Celah di Balik Handuk

1202 Words
Lampu-lampu jalanan Jakarta Selatan tampak kabur di balik kaca helm Reno yang masih menyisakan rintik hujan. Mesin motor ojek yang ia tumpangi menderu pelan menuju kawasan elit di mana Hotel Grand Mahakam berdiri kokoh dengan arsitektur klasiknya yang megah. Di dalam saku celananya, ponsel Reno terasa hangat, menyimpan alamat Kamar 808 yang seolah menjadi sebuah titik koordinat nasib yang belum ia sadari. Reno turun di depan lobi yang dijaga oleh petugas berseragam ala militer kolonial. Ia merapikan kaos polonya yang kini terasa sedikit lebih ketat di d**a karena adrenalin yang mulai terpompa. Ia tidak tahu mengapa, tapi ada firasat berbeda malam ini. Mungkin karena nama "Nyonya Shinta" yang terdengar begitu dominan di layar ponselnya, atau mungkin karena angka 808 yang secara visual terlihat seperti simbol tak terhingga—infinity. Ia melangkah masuk, melewati lantai marmer yang mengkilap hingga ia bisa melihat bayangan wajahnya sendiri di sana. Reno tetap mengenakan masker hitamnya. Baginya, masker itu adalah bagian dari "baju zirah" profesionalnya. Dengan masker itu, ia merasa identitasnya terlindungi; ia hanya sebuah tangan, sebuah jasa, bukan seorang manusia dengan nafsu. Ting. Pintu lift terbuka di lantai delapan. Lorong hotel ini jauh lebih sunyi dibandingkan hotel sebelumnya. Karpetnya sangat tebal, hingga suara langkah kaki Reno benar-benar hilang, menciptakan suasana yang intim sekaligus mencekam. Ia berhenti di depan pintu kayu jati dengan nomor emas: 808. Reno mengetuk pintu. Kali ini, tidak ada jawaban suara dari dalam. Namun, beberapa detik kemudian, kunci elektronik berbunyi klik, dan pintu terbuka sedikit, menyisakan celah yang membiarkan aroma parfum black orchid yang pekat dan sensual menguar keluar. "Masuk saja, Reno. Pintu tidak dikunci," suara itu terdengar dari kedalaman ruangan. Suaranya tidak serak seperti Ibu Linda; suara ini halus, jernih, dan memiliki nada memerintah yang sangat feminin. Reno masuk dan menutup pintu dengan siku tangannya. Kamar itu adalah sebuah executive suite. Lampu-lampu downlight temaram berwarna kuning gading memberikan efek bayangan yang dalam di setiap sudut ruangan. Di atas ranjang besar dengan seprai sutra abu-abu, seorang wanita sedang duduk bersandar sambil membaca sebuah majalah mode. Itulah Shinta. Wanita itu tampak berusia sekitar tiga puluh akhir atau awal empat puluh, namun waktu seolah sangat memanjakannya. Kulitnya putih bersih, hampir terlihat porselen di bawah cahaya lampu tidur. Ia mengenakan bathrobe hotel berbahan handuk lembut, namun ikat pinggangnya tidak terikat kencang, memperlihatkan garis leher yang jenjang dan tulang selangka yang menonjol cantik. "Selamat malam, Nyonya Shinta. Saya Reno, terapis Anda malam ini," ucap Reno sembari menunduk sopan, meskipun matanya sempat terpaku sesaat pada cara Shinta menyilangkan kakinya. Shinta menutup majalahnya dan menatap Reno dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapannya tidak dingin, tapi menyelidik. "Banyak yang merekomendasikanmu, Reno. Katanya tanganmu punya 'keajaiban'. Saya harap itu benar, karena punggung saya terasa sangat berat malam ini." "Saya akan berusaha sebaik mungkin, Nyonya," jawab Reno sembari mulai mengeluarkan perlengkapannya. Ia menyiapkan minyak aromaterapi. Kali ini, instingnya mengatakan untuk menggunakan campuran sandalwood dan sedikit jasmine—kombinasi yang biasanya digunakan untuk merilekskan otot sekaligus membangkitkan suasana hati. Saat ia sedang sibuk menyiapkan seprai alas, ia menyadari Shinta sedang mengamatinya tanpa berkedip. "Silakan berbaring tengkurap, Nyonya. Saya akan menyiapkan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuh Anda," instruksi Reno, mencoba kembali ke mode "robot profesionalnya". Shinta bergerak perlahan ke tengah ranjang. Ia melepas jubah mandinya dan dengan gerakan yang sangat luwes, ia berbaring tengkurap. Reno segera membentangkan handuk putih besar untuk menutupi area pinggang hingga kaki Shinta. Namun, saat Reno hendak mulai memijat, Shinta bergumam pelan. "Reno, bisakah kamu menurunkan sedikit handuknya? Titik kaku saya ada di otot gluteus atas. Saya rasa saraf saya terjepit di sana." Reno ragu sejenak. Area itu sangat dekat dengan