Sinar pagi memasuki kamar Luna. Luna terbangun dari tidurnya. Merenggangkan tubuhnya. Semalam dia tidak bisa tidur pulas mengingat ciuman yang dilakukan oleh Daffa semalam. Rasa malu masih menghampirinya. Ada rasa takut dan was was untuk membuka pintu kamarnya hanya sekedar menyiapkan sarapan. Dia pun turun dari kasur empuknya menuju kamar mandi. Melakukan ritual selama 1 jam. Dia sengaja berlama-lama di kamar mandi agar nanti saat dia keluar kamar, dia tidak melihat sosok Daffa.
Setelah dirasa cukup. Luna menyelesaikan semua kegiatan dan bersiap siap untuk berangkat kerja. Disibakkannya korden jendela dan mengintip sekilas. Terlihat Daffa menaiki salah satu mobil yang sudah terparkir di halaman. Kemudian melesat menuju keluar. Melihat itu, Luna segera keluar kamar untuk menyiapkan sarapan untuk dirinya. Untuk makan siang dia akan makan dikantin tempat dia bekerja. Biasanya Luna mennyiapkan sarapan juga bekal makan siang untuk menghemat uang. Karena tidak ingin bertatap dengan Daffa dan jam menunjukkan pukul 8 lebih jadi dia putuskan untuk memakan roti dan segelas susu.
Hari ini adalah hari jumat jadi dia tidak ada kelas di kampus nya. Dia putuskan setelah pulang dari bekerja dia akan menuju tempat gym center dekat kost nya terdahulu. Setelah selesai sarapan dia membersihkan meja makan kemudian menuju parkiran.
" ASTAGAAA... YA TUHANNN. YA AMPUUNNN. ADUUHHHH KAGETTTTT, AKUUUU HUFFFFHHHH"
Betapa kagetnya Luna ketika dia hendak berjalan sembari mencari kunci motor di tas nya. dilihat nya sosok tinggi baju hitam rapi berdiri di ambang pintu. Sambil tersenyum tanpa dosa memperlihatkan gigih putih nan rapi.
"Ngapain kamu bersiri disana kak Fablo, kamu mengagetkan ku. aku kira kamu penampakan rumah ini" ucap Luna sambil mendekat ke arah Fablo
" Maafkan saya Nona saya tidak bermaksud mengagetkan anda. Saya menunggu Anda untuk menginformasikan sesuatu" Fablo yang merasa tidak enak karena mengagetkan Nona mudanya juga merasa tidak enak akan informasi yang akan dia beritahu sekarang
" Apakah penting? Aku buru-buru"
" Hanya sebentar" Kembali ke mode datarnya. dia menyerahkan sebuah dokument kepada Luna
"Apa ini?"
" Bukalah"
Luna membuka map yang sudah dia pegang yang diberikan Fablo barusan. Ketika membuka dan membaca isinya. Perasaan aneh dia rasakan. Meskipun jauh hari dia sudah tau akan nasibnya.
" Ini kan.... Tidak berani Luna melanjutkan kata-katanya.
" Bisa jelaskan? Bukankah waktuku masih lama?"
" Seperti yang anda lihat. Itu adalah surat perceraian. Tuan Daffa hari ini akan berangkat ke luar negri mengurus beberapa perusahan baru disana. Dan juga mengurus perusahan yang sedang mengalami kekacauan. Terhitung akan sangat lama beliau pulang dan mungkin tidak kembali sampai waktu perjanjian pernikahan anda dan tuan Daffa berakhir...." Fablo menjeda sedikit pembicaraannya sambil melirik ke arah Luna yang masih menatapnya
" Setelah Tuan kembali dia akan membawa Sarah ke rumah ini. Tuan muda akan menyusul Sarah yang berada di luar Negri dan melangsungkan pernikahan disana. Jadi......
JEDARRRRRRR bagai disambar petir, hati Luna seperti tersayat mendengar pengakuan Fablo.
" Jadi apa?"
" Anda bisa menandatangani kapanpun surat ini. dan berikan kepada Saya. dan Anda bisa tinggal disini sampai masa pernikahan kalian berakhir. Saya akan mengurus perceraian Anda. Mohon maaf Nona saya harus menyampaikan ini semua. Dan ini, pergunakanlah kartu ini untuk kebutuhan Nona selama Tuan Daffa tidak ada". Kemudian menyerahkan kartu tanpa batas ke arah Luna. Dan diteima baik oleh Luna.
