikannya Luna yang berdiri dan sesekali dia menggigit bibir bawahnya. yang terlihat sensual di mata Daffa. Tak tahan dengan hasrat nya dia pun mendekati Luna. Mata nya menatap tajam ke arah Luna seolah olah ingin menerkam nya. Merasa ada sesuatu yang mendekat, Luna mengalihkan perhatiannya ke depan. Mata mereka saling bertemu. Ada sesuatu rasa yang sulit mereka artikan. Rasa deg degan yang selalu di alami Luna ketika berdekatan dengan Daffa tidak bisa dia sembunyikan. Selalu terpesona akan ketampanannya. Nafas yang menderu ketika dimana wajah Daffa sudah semakin mendekat.
" K,,,k,kkak Daffa. Mm maaf. Aku tidak ingin mengganggu mu. Permisi"
Ketika Luna hendak meninggalkan dapur tiba-tiba lengan Luna dicengkram kuat dan ditariknya kedinding. Tanpa aba-aba. Daffa mendekatkan bibirnya. Melumat habis setiap inci bibir Luna seolah tidak ingin ada yang terlupakan.
"Mmmph,mmmpphh" Luna yang memberontak dan merasakan akan kehilangan oksigen tak dihiraukan oleh Daffa. Luna memukul dada Daffa tapi tangan Luna dicengkeram ke atas. Daffa terus melumat habis bibir munngil Luna, menghisap, dan tak lupa juga menggigit bibir bagian bawah. Daffa melepaskan ciumannya setelah puas bermain-main dengan bibir Luna. Keningnya dia satukan dengan Luna..
Mereka mengatur nafas yang masih tersengal sengal sambil memjamkan mata. Kemudian Daffa memperhatikan wajah Luna yang terlihat menggemaskan. terlihat bibir bagian bawah sedikit membengkak. Kemudian Daffa mengecup sekilas bibir ranum nan mungil tersebut yang membuat Luna kemudian menatapnya.
" Itu adalah hukuman mu karena sudah menggodaku" Kemudian dia mengecup kembali bibir Luna
" Jika aku masih melihat mu menggigit bibir bawah mu terutama kepada pria lain. Maka aku akan menghukum mu lebih dari ini"
Tidak terima dengan perlakukan Daffa. Luna mendorong sedikit tubuh Daffa setelah Daffa melepaskan cengkramannya. Tanpa berbicara apapun dia berlari menuju kamarnya. Hal itu terlihat sangat lucu di mata Daffa. Dia menyunggingkan senyumnya dan kembali ketujuan awalnya. Setelah selesai meneguk minumannya diapun menuju ke kamarnya. Sebelum itu dia melihat pintu kamar Luna yang tadi sempat dibanting oleh nya.
" Jagalah dirimu, karena besok aku akan pergi" Batin Daffa .