batas sensitif. Namun, sebagai terapis medis yang bersertifikat, ia tahu bahwa otot b****g memang sering menjadi sumber nyeri punggung bawah. "Baik, Nyonya. Saya akan mengerjakannya." Reno menuangkan minyak ke telapak tangannya. Panas. Ia mulai menempelkan tangannya di punggung atas Shinta, lalu meluncur ke bawah. Saat ia mulai memberikan tekanan pada area pinggul, Shinta bergerak sedikit untuk mencari posisi yang lebih nyaman. Pada detik itulah, petaka—atau mungkin anugerah—itu terjadi. Karena gerakan Shinta yang tiba-tiba, handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya merosot lebih jauh dari yang Reno perkirakan. Shinta tampaknya tidak peduli, atau mungkin ia sengaja tidak mengenakan apa-apa di balik jubah mandi hotel itu. Pandangan Reno yang tadinya fokus pada serat otot, kini terkunci pada sebuah pemandangan yang membuat dunianya seolah berhenti berputar. Dari sudut kemiringan tempatnya berdiri, ia melihatnya. Tersembunyi di balik lipatan kulit yang halus dan lembap karena minyak pijat, ia melihat sesuatu yang secara biologis ia kenal sebagai organ intim wanita, namun di matanya malam itu, itu tampak seperti sebuah maha karya alam. Bentuknya menyerupai kerang Abalone yang paling eksotis—merah muda pucat, dengan tekstur yang tampak begitu lembut dan kenyal. Ada sedikit uap hangat dari suhu tubuh Shinta yang membuat area itu terlihat seperti mutiara yang sedang bernapas. Reno tertegun. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya hingga ia merasa pusing. Oksigen di kamar itu seolah menghilang. Masker yang ia kenakan kini terasa mencekik. Tangannya yang masih berada di punggung Shinta bergetar hebat. Profesionalismenya hancur berkeping-keping dalam satu kedipan mata. Ia mencoba membuang muka, menatap ke arah jendela yang menampilkan lampu Jakarta, namun bayangan "Abalone" itu sudah tercetak permanen di otaknya. Setiap kali ia menutup mata, ia melihat tekstur itu, warna itu, dan aroma tubuh Shinta yang bercampur minyak zaitun mulai menyerang logikanya. "Reno? Ada apa? Kenapa tanganmu bergetar?" tanya Shinta, suaranya kini terdengar lebih rendah, lebih serak, seolah ia menyadari bahwa "benteng" Reno baru saja jebol. "Maaf, Nyonya... saya... saya hanya memastikan posisi otot Anda," dusta Reno. Suaranya terdengar asing bagi telinganya sendiri. Ia mencoba melanjutkan pijatan, namun sentuhannya kini berbeda. Ia tidak lagi menekan dengan presisi medis. Setiap kali tangannya bergerak mendekati area paha atas, imajinasinya meledak. Ia membayangkan bagaimana rasanya jika jemarinya yang berlumur minyak itu tidak sengaja tergelincir masuk ke dalam "Abalone" tersebut. Ia membayangkan kehangatannya, elastisitasnya, dan bagaimana suara Shinta akan berubah jika ia melakukannya. Reno mulai berfantasi di tengah-tengah pekerjaannya. Ia membayangkan dirinya bukan lagi sebagai tukang pijat sewaan, melainkan sebagai seorang pemuja yang sedang mempersembahkan ritual pada dewinya. Ia membayangkan Shinta berbalik, menarik maskernya, dan memintanya untuk menghentikan pijatan formal ini demi sesuatu yang lebih intim. Hingga sesi satu jam itu berakhir, Reno tidak bisa kembali ke kondisinya yang semula. Pikirannya sudah tertinggal di celah handuk itu. Ia merasa haus, sangat haus, bukan akan air, melainkan akan akses lebih dalam ke keindahan yang baru saja ia intip. Saat ia selesai dan merapikan alat-alatnya dengan tangan yang masih gemetar, Shinta berbalik dan duduk di tepi ranjang. Ia menatap Reno dengan senyum tipis yang penuh misteri—sebuah senyum yang seolah berkata: Aku tahu apa yang kamu lihat, dan aku tahu kamu menginginkannya. "Kamu punya tangan yang luar biasa, Reno. Tapi matamu... matamu bicara lebih banyak dari tanganmu," bisik Shinta. Reno hanya bisa menunduk, tak berani menatap mata wanita itu. Ia segera berpamitan, melangkah keluar kamar 808 dengan perasaan yang berkecamuk. Di dalam lift, ia bersandar pada dinding kaca, napasnya memburu. Malam itu, Reno menyadari satu hal: ia tidak akan bisa tidur lagi. Ia telah melihat sesuatu yang lebih berharga dari sekadar uang tips. Ia telah menemukan sebuah candu baru, dan "Abalone" milik pelanggannya itu kini menjadi satu-satunya hal yang ia inginkan di dunia ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD