Jakarta telah berubah menjadi papan catur raksasa bagi Reno, dan hotel-hotel berbintang adalah petak-petak strategis tempat ia memainkan bidak-bidak strateginya. Dalam sebulan terakhir, Reno tidak lagi memerlukan peta digital untuk menemukan jalan menuju kemewahan. Ia telah menghafal setiap sudut koridor yang sunyi, aroma khas lobi yang merupakan campuran antara bunga sedap malam dan pengharum ruangan mahal, hingga tekstur karpet tebal yang meredam suara langkah kakinya di setiap hotel mewah kawasan pusat kota. Hidupnya kini berpindah dari satu kartu akses magnetik ke kartu akses lainnya, dari satu aroma parfum ke aroma parfum lainnya, menciptakan mozaik pengalaman yang semakin menjauhkan dirinya dari realitas orang biasa.
Reno duduk di kursi belakang taksi daring, menatap gedung-gedung tinggi yang menjulang seperti pilar-pilar raksasa yang menopang langit malam Jakarta. Lampu-lampu merkuri jalanan berkelebatan seperti kilatan memori yang tak lagi bermakna. Di pangkuannya, tas pijatnya yang dulu tampak fungsional dan sederhana, kini terasa seperti Kotak Pandora. Di dalamnya tidak hanya ada botol minyak zaitun standar dan seprai mikrofiber; Reno telah menginvestasikan sebagian besar pendapatannya untuk "alat bantu" yang ia klaim sebagai rahasia keajaiban tangannya.
Ada bulu sutra halus untuk rangsangan sensorik awal, minyak esensial yang diperkaya dengan feromon sintetis, dan berbagai macam lotion premium yang ia racik untuk memastikan setiap inci kulit yang ia sentuh akan merasakan sensasi yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Reno bukan lagi sekadar pemijat; ia adalah seorang alkemis yang meramu gairah dari bahan-bahan kimia dan sentuhan fisik.
Ia kini memiliki sebuah jurnal rahasia di ponselnya—sebuah katalog terenkripsi yang ia beri judul "The Abalone Collection". Di sana, ia mencatat detail-detail intim dari setiap pelanggannya dengan presisi seorang ilmuwan, namun dengan gairah seorang penakluk. Catatan itu bukan lagi tentang riwayat medis atau keluhan saraf, melainkan sebuah memoar penaklukan fisik dan emosional yang ia susun dengan teliti. Baginya, setiap klien adalah sebuah bab baru dalam ensiklopedia kesenangan yang sedang ia tulis.
Kamar 1509: The Corporate Queen
Pelanggan pertamanya hari itu adalah seorang CEO perusahaan teknologi ternama bernama Maya. Kamar 1509 di salah satu hotel penthouse di Sudirman menjadi saksi bisu. Maya adalah wanita yang kaku, bicaranya cepat seirama dengan detak jarum jam, dan matanya selalu terlihat terburu-buru, seolah waktu adalah musuh terbesarnya. Di kamar hotelnya yang bertema minimalis futuristik, Maya meminta pijatan yang kuat—deep tissue massage—untuk merilis stres yang menumpuk akibat rapat pemegang saham yang alot.
Reno memulai ritualnya dengan ketenangan seorang profesional. Ia menyalakan lilin aroma terapi dengan wangi cendana yang berat untuk menekan d******i ego Maya. Namun, saat Reno mulai bekerja, lapisan es yang membungkus kepribadian Maya perlahan mencair di bawah telapak tangannya. Otot-otot bahu yang keras seperti beton perlahan melunak.
Saat handuk bergeser dan "Abalone" milik Maya tersingkap, Reno melihat sebuah karakter yang mencerminkan kepribadian wanita itu: bersih, tertata dengan sangat rapi, namun memiliki sensitivitas yang luar biasa terhadap tekanan yang tepat. Tidak ada rambut yang tidak pada tempatnya, sebuah bentuk kontrol diri yang absolut. Namun, saat jari-jari Reno mulai menelusuri titik-titik saraf yang tersembunyi, Maya kehilangan kendali atas topeng korporatnya.