Fablo melihat bulir bening menetes di pipi mulus Luna ketika dia memejamkan mata. Luna pun menggangguk paham . Betapa sakit hati Luna setelah semalam Daffa menciumnya lama dengan penuh nafsu dan sesekali menciumnya lembut membuat Luna terbuai akan ciuman tersebut dan berharap ada celah untuk memasuki hati Daffa. Tapi dia salah pagi ini dia sudah tidak bisa berharap lebih untuk memperbaiki pernikahannya dan mendapatkan cinta dari suaminya.
" Kak apa aku boleh minta no ponsel kak Dafa? Selama menikah aku tidak memiliki no nya. Meskipun aku tidak bisa memberikan perhatian penuh kepada kak Daffa selama dia disini tapi sekarang aku ingin memberikan perhatian via online, meskipun nantinya dia tidak akan menghiraukan ku atau parah nya aku diblokir, hehe siapa tau suatu saat dia luluh." sambil tersenyum penuh harap agar Daffanya kembali meski itu mustahil baginya.
" Baiklah Nona:" Diserahkan nya kartu nama milik Tuannya dan juga milik dirinya.
" Selama Tuan di luar negri, saya ditugaskan untuk mengurus perusahaan disini. Jika anda memerlukan sesuatu jangan sungkan menghubungi saya"
" terima kasih. Kak Fablo:"
" Kalau begitu saya pamit ke kantor "
" Terimakasih Kak "
Sambil tersenyum ke arah Luna dia menuju mobilnya. Duduk dikursi kemudi. Kemudian mendesah pelan
'huuuhffff Kasian anda Nona. Saya sangat berharap bahwa andalah yang mendampingi Tuan Muda. bukan wanita itu. Semoga dengan kepergian Tuan menyusul Sarah dia akan tau fakta tentang wanita itu. Dan ketika itu terjadi, saya harap anda tidak akan menyesal dengan keputusan anda untuk membuang berliann' Dilihatnya rumah Tuan dan nyonya mudanya yang sudah tertutup kembali .
Kediaman yang terlihat besar dan nyaman. Fablo pun lantas melajukan mobilnya menuju ke kantor.
Sedangkan Luna , masih berdiri gontai di lantai ruang tamu. Dia berjongkok , menyadahkan punggungnya di soffa. Menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Dan menangis sejadi jadinya. Banyak hal yang dia tangisi. Menyesal tidak bisa mempertahankan pernikahannya. Menyesal telah menyetujui perjodohan ini. Menyesal telah masuk kedalam hubungan Daffa dan Sarah. Dan menyesal telah jatuh cinta dengan suaminya sendiri. Meskipun dia sudah tau akan nasibnya tapi sekarang dia sudah tidak bisa melihat cintanya lagi yang sudah meninggalkan nya sendiri tanpa pamit dan mengucapkan sepatah katapun.
Sedangkan di tempat lain seorang pria sedang menatap ke layar tab yang dia pegang tadi. Bukan memeriksa laporan pekerjaan tapi pria tersebut sedang melihat tayangan cctv di rumahnya. Pria itu adalah Daffa yang tanpa sepengatahuan Luna Daffa menaruh kamera tersembunyi di setiap sudut rumah. termasuk di dalam kamarnya. Kecuali kamar Luna yang memang tidak ingin dia masuki. Selama kepergiannya dia ingin melihat apa yang dilakukan seorang gadis yang sudah sah menjadi istrinya. Ditatapnya layar itu sendu, ketika dia meliahat Luna menangis tersedu di punggung sofa ruang tamu.
' Andai kita bertemu sebelum aku bertemu Sarah. Aku akan memilih mu menjadi pendampingku. Maafkan aku yang selalu mengacuhkan mu. Aku tidak bisa mengatakan kepadamu bahwa kamu sudah menguasai duniaku. Tapi bayang bayang Sarah selalu menghantui ku membuat ku ingin menjauhi mu dan tidak terlibat perasaan yang jauh dengan mu. Aku yakin dengan kepergian ku yang lama dan dengan seiring waktu akan menghapus rasa yang sudah tumbuh ini.'
Ada perasaan sakit di hati Daffa melihat tangis Luna dalam rekaman cctv yang sudah terhubung langsung melalui layar tab nya. Tapi hatinya tetap kukuh. Setelah urusan pekerjaan nya selesai. dia akan menemui Sarah dan melangsungkan pernikahannya di Paris sesuai janji Daffa kepada Sarah ketika Sarah mengungkapkan keinginannya untuk berlibur di luar negri.