Seminggu setelah kejadian di kamar 808 itu, Reno merasa hidupnya berjalan dalam mode otomatis. Tubuhnya berada di satu tempat, namun jiwanya tertinggal di celah handuk yang tersingkap tempo hari. Setiap kali ia memijat pelanggan lain—seorang pria tua dengan masalah pinggang kronis atau wanita kantoran yang mengeluh leher kaku karena menatap layar komputer terlalu lama—pikirannya selalu melayang kembali ke tekstur merah muda yang ia lihat di balik kulit putih Shinta.
Fantasi itu seperti virus yang menggerogoti logika profesionalnya. Ia mulai kehilangan fokus. Pernah suatu kali, saat memijat seorang pasien di klinik spa tempat ia kadang mengambil shift, tangannya berhenti bergerak selama beberapa detik hanya karena ia teringat aroma sandalwood di kamar 808. Baginya, setiap inci kulit manusia yang ia sentuh kini hanyalah kanvas kosong yang gagal meniru keindahan yang ia intip minggu lalu.
Maka, ketika notifikasi pesanan dari "Nyonya Shinta" kembali muncul di layar ponselnya untuk sesi di hotel yang sama, Reno tidak butuh waktu satu detik pun untuk menekan tombol accept. Jarinya bergerak lebih cepat dari nuraninya.
Malam itu, Reno datang dengan persiapan yang berbeda. Ia mencukur bersih wajahnya hingga tak ada satu pun bulu halus yang tersisa. Ia mengenakan parfum dengan aroma woodsy yang maskulin namun samar—jenis aroma yang tidak menyerang indra penciuman, melainkan merayu secara perlahan. Saat bercermin, ia memastikan kaus polo hitamnya melekat sempurna di otot dadanya, menonjolkan hasil latihan fisik yang selama ini ia tujukan untuk stamina, namun kini ia sadari berfungsi sebagai daya tarik. Ia tahu ini bukan lagi sekadar kunjungan medis. Ia sedang melangkah menuju sebuah ritual.
Pintu kamar 808 terbuka bahkan sebelum Reno sempat mengetuk untuk ketiga kalinya. Shinta berdiri di sana, menantangnya dengan penampilan yang jauh dari kata formal. Kali ini ia tidak mengenakan jubah mandi hotel yang kaku. Ia mengenakan terusan sutra hitam bertali tipis dengan potongan deep V-neck. Bahannya begitu ringan, jatuh mengikuti lekuk tubuhnya yang matang, dengan panjang yang hanya mencapai pertengahan paha. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan terurai liar, menyebarkan aroma sampo mahal yang seketika memenuhi indra penciuman Reno, membuat paru-parunya terasa sesak.
"Masuklah, Reno. Aku sudah menunggumu," ucap Shinta dengan nada yang jauh lebih akrab. Ia menanggalkan sebutan "Mas" atau embel-embel formal lainnya. Suaranya rendah, serak, dan penuh undangan.
Reno masuk dengan jantung yang berdegup kencang, suaranya berdentum di telinga seperti palu yang menghantam besi. Di atas meja rias marmer di sudut ruangan, di bawah lampu kuning temaram yang menciptakan bayangan dramatis, ia melihat sesuatu yang mencolok: sebuah amplop cokelat yang terbuka sengaja. Di dalamnya, tumpukan uang kertas seratus ribuan menyembul keluar, memamerkan kemakmuran yang bisa dibeli.
Shinta mengikuti arah pandang Reno. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh kemenangan sebelum peperangan dimulai. "Itu untukmu, Reno. Tapi bukan untuk pijat punggung yang biasa," ujar Shinta sembari melangkah perlahan menuju ranjang, gerakannya gemulai seperti kucing hutan yang sedang mengincar mangsa.
Reno menelan ludah, tenggorokannya terasa kering seperti gurun. Ia berusaha menjaga suaranya tetap stabil, meski tangannya mulai berkeringat di dalam saku celana. "Maksud Anda, Nyonya?"
Shinta duduk di tepi ranjang, menyilangkan kakinya yang jenjang hingga gaun sutranya tersingkap tinggi, memperlihatkan paha putihnya yang mulus di bawah cahaya lampu nakas. "Aku tahu apa yang terjadi minggu lalu, Reno. Aku bukan wanita bodoh yang tidak bisa merasakan perubahan atmosfer di ruangan ini. Aku merasakan tanganmu gemetar. Aku melihat bagaimana matamu tidak bisa lepas dari... apa yang kamu sebut itu di dalam kepalamu? Abalone-ku?"
Wajah Reno memanas di balik maskernya. Ia merasa telanjang, seolah Shinta bisa membaca setiap noda m***m yang ada di dalam otaknya. Barikade profesionalisme yang ia bangun selama bertahun-tahun runtuh dalam satu kalimat itu.
"Jangan malu, Reno. Kita sama-sama dewasa," lanjut Shinta. Ia meraih segepok uang dari amplop itu dengan gerakan santai, lalu meletakkannya di atas nakas, tepat di samping botol minyak zaitun milik Reno. "Itu lima juta. Jauh lebih besar dari tarif pijatmu selama sebulan, bukan? Aku menginginkan layanan penuh malam ini. Bukan hanya ototku yang butuh disentuh, tapi seluruh diriku. Aku ingin tanganmu yang 'jujur' itu membuktikan seberapa jujur hasratmu padaku."
Reno terpaku. Angka lima juta rupiah berputar di kepalanya seperti mantra. Itu adalah kunci untuk melunasi utang motornya yang menunggak dua bulan, membayar kosan, dan mungkin membeli beberapa kemewahan kecil yang selama ini hanya bisa ia pandang dari balik etalase mal. Namun, lebih dari sekadar uang, tawaran itu adalah validasi atas kegilaannya selama seminggu terakhir. Ia merasa seperti seorang pecandu yang akhirnya diberi akses ke gudang narkobanya.
"Tapi... saya adalah terapis profesional, Nyonya. Jika perusahaan atau aplikasi tahu..." Reno mencoba membangun pertahanan terakhir, sebuah protes lemah yang bahkan terdengar tidak meyakinkan bagi telinganya sendiri.
Shinta berdiri, melangkah mendekat hingga aroma tubuhnya—campuran antara parfum floral dan panas kulit—mengunci pertahanan Reno. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang lentik dan dingin menyentuh masker hitam Reno. Dengan gerakan perlahan namun pasti, ia menarik masker itu ke bawah, memperlihatkan wajah Reno yang tampan, rahangnya yang mengeras karena tegang, dan bibirnya yang sedikit terbuka.
"Perusahaan tidak akan tahu. Di kamar ini, hanya ada aku dan kamu. Dan 'Abalone' yang sangat ingin kamu sentuh itu... dia juga menunggumu," bisik Shinta tepat di depan bibir Reno. Napasnya yang hangat menerpa wajah Reno, menghancurkan sisa-sisa kewarasan pria itu.
Reno menatap tumpukan uang itu sekali lagi, lalu beralih ke mata Shinta yang penuh tantangan, gairah, dan sedikit rasa meremehkan—seolah ia tahu Reno tidak akan punya kekuatan untuk menolak. Logika Reno kalah telak. Harga dirinya sebagai terapis medis yang jujur hancur berkeping-keping, digantikan oleh identitas baru yang lebih primitif.
Reno meletakkan tas punggungnya ke lantai dengan suara berdebam yang berat. Ia tidak meraih uang itu. Tidak sekarang. Ia meraih botol minyak pijatnya.
"Baik," suara Reno terdengar berat, serak, dan penuh otoritas yang baru muncul. "Tapi ini bukan lagi sekadar pijat, Shinta."
Shinta tersenyum menang. Ia merebahkan diri di atas ranjang king-size tersebut, kali ini dengan posisi telentang sepenuhnya. Ia membiarkan gaun sutra hitamnya tersingkap tanpa rasa malu, memperlihatkan lengkungan tubuhnya yang sempurna. "Tunjukkan padaku seberapa hebat tanganmu itu, Reno. Jangan mengecewakanku."
Reno menuangkan minyak ke telapak tangannya dalam jumlah yang banyak. Cairan kental itu terasa hangat dan licin. Ia tidak memulai dari punggung. Kali ini, ia langsung mendarat di paha dalam Shinta. Ia memijat dengan tekanan yang jauh lebih sensual, lebih berani, dan lebih menuntut. Jempolnya menekan titik-titik saraf yang ia tahu akan memicu aliran darah ke area sensitif.
Shinta melengkungkan punggungnya, mengeluarkan suara desahan yang belum pernah Reno dengar dari pelanggan mana pun. Suara itu adalah musik paling indah sekaligus paling merusak yang pernah ia dengar.
Reno mendaratkan jemarinya diujung pangkal paha Shinta, dan itu membuat Shinta merubah posisi kakinya, dan tentunya ini merupakan sinyal yang baik untuk Reno memulai perjalanan menguak misteri "Albalone" nya.
Saat jemari Reno perlahan namun pasti bergerak ke arah pusat gravitasi yang selama ini menghantuinya, ia menyadari bahwa ia baru saja melewati titik tanpa kembali. Ia tidak lagi sekadar memijat urat yang kaku; ia mulai menjelajahi setiap lipatan keindahan "Abalone" milik pelanggannya.
Tanpa sadar Shinta sudah berada dalam kuasa Reno yang mendominasi. Peluru Rudal Reno sudah tenggelam dalam Albalone Shinta hingga mencapai titik surga dunia yang diidamkan oleh Shinta.
Berkali kali Shinta mengeram dan meneriakkan nama Reno di malam itu. Hal itu membuat Reno tidak mengurangi temponya, malah semakin mempercepat laju peluru rudalnya seperti mesin mobil yang sedang dipacu dalam lintasan balap.
Malam itu, di bawah temaram lampu Grand Mahakam, integritas Reno terkubur di bawah seprai sutra. Ia menyerah pada uang, ia menyerah pada gairah, namun yang paling berbahaya adalah ia mulai menikmati posisi ini. Ia merasa berkuasa. Ia menyadari bahwa dengan tangannya, ia bisa membuat wanita sekaya dan sehebat Shinta bertekuk lutut dan memohon.
Ketika ia meninggalkan kamar 808 beberapa jam kemudian, amplop cokelat itu sudah berpindah ke dalam tasnya. Namun, Reno merasa tas itu jauh lebih berat dari sebelumnya. Ia tidak membawa pulang uang; ia membawa pulang sebuah identitas baru sebagai "pemuas". Dan di dalam kegelapan lift, Reno tersenyum kecil. Ia tahu, Shinta hanyalah awal dari koleksi "Abalone" yang akan ia kumpulkan di malam-malam berikutnya.
Dunia medis yang jujur telah mati baginya. Selamat datang di dunia di balik pintu hotel yang tertutup rapat.