Maya tidak banyak bicara, tapi caranya mencengkeram sprei hotel dengan kuku-kukunya yang terawat saat Reno memberikan "layanan tambahan" menceritakan segalanya tentang tekanan yang ia pendam selama ini. Gerakan Reno yang ritmis dan presisi memaksa Maya untuk mengakui bahwa di balik jabatan tingginya, ia hanyalah tubuh yang merindukan pemuasan. Untuk Maya, Reno bukan hanya terapis; Reno adalah satu-satunya momen di mana ia tidak harus memegang kendali. Ia adalah pelarian dari dunia logika yang membosankan dan penuh tuntutan. Di kamar 1509, sang ratu melepaskan mahkotanya dan membiarkan seorang pria asing memerintah atas tubuhnya.
Kamar 2210: The Fragile Socialite
Beberapa jam kemudian, Reno sudah berada di hotel lain dengan gaya arsitektur yang lebih klasik dan megah di kawasan Dharmawangsa. Pelanggannya adalah Clarissa, seorang sosialita yang namanya sering menghiasi kolom gosip kelas atas. Clarissa baru saja melewati proses perceraian yang pahit, sebuah perang terbuka di media sosial yang meninggalkan luka di balik senyum filler bibirnya.
Clarissa adalah tipikal wanita yang butuh divalidasi, seseorang yang merasa dunianya hancur jika tidak ada yang memujinya. Kamarnya dipenuhi dengan tas-tas belanjaan bermerek, seolah benda-benda itu bisa mengisi kekosongan hatinya. Sesi pijatan dimulai dengan tangisan kecil dan keluhan tentang kesepian yang menghantui rumah besarnya. Reno mendengarkan dengan empati yang telah ia latih—empati yang merupakan bagian dari jasa yang ia jual.
"Abalone" milik Clarissa digambarkan Reno dalam jurnalnya sebagai sesuatu yang rapuh namun menuntut perhatian penuh. Teksturnya lembut, mencerminkan gaya hidup yang tidak pernah menyentuh pekerjaan kasar. Setiap sentuhan Reno harus dilakukan dengan kelembutan yang ekstra, seolah-olah ia sedang memegang porselen Dinasti Ming yang bisa retak hanya dengan satu tekanan yang salah.
Saat pijatan beralih menjadi eksplorasi yang lebih intim, Clarissa memberikan respons yang dramatis. Ia membutuhkan kata-kata pujian di sela desahannya. Reno membisikkan betapa indahnya dia, betapa sempurna tubuhnya, dan betapa beruntungnya pria yang bisa memilikinya. Clarissa tidak hanya membayar untuk kekuatan fisik Reno, tapi untuk ilusi bahwa ia masih sangat diinginkan, sangat dipuja, dan sangat berharga sebagai seorang wanita. Di sini, Reno berperan sebagai pemulih harga diri yang hancur lewat sentuhan sensorik. Ketika ia meninggalkan Kamar 2210, ia melihat Clarissa tertidur dengan senyum yang akhirnya tampak tulus, meski ia tahu senyum itu hanya akan bertahan sampai wanita itu bangun dan menyadari Reno telah pergi.
Kamar 102: The Mysterious Traveler
Di ujung malam, saat Jakarta mulai sedikit mereda dari kebisingannya, Reno berakhir di sebuah hotel butik yang tersembunyi di rimbunnya pepohonan Menteng. Kliennya adalah seorang wanita blasteran yang tidak banyak bicara, namanya Elena. Elena memiliki aura misterius, seolah ia hanya singgah sebentar di kota ini untuk mencari sesuatu yang tidak bisa ia temukan di tempat lain. Ia tidak meminta banyak penjelasan, hanya menunjuk ke arah meja kecil tempat ia meletakkan segelas wiski.
Di sini, Reno menemukan variasi yang paling eksotis dari seluruh "koleksinya". "Abalone" milik Elena memiliki warna yang lebih gelap, tekstur yang lebih padat, dan memberikan aroma alami yang membangkitkan insting purba Reno. Di bawah pencahayaan kamar yang remang dan bernuansa retro, Reno merasa dirinya bukan lagi seorang terapis, melainkan seorang penjelajah di tanah asing yang belum terpetakan.
Elena tidak merintih seperti Clarissa, tidak pula mencengkeram sprei seperti Maya. Ia adalah seorang partisipan aktif. Ia memberikan respons yang liar, tanpa kata-kata, hanya lewat napas yang memburu dan gerakan tubuh yang sinkron dengan gerakan tangan Reno. Ada semacam komunikasi tanpa suara yang terjadi di antara mereka—sebuah dialog antara kulit dan otot yang tidak melibatkan perasaan, melainkan murni daya tarik magnetis biologis.
Eksplorasi Reno terhadap berbagai variasi ini membuatnya semakin ketagihan. Di dalam taksi menuju rumahnya, ia membuka kembali jurnalnya. Ia mulai membanding-bandingkan secara obsesif: kelembutan Shinta yang seperti mentega, kekencangan Gisella yang seperti atlet, keteraturan Maya yang simetris, hingga eksotisme Elena yang liar.
Obsesi sang Kolektor
Bagi Reno, setiap kamar hotel kini bukan lagi sekadar tempat bekerja, melainkan laboratorium tempat ia meneliti reaksi biologis dan psikologis tubuh wanita terhadap sentuhannya. Ia mulai memperhatikan detail terkecil: bagaimana suhu ruangan mempengaruhi sensitivitas saraf, bagaimana pengaruh aroma tertentu terhadap kecepatan lubrikasi alami, hingga bagaimana intonasi suara mampu mempercepat puncak kepuasan kliennya.
"Setiap 'Abalone' punya ceritanya sendiri, punya bahasanya sendiri," pikir Reno sambil menyandarkan kepalanya di kursi taksi yang dingin.
Ia mulai merasa seperti seorang kolektor seni tingkat tinggi. Uang yang ia hasilkan kini sudah jauh melampaui gaji seorang manajer bank senior. Ia mulai terbiasa dengan pemandangan city light dari lantai puluhan hotel, rasa dingin yang konsisten dari AC sentral yang berbisik halus, dan suara desahan yang teredam dinding kedap suara. Kemewahan ini telah menjadi oksigen barunya. Ia tidak bisa lagi membayangkan hidup tanpa aroma lobi hotel berbintang lima atau tanpa rasa bangga saat seorang wanita berkuasa berlutut di hadapannya karena pengaruh tangannya.
Namun, di balik tumpukan uang dan koleksi memorinya yang semakin tebal, ada satu hal yang mulai hilang: rasa puas yang menetap. Meskipun ia telah menemui berbagai jenis wanita dengan segala keindahannya—dari yang putih porselen hingga yang cokelat eksotis—ada rasa haus yang semakin besar dan semakin dalam di dalam dirinya.
Reno tidak lagi merasa cukup dengan satu atau dua pelanggan sehari. Ia ingin lebih. Ia ingin merasakan semua tekstur yang ada di dunia ini, mencium semua aroma parfum mahal, dan memanen semua reaksi yang bisa diberikan oleh tubuh wanita yang sedang mabuk gairah. Gairah itu kini menjadi seperti narkoba bagi Reno; ia membutuhkan dosis yang lebih tinggi, variasi yang lebih aneh, dan tantangan yang lebih berisiko untuk merasa "hidup".
Penguasa di Balik Pintu Terkunci
Ia mulai merasa bahwa dirinya adalah pusat dari semesta kecil yang gelap ini. Di dalam kamar hotel yang terkunci, ia adalah raja yang absolut. Di luar sana, ia mungkin hanya "si tukang pijat", tapi di dalam radius empat dinding mewah itu, ia adalah pemberi kenikmatan, sang penyembuh luka batin, dan objek fantasi yang tak terjangkau.
Tidak ada aturan perusahaan yang mengikatnya lagi. Tidak ada moralitas masyarakat yang menghakimi, karena di dalam kamar hotel, rahasia adalah mata uang yang paling berharga. Dan tidak ada hukum yang berlaku selain hukum hasrat yang ia kendalikan. Hanya ada dia, minyak pijat premiumnya, dan "Abalone" yang menunggu untuk ia jamah dengan tangan yang kini telah mahir melakukan manipulasi kesenangan.
Reno menutup matanya, membayangkan jadwal besok. Ia sudah menerima tiga pesanan baru di tiga hotel berbeda. Kamar mana lagi? Hotel mana lagi? Dan keindahan seperti apa lagi yang akan ia temui di balik celah handuk pelanggannya? Ia membayangkan aroma tubuh yang berbeda, respons saraf yang berbeda, dan cerita hidup yang berbeda yang akan ia serap melalui pori-pori kulitnya.
Dunia luar mungkin melihatnya sebagai pria yang sopan, pembawa tas pijat yang profesional dengan langkah yang tenang dan wajah yang ramah, namun di balik pintu kamar hotel yang tertutup rapat, Reno adalah seorang penguasa yang sedang berpesta pora dalam ketagihannya sendiri. Ia telah menjadi b***k dari pencariannya sendiri, seorang penjelajah yang tersesat di dalam labirin kenikmatan yang ia ciptakan sendiri.
Kehampaan yang Mengintai
Tanpa disadarinya, setiap penaklukan baru sebenarnya adalah satu langkah lebih dalam menuju kehampaan yang abadi. Semakin banyak ia mengoleksi "cerita" dari balik handuk para wanita itu, semakin ia merasa asing dengan dirinya sendiri. Siapakah Reno ketika ia tidak sedang memijat? Siapakah dia saat tidak ada tangan yang mencengkeram lengannya dalam puncak o*****e?
Ia mulai kehilangan kemampuan untuk menjalin hubungan emosional yang normal. Baginya, setiap interaksi dengan lawan jenis kini selalu bermuara pada analisis teknis: seberapa sensitif kulitnya, apa titik lemahnya, dan bagaimana cara menaklukkannya. Baginya, wanita bukan lagi manusia dengan jiwa yang kompleks, melainkan spesimen dalam katalog "The Abalone Collection".
Di papan catur Jakarta yang kejam, Reno mengira ia adalah pemainnya—sang Grandmaster yang mengatur setiap langkah dan memenangkan setiap babak. Namun, kenyataannya jauh lebih gelap. Dengan setiap kartu akses yang ia gesek, dengan setiap tetes minyak yang ia tumpahkan, Reno sebenarnya sedang perlahan-lahan berubah menjadi bidak yang tak lagi memiliki jalan pulang. Ia terjebak dalam siklus kenikmatan yang dangkal, terbang tinggi di atas awan kemewahan namun sebenarnya sedang jatuh bebas menuju jurang kesepian yang tak berdasar.
Malam itu, saat taksi membawanya pulang ke apartemennya yang kini jauh lebih mewah namun terasa sangat dingin, Reno menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Ia melihat seorang pria tampan dengan tangan yang tampak tenang, namun di matanya terpancar sebuah lapar yang tidak akan pernah bisa dikenyangkan oleh seribu "Abalone" sekalipun.
Jakarta terus berdenyut di bawahnya, penuh dengan ribuan kamar hotel lainnya, ribuan rahasia lainnya, dan ribuan kehancuran yang dibungkus dengan kain sutra. Reno tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih mirip seringai predator, sebelum akhirnya ia terlelap dalam mimpi tentang kamar hotel berikutnya yang menanti untuk ia taklukkan.