bc

Misteri Albalone Pelangganku

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
forbidden
love-triangle
contract marriage
one-night stand
opposites attract
playboy
badboy
goodgirl
drama
sweet
bxg
campus
city
love at the first sight
friends with benefits
actor
prostitute
like
intro-logo
Blurb

WARNING! Cerita Dewasa 18+ | Reno adalah seorang terapis pijat pria muda yang dikenal karena integritas dan teknik "tangan dinginnya" yang mampu menyembuhkan kelelahan fisik. Bekerja sebagai tenaga pijat panggilan independen di hotel-hotel berbintang, Reno selalu menjaga jarak profesional yang kaku: masker yang tak pernah lepas, seragam bersih, dan pandangan mata yang hanya fokus pada otot-otot yang tegang.

Namun, garis profesional itu retak di sebuah kamar presidential suite. Saat sedang menangani Bu Shinta, seorang sosialita cantik yang kesepian, sebuah ketidaksengajaan terjadi. Handuk yang menutupi tubuh pelanggannya tersingkap, memperlihatkan sebuah pemandangan yang tak pernah Reno bayangkan sebelumnya. Di balik keanggunan Shinta, tersembunyi keindahan yang Reno sebut sebagai "Abalone"—sebuah simbol kemurnian sekaligus godaan yang sangat eksotis.

Godaan itu tidak berhenti di situ. Shinta yang menyadari ketertarikan Reno, justru memberikan penawaran yang mengguncang prinsip hidupnya: bayaran sepuluh kali lipat untuk sebuah "layanan tambahan" yang melampaui batas pijat biasa. Reno yang terhimpit kebutuhan ekonomi akhirnya menyerah pada bayaran tinggi dan gairah yang lama ia pendam.

Kejadian itu menjadi pembuka gerbang bagi Reno. Ia mulai berpindah dari satu hotel ke hotel lain, dari satu pelukan ke pelukan pelanggan lainnya. Ia mulai mengenal berbagai karakter wanita dengan "Abalone" yang berbeda-beda—mulai dari wanita karier yang haus d******i hingga gadis muda yang penuh rasa ingin tahu.

Lambat laun, Reno bukan lagi sekadar mencari uang. Ia menjadi pecandu. Ia ketagihan pada aroma minyak pijat yang bercampur keringat, pada sensasi kulit yang licin, dan pada kekuasaan yang ia miliki saat para wanita berkuasa itu mendesah di bawah sentuhan tangannya. Namun, di balik kemewahan hotel dan gelimang uang, Reno mulai kehilangan dirinya sendiri. Ia terjebak dalam labirin gairah yang membahayakan reputasinya, keselamatannya, dan hatinya sendiri.

"Ketagihan Abalone Pelangganku" adalah sebuah perjalanan gelap tentang bagaimana sebuah sentuhan profesional bisa berubah menjadi obsesi yang tak terkendali, dan bagaimana seorang pria harus membayar mahal untuk setiap kenikmatan yang ia curi di balik pintu kamar hotel.

chap-preview
Free preview
Tangan Yang Terampil
Malam di Jakarta selalu punya cara untuk menyembunyikan sisi kelamnya di balik gemerlap lampu gedung pencakar langit. Bagi Reno, kota ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan sebuah labirin kamar hotel yang harus ia telusuri satu per satu. Di dalam tas punggung hitam berbahan kanvas tebal yang selalu menempel di pundaknya, tersimpan alat-alat yang ia anggap suci: botol-botol minyak esensial yang disusun berdasarkan tingkat kepekatan aromanya, seprai mikrofiber yang selalu terjaga kehangatannya, dan masker medis yang menjadi barikade antara profesionalisme dan hasrat pribadinya. Reno bukanlah tukang pijat sembarangan. Ia adalah seorang pria yang terobsesi dengan anatomi. Di dinding kamar kosnya yang sempit, alih-alih poster musisi atau film, yang terpampang adalah diagram sistem otot manusia—muscular system. Ia hafal di luar kepala letak trapezius, bagaimana serat-serat latissimus dorsi bekerja, hingga cara paling efektif untuk merilis ketegangan pada saraf sciatica. Baginya, tubuh manusia adalah sebuah mesin yang indah namun rapuh, dan ia adalah montir yang bertugas memastikan mesin itu kembali berjalan mulus. Sore itu, hujan turun membasuh debu jalanan Sudirman. Reno berdiri di depan lobi sebuah hotel butik bergaya kolonial di Jakarta Selatan. Jaket hitamnya sedikit basah di bagian bahu, namun ia tak peduli. Fokusnya tertuju pada jam tangan digitalnya: 18.55. Lima menit sebelum jadwal dimulai. Ia adalah penganut ketepatan waktu yang fanatik. Baginya, terlambat satu menit adalah bentuk penghinaan terhadap klien. "Selamat malam, Mas. Ada yang bisa dibantu?" tanya petugas keamanan dengan ramah namun waspada. Reno menurunkan masker hitamnya sejenak, memberikan senyum tipis yang sopan namun terkendali. "Reno, terapis panggilan untuk Ibu Linda di kamar 502. Beliau sudah memesan melalui layanan privat." Setelah verifikasi singkat, Reno diizinkan masuk. Di dalam lift yang berlapis marmer krem, Reno menatap pantulan dirinya. Di balik kaos polo hitam yang ketat, otot-otot lengannya terlihat kencang—hasil dari latihan fisik konsisten demi menjaga stamina saat harus memijat selama berjam-jam. Ia menarik napas dalam-dalam, mengatur ritme jantungnya. Ia selalu melakukan ritual ini; mengosongkan pikiran, membuang semua beban hidupnya sendiri, agar tangannya bisa menyerap beban hidup orang lain tanpa terdistraksi. Ting. Pintu lift terbuka di lantai lima yang sunyi. Hanya ada suara mesin pendingin ruangan yang mendengung halus dan aroma pengharum ruangan berbau sandalwood. Reno melangkah menuju kamar 502. Ia mengetuk pintu dengan ritme tiga kali—tidak terlalu keras agar tidak mengejutkan, namun cukup tegas untuk menunjukkan kehadirannya. Pintu terbuka. Linda, seorang wanita karier berusia pertengahan tiga puluhan, muncul dengan wajah yang tampak layu. Rambutnya yang biasanya disanggul rapi kini tergerai berantakan. Ia mengenakan jubah mandi hotel yang terlihat terlalu besar untuk tubuhnya yang mungil. "Mas Reno, silakan masuk. Maaf, kamarnya agak berantakan. Hari ini benar-benar melelahkan," ucap Linda sambil mempersilakan Reno masuk. Reno mengangguk pelan, tetap menjaga kontak mata yang minimal namun penuh perhatian. "Tidak masalah, Bu. Kita di sini untuk membuang rasa lelah itu." Reno mulai bekerja. Ia tidak langsung menyentuh pelanggannya. Pertama-tama, ia meletakkan tasnya di atas kursi kayu di sudut ruangan. Ia mengeluarkan sebotol cairan disinfektan dan membersihkan tangannya hingga ke siku di wastafel. Suara air yang mengalir menjadi musik pembuka sesi itu. Setelah itu, ia menyiapkan tempat tidur. Ia membentangkan kain alas putih miliknya di atas seprai hotel, memastikan tidak ada lipatan yang akan mengganggu kenyamanan kulit pelanggan nantinya. Ia menyalakan sebuah pemutar musik kecil yang mengeluarkan suara gemericik air dan denting kecapi yang sangat pelan. Aroma lavender mulai menyebar saat ia menyalakan diffuser portabelnya. "Ibu bisa berbaring tengkurap. Pastikan posisi wajah Ibu nyaman di lubang bantal ini," instruksi Reno dengan nada suara yang rendah dan menenangkan—suara yang ia latih khusus untuk membuat kliennya merasa aman. Linda merebahkan diri. Reno menyelimuti bagian bawah tubuh wanita itu dengan dua lapis handuk besar. Prosedur ini krusial. Ia harus memastikan hanya area yang sedang dikerjakan yang terbuka. Ia bukan hanya menjaga suhu tubuh pelanggan, tapi juga menjaga batas-batas etika yang selama ini ia agungkan. Reno menuangkan minyak zaitun ke telapak tangannya. Ia menggosok kedua tangannya dengan cepat, menciptakan panas gesekan yang merata. Ia mulai dengan teknik effleurage. Telapak tangannya yang lebar dan hangat mendarat di punggung bagian bawah Linda, lalu meluncur perlahan ke atas hingga ke pangkal leher, mengikuti aliran darah menuju jantung. "Ah..." Linda mengeluarkan desah napas panjang, kepalanya tenggelam di balik bantal. "Tanganmu... kenapa bisa sehangat itu, Reno?" "Ini energi dari fokus, Bu," jawab Reno singkat. Ia tidak ingin terlalu banyak berbincang. Ia ingin Linda tenggelam dalam sensasi fisik. Jemari Reno mulai bekerja lebih spesifik. Ia menemukan gumpalan otot yang kaku di sekitar tulang belikat Linda. Dengan gerakan melingkar yang lambat namun bertenaga, ia mulai mengurai ketegangan itu. Ia menggunakan berat badannya sendiri untuk menekan, bukan sekadar kekuatan otot tangan. Teknik ini membuat tekanan yang dihasilkan terasa dalam namun tidak menyakitkan. Ia bisa merasakan denyut nadi di bawah kulit Linda. Ia bisa merasakan bagaimana serat-serat otot yang tadinya sekeras kayu perlahan melunak seperti mentega yang dipanaskan. Setiap kali jempolnya menemukan titik saraf yang terjepit, Reno akan memberikan tekanan statis selama sepuluh detik, lalu melepasnya perlahan. Ia menyebutnya 'titik rilis'. Dua puluh menit pertama berlalu dalam keheningan yang intim namun profesional. Reno berpindah ke area kaki. Di sinilah letak keahliannya yang paling dihargai. Ia tahu cara memijat betis hingga ke pangkal paha tanpa membuat klien merasa dilecehkan, namun tetap memberikan relaksasi maksimal. Ia mengangkat kaki Linda, menekuknya sedikit, dan memberikan tarikan-tarikan kecil pada sendi pergelangan kaki. "Kamu benar-benar profesional, Reno," gumam Linda, suaranya sudah terdengar sangat mengantuk. "Banyak terapis lain yang... yah, kamu tahu, tangan mereka seringkali 'tersesat'. Tapi kamu, tanganmu terasa sangat jujur." Reno tersenyum di balik maskernya. Kalimat itu adalah pujian tertinggi baginya. Tangan yang jujur. Ia bangga dengan gelar tak resmi itu. Ia merasa dirinya adalah seorang ksatria yang menjaga kehormatan profesinya di tengah maraknya praktik pijat yang menyimpang di kota besar ini. Sesi satu setengah jam itu berakhir dengan sempurna. Reno melakukan teknik tapotement—tepukan-tepukan ringan dengan telapak tangan yang membentuk cekungan—di sepanjang punggung Linda untuk membangkitkan kembali saraf-saraf yang tadi diistirahatkan. "Selesai, Bu. Silakan bangun perlahan, jangan mendadak agar tidak pusing," ucap Reno sambil mundur beberapa langkah, memberikan ruang pribadi bagi pelanggannya untuk kembali sadar sepenuhnya. Linda bangun dengan wajah yang jauh lebih segar. Ia merapikan jubah mandinya dan mengambil dompet dari tasnya. Ia memberikan uang jasa sesuai tarif, ditambah selembar uang seratus ribu rupiah sebagai tips. "Terima kasih banyak, Reno. Kamu menyelamatkan malamku," ucap Linda dengan senyum tulus. "Sama-sama, Bu. Senang bisa membantu," Reno mengemas peralatannya dengan rapi. Ia membersihkan kembali meja pijatnya dengan cairan sanitasi, memastikan tidak ada jejak minyak yang tersisa. Saat ia keluar dari kamar 502, Reno merasa puas. Ia merasa harga dirinya sebagai terapis tetap utuh. Ia berjalan menuju lobi dengan langkah ringan. Namun, tepat saat ia hendak keluar dari hotel, ponselnya bergetar di saku celana. Sebuah notifikasi dari aplikasi penyedia jasa terapis privat muncul. Pesanan Baru: Kamar 808. Hotel Grand Mahakam. Nama Klien: Nyonya Shinta. Reno melirik jamnya. 20.45. Masih ada waktu. Ia segera memesan ojek daring. Pikirannya masih dipenuhi oleh keberhasilannya menangani Ibu Linda. Ia tidak tahu, bahwa di kamar 808 nanti, semua prinsip 'tangan jujur' yang baru saja ia banggakan akan berhadapan dengan ujian paling berat dalam hidupnya. Di sana, ia tidak akan bertemu dengan wanita karier yang sekadar butuh pijat urat. Di sana, ia akan bertemu dengan seorang penggoda yang tahu betul bagaimana memanfaatkan rasa lapar seorang pria muda akan keindahan. Di sana, untuk pertama kalinya, Reno akan melihat "Abalone" yang legendaris itu—sebuah pemandangan yang akan membuat tangannya tidak lagi sekadar memijat, tapi memuja. Reno memacu motornya menembus sisa-sisa hujan Jakarta, menuju kamar 808 yang akan menjadi awal dari ketagihan panjangnya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

BRIANNA [Affair]

read
130.3K
bc

Pemuas Hasrat Mantan Suami

read
53.3K
bc

Nona-ku Canduku

read
99.7K
bc

Eat Me, Daddy!

read
9.0K
bc

HASRAT MERESAHKAN

read
145.2K
bc

Ayah Tiriku Sugar Daddyku

read
52.2K
bc

Ibu Tiriku Mantan Kekasihku

read
1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook