Di dalam kamar, Luna nampak menelpon seseorang.
[Hallo mba Desi, hari ini Luna ijin, tidak bisa hadir ke kantor karena sakit]
............
[ Iya sudah. hanya perlu istirahat 1 hari saja]
............
[ Iya mba terima kasih]
Luna pun mematikan telpon setelah percakapannya dengan Desi selesai. Di lemparnya sembarang benda pipih yang selalu menemaninya di saat sedih ke atas kasur. Lalu diapun ikut merebahkan diri sambil mentup mata. menangis dalam diam.
" Berani sekali dia mencium ku semalam, membuat ku terbuai akan ciumannya. Sekarang tanpa dosa dia pergi...... hiksssssssssss aaaaa............
Bodoh bodoh bodohhhhhhhhhh seharusnya aku melawan kemarin malam. hikkkkkkks"
Luna menangis sambil merutuki nasibnya. Surat perceraian masih ia pegang. Ragu untuk menandatanganinya. Akhirnya dia putuskan untuk meletakkannya di laci samping kasur.
Diambilnya benda pipih yang tadi dia lempar, kemudian dia mulai mengetik sesuatu.
[ Selamat pagi Kak Daffa ini aku Luna. Kak Fablo tadi ke rumah dan sudah menjelaskan semua. Meskipun aku sudah tahu akhir pernikahan kita seperti ini, ijinkanlah aku untuk berbakti kepadamu sebelum masa perceraian. Selama kamu tidak ada aku berjanji untuk tidak menghianati pernikahan ini seperti janjiku kepada Tuhan disaat kita mengucapkan janji suci saat pernikahan]
[ Aku akan melaporkan setiap aktifitasku selama Kak Daffa tidak ada. Meskipun kakak tidak membalas pesan ku tapi aku akan tetap melakukan nya hingga aku lelah sendiri]
[ Semoga selamat sampai tujuan Kak. ]
Dikirimkannya pesan teks tersebut kepada Daffa.
'Sepertinya Bi Asih dan Nur sudah datang' batin Luna. Luna segera bangun dari tempat tidur dan mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Setelah selesai mengganti pakaian diapun keluar menemui Bi Asih dan Nur.
" Nur, Bi Asih dimana?" Tanya Luna ketika sudah didekat Nur
" Ehh Nona. Ibu tidak bisa datang karena harus ke kampung sebentar. Ada kerabat yang sakit. Ibu pergi menjenguknya." Jawab Nur sambil terus melakukan aktifitasnya
" Ooohhh" hanya ber oh ria kemudian menuju tempat minum.
Luna terlihat sibuk dengan hp nya memesan makanan di sebuah aplikasi. Perutnya lapar karena tadi dia hanya makan roti dan susu. Ditambah mendengar berita yang mendadak dan tangisan yang meraung raung cukup membuat tenaganya terkuras.
" Nur aku sudah memesan makanan. Temanin aku makan ya:"
" mmmhh tidak usah Nona, saya sudah makan tadi sebelum kesini:" Tolak Nur dengan lembut
" Tapi aku sudah memesankannya untuk mu" Jawab Luna sambil tersenyum
" Tapiii Nonaaa, sa......
" Tidak ada tapi tapian. Sebentar lagi pesanannya datang, kita makan diruang tv sambil nonton"
" Apa tidak apa-apa Nona. Bagaimana jika Tuan tiba-tiba datang dan memarahi saya"
'Hmmmm sepertinya Nur tidak tahu tentang kepergian Daffa' batin Luna
" Sudah jangan takut, aku yang tanggung jawab. Kak Daffa sedang di luar negri. Jadi tidak masalah kan."
" Terima kasih Nona"
" Sama-sama. Segera selesaikan pekerjaanmu. Aku tunggu di sana"
"Siap Nona:" sambil tangannya memberi tanda hormat yang hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Luna.
Luna pun menuju ke ruang tv. Menghidupkan tv dan mencari chanel kartun kesukaannya. Sedangkan Nur dia masih sibuk membersihkan titik demi titik di sudut ruangan. Dirasa sudah cukup, dia menuju ke dapur untuk mencuci tangan dan membersihkan diri di kamar mandi yang dikususkan untuk para pelayan . Setelah selesai diapun menyusul Luna. Dilihatnya Luna tengah asik menonton kartun kesukaannya dan sesekali dia tertawa lepas.
" Maaf Nona, boleh saya bertanya?"
" Silahkan Nur"
" Mm maaf Nona apakah hari ini anda libur? Mmmm maaf nona tidak usah di jawab.Aduhhhh saya kurang sopan" Tanya Nur sambil menampar sedikit mulutnya karena merasa dia melewati batas.
" Tidak apa-apa. Aku memang tidak berangkat kerja karena sedang tidak enak badan"
" Nona sakit? Saya ambilkan obat dulu Nona, mohon tunggu sebentar:" Kemudian Nur pun bangkit dari duduknya menuju kotak obat tapi langsung di cegah oleh Lhna.
" Ehhh tidak usah Nur. Aku sudah tidak apa-apa"
" Tapi Nona..
" Sudah, sini duduk aja"
"Tidak apa apa Nona? Apa ada sesuatu yang anda butuhkan?"
" Gak ada Nur. Udah sini aja"
Tingggg tongggg tinggg tiba-tiba bel berbunyi.
"Mungkin itu bang ojolnya. Biar saya yang membuka pintunya nyonya"
"Terima kasih Nur, ini uangnya, lebihnya kasi ke Bapak ojolnya"
Nur pun menerima uang yang di berikan Luna. Kemudian menuju pintu
"Pesanan untuk Bu Luna"
Nur pun menerimanya.
"Ini tanda penerima nya".
Nur pun menulis nama nya lalu memberikan uangnya.
"Uang nya lebih Bu"
Lebih nya ambil saja Pak, itu dari Bu Luna"
" Terima kasih Bu"
Nur membawa pesanan Luna dan menyiapkan semua makanannya.
" Wahhh banyak sekali Nona makanannya. Enak-enak lagi"
" Iya Nur, kita puas-puasin makannya sekarang"
"Siap Nona"
Mereka pun makan dengan lahapnya. Sesekali mereka terlibat obrolan dan sesekali mereka tertawa. Luna merasa senang, setidaknya pikirannya sedikit lebih tenang dengan hadir nya Nur. Tapi Nur tidak bisa berlama-lama karena dia harus kembali ke kediaman besar keluarga Wiryatama. Luna sedikit bergeming berpikir apakah keluarga Wiryatama mengetahui keberangkatan Daffa? Setelah kepergian Nur, Luna lebih menghabiskan waktunya dengan berebahan sambil menonton drakor kesukaannya melalui hp. Dia ingin memanfaatkan waktu 1 hari dengan bersantai-santai. Sempat terlintas dipikirannya untuk mengambil cuti libur menjelang hari perceraiannya. Tiba-tiba handphone nya berbunyi. Ibu mertua nya menelponnya. Luna pun segera memencet tombol hijau
" Halo Bunda"
"Halo sayang bagaimana kabar mu? Apa kamu sudah makan?"
" Baik Bunda, Luna sudah makan. Bunda apa kabar? Ayah sama nenek gimana kabarnya?"
" Kabar ayah sama nenek baik. Luna apa kamu baik-baik saja ditinggal tugas ke luar oleh Daffa?
" Tidak apa-apa Bunda. Kak Daffa sudah memberitahukan Luna jauh hari. Jadi Luna bisa menerima nya" Luna terpaksa berbohong, dia tidak mau orang tua Daffa mengkhawatirkannya.
" Sayang kenapa kamu ijinkan sih. Kan harus nya kamu larang. Bagaimana bisa buat cucu kalo ditinggal lama. Itu lama banget Louh. Dasar Daffa. Anak itu bener-bener pengin Bunda jewer"
" Hehe jangan dijewer Bunda, nanti telinganya panjang. Luna tidak apa-apa. Bener deh. Kan kita bisa video call Bunda. Bunda jangan khawatir ya."
" Sayang maafkan Bunda, Bunda belum bisa menemanimu. 1 minggu lagi kami sudah balik. Mendengar Daffa ke luar negri, nenek sangat mengkhawatirkanmu, jadi kita majukan kepulangan kita"
" Ia Bunda terima kasih,"
" Huh Daffa baru memberitahukan Bunda rencana keberangkatan nya ke luar negri dan menetap beberapa bulan. Dasa anak nakal itu. Dia bisa saja menyuruh Fablo. Tapi dia kekeh dengan tujuannya. Yang penting kamu tidak kesepian kan sayang. Nanti Bunda pulang kamu bisa tinggal sama Bunda"
" Terima kasih Bunda atas perhatiannya"
" Bunda tutup teleponnya ya. Baik-baik disana ya sayang
"iya Bunda juga. Terimakasih banyak"
Panggilan pun ditutup. Luna menangis lagi. Tidak tega melihat Orang tua Daffa dan nenek yang sangat berharap lebih atas pernikahannya. Diapun takut dengan kondisi sang nenek jika tahu bahwa pernikahannya ini hanya pernikahan sementara.
Tapi ada sedikit yang mencuri perhatiannya dari telepon sang mertua yaitu bahwa Daffa tidak memberitahukan rencana keberangkatannya ke luar negri. Justru memberitahukan mereka pada saat hari H